BAB V ANALISA DATA
A. Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance
Good Governance menurut Mardiasmo (1999:18) adalah suatu konsep
pendekatan yang berorientasi kepada pembangunan sektor publik oleh pemerintahan yang baik. Adapun prinsip-prinsip yang diadopsi tersebut yang termasuk dalam lingkup lembaga pemerintah desa antara lain prinsip akuntabilitas, transparansi, responsivitas dan kapasitas. Keempat prinsip tersebutlah yang akan diukur, yaitu seberapa besar keempat prinsip tersebut tertanam di dalam diri pegawai dan tercermin di dalam aktivitas dan tingkah lakunya dalam menjalankan fungsinya sebagai aparat Dinas Sosial.
Untuk menganalisa data secara rinci, maka akan dijabarkan berdasarkan subvariabel dari masing-masing variabel yang ada. Berikut ini akan disajikan penjabaran dari variabel Penerapan prinsip-prinsip good governance.
Akuntabilitas merupakan pengukuran berkaitan dengan kinerja pemerintah desa, maupun mengenai sumber daya dan kewenangan yang digunakan oleh pemerintah desa dalam menjalankan fungsinya. Hasil dari pengukuran ini disusun dalam bentuk Laporan Akuntabilitas Kinerja yang disusun dalam jangka waktu tertentu, umumnya satu tahun sekali.
Kewajiban menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja tersebut juga dituntut dari Dinas Sosial, sebagai wujud pertanggungjawaban Dinas Sosial terhadap masyarakat selaku konstituennya. Namun lebih dari itu, sikap akuntabel Dinas Sosial diharapkan tertanam di dalam diri masing-masing aparat Dinas Sosial itu sendiri. Sehingga sikap akuntabel pegawai Dinas Sosial lebih merupakan inisiatif dari dalam diri individu Dinas Sosial desa itu sendiri, dan bukan karena ada regulasi yang menuntutnya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, sebanyak 100% responden atau seluruh pegawai menyatakan Dinas Sosial selalu berinisiatif menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja di setiap akhir tahun anggaran. Hal Ini menunjukkan bahwa di dalam diri Pegawai sudah tertanam prinsip akuntabilitas, sehingga ada inisiatif untuk menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja dari pegawai Dinas sebagai wujud pertanggungjawabannya kepada masyarakat.
2. Penerapan Prinsip Transparansi
Transparansi Dinas Sosial dapat dilihat dari tingkat keterbukaan informasi yang diperoleh masyarakat terkait mengenai seluruh kegiatan Dinas Sosial, termasuk kinerja, keuangan dan pengambilan keputusan strategis di Kabupaten Toba Samosir.
Dinas Sosial selaku instansi publik dituntut untuk bersifat terbuka dan transparan terhadap publik. Karena transparansi, sama halnya dengan akuntabilitas, berkaitan erat dengan korupsi. Untuk itu, pemerintah desa selaku instansi publik dituntut untuk bersifat transparan dan akuntabel untuk mendapatkan kepercayaan publik.
Berdasarkan hasil penelitian, Pegawai Dinas Sosial Kabupaten Toba Samosir dimana dilakukan penelitian menganggap penting untuk menyampaikan kinerja dan keuangannya kepada masyarakat. Ini dapat dilihat dari 67,39% jawaban responden yang menyatakan aliran penggunaan dana dari kas Dinas disampaikan kepada masyarakat dilakukan secara terbuka. Bahkan 15% responden menyatakan aliran penggunaan dana dari kas Dinas disampaikan kepada masyarakat dilakukan secara sangat terbuka.
3. Penerapan Prinsip Kapasitas
Kapasitas berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan aparat pemerintah desa. Selain itu, kapasitas juga dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang dimiliki pemerintah desa untuk menjalankan tugasnya secara efektif. Oleh karena itu, kapasitas dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi sumber daya manusianya dan dari sisi kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Dinas Sosial dari sisi sumber daya manusianya sudah berkemampuan untuk menjalankan tugasnya secara efektif. Ini dapat dilihat dari jawaban responden sebanyak 84,78% yang menyatakan Pegawai Dinas Sosial sudah mampu manjalankan tugasnya.
Sementara dari sisi Pelatihan dan pembinaan, dapat disimpulkan bahwa pegawai masih terkendala dalam melaksanakan tugasnya karena kurang nya pelatihan dan pembinaan terhadap mereka. Maka dari itu, mereka sangat membutuhkan pelatihan dan pembinaan agar mampu melaksanakan tugasnya dengan maksimal. Ini dapat dilihat dari jawaban responden sebanyak 78% pegawai yang menyatakan bahwa peltihan dan pembinaan masih sangat perlu bagi mereka agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.
4. Penerapan Prinsip Responsivitas
Responsivitas berkaitan mengenai kemampuan dan ketanggapan pemerintah desa dalam menanggapi setiap aspirasi maupun kebutuhan masyarakat dan kemudian menjadikan aspirasi masyarakat tersebut sebagai dasar acuan untuk mengambil keputusan maupun membuat kebijakan/peraturan desa.
Dinas Sosial Kabupaten Toba Samosir harus mampu mendefenisikan apa yang menjadi kebutuhan dan kemauan warga. Dan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan warganya, DInas Sosial harus mampu menyerap aspirasi warganya. Dengan demikian, Dinas Sosial yang responsif harus mampu menciptakan ruang bagi publik untuk menyalurkan aspirasinya.
Berdasarkan penelitian, Dinas Sosial sudah mampu Menanggapi aspirasi dan kebutuhan dari masyarakat. Ini dilihat dari 63,04% responden yang menyatakan Sangat aktif Menanggapi aspirasi dan kebutuhan dari masyarakat.
Selain itu, 52,17% responden menyatakan selalu mempertimbangkan aspirasi warga dalam setiap pengambilan keputusan di dinas. Segala keputusan menyangkut masyarakat memang harus mempertimbangkan aspirasi warga.
Apalagi bila keputusan tersebut menyangkut kepentingan banyak warga, maka mereka harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut.
5. Penerapan Prinsip Keadilan/kesetaraan
Keadilan/kesetaraan berkaitan dengan sikap dari atasan yang mampu untuk bersikap adil terhadap pegawainya, teruta,a dalam hal penempatan posisi jabatan, Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita untuk menempati posisi jabatan tertentu.
Berdasarkan penelitian, Dinas Sosial sudah mampu unruk menerapkan prinsip keadilan dan kesetaraan. Ini dilihat dari 67,39% responden yang menyatakan bahwa Mereka selalu mendapatkan perlakuan yang adil dari atasan.
Selain itu, 84,79% responden menyatakan bahwa mereka selalu mendapatkan perlakuan yang adil dari atasan dalam penempatan posisi jabatan.
Dalam penelitian ini, variabel penerapan prinsip-prinsip good governance terdiri dari 13 pertanyaan. Setelah menganalisis data yang di dapat dari kuesioner penelitian, maka diperoleh nilai tertinggi adalah 64 dan nilai terendah adalah 44. untuk menentukan jarak intervalnya maka digunakan rumus:
R I = Jumlah Interval 5 44 64− = I I = 4
Interval tersebut dapat digunakan untuk menyusun kategori variabel penerapan prinsip-prinsip good local governance sebagai berikut:
untuk kategori sangat tinggi : 60 - 64
untuk kategori tinggi : 56 - 59
untuk kategori sedang : 52 - 55
untuk kategori rendah : 48 - 51
untuk kategori sangat rendah : 44 - 47
Untuk mengetahui penerapan prinsip-prinsip good governance oleh Dinas Sosial, dapat dilihat dari rekapitulasi jawaban responden seluruhnya pada tabel berikut ini:
Tabel 37. Rekapitulasi Jawaban Responden Mengenai Tingkat Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance
Jawaban Interval Frekuensi Persentase (%)
Sangat tinggi 60 – 64 31 67,39 Tinggi 56 – 59 4 8,69 Sedang 52 – 55 7 15,23 Rendah 48 – 51 1 2,17 Sangat rendah 44 – 47 3 6,52 Jumlah 46 100,00
Sumber: kuesioner Penelitian 2010
Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dilihat bahwa penerapan prinsip-prinsip good governance oleh Dinas Sosial Kabupaten Toba Samosir berada pada kategori sangat tinggi, seperti yang ditunjukkan dari rekapitulasi keseluruhan jawaban responden dimana sebanyak 31 responden (67,39%) berada di kategori interval antara 60-64. Penerapan variabel prinsip-prinsip good governance yang berada pada kategori sangat tinggi mengindikasikan bahwa prinsip-prinsip good
governance sudah dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kabupaten Toba Samosir
67.39 8.69 15.23 2.17 6.52 0 10 20 30 40 50 60 70 (%) Sangat
tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangatrendah Kategori
Diagram 1. Rekapitulasi Jawaban Responden Mengenai Tingkat Penerapan Good Governance
Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah