• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian

2. Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving untuk Meningkatkan Prestasi Siswa

Berdasarkan data yang diperoleh peneliti, rata-rata nilai awal (diambil dari nilai rapor) sebelum penerapan model pembelajaran problem solving sebesar 59,89. Meskipun nilai rata-rata siswa berselisih dengan nilai batas tuntas atau batas minimal yaitu 75 namun data yang diperoleh menunjukkan prestasi belajar siswa kurang optimal. Hal ini ditunjukkan dari 40 siswa, 14 siswa mendapat nilai dibawah 75, sedangkan yang mendapatkan nilai 75 dicapai oleh 15 anak, 80 diraih 6 anak dan 90 diraih 5 anak. Berdasarkan data tersebut menunjukkan hanya 65% siswa yang mencapai nilai di atas 75 dan sisanya, 35% mendapatkan nilai di bawah batas ketuntasan.

Penyajian materi dengan menggunakan model pembelajaran problem solving dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini terbukti pada siklus I, nilai ulangan siswa berkisar antara 65 - 100 dengan nilai rata-rata 73. Terjadi peningkatan nilai dibandingkan dengan sebelum penerapan model pembelajaran problem solving, yaitu sebesar sedangkan pada siklus II nilai rata-rata sebesar 79. Dalam hal ini terjadi

peningkatan nilai dibandingkan dengan sebelum penerapan model pembelajaran problem solving yaitu sebesar 6. Pada pelaksanaan siklus I dan siklus II seluruh siswa mendapatkan nilai di atas 75. dengan demikian baik siklus I maupun siklus II sudah tercapai 100% dari 75 % yang direncanakan.

Pembahasan

Hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran problem solving dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa pada mata diklat IPS Terpadu. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Robert E.Slavin,dkk (2009) yang mengemukakan bahwa model pembelajaran Problem solving adalah pembelajaran yang memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru serta kemampuan dalam memecahkan masalah, sehingga para siswa bisa berpartisipasi dalam kelompok dan mendapatkan poin kemajuan yang dapat meningkatkan prestasi akademik siswa.

Grafik 9. Hasil penelitian prestasi

Tabel 10. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Setelah Siklus I Jumlah Siswa Persentase Kriteria

Sebelum Penerapan model pembelajaran

Sebelum Penerapan model pembelajaran

problem solving problem solving

Tuntas 21 52,5 %

Tidak Tuntas

19 47,5 %

(Sumber: data primer yang diolah, 2010)

Tabel 11. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Setelah Siklus II Jumlah Siswa Persentase Kriteria Sebelum Penerapan Siklus I Siklus I Tuntas 21 28 70 % Tidak Tuntas 19 12 30 %

(Sumber: data primer yang diolah, 2010)

Tabel 12. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Setelah Siklus I Jumlah Siswa Persentase Kriteria Sebelum Penerapan Siklus II Siklus II Tuntas 21 32 80% Tidak Tuntas 19 8 20%

(Sumber: data primer yang diolah, 2010) Tabel 13. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa

Jumlah Siswa Persentase

Kriteria

Sebelum

Penerapan Siklus Siklus

Sebelum

I II II

Tuntas 21 28 32 52,5 % 70 % 80%

Tidak Tuntas

19 12 8 47,5 % 30 % 20%

(Sumber: data primer yang diolah, 2010)

Berdasarkan grafik diatas Penerapan model pembelajaran problem solvingini meningkatkan prestasi belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata kelas. Sebelum menerapkan model pembelajaranproblem solvingrata-rata kelas adalah 59,89 tetapi setelah penerapan model pembelajaran problem solvingrata- rata kelas menjadi 72di mana seluruh siswa mendapat nilai di atas 75 sebanyak 28 anak. Dengan demikian pada siklus I telah belum tercapai indikator kinerja ketercapaian tujuan tindakan yaitu 70%. Siklus II 32 anak mendapatkan nilai diatas 75 sedangkan 8 anak mendapatkan nilai dibawah 75, indikator ketercapaian sebesar 100% pada siklus kedua.

Daftar Nilai Sebelum Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving Setelah Penerapan Model Pembelajaran

Problem Solving

NO Nama Siswa SebelumPenerapa

n Model Pembelajaran

Problem Solving Siklus I Siklus II

1 Abdul Nur C 45 75 80 2 Agus Sutarman 45 70 75 3 Ahmad Kholil 75 75 75 4 Ahyar Andika 70 80 90 5 Anton Rahayu 75 75 80 6 Asfar Dwi C 75 80 90 7 Chandra Widia 75 75 80

8 Catur Patwanto 75 75 90 9 Desi Rusdiana 75 80 90 10 Desi Seyowati 80 80 70 11 Diana Tesa R 50 60 75 12 DwiAri Wibowo 30 50 70 13 Dwi Priyanto 40 60 70

14 Dwi Huda Nur 40 65 80

15 Eksan Fajri 40 80 80

16 Esa Qhorismawati 75 80 90

17 Giyanto 80 80 80

18 Joko Purnomo 30 75 90

19 Lilik Linda Pertiwi 75 80 85

20 Lilik Nur Handayani 75 80 90

21 Lisnawati 30 75 60

22 Mulpa Vendi E. 40 60 90

23 Nur Irfan Rohmat 75 75 80

24 Pertiwi Rahmawati 75 80 90 25 Putri Mawarwati 75 80 80 26 Ratna Puspitasari 70 80 90 27 Ridwan Faqih 75 75 85 28 Riki Nurdianto 30 80 80 29 Rimayati 30 60 80 30 Rizka Sintani H. 75 75 75 31 Rizki Hartono 31 50 60 32 Santoso 50 65 90 33 Sri Wahyuningsih 75 75 80 34 Sugiarti 75 80 70

35 Sulistyo Bayu M. 60 70 80 36 Surati 40 70 75 37 Sutini 40 70 70 38 Tri Handoyo 75 75 75 39 Yanti 75 75 80 40 Wulandari 40 55 75

( Sumber : Data Primer diolah, 2010)

Grafik 10. Hasil penelitian keaktifan dari semua indikator

Pada siklus II diperoleh hasil tingkat keaktifan siswa pada aspek Visual Activities 100%, Oral Activities 100%, Listening Activities 100% dan Writing Activities mencapai 100%. Hal ini berarti semua aspek keaktifan siswa telah mencapai indikator kinerja ketercapaian tindakan. Jika ditinjau dari ketercapaian indikator kinerja ketercapaian tujuan dari segi prestasi siswa, pada siklus II, 40 siswa mendapatkan

nilai di atas 75. Dengan kata lain, 100% siswa telah mencapai indikator kinerja yang direncanakan sebesar 8,3%.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilaksanakan oleh Endy Joko Setiyono (2003) dalam penelitiannya yang berjudul Efektifitas Penggunaan Metode PembelajaranProblem SolvingDisertai Peta Konsep Terhadap Prestasi Belajar Kimia Pokok Bahasan Larutan Asam dan Basa dengan Memperhatikan Keaktifan Belajar Siswa Kelas II SMUN 2 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2002/2003 menyimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran problem solving dapat meningkatkan peran serta siswa, keaktifan belajar dan prestasi belajar siswa.

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan interprestasi, (4)analisis dan refleksi tindakan. Adapun deskripsi hasil penelitian dari siklus I sampai siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut.

Sebelum melaksanakan siklus I, peneliti melakukan survey awal untuk mengetahui kondisi yang ada di SMP N 2 Jatiyoso. Berdasarkan hasil survey, peneliti menemukan bahwa keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas VII pada mata diklat IPS Terpadu masih kurang optimal. Oleh karena itu, peneliti mengadakan diskusi dengan guru kelas dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Problem solving.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) penerapan model pembelajaranproblem solving sebagai upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi siswa belajar kelas VII B pada mata diklat IPS Terpadu di SMP N 2 Jatiyoso Tahun Pelajaran 2009/2010 adalah berhasil dan dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Hal ini dikarenakan PTK telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian dan menerapkan teknikvalidasi.

BAB V

Dokumen terkait