• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DAN EVALUAS

6.5. Penerapan 5 S di Lingkungan Pabrik 1 Seiri (Ringkas)

Pada lingkungan pabrik pemisahan barang yang berguna dan tidak berguna tidak tampak begitu jelas, karena semua benda/peralatan proses produksi tidak terletak pada tempatnya, misalnya: pada lantai pabrik, sekat-sekat seng pada bak koagulum hendaknya disimpan di dalam kotak dan diletakkan di dekat bak koagulum, sehingga akan mempermudah pelaksanaan proses produksi. Selama ini sekat-sekat tersebut sembarangan diletakkan di dekat bak koagulum, tidak ada penempatan khusus untuk tiap-tiap sekat tersebut.

2. Seiton (Rapi)

Tingkat kerapian di lantai produksi sudah baik, misalnya pada lantai pabrik susunan metal box yang tertata rapi dan sudah pada tempatnya, metal box untuk produk jadi ditempatkan pada satu tempat dan dibagi untuk tiap jenis produk jadi dan bak penerimaan bahan baku juga ditempatkan pada satu area yang sama hal ini akan memudahkan operator dalam pemberian kode untuk produk dan bahan

baku. Pada bengkel pabrik juga kerapian tampak jelas, perlengkapan bengkel disusun rapi sesuai jenisnya dan diletakkan didalam bengkel sehingga mempermudah pemilihan alat yang perlu digunakan untuk memperbaiki atau memeriksa mesin-mesin produksi.

3. Seiso (Resik)

Kebersihan di lantai produksi lantai satu cukup diperhatikan dan terjaga. Hal ini tampak tingginya frekuensi membersihkan lantai produksi oleh pekerja yang bertugas sebagai penjaga kebersihan pabrik (tukang sapu). Dan para operator juga mendukung kebersihan di pabrik, mereka lebih berhati-hati ketika melakukan pemasukan bahan-bahan baku ke dalam mesin produksi agar bahan-bahan baku tidak berserakan di lantai pabrik. Sedangkan di tangga untuk naik ke lantai dua tidak begitu bersih dan agak licin, sebaiknya kebersihan tangga lebih di perhatikan lagi agar keselamatan operator lebih terjamin. Lateks yang menempel di tangga dikerok dan dibersihkan secara rutin sehingga kebersihannya tetap terjaga.

4. Seiketsu (Rawat)

Para pekerja PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Para selalu

berupaya menjaga kebersihan diri pribadi dan lingkungan kerjanya. Hal ini tampak dari adanya kegiatan bersih-bersih sebelum jam istirahat tiba dan letak kamar mandi tidak terlalu jauh dari lingkungan kerja. Misalnya saja lantai produksi hanya berjarak ±30 Meter dari kamar mandi. Hal ini mempermudah pekerja menjaga kebersihan pribadi dan lingkungannya.

5. Shitsuke (Disiplin Diri)

Penerapan disiplin diri pada PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Para sudah cukup bagus mengingat para pekerja sudah memiliki kesadaran untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin sering dilakukan dan menjadikan kesalahan-kesalahan tersebut sebagai tolak ukur untuk melakukan perbaikan ke depannya. Penandaan jam masuk dan keluar kerja dilakukan dengan sistem kartu dari gerbang masuk pabrik. Pemeriksaan terhadap pekerja yang membawa bungkusan juga tetap dilakukan untuk mencegah terjadinya pencurian bahan baku maupun produk jadi pabrik. Dengan demikian kedisiplinan yang terbentuk di perusahaan sudah tergolong baik.

6.6. Penghapusan (Muda)

Muda merujuk pada semua kegiatan yang tidak memberi nilai tambah pada hasil produksi, untuk menghindari pemborosan pada pada perusahaan maka dapat dilakukan penerapan penghapusan pemborosan di lantai produksi seperti:

1. Membuat Jadwal Induk Produksi (JIP) dan melakukan kegiatan produksi sesuai jadwal, jangan sekali-kali mendahului jadwal karena hanya akan menimbulkan pemborosan pada setiap aspek perusahaan baik itu konsumsi material, tenaga pekerja, energi dan utilitas, penambahan gudang persediaan dan hal-hal lain di pabrik yang akan hanya semakin merugikan perusahaan.

2. Pembelian material sebaiknya lebih selektif dan tidak berlebihan sesuai dengan kebutuhan produksi saja, karena jika terlalu lama bahan baku disimpan maka akan mengurangi kualitas material dan tidak akan memberi nilai tambah bagi

perusahaan bahkan hanya akan merugikan karena perusahaan harus membuat gudang material yang lebih besar.

3. Pengulangan proses produksi untuk produk yang tidak memenuhi spesifikasi standar mutu perusahaan kembali ke dalam bak penampungan produk cacat untuk diproses kembali sampai memenuhi standar mutu adalah suatu pemborosan yang memerlukan biaya mahal, karena tidak hanya menguras tenaga pekerja tetapi juga akan berakibat buruk pada kualitas mesin-mesin produksi karena spesifikasi bahan baku tidak sesuai dengan spesifikasi bahan yang seharusnya di olah mesin produksi. Untuk itu harus dilakukan peningkatan kinerja operator untuk meningkatkan kelancaran proses produksi di pabrik

6.7. Standarisasi

Kegiatan pabrik berfungsi mengikuti formula yang telah disepakati bersama.

Hal ini tidak hanya berarti sekedar mematuhi teknologi, manajerial maupun standar operasional yang berlaku, tetapi juga memperbaiki proses yang ada dalam rangka membawa standar yang menuju ke tingkat yang lebih tinggi.

Setelah dilakukan penelitian di PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Para maka diperoleh beberapa hal yang dapat menjadi standar dalam pengolahan RSS 1 yaitu:

1. Dalam hal penerimaan bahan baku sebelumnya harus dilakukan pemeriksaan dan pemilihan bahan baku yang berkualitas baik, seperti bahan baku lateks, harus memiliki spesifikasi mutu yang baik sehingga akan menunjang hasil

produksi, misalnya untuk bahan baku lateks yang baik adalah memiliki kadar DRC < 15 %, tidak memiliki kotoran, dan tidak menggumpal. Dengan demikian bahan baku lebih dapat terjamin kualitasnya.

2. Perawatan mesin dilakukan secara berkala (bersifat prefentive) untuk mencegah adanya gangguan mesin ketika proses produksi berlangsung, perawatan dilakukan dengan cara rutin yaitu membersihkan dan melakukan pemanasan untuk setiap mesin dan material handling (confeyor, bucket elevator, elevator) sebelum dan sesudah proses produksi, sehingga kualitas mesin dapat terjaga. Untuk penggantian spare part mesin dilakukan pemeriksaan berkala untuk setiap jenis mesin, seperti untuk mesin mixer pemeriksaan spare part mesin dilakukan setiap 3 minggu sekali. Diharapkan dengan penerapan perawatan efisiensimesindapat terus dipertahankan.

3. Dilakukan pembaharuan proses kerja dan operator diwajibkan mengikuti prosedur pengolahan RSS 1 di setiap departemen di lantai pabrik misalnya memasukkan bahan baku ke dalam bak penampungan sebelum proses produksi dan memeriksa jumlah bahan baku yang tersimpan dalam bak-bak penampungan bahan baku tersebut sebelum memulai proses produksi, dan mengunakan seluruh kelengkapan pelaksanaan kegiatan produksi di lantai pabrik selama proses produksi berlangsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya kecelakaan kerja dan cacat produk. Seperti mengenakan masker, tutup kepala, sepatu boot dan pakaian kerja yang telah disediakan perusahaan. Serta mengembalikan seluruh peralatan pelaksanaan

proses produksi pada tempatnya untuk menjaga kerapian dan keringkasan penyimpanan dan pemakaian peralatan setiap pelaksanaan proses produksi. 4. Operator memiliki kemampuan dan kesiapan diri sebelum melaksanakan

kegiatan produksi di lantai pabrik, misalnya sudah mengikuti traning yang diselenggarakan perusahaan dalam hal pengolahan atau pengoperasian mesin-mesin produksi dan stamina yang kuat (sudah sarapan) dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani agar proses produksi berjalan dengan baik 5. Disiplin waktu kerja harus tetap dilaksanakan sesuai jadwal kerja yang telah

dibuat oleh pihak manajemen perusahaan. Shift-shift kerja arus ditaati agar kelelahan kerja dapat dihindari atau stamina pekerja dapat terjaga, hindari double shift yang akan menguras tenaga pekerja yang menyebabkan timbulnya kelelahan kerja yang akan menurunkan produktivitas pekerja. Pemeriksaan barang-barang pekerja dilakukan ketika melewati pintuk masuk dan keluar pabrik demi menjaga keamanan dan pencurian bahan baku maupun produk jadi pabrik.

BAB VII

Dokumen terkait