1Muliana, (42 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 31 Agustus 2020.
2Nur Jariah, (45 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 04 September 2020.
Hal senada diungkapkan oleh Irmayanti mengatakan bahwa:
Setiap orang pasti ingin melaksanakan salat tepat waktu begitu pun dengan saya, karena dalam Islam menunda-nunda salat itu tidak baik apalagi sampai meninggalkan salat, namun sebagai ibu rumah tangga, kadang pekerjaan dan keadaan yang membuat saya kadang terlambat salat misalnya ketika berada di pasar tiba-tiba adzan berkumandang sementara jarak mesjid yang jauh dan pakaian dalam keadaan kotor maka salatnya mungkin pulang dari pasar, akan tetapi saya sadari seharusnya saya yang bisa mengatur waktu dalam beraktivitas.3
Pada tanggal 5 September 2020 peneliti bertanya kepada anak Nur Jariah yang bernama Hafiz umur 11 tahun mengenai disiplin beribadah ibunya dan dia mengatakan bahwa ibunya sering salat tepat waktu bahkan jika di kebun, ketika adzan berkumandang mereka meninggalkan aktivitas dan bersiap-siap melaksanakan salat bersama. Dari hasil wawancara dengan informan peneliti mendapatkan informasi bahwa Nur Jariah berusaha melakukan salat tepat waktu karena dia sadar bahwa menunda-nunda salat merupakan perilaku yang tidak baik dan pekerjaan bukanlah suatu alasan untuk menunda-nunda salat. Namun tidak bisa dipungkuri bahwa keadaan, pekerjaan yang menyebabkan seseorang terlambat melaksanakan salat.
Keteladanan dalam hal disiplin beribadah juga ditunjukkan dengan cara sering melaksanakan salat berjamaah di mesjid. Sebagaimana pernyataan dari Saidin, mengatakan bahwa:
Ya, dengan cara sering melaksanakan salat berjamaah di mesjid, karena dengan terbiasa melaksanakan salat berjamaah di mesjid, maka akan melatih kedisiplinan diri untuk lebih menghargai waktu dan tentunya banyak keutamaan yang kita dapatkan salah satunya pahala yang berlipat ganda dari pada salat sendirian di rumah.4
Hal ini senada diungkapkan oleh Rafiuddin yang mengatakan bahwa:
Alhamdulillah saya sering melaksanakan salat berjamaah di mesjid, dengan salat berjamaah di mesjid banyak keutamaan yang bisa kita peroleh salah
satunya setiap langkah kaki menuju mesjid akan mengugurkan dosa dan mendapat kebaikan.5
Hal ini juga diungkapkan oleh Rismawati yang mengatakan bahwa:
Keteladanan yang saya berikan kepada anak dalam hal disiplin beribadah (salat) dengan cara saya sering melaksanakan salat berjamaah di mesjid, terutama untuk anak laki-laki, saya memberikan pemahaman bahwa salat berjamaah di mesjid lebih utama dan pahalanya lebih banyak dari pada salat di rumah.6
Pada tanggal 5 September 2020, peneliti bertanya kepada anak Rafiuddin yang bernama Annisa umur 9 tahun mengenai keteladanan disiplin beribadah (salat) yang ditunjukkan ayahnya dan Annisa mengatakan bahwa dia sering melihat ayahnya pergi salat berjamaah di mesjid dan jika sudah masuk waktu salat, mereka menutup warungnya sampai selesai salat. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada tanggal 4 dan 5 September 2020 terlihat Saidin dan Rafiuddin melaksanakan salat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya berjamaah di mesjid, dan peneliti melihat Saidin sering menjadi muadzin sekaligus Imam ketika salat berjamaah di mesjid. Pada tanggal 7 dan 8 September 2020 terlihat pula Rismawati melaksanakan salat Magrib dan Isya berjamaah di mesjid. Di tanggal yang sama terlihat banyak orang tua yang memiliki anak umur 6-12 tahun melaksanakan salat Magrib, Isya dan Subuh berjamaah di mesjid, namun pada salat Zuhur dan Asar kebanyakan orang tua yang tidak memiliki anak umur 6-12 tahun.
5Rafiuddin, (44 tahun), Wiraswasta, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 05 September 2020.
6Rismawati, (36 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 07 September 2020.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, maka dapat dipahami bahwa keteladanan yang orang tua tunjukkan dalam hal disiplin beribadah (salat) dengan cara berusaha salat tepat waktu, dan salat berjamaah di mesjid. Mereka sadar bahwa salat merupakan kewajiban setiap muslim dalam keadaan apapun dan menunda-nunda waktu salat itu tidak baik, namun tak bisa dipungkuri pula bahwa pekerjaan, keadaan masih membuat seseorang terlambat melaksanakan salat fardu tepat waktu.
Adapun hasil wawancara mengenai keteladanan yang ditunjukkan orang tua kepada anak dalam hal menutup aurat. Muliana mengatakan bahwa:
Menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslim, dan alhamdulillah saya sudah melaksanakannya, seperti memakai hijab, memakai pakaian yang tidak ketat dan tidak transparan.7
Pada tanggal 1 September 2020 terlihat Muliana ke warung untuk membeli sesuatu yang tidak jauh dari rumah peneliti dengan memakai hijab dan pakaian syar’i, dalam artian tidak ketat dan transparan. Pada tanggal yang sama peneliti bertanya kepada anak Muliana yang bernama Mutiara umur 10 tahun mengenai keteladanan yang ditunjukkan ibunya dalam hal menutup aurat dan Mutiara mengatakan ibunya sering memakai hijab dan mengenakan gamis ketika keluar rumah tetapi jika di dalam rumah kadang hijabnya dibuka kecuali jika ada tamu, ibunya langsung memakai hijab.
Kemudian, hal senada juga diungkapkan oleh Fitri, mengatakan bahwa:
Iya, dengan saya memakai hijab, memakai pakaian yang tidak ketat, dan memakai pakaian yang tidak menarik perhatian orang lain. Intinya tidak berlebih-lebihan, seperti yang kita lihat zaman sekarang banyak pakaian yang warnanya sangat mencolok ataupun modelnya sehingga dapat menarik perhatian orang lain.8
7Muliana, (42 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 31 Agustus 2020.
8Fitri Idrus Efendi, (39 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 11 September 2020.
Pada tanggal 12 September 2020, peneliti melihat Fitri yang pulang dari kebun lewat di depan rumah peneliti dengan memakai hijab dan pakaian syar’i (memakai baju sampai lutut dengan lengan panjang dan memakai celana panjang yang tidak ketat). Kemudian observasi pada tanggal 10 September 2020 juga terlihat ibu-ibu yang berkumpul di dekat rumah peneliti dalam rangka membuat acara makan bersama. Adapun pada tanggal 17 dan 18 September 2020 terlihat ibu-ibu sedang menjemur jagung di lapangan dengan pakaian syar’i.
Dari hasil wawancara dan observasi, dapat dipahami bahwa keteladanan yang orang tua tunjukkan dalam hal menutup aurat dilakukan dengan cara memakai hijab, memakai pakaian yang tidak ketat, transparan dan tidak berlebih-lebihan dalam berpakaian yang dapat mengundang perhatian orang lain, dengan kata lain memakai pakaian yang syar’i.
Hasil wawancara mengenai keteladanan yang ditunjukkan orang tua kepada anak dalam hal sopan santun. Nur Jariah mengatakan bahwa:
Keteladanan yang saya tunjukkan kepada anak dalam hal sopan santun seperti tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat baik kepada anak maupun dengan orang lain.9
Kemudian, pertanyaan yang sama ditanyakan kepada Rismawati mengatakan bahwa:
Mengenai sopan santun yang saya tunjukkan kepada anak yaitu menghargai atau menghormati antar sesama, terutama yang lebih tua.10
Lanjut, pertanyaan yang sama ditanyakan kepada Muliana, mengatakan bahwa:
Keteladanan yang saya berikan kepada anak dengan cara sering berbicara lemah lembut pada anak, menyapa dan senyum ketika bertemu orang lain.11
9Nur Jariah, (45 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 04 September 2020.
10Rismawati, (36 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 07 September 2020.
Pada tanggal 1 September 2020 terlihat di lapangan, Muliana bertemu dengan orang tua yang lain dan mereka saling menyapa dan senyum. Dan pada tanggal 10 September 2020 orang tua membuat acara makan-makan bersama di kolong rumah Jumrah, peneliti melihat Risma, Nur Jariah dan orang tua yang lain saling menyapa dan menghargai satu sama lain. Adapun hasil wawancara pada tanggal 31 Agustus 2020 dengan Qamariah yang merupakan tetangga Muliana mengenai keteladanan sopan santun yang ditunjukkan Muliana. Qamariah mengatakan Muliana memiliki sifat yang ramah kepada semua orang, santun ketika berbicara dan senang berbagi kepada orang lain dan mengenai berbicara lemah lembut pada anak sering namun kadang ketika anaknya tidak mau mendengar suaranya sedikit tegas, tentunya sifat tegas tersebut demi kebaikan anaknya.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, dapat dipahami bahwa keteladanan yang orang tua tunjukkan kepada anak dalam hal sopan santun dengan bertutur kata yang baik, menyapa dan senyum ketika bertemu orang lain dan menghargai atau menghormati antar sesama terutama yang lebih tua.
Terkait cinta ilmu yang ditunjukkan oleh orang tua kepada anaknya peneliti mendapatkan informasi bahwa di dusun Rumbia sering melaksanakan pengajian setiap hari Jum’at. Pernyataan ini dibenarkan oleh Rasma mengatakan bahwa:
Alhamdulillah mengenai cinta ilmu, saya rutin mengikuti pengajian di dusun ini yang dilaksanakan setiap hari Jum’at di sekolah dasar atau di rumah warga jika ada kegiatan syukuran. Akan tetapi jika pemateri terdapat halangan kadang tidak dilaksanakan pengajian. Adapun pemateri dalam
11Muliana, (42 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 31 Agustus 2020.
pengajian, kadang warga disini ataupun warga desa lain. Namun beberapa bulan ini belum ada pengajian dikarenakan virus covid-19.12
Hal ini senada yang diungkapkan oleh Muliana, mengatakan bahwa:
Terkait dengan cinta ilmu, saya sering mengikuti pengajian. Dengan mengikuti pengajian, saya dapat mengetahui apa yang sebelumnya saya tidak ketahui. Pengajian dilaksanakan setiap selesai salat Jum’at, biasanya Pak Dusun akan menyampaikan apakah pengajian akan dilaksanakan ataupun tidak lewat microfon mesjid. Akan tetapi pengajian terakhir di laksanakan bulan Maret karena covid-19.13
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 4 September 2020 tepatnya setelah warga melaksanakan salat Jumat terlihat kegiatan pengajian tidak aktif lagi selama ada virus corona, dan berdasarkan informasi bahwa pengajian terakhir dilakukan pada bulan Maret di salah satu rumah warga. Dari informasi tersebut, peneliti dapat mengetahui bahwa sebelum adanya virus corona, pengajian masih berjalan dengan baik namun sekarang sudah tidak aktif lagi.
Selain mengikuti pengajian, cinta ilmu ditunjukkan pula dengan sering membaca buku di waktu luang, pernyataan ini diungkapkan oleh Farida, mengatakan bahwa:
Saya suka membaca buku di waktu luang, bukan semata karena saya seorang guru namun rasa ingin tahu dan keinginan saya untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan.14
Hal ini senada yang diungkapkan oleh Saidin, mengatakan bahwa:
Mengenai cinta ilmu, saya sering membaca buku. Dengan rajin membaca buku, tentu dapat menambah kosakata, informasi atau pengetahuan-pengetahuan baru dan melatih keterampilan berpikir/ menganalisa saya.15
Kabupaten Enrekang, Wawancara, 04 September 2020.
Sejalan dengan informasi di atas, pada tanggal 14 Sepetember 2020 peneliti melihat banyak buku yang tersusun rapi di rak buku informan. Kemudian pada tanggal 16 September 2020 peneliti bertanya kepada salah satu anak Farida yang bernama Al-Huzaifah umur 9 tahun kebetulan duduk di tangga rumah peneliti yang sedang istrahat karena kelelahan bermain lari-lari dengan temannya, peneliti bertanya mengenai apakah ibunya sering membaca buku dan adik tersebut mengatakan bahwa ibunya sering membaca buku di sore hari atau di waktu luang begitupun ayahnya sehingga peneliti mengetahui bahwa kedua orang tua adik memiliki profesi yang sama yaitu guru. Adapun pada tanggal 5 September 2020 peneliti bertanya kepada anak Saidin yang bernama Shaddiq umur 8 tahun di kolong rumah informan mengenai ayahnya yang sering membaca buku dan adik tersebut mengatakan bahwa dia sering melihat ayahnya membaca buku di malam hari dan membaca al-Quran setelah salat Magrib dan Subuh.
Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, dapat dipahami bahwa keteladanan yang ditunjukkan orang tua dalam hal cinta ilmu dengan cara mereka sering mengikuti pengajian sebelum adanya virus corona dan membaca buku di waktu luang.
Kemudian hasil wawancara mengenai keteladanan yang ditunjukkan orang tua dalam hal hidup bersih, Farida mengatakan bahwa:
Rajin cuci tangan dengan sabun terutama sebelum dan sesudah makan, dan rajin membersihkan lingkungan rumah, karena kebersihan sebagian dari iman, dan kata petuah terdahulu mengatakan bahwa walaupun rumah kita kecil tapi bersih tetap indah dipandang orang.16
Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Fitri, yang mengatakan bahwa:
Kesehatan itu mahal, terlebih sekarang kita dilanda sebuah wabah covid-19 sehingga protokol kesehatan harus benar-benar kita perhatikan. Jadi saya
16Farida, (49 tahun), Guru, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 14 September 2020.
berusaha untuk menjaga kebersihan mulai dari hal sederhana, seperti rajin cuci tangan, rajin membersihkan lingkungan rumah dan membuang sampah pada tempatnya.17
Sejalan dengan wawancara dengan Farida dan Fitri di tanggal yang sama dalam melakukan wawancara, peneliti melihat kondisi dalam rumah, dan lingkungan sekitar rumah informan bersih. Kemudian tanggal 11 September 2020 peneliti bertanya kepada anak Fitri yang bernama Munadia umur 8 tahun mengenai keteladanan yang ditunjukkan ibunya dalam hal hidup bersih yaitu rajin cuci tangan dan adik tersebut mengatakan bahwa ibunya sering mencuci tangan jika waktunya makan baik di rumah ataupun di kebun. Adapun pada tanggal 14 September 2020 peneliti melihat sekitar lapangan, orang tua yang memiliki anak umur 6-12 tahun menyapu sampai tangga rumah, mengepel sampai tangga rumah, dan menyapu di kolong rumah kemudian sampah dari kolong rumah tersebut dibuang di tempat sampah yang telah tersedia bahkan bukan hanya orang tua yang memiliki anak umur 6-12 tahun saja yang sering membersihkan lingkungan rumahnya, namun terlihat pula orang tua yang tidak memiliki anak umur 6-12 tahun.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas, dapat dipahami bahwa perilaku hidup bersih yang ditunjukkan orang tua dengan cara rajin cuci tangan dengan sabun, membuang sampah pada tempatnya dan rajin membersihkan lingkungan rumah.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti di lapangan menunjukkan bahwa penerapan metode keteladanan yang orang tua tunjukkan dalam membentuk karakter Islami anak fokus pada pelaksanaan salat fardu tepat waktu, pelaksanaan salat berjamaah di mesjid, memakai hijab, memakai pakaian yang syar’i, bertutur kata yang baik, menyapa dan senyum
17Fitri Idrus Efendi, (39 tahun), IRT, Dusun Rumbia Desa Lunjen Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Wawancara, 11 September 2020.
ketika bertemu orang lain, menghormati dan menghargai orang lain terutama yang lebih tua, membaca buku di waktu luang, rajin cuci tangan, rajin membersihkan lingkungan sekitar rumah dan membuang sampah pada tempatnya.
Orang tua telah menunjukkan keteladanan seoptimalnya kepada anak, hal itu terjadi karena adanya kesadaran orang tua mengenai pentingnya pemberian contoh yang baik kepada anak karena anak senang meniru apa yang dilakukan, diucapkan oleh orang tua, dan pemberian teladan yang baik dilakukan orang tua agar anak-anak mereka menjadi anak yang soleh dan soleha yang berbakti kepada kedua orang tuanya.