BAB IV ANALISIS PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelititian
4.2.1 Penerapan Kode Etik Pada Kasus Pelecehan Seksual Oleh
Kasus pencabulan dilakukan oleh tujuh pelajar pria terhadap seorang siswi SMP yang berusia 14 tahun. Kejadian bermula saat korban bertemu salah seorang tersangka pukul 21:30. Tersangka menghubungi teman-temannya untuk datang ke lapangan bola Cijahe, Bogor pada 31 Agustus 2015. Saat tiba di sana, mereka bermain ‘jujur-jujuran’ bagi yang kalah hukumannya membuka pakaiannya. Korban kalah dan dicabuli oleh ketujuh pria tersebut.
Tabel 4.6 Analisis Kasus Pertama
Koran Pos Kota Koran Warta Kota
Edisi 4 September 2015: 7 Siswa SLTA ‘Gilir’ Siswi SMP.
(Berita dapat dilihat di lampiran halaman XI)
- Pada paragraf kedua Koran Pos Kota menyebutkan korban berusia 14 tahun.
Korban yang berusia 14 tahun, tidak terima lalu mengadu ke orang tuanya, kemudian melapor ke Polres Bogor Kota.
- Pada paragraf keempat identitas pelaku dibuat dengan inisial.
“Jadi ada tujuh orang. Tapi korban kenal hanya tiga orang yaitu AY, IY, dan EG sementara empat lainnya korban tidak kenal,” kata AKP Hendrawan.
Edisi 5 September 2015: Tujuh Remaja Lecehkan Siswi SMP.
(Berita dapat dilihat di lampiran halaman XXVII)
- Pada paragraf kesatu Koran Warta Kota menyebutkan identitas korban dan pelaku dengan menggunakan inisial.
Tujuh remaja pria, AR (14), FQ (16), EG (14), CN (15), AZ (17), dan serta kakak-beradik SY (14), dan AN (15),
melakukan pelecehan seksual
terhadap siswi SMP, VN (14), Senin (31/8) malam.
- Pada paragraf kedua identitas korban kembali disebutkan dengan inisial.
Kepada polisi, para pelajar itu
mengaku hanya berbuat iseng
kepada VN.
Berdasarkan berita Pos Kota edisi 4 September 2015 sudah sesuai dengan penerapan kode etik jurnalistik pasal 5 bahwa Wartawan
Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan. Dalam hal terkait identitas wartawan Pos Kota menyebutkan korban dan pelaku dengan inisial. Sedangkan berita
Warta Kota edisi 5 September 2015 juga sudah sesuai dengan kode
etik jurnalistik pasal 5 dengan melindungi identitas pelaku dengan memberikan inisial saja.
4.2.2 Penerapan Kode Etik Jurnalistik Pada Kasus Kematian
Anak Sekolah Dasar Akibat Aniaya Temannya
Kasus penganiayaan menimpa seorang anak kelas 2, beinisial A (8) sekolah dasar negeri (SDN) 07 Jakarta Selatan. Korban diduga dianiaya oleh teman sekelasnya berinisial R (8) saat sedang mengikuti lomba menggambar pada Jumat, 18 September 2015.
Tabel 4.7 Analisis Kasus Kedua
Koran Pos Kota Koran Warta Kota
Edisi 19 September 2015: Siswi SD Tewas Di-Smackdown (Berita
dapat dilihat di lampiran halaman XII-XIII).
- Pada paragraf satu kalimat pertama koran Pos Kota menyebutkan nama sekolah korban.
Bocah berinisial A, 8, siswa kelas 2 SDN 07 Pagi, Kebayoran Lama, Jaksel menemui ajal di RS Fatmawati, Jumat (18/9) setelah mendapatkan perawatan. Ia diduga di-smackdown
(dianiaya) oleh bocah teman
sekelasnya.
Edisi 19 September 2015: Bocah SD Tewas, Diduga Ditendang Temannya (Berita dapat dilihat di
lampiran halaman XXIX).
- Pada paragraf pertama kalimat kedua Warta Kota memuat nama sekolah korban dan pelaku.
Aksi bullying atau kekerasan di sekolah terjadi lagi. Kali ini A (8), siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 07 Pagi, Jalan Bendi, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, yang menjadi korban.
- Pada paragraf ketiga kalimat
kedua, identitas pelaku yang merupakan anak di bawah umur disebutkan dengan inisialnya.
Saat itu korban dan rekan-rekan satu kelasnya sedang mengikuti lomba menggambar. Namun, entah apa yang menyebabkan pelaku yang diduga berinisial R (8) tega menendang kepala korban hingga terjatuh.
Edisi 20 September 2015 : ‘Aku Mau Tidur Selamanya.’ (Berita
dapat dilihat di lampiran halaman
Edisi 20 September 2015 : Ibu Pelaku Tangisi Bocah SD yang Tewas (Berita dapat dilihat di
XIV)
- Pada paragraf pertama kalimat pertama halaman 11 lanjutan berita dari sampul koran memberikan secara lengkap alamat rumah korban (Berita terdapat di halaman XV).
Rumah sederhana di pinggir rel KA yang dihuni keluarga Anggarah di Jl. Delman Utama No. 62 RT 12/09 Kel. Kebayoran Lama, Jaksel, sejak pagi dipenuhi pelayat, termasuk Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Wahyu Hadiningrat.
lampiran halaman XXX-XXXII). - Koran Warta Kota edisi 20 September 2015 terdapat berita dengan judul Ibu Pelaku Tangisi Bocah SD yang Tewas. Pada berita edisi tersebut ditampilkan foto ibu korban dan ibu pelaku (foto dapat dilihat pada halaman XXX).
- Pada subjudul Beda ke Nenek, paragraf pertama kalimat kedua disebutkan nama sekolah dan inisial pelaku.
Ardiansyah dilarikan ke rumah sakit setelah berkelahi dengan rekannya R (8), sesama murid kelas 2B SDN 07 Pagi Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan.
- Pada paragraf keempat kalimat kedua disebutkan kawasan yang menjadi rumah duka.
Bahkan gemuk banget,”kata Chasmih kepada Warta Kota di rumah duka yang terletak di pinggir rel di Kelurahan Kebayoran Lama Utara, RT 12/9, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (19/9).
Edisi 25 September 2015 : Orangtua Murid SDN 07 Cemas
(Berita dapat di lihat di halaman XXXIV).
- Pada paragraf pertama wartawan Warta Kota menulis nama sekolah korban dan pelaku
Kejadian yang dialami A (8), murid kelas 2 SDM 07 Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, yang tewas
diduga dianiyaya oleh temannya,
membuat cemas para orangtua murid.
- Paragraf ke-10 identitas pelaku disebutkan dengan inisial.
Untuk R (8), murid yang diduga memukul dan menendang A Kata Nasarudin, akan segera dipindahkan.
Terkait dengan pemberitaan edisi 19 September 2015 Pos
Kota tidak menyebutkan nama lengkap pelaku. Namun, dalam berita
ini disebutkan nama sekolah korban. Penyebutan nama sekolah ini akan mempengaruhi terbukanya identitas pelaku yang saat itu masih bersekolah di sana.
Pada koran edisi 20 September 2015 Pos Kota memuat alamat rumah korban. Pemuatan alamat rumah korban secara lengkap dapat
menyebabkan masyarakat berbondong-bondong datang ke rumah korban dan keluarga korban menjadi tidak terjaga privasinya.
Berdasarkan berita pada Koran Warta Kota edisi 19 September 2015, 20 September 2015, dan 25 September 2015 terjadi ketidakkonsistenan dalam penulisan berita. Identitas sekolah korban disebutkan dengan lengkap, baik namanya maupun lokasinya. Koran edisi 20 September 2015 juga terdapat foto ibu korban dan ibu pelaku serta nama sekolah korban dan pelaku yang dapat memudahkan orang mengidentifikasikan pelaku kejahatan yang berinisial R. Tak hanya itu saja, alamat rumah duka juga disebutkan oleh wartawan. Hal ini dapat menyebabkan masyarakat dan wartawan-wartawan lain berdatangan ke rumah duka tersebut.
Selanjutnya pada edisi 25 September 2015 wartawan Warta Kota kembali menuliskan nama sekolah korban dan inisial pelaku. Penulisan nama sekolah korban dan pelaku dapat menyebabkan identitas pelaku diketahui oleh masyarakat.
4.2.3 Penerapan Kode Etik Pada Pemberitaan Kasus Pelecehan
Seksual dan Pembunuhan Siswi SD
Kasus pembunuhan dan pelecehan seksual menimpa seorang siswi kelas 2 SD dengan inisial PNF. Mayat korban dimasukan ke dalam kardus dan dibuang di gang sempit Jalan Sahabat, Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres. Pelaku pembunuhan adalah orang
terdekat korban yang tinggal di dekat rumah korban dan merupakan seorang pedofil.
Tabel 4.8 Analisis Kasus Ketiga
Koran Pos Kota Koran Warta Kota
Edisi 4 Oktober 2015 : Pembunuh Biadab Habisi Siswi SD (Berita dapat dilihat di lampiran halaman XIV-XVII). - Pada paragraf ketujuh disebutkan alamat rumah korban (Berita di halaman XVII).
Sabtu (3/10) pagi setelah polisi menyebar foto korban, tak sampai dua jam ada warga Kp. Rawa Lele, Kalideres, mengakui korban Putri Nur Fauziah, 9.
Edisi 6 Oktober 2015 : Para Siswa Nangis di Pusara Fauziah
(Berita dapat dilihat di lampiran halaman XXXV).
- Pada paragraf kesatu yang terdapat pada subjudul Beri Hadiah, wartawan Warta Kota
menyebutkan alamat rumah duka (Berita di halaman XXXVI).
Sementara ayah Fauziah, Asep Saipullah (36), tampak emosional saat mengetahui tewas mengenaskan. Pria yang berprofesi sebagai supir mobil rental itu mengaku terakhir bertemu putrinya 29 September lalu. “Saya terakhir bertemu Fauziah hari rabu itu,” ujar Asep saat ditemui di RT 006/007 Jalan Peta Barat, Kalideres, Jakarta Barat, kemarin.
Edisi 4 Oktober 2015 : Putri Pamit Belajar Bersama (Berita
dapat dilihat di lampiran halaman XVII).
- Pada berita kedua dengan judul Putri Pamit Belajar Bersama dideskripsikan letak rumah korban yang dekat dengan sekolah korban.
Sekolah Putri di SDN 05 Kalideres letaknya tidak jauh dari rumahnya, sekitar 100 meter.
Edisi 10 Oktober 2015 : Polisi Temukan Bercak Darah di Rumah Agus (Berita dapat dilihat
di halaman XXXVII).
- Pada paragraf kedua disebutkan korban lain yang pernah dilecehkan oleh Agus (pelaku) dan korban tersebut disebutkan identitasnya dengan menggunakan inisial dan penyebutan alamat korban (T). (Berita di halaman XXXVII)
Pada jumat (9/10) siang, polisi melakukan penggeledahan di rumah Agus yang merupakan tetangga PNF di RW 07 Kelurahan Kalideres. Agus sudah ditetapkan menjadi tersangka tapi terkait kasus lain. Mantan Residivis ini menjadi tersangka dalam kasus pencabulan kepada T (15) yang tinggal satu RT dengan PNF.
- Pada subjudul Satu Bukti Lagi , paragraf kedua dijelaskan bahwa Agus pernah melakukan pencabulan terhadap korban
Edisi 5 Oktober 2015 : Pembunuh Eneng Lebih Dari Satu (Berita dapat dilihat di
lampiran halaman XVIII-XIX). - Pada halaman XIX terdapat foto ibu korban.
Edisi 6 Oktober 2015 : Polisi Periksa Residivis (Berita dapat
- Subjudul Ziarah Ke Makam, paragraf pertama kalimat kedua terdapat keterangan dari teman korban dan wartawan Pos Kota menyebutkan identitasnya tanpa memberikan inisial
Para siswa sebagian besar menangis saat satu warga yang mendampingi Kasat Binmas Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Lily Haryanti, berdoa untuk korban di TPU Kkober. “Putri anak pinter,” kata Dewi, 9, temannya yang terlihat menangis.
sebelum PNF, dan polisi melakukan pemeriksaan terhadap saksi. Terhadap para saksi polisi tidak menyebutkan identitas saksi.
Kami memliki 13 saksi dalam kasus pencabulan terhadap bocah T. Yakni 3 anak perempuan dan 10 anak laki-laki,” ucap Krishna.
Edisi 15 Oktober 2015 : Ibunda PNF Trauma dan Tak Doyan Makan (Berita dapat dilihat di
halaman XXXIX)
- Paragraf ketiga kalimat kedua disebutkan identitas alamat keluarga korban pembunuhan
“Dia (Ida) masih trauma, belum bisa diajak ngobrol,” ujar Romlah di kediamannya di RT 06/07 Kelurahan Kalideres, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (14/10).
Edisi 7 Oktober 2015 : Menteri Yohana: Pelaku Sangat Keji
(Berita dapat dilihat di lampiran halaman XXI-XXII).
- Paragraf ketiga subjudul Hari
Keempat wartawan Pos Kota tidak
memberikan inisial identitas anak dimintai keterangan oleh polisi
Edisi 21 Oktober 2015 : Agus Pernah Sekap ABG di Bedengnya
(Berita dapat dilihat di halaman XL-XLI).
(Berita di halaman XXII)
Keterangan dari dua saksi kunci, yakni sepupu Eneng, yakni Kelvin, 9, dan teman sekelas, Raisa, 9, masih di dalami.
- Berita di lampiran halaman XL memuat foto tiga orang saksi anak di bawah umur yang sedang melakukan rekonstruksi ulang.
- Pada paragraf pertama disebutkan identitas korban pencabulan Agus dengan menggunakan inisial.
Agus Darmawan alias Agus Pea (39), selain menghabisi nyawa PNF (9), juga sempat menyekap anak baru gede (ABG) berinisial T dari pukul 21.00-06.00. Selama 9 jam, T
dipaksa Agus melayani hasrat
bejatnya.
- Di paragraf ketiga dijelaskan bahawa pelaku pembunuhan sudah melakukan pelecehan terhadap beberapa anak dan identitas korban ditidak disebutkan.
Diluar dugaan, Agus juga ternyata
sudah melakukan pelecehan
terhadap 12 anak lain di luar PNF dan T. Selama di dalam bedeng, Agus mencium, memeluk, meraba dan hendak meyetubuhi T. Tak hanya itu T, juga mengaku dicekoki
narkoba. Selain T, sebanyak 12
bocah lainnya juga mengaku
mendapat perlakuan serupa dari Agus.
Edisi 10 Oktober 2015 : Agus Si Pemangsa Bocah (Berita dapat
dilihat di lampiran halaman XXIII).
- Pada paragraf kedua diceritakan mengenai korban yang pernah dicabuli oleh Agus. Pada paragraf ini identitas korban percabulan diberikan inisial.
Sementara ini, Agus jadi tersangka kasus pencabulan anak di bawah
umur, T, 15.” Jadi, belum
membuktikan terkait dengan
pembunuhan PNF (Putri Nur
Fauziah), korban T, pernah digauli A (Agus) sampai hamil dan tidak mau bertanggung jawab dengan menyuruh menggugurkan kandungannya,” jelas Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Krishna Murti.
Edisi 10 Oktober 2015 : Menguak Geng ‘Boel Tacos
(Berita dapat dilihat di lampiran halaman XXIV).
- Paragraf pertama kalimat pertama wartawan Pos Kota tidak menjelaskan identitas dari anggota geng tesebut.
Geng yang beranggotakan 13 bocah. 3 di antaranya perempuan, cukup dikenal di kalangan warga Rawa Lele.
-Paragraf ketiga identitas remaja yang diperiksa polisi juga tidak dijelaskan identitasnya
Beberapa remaja yang diperiksa polisi mengaku bedeng Agus, sering jadi tempat kumpul remaja tanggung.
- Paragraf kelima kalimat kedua juga identitas anak-anak tersebut tidak disebutkan
Pengakuan 13 bocah yang diperiksa polisi, pria ini kerap mengajak
anak-anak menginap dan mengunci
Edisi 11 Oktober 2015 : Orang Kaya Tinggal di Bedeng (Berita
dapat dilihat di halaman XXV-XXVI).
- Paragraf keempat kalimat pertama terlihat bahwa wartawan tidak membeberkan nama lengkap yang diwawancarainya yang merupakan anak-anak.
“Aku sering nginep, tiap malem juga ada yang nginep. Bebas disana,” kata seorang bocah lelaki, yang juga kakak Eneng
.
- Di paragraf selanjutnya, paragraf kelima disebutkan umur anak yang dimintai keterangan oleh wartawan.
“Om Agus baik kalo di depan anak-anak, sering ngasih jajan, aku suka nginep, terus main kartu remi bereng anak-anak yang lain,” tukas bocah 13 tahun ini.
Koran Pos Kota edisi 4 Oktober 2015 dengan judul berita Pembunuh Biadab Habisi Siswi SD menyebutkan daerah tempat tinggal korban. Sedangkan berita dengan judul Putri Pamit Belajar disebutkan nama sekolah
korban dan dijelaskan juga letak rumah korban Sekolah Putri di SDN05
Kalideres letaknya tidak jauh dari rumahnya sekitar 100 meter.
Pada Pos Kota edisi 5 Oktober 2015 ditampilkan foto ibu korban dan diberikan keterangan foto Ibu Korban Farida (atas) tampak lunglai saat
ditemui para pelayat di rumahnya, Minggu (4/10) siang. Selanjutnya edisi 6
Oktober 2015 identitas anak di bawah umur yang diminta keterangan oleh wartawan disebutkan nama dan umurnya (“Putri anak pinter,” kata Dewi,9,
temannya yang terlihat menangis). 7 Oktober 2015 identitas dari anak yang
diminta keterangan oleh polisi disebutkan secara lengkap (Keterangan dari
dia saksi kunci, yakni sepupu Eneng, yakni Kelvin,9, dan teman sekelas,
Raisa, 9, masih didalami). Edisi 10 Oktober 2015 dengan judul Agus Si
Pemangsa Bocah dijelaskan bahwa terdapat korban pelecehan seksual anak di bawah umur lainnya oleh Agus. Identitas korban lain disebutkan dengan inisial (Sementara ini Agus jadi tersangka kasus pencabulan anak di bawah umur, T, 15). Selain itu, edisi 10 Oktober 2015 membuat berita terkait pembunuhan PNF dengan judul Menguak Geng ‘Boel Tacos’. Dalam berita ini dijelaskan mengenai geng tersebut. Namun, dalam berita ini identitas anak-anak tidak disebutkan. Berita pada 11 Oktober 2015 dengan judul Sikap Aneh Agus – Orang Kaya Tinggal di Bedeng ini menyebutkan anak dan umur yang menjadi anggota geng tersebut.
Sedangkan berita Warta Kota edisi 6 Oktober 2015 menyebutkan alamat rumah duka dan teman korban. Edisi 10 Oktober 2015 korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh Agus disebutkan inisialnya (T), tetapi
pada berita tersebut juga dijelaskan korban tinggal satu RT dengan PNF. Penyebutan tempat tinggal korban ini memudahkan masyarakat atau pembaca mengetahui siapa anak yang mengalami pelecehan seksual. 15 Oktober 2015 disebutkan alamat tempat tinggal saudara korban (ujar Romlah
dikediamannya di RT 06/07 Keluarahan Kalideres, Kecamatan Kalideres,
Jakarta Barat, Rabu (14/10).
Edisi 21 Oktober 2015 menampilan foto ini tiga orang saksi anak-anak yang melakukan rekonstruksi kasus PNF. Meskipun dalam foto saksi menggunakan topeng, tetapi pelaku yang dekat dengan anak-anak ini tetap bisa mengenai ciri-ciri ketiga saksi tersebut. Pemuatan foto ini berbahaya bagi ketiga saksi ini. Selain itu dalam berita tersebut juga menjelaskan bahwa Agus (pelaku) juga pernah melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Anak yang menjadi korban Agus disebutkan dengan inisial (T) dan terhadap anak-anak lainnya yang menjadi korban Agus tidak sebutkan siapa saja. Dalam berita itu hanya ditulis (Agus juga ternyata sudah
melakukan pelecehan seksual terhadap 12 anak lain di luar PNF dan T).
Dalam koran Pos Kota sebanyak tujuh berita terkait perlindungan identitas anak dalam pemberitaan kasus kejahatan anak PNF. Lima berita yang menyebutkan secara lengkap indentitas korban dan menampilkan foto korban. Sedangkan koran Warta Kota terdapat empat berita dan dua di antaranya disebutkan dengan lengkap identitasnya. Hal ini membuktikan bahwa koran Pos Kota dan Warta Kota belum konsisten dalam melindungi identitas anak. Seharusnya Pos Kota dan Warta Kota dalam melakukan
pemberitaan sesuai dengan pasal 5 yaitu wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
4.2.4 Kasus Pembunuhan Siswi MTs Dibuang di Semak-semak
Kasus pembunuhan menimpa AAP seorang siswi MTs yang berusia 12 tahun. Identitas AAP ditemukan setelah adanya laporan orang hilang dengan identitas mirip AAP dan pihak kepolisian menemukan sesosok jasad mirip dengan identitas AAP di kawasan Perhutani, Bogor. AAP ditemukan tewas dengan luka di seluruh wajahnya dan hampir tidak mengenakan pakaian.
Tabel 4.9 Analisis Kasus Keempat
Koran Pos Kota Koran Warta Kota
Edisi 27 Oktober 2015 : Siswi MTs Dibunuh Di Semak. (Berita
dapat dilihat di lampiran halaman XXXVII)
Edisi 27 Oktober 2015 : Putri Saya Dibakar Mukanya. (Berita
dapat dilihat di lampiran halaman XLII-XLIII)
- Koran edisi 27 Oktober ini membahas mengenai kasus pembunuhan siswi MTs yang ditemukan di kawasan Perhutani, Bogor. Pada paragraf pertama disebutkan identitas korban baik
- Koran edisi ini menjelaskan terkait penemuan mayat perempuan yang telah diperkosa lalu dibunuh dan wajahnya di bakar.
dengan nama dan alamat rumah korban.
Korban Adinda Anggia Putri, 12,
teridentifikasi berkat potongan
seragam batik yang dibakar pelaku. Siswi MTs ini tercatat sebagai warga Jalan Bendungan Jatiluhur, RT
005/002, Kelurahan Bendungan
Hilir, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
-Pada subjudul Sosok Supel paragraf ketiga disebutkan identitas saksi yang merupakan teman sekelas korban dengan inisial.
“Kalau dia itu orangnya ramai,
makanya punya banyak teman.
Apalagi dia anaknya gede, cakep lagi, jadi banyak juga yang suka sama dia. Makanya pas terakhir lihat itu dia nongkrong sama anak-anak gede di depan Jalan PAM, memang biasanya dia nongkrong di situ,”
ungkap Dn, seorang teman
almarhumah.
Edisi 31 Oktober 2015 : AAP Dilecehkan Saat Sedang Haid.
(Berita dapat dilihat di lampiran halaman XLV)
- Koran edisi ini menceritakan
mengenai tindakan pelaku pembunuh AAP.
- Di bagian kolom tambahan berita dengan judul Putus dari A, Kepincut Anak SMA disebutkan bahwa A merupakan seorang mantan pacar dari AAP dalam hal ini polisi memeriksa A dan
identitas A disebutkan dengan inisial.
…anak berinisial A yang tinggal di Pejompongan Indah (PI), Benhil. “Tapi setelah dicari, ternyata A ini masih SD,” kata Herdi….
Namun setelah ditanya, A memang
pernah pacaran dengan AAP.
Mereka kenal lewat Facebook di awal tahun 2015. AAP pun kerap main ke kawasan tempat tinggal A di PI.
Berdasarkan koran Pos Kota edisi 24 Oktober 2015 wartawan Pos Kota tidak menceritakan mengenai identitas korban hanya menceritakan mengenai ciri-ciri identifikasi korban dan dugaan penyebab kematian. Sedangkan edisi 27 Oktober 2015 identitas korban disebutkan secara lengkap tempat tinggal korban. Penyebutan identitas alamat korban seharusnya disebutkan kotanya saja.
Dalam hal ini Pos Kota tidak melindungi identitas korban dan bertentangan dengan pasal 5 yang berisi bahwa wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Sebaliknya dalam koran Warta Kota edisi 27 Oktober 2015 identitas korban pembunuhan ditulis dengan inisial AAP dan disebutkan sebagai anak baru gede (ABG). Koran edisi 28 Oktober 2015 ini identitas korban disebutkan dengan inisial begitu juga dengan seorang kenalan AAP yang masih di bawah umur diperiksa polisi untuk
diminta keterangan dan wartawan Pos Kota menyebutkan dengan inisial. Terkait kasus ini wartawan Warta Kota sudah sesuai dengan kode etik jurnalistik pasal 5 bahwa wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan. Untuk edisi 31 Oktober 2015 korban dan mantan pacar korban yang diperiksa oleh polisi dituliskan identitasnya dengan menggunakan inisial. Mengenai perlindungan identitas ini sesuai dengan pasal 5 wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Dalam kasus pembunuhan siswi MTs terdapat dua berita dalam koran Pos Kota dan keduanya ini belum bisa konsisten dalam melindungi korban. Sedangkan koran dalam koran Warta Kota terdapat dua berita dan keduanya sudah konsisten dalam memberikan perlindungan korban dan saksi dengan memberikan inisial di dalam pemberitaannya.