42
BAB II
PENGATURAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DI INDONESIA 2.1. Izin Yang Harus Dipenuhi Pada Usaha Per tambangan
Izin Usaha Pertambangan (IUP) berdasarkan Pasal 36 UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara terdiri atas :
a. IUP Eksplorasi, izin usaha yang meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan,
b. IUP Operasi Produksi, izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan IUP eksplorasi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
Pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) berdasarkan Pasal 7 PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara terdiri dari 2 tahap, yaitu pemberian WIUP terlebih dahulu kemudian menyusul pemberian IUP. Dalam satu WIUP diberikan satu atau beberapa IUP. WIUP mineral logam diperoleh dengan cara lelang. Setiap pemohon IUP hanya dapat diberikan satu WIUP, namun untuk perusahaan go public dapat diberikan lebih dari satu WIUP.
1. Persyaratan Permohonan IUP Eksplorasi dan IUP Produksi berdasarkan Pasal 23 PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, meliputi :
a. Administr asi
Berdasarkan Pasal 24 PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, persyaratan
43
administrasi IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi badan hukum, firma, CV atau koperasi meliputi :
1) Surat Permohonan
2) Susunan direksi dan daftar pemegang saham/susunan pengurus 3) Surat keterangan domisili
Apabila pemohonnya perorangan maka hanya poin 1 dan 3 saja.
b. Teknis
Berdasarkan Pasal 25 PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, persyaratan teknis untuk pengajuan permohonan IUP Eksplorasi meliputi :
1) Daftar riwayat hidup dan surat pernyataan tenaga ahli pertambangan, dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun 2) Peta WIUP yang dilengkapi dengan batas koordinat geografis lintang
dan bujur sesuai dengan ketentuan system informasi geografi yang berlaku secara nasional
(Sedangkan untuk IUP Operasi Produksi harus dilengkapi dengan) : 1) Peta wilayah dilengkapi dengan batas koordinat geografis lintang
dan bujur sesuai dengan ketentuan system informasi geografi yang berlaku secara nasional
2) Laporan lengkap eksplorasi 3) Laporan studi kelayakan
4) Rencana reklamasi dan pasca tambang 5) Rencana kerja dan anggaran biaya
44
6) Rencana pembangunan dan prasarana penunjang kegiatan operasi produksi
7) Tersedianya tenaga ahli pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun
c. Lingkungan
Berdasarkan Pasal 26 PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, persyaratan lingkungan untuk IUP Eksplorasi dokumen harus dilengkapi dengan pernyataan untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, sedangkan untuk IUP Operasi Produksi perlu adanya:
1) Pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
2) Persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
d. Financial
Berdasarkan Pasal 27 PP No 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, persyaratan financial untuk IUP Eksplorasi harus dilengkapi dengan :
1) Bukti penempatan jaminan kesungguhan pelaksanaan kegiatan eksplorasi
45
2) Bukti pembayaran harga nilai kompensasi data informasi hasil lelang WIUP mineral logam sesuai dengan nilai penawaran lelang atau bukti pembayaran biaya pencadangan wilayah dan pembayaran pencetakan peta WIUP mineral bukan logam atau batuan atas permohonan wilayah.
Sedangkan untuk IUP Operasi Produksi:
1) Laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan public
2) Bukti pembayaran iuran tetap 3 (tiga) tahun terakhir, dan
3) Bukti pembayaran pengganti investasi sesuai dengan nilai penawaran lelang bagi pemenang lelang WIUP yang telah berakhir
2. Berdasarkan Pasal 36 huruf (a) PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, pemegang IUP Operasi Produksi yang tidak melakukan kegiatan operasi produksi dapat dilakukan oleh pihak lain yang memiliki IUP Operasi Produksi Khusus Pengangkutan dan Penjualan, persyaratan permohonan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Khusus Pengangkutan dan Penjualan.
a. Syarat-syarat permohonan :
1) Membuat permohonan bermaterai cukup,
2) Lampiran permohonan :
− Copy identitas (KTP, NPWP),
46
− Tanda Daftar Perusahaan (TDP),
− Akte pendirian badan usaha yang salah satu dari maksud dan tujuannya menyebutkan berusaha dibidang pertambangan dan telah disyahkan oleh pengadilan negeri/Kementerian Hukum dan Ham kecuali koperasi atau KUD,
− Copy IUP Operasi Produksi yang telah dilegalisir oleh pejabat berwenang pemberi IUP Operasi Produksi,
− Copy kontrak/MOU dengan pemegang IUP Operasi Produksi yang telah disahkan oleh pejabat berwenang pemberi IUP Operasi Produksi,
− Copy persetujuan RKAB IUP Operasi Produksi yang telah dilegalisir oleh pejabat berwenang.
3. Berdasarkan Pasal 36 huruf (b) PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, pemegang IUP Operasi Produksi yang tidak melakukan kegiatan operasi produksi dapat dilakukan oleh pihak lain yang memiliki IUP Operasi Produksi Khusus Pengolahan dan Pemurnian, persyaratan permohonan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Khusus Pengolahan dan Pemurnian. a. Syarat-syarat Permohonan :
1) Membuat permohonan bermaterai cukup,
2) Lampiran permohonan :
47
− Akte pendirian badan usaha yang salah satu dari maksud dan tujuannya menyebutkan berusaha dibidang pertambangan dan telah disyahkan oleh pengadilan negeri/Kementerian Hukum dan Ham kecuali koperasi atau KUD,
− Laporan studi kelayakan,
− Laporan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau
laporan upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL- UPL),
− Copy kontrak/MOU dengan pemegang IUP yang telah disahkan oleh pejabat berwenang pemberi IUP,
− Rencana teknis pengolahan dan pemurnian,
− Copy IUP yang masih berlaku.
A.Kewenangan Pemberian IUP
Berdasarkan Pasal 28 PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, IUP Eksplorasi diberikan oleh :
1. Menteri ESDM, untuk permohonan wilayah ijin usaha pertambangan (WIUP) yang berada lintas wilayah provinsi atau wilayah laut lebih dari 12 mil dari garis pantai,
2. Gubernur, untuk permohonan wilayah ijin usaha pertambangan (WIUP) yang berada lintas wilayah kabupaten/kota dalam 1 provinsi atau wilayah laut 4 mil sampai dengan 12 mil dari garis pantai, dan
48
3. Bupati/walikota, untuk permohonan wilayah yang berada di dalam 1 wilayah kabupaten/kota atau wilayah laut sampai dengan 4 mil.
Berdasarkan Pasal 35 PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, IUP Operasi Produksi diberikan oleh:
a. Bupati/walikota, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian serta pelabuhan berada di dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil dari garis pantai
b. Gubernur, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta pelabuhan berada di dalam wilayah kabupaten/kota yang berbeda dalam 1 (satu) provinsi atau wilayah laut sampai dengan 12 (dua belas) mil dari garis pantai setelah mendapat rekomendasi dari Bupati/walikota c. Menteri, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian,
serta pelabuhan berada di dalam wilayah provinsi yang berbeda atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai setelah mendapat rekomendasi dari Gubernur dan Bupati/walikota setempat sesuai dengan kewenangannya.
Dalam hal lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian serta pelabuhan berada di dalam wilayah yang berbeda serta kepemilikannya juga berbeda maka IUP Operasi Produksi masing-masing diberikan oleh Menteri, Gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya, selain itu apabila pemegang IUP Operasi Produksi tidak melakukan kegiatan
49
pengangkutan dan penjualan dan/atau pengolahan dan pemurnian, kegiatan pengankutan dan penjualan dan/atau pengolahan dan pemurnian dapat dilakukan oleh pihak lain yang memiliki:
a. IUP Operasi Produksi Khusus untuk pengangkutan dan penjualan,
berdasarkan Pasal 37 ayat (1) PP no 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan batubara, izinnya diberikan oleh:
1. Menteri, apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan lintas provinsi dan Negara
2. Gubernur, apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan lintas kabupaten/kota
3. Bupati/walikota, apabila kegiatan pengankutan dan penjualan dalam 1 (satu) kabupaten/kota
b. IUP Operasi Produksi Khusus untuk pengolahan dan pemurnian
berdasarkan Pasal 37 ayat (2) PP no 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan batubara, yang izinnya diberikan oleh :
1. Menteri, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal dari provinsi lain dan/atau lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian berada pada lintas provinsi
2. Gubernur, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal dari beberapa kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian berada pada lintas kabupaten/kota
50
3. Bupati/walikota, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal dari 1 (satu) kabupaten/kota dan/atau lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian berada pada 1 (satu) kabupaten/kota.
2.2.Pr osedur Pengajuan Izin Usaha Pertambangan
1. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi
Berdasarkan Pasal 1 ayat (8) UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi (IUP Eksplorasi) adalah izin usaha yang diberikan untuk tahapan awal yang meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan. Berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral No 188/94/199/2010, standar operasional prosedur IUP Eksplorasi meliputi :
A. Prosedur proses penyelesaian pelayanan
1. Prosedur meminta informasis proses masalah IUP kepada PPT bagian informasi pelayanan dan atau, dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, bidang pertambangan umum dan Migas, seksi pemanfaatan dan konservasi pertambahan umum dan Migas;
2. Pemohon melengkapi berkas permohonan, dan diserahkan ke Dinas ESDM;
3. Dinas ESDM melakukan penelitian berkas permohonan :
a) Apabila permohonan tidak lengkap, berkas permohonan
51
b) Apabila berkas lengkap, dilakukan rapat koordinasi dan pemohon melakukan paparan rencana kerja; 2 hr
4. Dinas ESDM melakukan kajian teknis dan melakukan peninjauan lapangan bersama-sama dengan intansi teknis terkait (2 hr)
a) apabila dari hasil kajian teknis dan peninajauan lapangan, ternyata lokasi yang dimohon tidak layak maka permohonan akan ditolak dan berkas permohonan dikembalikan pada pemohon; (1hr0
b) apabila dari hasil kajian teknis dan peninajauan lapangan, ternyata lokasi yang dimohon layak, maka permohonan akan langsung dimintakan rekomendasi kepada kabupaten / kota dan instansi terkait.; (1 hr)
5. Jawaban rekomendasi dari bupati / wali kota dan instansi terkait; (6hr)
a) Apabila Bupati / Walikota/ instansi terkait tidak merekomendasi maka permohonan akan ditolak dan berkas dikembalikan kepada pemohon; (1hr)
b) Apabila bupate / walikota / instansi terkait menyetujui dan memberikan rekomendasi maka permohonan akan diproses lebih lanjut dengan membuat konsei IUP operasi produksi dan surat perintah membayar kepada pemohon; 1 hr
6. Penyerahan konsep IUP Eksplorasi ke loket pendaftaran; 1 (hr) 7. Penandatangan/ penerbitan IPU Eksplorasi;
52
8. Penyerahan IUP Eksplorasi ke loket pengambilan untuk diserahkan ke pemohon;
9. Penyampaian surat perintah membayar kepada pemohon; (1 hr)
10. Pempohon membayar kewajiban-kewajiban sebagai calon pemegang
IUP eksplorasi;
11. Setelah membayar kewajiban di loket pembayaran, pemohon mengambil IUP eksplorasi dengan menyerahkan bukti pembayaran
53
2. IUP Operasi Produksi
Berdasarkan Pasal 1 ayat (9) UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP Operasi Produksi) adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi meliputi, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan da penjualan. Berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral No 188/94/199/2010, standar operasional prosedur IUP Operasi Produksi meliputi :
A. Prosedur proses penyelesaian pelayanan
1. Pemohon meminta informasi IUP kepada PT bagian informasi pelayanan atau Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, bidang pertambangan umum dan Migas, seksi pemanfaatan dan konservasi pertambangan umum dan Migas;
2. Pemohon melengkapi berkas permohonan, dan diserahkan ke Dinas ESDM;
3. Dinas ESDM melakukan penelitian berkas permohonan :
a) Apabila permohonan tidak lengkap, berkas permohonan
dikembalikan ke pemohon;
b) Apabila berkas lengkap, dilakukan rapat koordinasi dan pemohon melakukan paparan rencana kerja; 2 hr
4. Dinas ESDM melakukan kajian teknis dan melakukan peninjauan lapangan bersama-sama dengan intansi teknis terkait (2 hr)
54
a) apabila dari hasil kajian teknis dan peninajauan lapangan, ternyata lokasi yang dimohon tidak layak maka permohonan akan ditolak dan berkas permohonan dikembalikan pada pemohon; (1hr)
b) apabila dari hasil kajian teknis dan peninajauan lapangan, ternyata lokasi yang dimohon layak, maka permohonan akan langsung dimintakan rekomendasi kepada kabupaten / kota dan instansi terkait.; (1 hr)
5. Jawaban rekomendasi dari bupati / wali kota dan instansi terkait ; (6hr)
a) Apabila Bupati / Walikota/ instansi terkait tidak
merekomendasi maka permohonan akan ditolak dan berkas dikembalikan kepada pemohon; (1hr)
b) Apabila bupati / walikota / instansi terkait menyetujui dan memberikan rekomendasi maka permohonan akan diproses lebih lanjut dengan membuat konsei IUP operasi produksi dan surat perintah membayar kepada pemohon; 1 hr
6. Penyerahan konsep IUP Eksplorasi ke loket pendaftaran; 1 (hr) 7. Penandatangan/ penerbitan IPU Eksplorasi;
8. Penyerahan IUP Eksplorasi ke loket pengambilan untuk diserahkan ke pemohon;
55
10. Pemohon membayar kewajiban-kewajiban sebagai calon pemegang IUP Operasi Produksi;
11. Setelah membayar kewajiban di loket pembayaran, pemohon mengambil IUP Operasi produksi dengan dengan menyerahkan bukti pembayaran
56
3. IUP Operasi Produksi Khusus Pengangkutan dan Penjualan
Berdasarkan Pasal 36 huruf (a) PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, pemegang IUP Operasi Produksi yang tidak melakukan kegiatan operasi produksi dapat dilakukan oleh pihak lain yang memiliki IUP Operasi Produksi Khusus Pengangkutan dan Penjualan. Berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral No 188/94/199/2010, standar operasional prosedur IUP Operasi Produksi Khusus Pengangkutan dan Penjualan meliputi :
A. Prosedur proses penyelesaian pelayanan;
1) Pemohon meminta informasi masalah IUP kepada PPT bagian informasi pelayanan atau Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, bidang pertambangan Umum dan migas,
2) pemohon melengkapi berkas permohonan, dan diserahkan ke Dinas ESDM;
3) Dinas ESDM melakukan penelitian berkas permohonan:
a. Apabila permohonan tidak lengkap, berkas permohonan dikembalikan ke pemohon;
b. Apabila berkas lengkap, dilakukan rapat koordinasi dan
dilakukan pemrosesan IUP operasi produksi khusus
pengangkutan dan penjualan; (6 hr)
4) Penyeahan konsep IUP operasi produksi khusus pengangkutan dan penjualan ke loket pendaftaran; 1 hr
57
5) Penandatanganan / penerbitan IUP operasi produksi khusus pengangkutan dan penjualan;
6) Penyerahan IUP operasi produksi khusus pengangkutan dan
penjualan ke loket pengambilan untuk diserahkan ke pemohon; 7) Pemohon mengambil IUP operasi produk khusus pengangkutan
dan penjualan
Tabel 3. Bagan Alir IUP Operasi Produksi Khusus Pengangkutan dan Penjualan
4. IUP Operasi Produk Khusus Pengolahan dan Pemurniaan
Berdasarkan Pasal 36 huruf (b) PP No 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, pemegang IUP Operasi Produksi yang tidak melakukan kegiatan operasi produksi dapat dilakukan oleh pihak lain yang memiliki IUP Operasi Produksi Khusus Pengolahan dan Pemurnian. Berdasarkan Keputusan
58
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral No 188/94/199/2010, standar operasional prosedur IUP Operasi Produksi Khusus Pengolahan dan Pemurnian meliputi :
A. Prosedur proses penyelesaian pelayanan :
1. Pemohon meminta informasi masalah IUP kepada PPT bagian informasi pelayanan atau Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, bidang pertambangan Umum dan migas,
2. Pemohon melengkapi berkas permohonan, dan diserahkan ke Dinas ESDM;
3. Dinas ESDM melakukan penelitian berkas permohonan:
a) Apabila permohonan tidak lengkap, berkas permohonan dikembalikan ke pemohon;
b) Apabila berkas lengkap, dilakukan rapat koordinasi dan
dilakukan pemrosesan IUP operasi produksi khusus
pengangkutan dan penjualan; (6 hr)
4. Penyeahan konsep IUP operasi produksi khusus pengangkutan dan penjualan ke loket pendaftaran; 1 hr
5. Penandatanganan / penerbitan IUP operasi produksi khusus
pengolahan dan pemurnian;
6. Penyerahan IUP operasi produksi khusus pengangkutan dan penjualan ke loket pengambilan untuk diserahkan ke pemohon; 7. Pemohon mengambil IUP operasi produk khusus pengolahan dan
59
60
BAB III
PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERTAMBANGAN TANPA IZIN DALAM KASUS PIDANA PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI NO. 285/Pid.B/2012/PN.Sby
3.1. Gambar an Kasus Tindak Pidana Pertambangan Tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP) Berdasar kan Putusan Pengadilan Neger i Sur abaya No. 285/Pid.B/2012/PN. Sby
Syahrir A. Toago sebagai staf pemasaran PT SGP (pimpinan Nardy Eko P) bergerak di bidang perdagangan Umum Kontraktor dan Pertambangan Mineral jenis batu mangan memiliki tugas dan tanggung jawab melakukan tugas pemasaran dan operasional perusahaan.
PT SGP memiliki IUP Eksplorasi di Kabupaten Belu Atambua NTT No. Distamben. 540 /BP. PP/2/XII/2008 tanggal 29 Desember 2010 tentang Pemberian kuasa Pertambangan Eks Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi Mineral Logam Mangan atas nama PT Sumber Griya Permai (SGP) dengan WIUP di Kabupaten Belu Atambua NTT selama 3 tahun untuk luas 625 ha.
Dalam pengakuannya PT SGP mengajukan permohonan Izin Sementara untuk melakukan pengangkutan dan penjualan terhadap Batu Mangan yang tergali kepada Bupati Belu Atambua (sebagai penerbit izin tersebut) karena belum memiliki IUP Operasi Produksi. Permohonan tersebut disetujui oleh Bupati dengan menerbitkan Izin Sementara Pengangkutan dan Penjualan Batu Mangan kepada PT SGP di WIUP No. Distamben 540/BP.
61
PP/9/CVI/2009 tanggal 6 Juni 2010 dengan volume Mangan 50.000 (lima puluh ribu) MT.
Syahrir A Toago diberikan kuasa penuh oleh PT SGP untuk melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kegiatan produksi PT SGP baik pengangkutan maupun penjualan Batu Mangan. Syahrir menggunakan izin tersebut untuk beberapa kali pengiriman.
Pada pengiriman terakhir terdakwa, bahwa Batu Mangan milik terdakwa sebanyak 2 unit container dan 45 ton dari PT Sumber Griya Permai (SGP) yang diangkut dari NTT berada di Depo Meratus Jl Tanjung Tembaga no 5- 7 Surabaya akan dijual kepada Puji Setiawan selaku broker dan akan dijual lagi kepada PT Indo Tama Ferro Aloys yang bertempat di Jl Raya Industri Km 10 Kp Conggeang Ds Cilangkap Purwakarta Jawa Barat namun perbuatan tersebut diketahui oleh Petugas Kepolisian dari Resor Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya atas nama saksi Taufik Huda dan saksi Rachmad Eka Jaya yang sedang melakukan pengawasan dan pemantauan melakukan pemeriksaan terhadap dokumen yang menyertai pengangkutan batu mangan tersebut ternyata tidak disertai dengan IUP Operasi Produksi Khusus Pengangkutan dan Penjualan. Sehingga petugas menyita barang-barang tersebut sebagai bukti untuk proses tindak lanjut kepada Syahrir yang didakwa melakukan tindak pidana pertambangan tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP).
62
3.2. Analisa Kasus Tindak Pidana Pertambangan Tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP) No 285/Pid.B/2012/PN.Sby.
Berdasarkan putusan No. 285/Pid.B/2012/PN.Sby, Hakim memilih dakwaan ke 2 yaitu Pasal 158 UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang berbunyi “Setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, IPR atu IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1) atau (5) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)” dengan unsur-unsur sebagai berikut :
1. Setiap Orang ;
Berdasarkan surat dakwaan Penuntut Umum tanggal 11 Januari 2012 No. Reg P-Perkara No. PDM-13/Tg.PRK/01/2012 dan setelah Majelis Hakim menanyakan identitas Terdakwa dipersidangkan ternyata telah sesuai dengan identitas Terdakwa dalam surat dakwaan tersebut, disamping itu berdasarkan keterangan saksi H. Nardi Eko Pranoto dan saksi Sumali bahwa mengenal Terdakwa yaitu Syahrir A Toago, oleh karena itu unsur ke 1 telah terpenuhi.
2. Melakukan usaha pertambangan tanpa IUP (Ijin Usaha Pertambangan), IPR
(Ijin Pertambangan Rakyat) atau IUPK (Ijin Usaha Pertambangan Khusus) ; Bahwa pada persidangan telah terbukti fakta-fakta sebagai berikut :
Pada hari selasa tanggal 15 Juni 2010 sekitar pukul 12.00 wib di Depo Meratus Jl Tanjung Tembaga No. 5-7 Surabaya, Polres Pelabuhan
63
Tanjung Perak telah mengamankan 2 container dengan No. seri MRLU 236943-1 dan No. MRLU 232346-7 yang berisi batu mangan.
Kedua container tersebut berasal dari Kupang NTT menuju Surabaya dengan menggunakan sarana pengangkutan KM. Rimba Tujuh dengan ekspedisi muatan kapal laut (EMKL) PT. Mitra Intertran Forwarding (PT. MIF).
Dokumen yang menyertai 2 container tersebut adalah ;
Fotocopy surat pernyataan pemilik barang atas nama H. Syahrir tanggal 02 Juni 2010.
Fotocopy surat keterangan asal barang (SKAB). Fotocopy surat pembayaran royalty.
Fotocopy surat keputusan Bupati Belu No. Distamben
540/BP.PP/21/XII/2008 tanggal 29 Desember 2008 tentang kuasa pertambangan eksplorasi PT. Sumber Griya Permai (SGP).
Mengenai surat pernyataan pemilik barang atas nama H. Syahrir tanggal 2 Juni 2010 yang menyertai 2 container yang berisi batu mangan tersebut telah dibantah oleh terdakwa bahwa bukan terdakwa yang membuat dan menandatangani surat pernyataan tersebut, namun apabila dibandingkan antara tanda tangan dalam surat pernyataan tersebut dengan tanda tangan terdakwa dalam berita acara penyidikan ternyata sama dan juga berdasarkan keterangan saksi verbalisan yang bernama Sumali pada pokoknya menerangkan bahwa pada saat saksi melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa pada tahap penyidikan terdakwa mengakui membuat dan
64
menandatangani surat pernyataan tanggal 2 juni 2010 tersebut dan mengakui mengirim 2 container dari Kupang NTT ke Surabaya, oleh karena itu bantahan terdakwa terhadap surat pernyataan tersebut tidak beralasan dan bantahannya harus dikesampingkan.
Dalam surat pernyataan tersebut disebutkan bahwa terdakwa sebagai Kuasa Direktur PT. Sumber Griya Permai (SGP) namun berdasarkan keterangan terdakwa dan keterangan Direktur PT Sumber Griya Permai (SGP) H. Nardi Eko Pranoto didepan persidangan, bahwa yang menjadi Kuasa Direktur yang mengurus usaha pertambangan PT. Sumber Griya Permai (SGP) adalah Lukman Capede bukan terdakwa dan H. Nardi Eko Pranoto selaku Direktur PT. Sumber Griya Permai (SGP) juga menerangkan bahwa tidak mengetahui pengiriman 2 container yang berisi batu mangan dari Kupang NTT ke Surabaya, saksi mengetahui setelah dipanggil oleh Penyidik Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, oleh karena itu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas maka yang bertanggung jawab atas pengiriman dan pengangkutan 2 container yang berisi batu mangan dari Kupang NTT ke Surabaya adalah tedakwa.
Mengenai surat keputusan Bupati Belu No. 540/BP.PP/21/XII/2008