• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENERAPAN PRINSIP REWARD AND PUNISHMENT

C. Penerapan Prinsip Reward And Punishment Terhadap Aparatur

Negara, untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan dalam rangka usaha mencapai tujuan nasional. Kelancaran penyelenggaraan tugas dan pembangunan nasional sangat tergantung pada kesempurnaan aparatur Negara khususnya Pegawai Negeri.

Karena itu, dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional yakni mewujudkan masyarakat madani yang taat hukum, demokratis, makmur, adil dan bermoral tinggi, diperlukan Pegawai Negeri yang merupakan unsur aparatur negera yang bertugas sebagai abdi masyarakat yang harus menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata kepada masyarakat dengan dilandasi kesetiaan kepada pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Aparatur Sipil Negara sebagai unsur utama sumber daya manusia yang mempunyai peranan terhadap keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan

pembangunan. Hal ini bahwa Aparatur Sipil Negara menjadi tumpuan dalam pelaksanaan pemerintahan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.45

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kecamatan Medan Timur merupakan salah satu element penting yang menjadi ujung tombak dari pemerintah,

44 Sri Hartini, Op Cit, hal. 41.

45 Gita Herni Saputri, Implementasi Disiplin Aparatur Sipil Negara Dalam Lingkup Satuan Kerja Perangkat Daerah (Studi di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara), (Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2017), hal. 1.

idealnya dalam melaksanakan pelayanan terhadap masyarakat harus sesuai dengan kaidah good and clean governance dimana baik semua elemen termasuk pegawai wajib

menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik dan bersih sehingga pelayanan yang didapatkan oleh masyarakat dapat sesuai dengan kualitas pelayanan yang diharapkan.46

Dalam melaksanakan Reward and Punishment untuk peningkatan kinerja profesionalitas pegawai disetiap Negara manapun serta apapun bentuk pemerintahannya selalu membutuhkan pelayanan publik. Pelayanan publik merupakan keharusan bagi Negara atau pemerintahan untuk melayani warga negaranya. Pelayanan publik tidak dengan mudah dapat dilakukan, bahkan banyak Negara yang gagal melakukan pelayanan publik yang baik bagi warganya. Kegagalan dan keberhasilan suatu pelayanan publik dapat ditentukan oleh suatu pelayanan publik tersebut.

Implementasi meningkatkan profesionalitas disiplin kerja pegawai yang diterapkan di Kecamatan Medan Timur itu menggunakan self imposeddiscipline yaitu pelaksanaan disiplin yang timbul dari seorang pegawai atas dasar kerelaan dan kesadaran, akan tetapi dalam kenyataannya masih terdapat beberapa pegawai yang di sebabkan dorongan dari luar.

47

Bahwa dalam segala tindakan Aparatur Sipil Negara dalam bekerja harus mencerminkan nilai-nilai revolusi mental serta memberikan warna dan arah gerakan nasional, yang di dalamnya memiliki integritas, kerja keras dan gotong royong yang harus menjadi budaya kerja saat ini. Sehingga gerakan ini dapat memperbaiki karakter bangsa menjadi yang lebih baik lagi.

Kalau diamat-amati dan/atau bahkan diteliti dengan metode angka-angka, indvidu sudah cukup banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) kini berganti Aparatur Sipil Negara (ASN). Pergantian nama itu bertujuan untuk melakukan pembenahan sistem birokrasi di negeri ini. Dari ribuan Aparatur Sipil Negara masing-masing memiliki potensi untuk dihargai, bahwa kiranya banyak potensi untuk diberikan reward dibanding punishment.48

Dalam penerapan reward atau punishment terdengar suara-suara sumbang dari sebagian pegawai terhadap penerima reward. Terlepas dari bisikan-bisikan syetan tersebut, masih kental unsur kolusi, nepotisme. Padahal dalam birokrat pada hakikatnya tidak mengenal kekeluargaan atau siapa dekat dia dapat mengenyampingkan sistem

Sikap yang harus ditunjukan oleh seorang ASN dalam meningkatkan

profesionalitas mengambil keputusan secara matang dan proporsional sehingga seluruh keputusan dan sikap yang ditampilkan tidak membebankan kerjaan yang tidak sesuai tupoksinya, bukan langsung mengutamakan kepentingan pribadi atau anggota keluarga tertentu (pilih kasih). Jika sikap tidak obyektif ini ditunjukkan oleh seorang pemimpin dihadapan bawahannya, maka disinilah akan muncul benih-benih negatif yang akan berpotensi memicu konflik, mengganggu stabilitas organisasi. Pemimpin yang bertanggung jawab dan mengayomi semua kepentingan bawahan, serta tidak

mengedepankan ego pribadi dan kelompok tertentu, itulah yang sebenarnya diharapkan organisasi dalam meraih visi dan misi.

48Raymond Karsuwadi, diakses dari

http://manadopostonline.com/read/2016/04/19/articles/Pemkab-ini-Beri-Reward-dan-Punishment-Pada-ASN/13776, pada tanggal 26 Oktober 2017.

penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan dan sumber daya manusia aparatur.49

Sistem reward dan punishment perlu untuk diberlakukan jika ditemukan bahwa ada ASN yang karakternya sangat buruk. Sangat disadari bahwa dalam hal penilaian karakter tentu saja unsur subjektifitasnya sangat tinggi. Akan tetapi dengan menciptakan indikator yang jelas serta terukur, maka hal tersebut tidak akan menjadi masalah lagi, tetapi menjadi faktor pendorong bagi para ASN untuk semakin professional. Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menjalankan tugas, fungsi dan kewenangannya menjadi lebih melayani, berkinerja produktif, akuntabilitas, professional dan menjaga diri dari prilaku sesuai kode etik dan sumpah jabatan demi kepentingan bangsa dan masyarakat sebagai stakeholder utamanya.50

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, harapan terciptanya Reward dan

Punishment agar dapat berimbang dan dibangun melalui, kebijakan di Kecamatan Medan Timur. Berdasarkan struktur organisasi di Kecamatan Medan Timur Tahun 2015-2016 antara lain:

49 Adi Pujakesuma, diakses dari

http://www.kompasiana.com/sarajevo/59a0de5bff44bc608e663c12/articles/penilain-kinerja-pegawai-itu-prestasi-bukan-asal-boss-senang, pada tanggal 26 Oktober 2017.

Camat Medan Timur

Sekretaris Camat

Kasi/Kasubbag/Staf

Sumber: Data Kecamatan Medan Timur

Berdasarkan data Tahun 2015-2016 dari Kecamatan Medan Timur Kota Medan, terdapat penanganan kasus khusus dan pemberian punishment atau hukuman disiplin yang terdapat 5 pegawai yang melanggar hukuman disiplin sesuai dengan peraturan pemerintah No. 53 Tahun 2010 untuk di tindaklanjuti menurut jenis hukuman disiplin yaitu :

1. Hukuman ringan 2. Hukuman sedang 3. Hukuman berat

Tabel 1. Rekapitulasi Hukuman Disiplin Aparatur Sipil Negara di Kecamatan Medan Timur Kota Medan Jumlah temuan hukuman disiplin Tahun 2015

Sumber: Data Kecamatan Medan Timur Kota Medan

Tabel 2. Klasifikasi jenis-jenis pelanggaran Aparatur Sipil Negara di Kecamatan Medan Timur Kota Medan Tahun 2015

No Jenis Pelanggaran Tahun 2015

1. Tidak masuk kerja 2

2. Penyalahgunaan wewenang

-

3. Perbuatan Pribadi yang tercela

- Jumlah Pelanggaran 2

Sumber: Data Kecamatan Medan Timur Kota Medan

Tabel 3. Rekapitulasi Hukuman Disiplin Aparatur Sipil Negara di Kecamatan Medan Timur Kota Medan Jumlah temuan hukuman disiplin Tahun 2016

Sumber: Data Kecamatan Medan Timur Kota Medan

Jumlah 2 2 - 100%

No Hukuman Disiplin Jumlah Kasus

Selesai ditindaklanjuti

Belum ditindaklanjuti

%

1. Ringan 1 1 - 40%

2. Sedang 2 2 - 60%

3. Berat - - - -

Jumlah 3 3 - 100%

Tabel 4. Klasifikasi jenis-jenis pelanggaran Aparatur Sipil Negara di Kecamatan Medan Timur Kota Medan Tahun 2016

No Jenis Pelanggaran Tahun 2016

1. Tidak masuk kerja -

2. Penyalahgunaan wewenang 1

3. Perbuatan pribadi yang tercela 2

Jumlah Pelanggaran

3

Sumber: Data Kecamatan Medan Timur Kota Medan

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa punishment atau hukuman yang diberikan kepada pegawai di Kecamatan Medan Timur selama tahun 2015-2016 adalah sebesar 3%. Penjatuhan hukuman disiplin yang diberikan kepada pegawai dalam rangka pelaksanaan peningkatan kinerja dilingkungan Kecamatan Medan Timur, dapat

disimpulkan bahwa hukuman disiplin bagi pegawai merupakan angka yang sangat rendah. Dengan besarnya tanggung jawab tingkat resiko yang tinggi terhadap tugas yang diberikan menjadi bukti dan merupakan faktor yang sangat penting agar sinergitas reward dan punishment berjalan bersama-sama dilingkungan Kecamatan Medan Timur.51

Untuk data reward berdasarkan data di lapangan setiap unit hanya berupa penghargaan pada peringatan hari ulang tahun Kota Medan, memberikan reward atau penghargaan kepada pegawai berdasarkan masa bakti pegawai bekerja, berupa piagam

51 Wawancara Kepada Sekretaris Camat Medan Timur Bapak Noor Alfi Pane, pada tanggal 27 Oktober 2017.

penghargaan dari masa kerja 10 tahun sampai dengan 30 tahun diberikan kepada individu pegawai di Kecamatan Medan Timur.

Berdasarkan data informan sebagian besar 99% mengharapkan pelaksanaan reward atau penghargaan dilingkungan Kecamatan Medan Timur disesuaikan dengan tingkat besar kecilnya prestasi pegawai untuk diberikan reward atau hadiah antara lain:

promosi jabatan, pemberian kepercayaan, dan peningkatan tanggung jawab.52

1. Memperkuat motivasi pegawai dalam memacu prestasi kerja.

Adapun fungsi pemberian reward atau penghargaan kepada pegawai dilingkungan Kecamatan Medan Timur bertujuan untuk :

2. Kepuasaan kerja untuk mengulangi lagi berprestasi bagi organisasi dimana pegawai bekerja.

3. Mendukung karier pegawai terhadap kemampuan kempetensinya semakin meningkat tanggungjawabnya terhadap tugas didalam pekerjaannya.

4. Bersifat umum yaitu merealisasikan hak dan kewajiban pegawai didalam berprestasi di organisasi.

Salah satu alternatif sebagai peningkatan profesionalitas Pegawai Negeri Sipil yang perlu ditempuh dalam rangka mengurangi jumlah pelanggaran disiplin antara lain adalah, pertama, melakukan sosialisasi untuk memberikan penyegaran tentang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan disiplin PNS diantaranya PP No. 53 tahun 2010 tentang peraturan disiplin, PP No. 32 tahun 1979 tentang pemberhentian PNS, PP No. 45 tahun 1990 sebagai pengganti PP No. 10 tahun 1983 tentang izin perkawinan dan perceraian PNS. Kegiatan sosialisai bisa melalui pendidikan dan latihan (Diklat), bimbingan teknis

(bintek) serta bentuk program kerja lainnya yang bertujuan memberikan pemahaman dan mengaplikasikan peraturan yang berkaitan disiplin PNS.

Kedua, memberikan sanksi/tindakan secara tegas bilamana seorang PNS terbukti melakukan pelanggaran disiplin yang bertujuan untuk memberikan efek jera dan shock terapi agar PNS yang lain tidak meniru atau melakukannya dan juga agar tidak melakukan pelanggaran yang hukumannya lebih berat lagi.

Ketiga, setidaknya setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) merasa bertanggungjawab mengawasi dan melakukan pembinaan secara dini dilingkungan kerjanya mengenai kedisiplinan. Suatu missal bilamana terdapat stafnya yang melanggar tindakan disiplin, setidaknya segera melakukan pendekatan untuk menanyakan

permasalahan yang dihadapi dan permasalahan yang menyebabkan yang bersangkutan tidak disiplin.

Keempat, setidaknya setiap PNS instropeksi dan merasa mensyukuri bahwa tidak semua orang bisa lolos dan berkesempatan menjadi PNS. Lihat saja setiap penerimaan CPNS dari tahun ke tahun jumlah pelamar yang ingin mengabdi menjadi PNS sampai dengan ribuan orang. Tetapi sekarang yang telah menjadi PNS mala banyak yang melakukan pelanggaran disiplin tidak mentaati peraturan yang ada. Bila sudah menjadi PNS setidaknya harus konsekuen dan siap mental untuk mentaati peraturan yang ada. Selain itu menurut kebanyakan orang, PNS merupakan profesi yang sangat

didambakan setiap orang dengan alasan antara lain mempunyai status yang jelas,

terjaminnya ekonomi keluarga karena berpenghasilan tetap, tidak mungkin diberhentikan

atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mempunyai jaminan hari tua (pensiun) dan jam kerjanya teratur.53

Berangkat dari hal tersebut diatas kiranya perlu diterapkan kepada segenap pegawai makna yang sebenarnya dari hasil kerja yang telah dicapai pegawai yang bersangkutan, apakah hasil kerjanya termasuk kategori biasa-biasa saja atau luar biasa.

Karena itu, penilaian kinerja berbasis kompetensi mulai diterapkan sepenuh hati, harus mencerminkan hasil sebenarnya dari pekerjaan pegawai, dan disepakati secara tegas pada awal tahun.54

53 Titin Nur Haydah, Kendala Dan Solusi Dalam Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri

BAB III

HUBUNGAN REWARD AND PUNISHMENT DENGAN PENINGKATAN PROFESIONALITAS APARATUR SIPIL NEGARA

DI KECAMATAN MEDAN TIMUR KOTA MEDAN

A. Tinjauan Umum Tentang Profesionalitas

Sebagai unsur utama sumber daya manusia aparatur Negara mempunyai peranan yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan

pembangunan. Seorang ASN yang mampu memainkan peranan tersebut adalah ASN yang mempunyai kompetensi yang diindikasikan dari sikap disiplin yang tinggi, kinerja yang baik serta sikap dan perilakunya yang penuh dengan kesetiaan dan ketaatan kepada Negara, bermoral dan bermental baik, profesional, sadar akan tanggung jawabnya sebagai pelayan publik serta mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

Disiplin kerja merupakan modal yang penting yang harus dimiliki oleh aparatur Negara sebab menyangkut pemberian pelayanan publik. Namun ironisnya, kualitas etos kerja dan disiplin kerja aparat/ASN secara umum masih tergolong rendah ini disebabkan banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh para ASN. Disiplin pada hakikatnya adalah pencerminan nilai kemandirian yang dihayati dan diamalkan oleh setiap individu dan masyarakat suatu bangsa dalam kehidupan.55

Bagi aparatur pemerintah, disiplin mencakup unsur-unsur ketaatan, kesetiaan, kesungguhan dalam menjalankan tugas dan kesanggupan berkorban. Hal ini berarti harus

55 Philipus M. Hadjon, dkk, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, (Yogyakarta:

Gadja Mada University Press, 2008), hal. 37.

mengorbankan kepentingan pribadi dan golongan untuk kepentingan Negara dan masyarakat.

Kondisi disiplin sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Kondisi itupun tidak tercipta secara tiba-tiba, tetapi tumbuh, tercipta, terbentuk secara sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, merupakan suatu proses yang pengaruh-mempengaruhi tarik menarik, memberi dan menerima, yang bisa berbeda dari satu keadaan, dari tempat ke tempat yang lain, dari waktu ke waktu.56

Apabila ASN telah menunjukkan sikap disiplin yang baik maka dapat dikatakan bahwa ASN tersebut telah memiliki kompetensi dalam menjalankan profesinya, adapun profesi menurut Mulyasa

Bahwa untuk mewujudkan aparatur pemerintahan yang bersih dan berwibawa, kedisiplinan ASN merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan, ASN sebagai Aparat Pemerintah, abdi negara dan abdi masyarakat harus bisa menjadi suri tauladan terhadap masyarakat secara keseluruhan, sehingga masyarakat dapat percaya terhadap peran ASN.

57

Menurut A.S. Moenir

ialah, profesi adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan dan keahlian khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut.

58

56 Soegeng Prijodarminto, Op Cit, hal. 89.

57 Mulyasa, Kinerja Pegawai Dalam Organisasi Modern, (Jakarta: Rajawali Press, 2006), , profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang diselenggarakan secara formal ataupun tidak dan memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada

keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan keterampilan teknis dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut maka dapat dinyatakan bahwa profesi pada dasarnya adalah serangkaian aktivitas atau pekerjaan yang dijalani oleh seseorang sebagai sarana untuk mencari nafkah hidup sekaligus sebagai sarana untuk mengabdi kepada kepentingan orang lain yang harus diiringi dengan keahlian, keterampilan, dan tanggung jawab pada masyarakat.

Sementara Profesional menurut Kusnandar59

Menurut Mulyasa

ialah, Profesional adalah sifat dari suatu profesi, artinya suatu kumpulan pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan ketentuan atau standar operasional pekerjaan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

60

Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat dinyatakan bahwa profesional adalah sebutan bagi seseorang yang melaksanakan suatu pekerjaan dengan baik sesuai dengan profesinya masing-masing yang didasarkan pada pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku untuk melaksanakan pekerjaan secara optimal.

Profesional mempunyai makna yang berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Profesional mengacu pada sikap atau mental

, profesional adalah seseorang yang memiliki kompetensi dalam suatu pekerjaan tertentu dan berkaitan dengan kepandaian khusus untuk

menjalankannya. Profesional merupakan sikap yang mengacu pada peningkatan kualitas profesi.

59 Arif Kusnandar, Membudayakan Profesionalisme Kerja, (Bandung: Tarsito, 2007), hal.

213.

60 Mulyasa, Op Cit, hal. 45.

dalam bentuk komitmen dari para anggota profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya.61

Menurut Mulyasa, Profesionalitas adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang.

Menurut Pasal 2 huruf b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang ASN disebutkan bahwa;

“penyelenggaraan kebijakan dan Manajemen ASN berdasarkan pada asas profesionalitas”. Yang dimaksud dengan “asas profesionalitas” adalah

mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

62

Menurut Kusnandar, profesionalitas adalah sebutan yang mengacu pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Profesionalitas sebagai komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu.

63

Sementara menurut A.S. Moenir, profesionalitas kerja merupakan tolak ukur dalam menilai efektivitas dan efisiensi kinerja instansi pemerintah dalam melaksanakan program kerjanya. Secara konseptual prosedur diartikan sebagai langkah-langkah sejumlah instruksi logis untuk menuju pada suatu proses yang dikehendaki. Proses yang dikehendaki tersebut berupa pengguna-pengguna sistem proses kerja dalam bentuk

61 R Kristasari, “Pengaruh Profesionalisme, Etika Profesi, Dan Pengalaman Auditor Terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas (Survey Pada Beberapa Kantor Akuntan Publik),

aktivitas, aliran data, dan aliran kerja. Prosedur operasional standar adalah proses standar langkah-langkah sejumlah instruksi logis yang harus dilakukan berupa aktivitas, aliran data, dan aliran kerja.64

Bahwa profesionalitas kerja sebagai suatu sistem yang memuat tentang proses dan prosedur suatu kegiatan yang bersifat efektif dan efisien berdasarkan suatu standar yang sudah baku. Pengembangan instrument manajemen dimaksudkan untuk memastikan bahwa proses pelayanan di seluruh unit kerja pemerintahan dapat terkendali dan dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Profesionalitas kerja pegawai digunakan dalam kebijakan pemerintah dalam upaya mewujudkan kinerja pelayan publik di lingkungan unit kerja pemerintahan yang terukur dan dapat dievaluasi keberhasilannya, pemerintah daerah perlu memiliki dan menerapkan prosedur kerja yang standar. Prosedur kerja merupakan pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis, administrative dan procedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang

bersangkutan.

65

Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa profesionalitas merupakan suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya yang bertujuan agar kualitas keprofesionalannya dapat tercapai secara berkesinambungan. Karena Profesionalitas pada umumnya berkaitan dengan pekerjaan, namun pada umumnya tidak semua pekerjaan adalah profesi, karena profesi memiliki karakteristik sendiri yang membedakannya dari

64 A.S. Moenir, Op Cit, hal. 69

65 D. Amrullah, “Profesionalitas Pegawai Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Wilayah Bandar Lampung Dalam Penyaluran Dana APBN Di Provinsi Lampung”, (Universitas Lampung: Kearsipan Fakultas ISIP, 2013), hal. 13

pekerjaan lainnya. Profesionalitas berkaitan dengan mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau ciri orang yang profesional.66

a. Keterampilan

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi profesionalitas kerja adalah sebagai berikut:

Keterampilan yang berdasarkan pada pengetahuan teoritis. Profesional dapat diasumsikan mempunyai pengetahuan teoritis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang berdasarkan pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktik.

b. Pendidikan yang ekstensif

Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi.

c. Pelatihan institusional

Selain ujian, biasanya dipersyaratkan untuk mengikuti pelatihan institusional dimana calon professional mendapatkan pengalaman praktis sebelum menjadi anggota penuh organisasi. Peningkatan keterampilan melalui pengembangan profesional juga dipersyaratkan.

d. Otonomi kerja

Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoritis mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar.

e. Kode etik

Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan. Kode etik profesi

adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.67

Dalam hal meningkatkan profesionalitas dibutuhkan peran kode etik agar seseorang menjalankan pekerjaannya dengan baik sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.

Kode etik profesi sebagai suatu pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari. Profesi yang beretika adalah profesi yang menekankan pada pengabdian kepada masyarakat sehingga merupakan suatu pelayanan pada manusia atau masyarakat dengan motivasi utama bukan untuk

memperoleh nafkah dari pekerjaannya.68

a. Menjunjung tinggi martabat profesi.

Bahwa pentingnya kode etik dalam profesionalitas adalah agar setiap anggota profesi mampu melaksanakan hal-hal yang menunjukkan profesionalitasnya dalam bekerja, yaitu sebagai berikut:

b. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.

c. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.

d. Untuk meningkatkan mutu profesi.

e. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.

f. Meningkatkan layanan diatas keuntungan pribadi.

g. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

h. Menentukan baku standarnya sendiri.69

67 D. Amrullah, Op Cit, hal. 16.

68 Ibid, hal. 19

69 Tani. H Handoko, “Manajemen Sumber Daya Manusia“, (Jakarta: Rajawali Press, 2004) ), hal. 53.

Adapun beberapa prinsip yang dikembangkan dalam profesionalitas kerja adalah sebagai berikut:

a. Mengatur diri. Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih senior, praktisi yang dihormati, atau yang berkualifikasi paling tinggi.

b. Layanan publik. Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik.

c. Status dan imbalan. Profesi yang paling sukses akan meraih status yang tinggi, prestise, dan imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal ini bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap layanan yang diberikan kepada masyarakat.

d. Tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya yang berdampak pada kehidupan orang lain atau masyarakat umumnya.

e. Keadilan. Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.

f. Otonomi. Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diketahui bahwa seorang profesional memiliki beberapa prinsip yang terus menerus dikembangkan dalam pelaksanaan pekerjaannya sehingga hasil kerja tersebut mencerminkan profesionalitasnya dalam bekerja. Beberpa prinsip yang dikembangkan seorang professional dalam bekerja adalah mengatur diri, layanan publik, status dan imbalan, tanggung jawab, keadilan dan

otonomi.70

B. Penerapan Profesionalitas Terhadap Aparatur Sipil Negara

Untuk menjalankan sistem pemerintahan dengan mengandalkan para pegawai

Untuk menjalankan sistem pemerintahan dengan mengandalkan para pegawai

Dokumen terkait