IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Penerapan ISO 9001 pada perusahaan
Penerapan ISO 9001 pada PT. Rahayu Santosa digunakan untuk memastikan bahwa setiap ketidaksesuaian terhadap efektifitas implementasi sistem manajemen mutu dapat diidentifikasi dan dilakukan analisa akar penyebab masalahnya, dilakukan tindakan perbaikan dan pencegahan, dilakukan verifikasi atas pelaksanaan tindakan perbaikan dan pencegahan, sehingga permasalahan tersebut tidak terulang lagi.
Penanggung jawab utama adalah : 1. Pimpinan QC
a. Pimpinan QC bertanggungjawab terhadap koordinasi tindakan perbaikan dan pencegahan.
b. Pimpinan QC bertanggungjawab atas pengendalian produk yang tidak sesuai dan mempunyai wewenang untuk menentukan perlakuan terhadap produk yang tidak sesuai tersebut.
2. Leader/Koordinator bagian
a. Pimpinan fungsi/bagian bertanggungjawab terhadap pengendalian-pengendalian produk yang tidak sesuai menurut keputusan yang ditetapkan dan menjamin penanganan lanjut atas kondisi produk tersebut pada setiap unit kerja sebagai upaya perbaikan.
b. Semua pimpinan bagian terkait bertanggungjawab terhadap koordinasi tindakan perbaikan dan pencegahan, baik dalam pelaksanaan maupun perawatan daripada proses ini.
c) Operator, atau inspector
Setiap Operator, ataupun inspector bertanggungjawab langsung dalam melakukan pengendalian terhadap produk yang tidak sesuai tersebut, atau terhadap pelaksanaan tindakan dan perbaikan pada setiap bagiannya.
4.4.1 Pengendalian Produk yang Tidak Sesuai Proses
Pengendalian produk yang tidak sesuai yang terjadi pada proses produksi dilaksanakan oleh bagian produksi dan dibantu oleh bagian QC untuk memutuskan. Untuk kategori ketidaksesuaian kritikal (ketidaksesuaian/ kerusakan yang terjadi di line produksi yang kemungkinan akan berdampak terhadap lot lainnya atau lot tersebut), maka perlu dibuatkan, atau dicatat pada LPTK (Laporan Penyimpangan dan Tindakan Koreksi), apabila terjadi hal berikut :
a. Ditemukan material salah (tidak sesuai spesifikasi) b. Setting mesin tidak sesuai instruksi kerja
c. Proses salah akibat salah design/gambar dan, d. Proses pengerjaan yang tidak sesuai gambar 4.4.2 Perlakuan Ketidaksesuaian Produk
Perlakuan untuk ketidaksesuaian produk baik material dari pemasok atau produk hasil proses produksi bagian QC akan memutuskan :
a. Diterima dengan atau tanpa persyaratan (accept)
Apabila tidak berpengaruh terhadap mutu produk yang akan dihasilkan dan harus mendapat persetujuan dari Department Head Quality
Assurance, atau pimpinan tertinggi diperusahaan dan dicatat pada Form Memo internal.
b. Diperbaiki (repair)
Apabila memungkinkan untuk diperbaiki dengan alasan tertentu. Perbaikan ini bisa dilakukan oleh internal ataupun eksternal atas
persetujuan QC dan bagian terkait. Hasil perbaikan harus diverifikasi ulang untuk menyatakan kesesuaian dengan persyaratan.
c. Dikerjakan ulang (rework)
Seperti halnya kondisi yang diperbaiki/repair, material atau produk yang dikerjakan ulang harus dikondisikan dengan bagian QC saat pelaksanaannya.
d. Ditolak (reject)
Material yang tidak sesuai dan tidak dapat digunakan untuk diproduksi,
akan dikembalikan kepada pemasok dan berkoordinasi dengan bagian
purchasing. Sedangkan untuk produk hasil proses produksi yang tidak
bisa diperbaiki lagi akan di scrap dan direkap dalam lembar LPTK, serta dilaporkan ke bagian QC.
e. Ditahan (Hold)
Material yang tidak dapat diidentifikasi ke absahannya, maka akan
ditahan sampai mendapatkan keabsahan material tersebut dari pihak
engineering atau departemen terkait menggunakan laporan LPTK.
f. Use As Is
Material yang diterima tidak sesuai dengan standar tidak dapat
diteruskan, atau digunakan untuk dilanjutkan pada proses berikutnya. sebenarnya dapat diteruskan, atau digunakan sebagaimana mestinya tetapi dengan persetujuan direktur dan LPTK
4.5. Fishbone diagram
Diagram fishbone dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpeluang menjadi penyebab masalah, bukan mengidentifikasi penyebab masalah (Nasution, 2004). Terdapat empat (4) Faktor utama yang berpeluang menjadi penyebab masalah yang mempengaruhi produktivitas produksi pada mesin bandsaw, yaitu Manusia, Metode, Bahan baku, dan Mesin.
Faktor yang memengaruhi produktivitas Output Frame mesin bandsaw Penanganan bahan baku yang tidak disusun secara rapih Bahan Baku Manusia Metode Mesin Tata letak tempat sampah untuk membuang produk reject frame terlalu jauh Manual book mesin yang sudah tidak tersedia untuk petunjuk Operator mesin yang sering berganti‐ganti (rolling) tempat Metode untuk mengambil bahan baku yang masih manual Pisau pemotong mesin bandsaw rawan patah Operator yang keletihan Waktu dalam penanganan bahan baku yang masih manual
Dari identifikasi faktor utama tersebut dapat diketahui masalah dan tindakan untuk mencegah permasalahan tersebut, adalah :
1. Manusia : - Operator yang terlalu sering di rolling (pindah) tempat, atau posisi dalam mengoperasikan mesin dapat
memengaruhi produktivitas mesin, karena pekerja harus melakukan adaptasi kembali dengan mesin yang baru.
- Keletihan pada pekerja dapat menjadi faktor yang memengaruhi tingkat produktivitas output.
2. Metode : - Tata letak tempat untuk membuang barang reject terlalu jauh dari tempat produksi, sehingga pekerja harus melempar barang tersebut untuk mempercepat produksi.
- Metode untuk memasukkan input bahan baku kedalam mesin masih dilakukan secara manual dengan tenaga manusia, sehingga dapat membuat pekerja lebih cepat letih.
3. Bahan Baku : - Bahan baku diletakkan tidak rapih dapat berujung dengan kerusakan bahan baku sebelum proses produksi.
- Waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan bahan baku
frame dari gudang ke tempat produksi yang masih manual
menggunakan handlift
4. Mesin : - Manual book mesin yang sudah tidak tersedia untuk mengetahui kerusakan mesin dan (SOP) perbaikan.
- Pisau pemotong yang terdapat pada mesin bandsaw yang rawan patah dan memiliki volume penggantian pisau dalam jangka waktu maksimal lima (5) hari yang dapat menyebabkan loss time produktivitas pada mesin
Tindakan pencegahan/solusi :
1. Manusia : - Operator yang sudah memiliki spresialiasi pada satu mesin jangan terlalu sering dirolling untuk mengoperasikan mesin
lain, karena membutuhkan adaptasi yang dapat memengaruhi produktivitas mesin.
- Dengan lingkungan kerja yang cukup panas, maka pencegahan keletihan pada operator sirkulasi udara harus diperhatikan, dengan menambah sirkulasi udara pada atap pabrik
2. Metode : - Tata Letak tempat untuk membuang barang reject seharusnya ditempatkan disamping mesin, agar pekerja tidak harus melempar barang tersebut, sehingga menyebabkan kebisingan.
- Untuk menghemat tenaga dari pekerja agar tidak cepat letih, dibutuhkan metode dalam memasukkan input bahan baku yang lebih efisien dan aman seperti crane khusus.
3. Bahan Baku : - Dalam mencegah kerusakan bahan baku akibat penumpukan di lantai, perusahaan perlu membuat tempat khusus untuk menaruh bahan baku
- Dibutuhkan alat penanganan bahan baku yang lebih efektif seperti forklift untuk menghemat waktu dalam membawa bahan baku frame
4. Mesin : - Untuk menanggulangi masalah pada mesin, jika tidak terdapat manualbook, maka operator harus memiliki catatan sejarah kerusakan mesin dan pergantian suku cadang tiap tahun, agar dapat segera dilakukan tindakan perbaikan, jika terjadi kerusakan.
- Bagian perbaikan harus memiliki Safety stock sparepart pisau pemotong bandsaw yang cukup, agar dapat segera dilakukan penggantian pisau yang patah dengan yang baru, proses produksi tidak terganggu.