BAB VII. PERANCANGAN ARSITEKTUR
Diagram 4.1 Penerapan Variety
Tujuan mengadakan variety adalah untuk meningkatkan pilihan. Variety dalam fungsi sebuah proyek tergantung pada 3 faktor utama:
Rangkaian kegiatan yang hendak ditempatkan, yang dinamakan dengan permintaan atau kebutuhan. Rancangan terhadap suatu tempat muncul jika terdapat permintaan dan kebutuhan akan ruang tersebut.
Kemungkinan dalam penyediaan ruang yang mencukupi dalam menampung kegiatan dan dapat dijangkau. Ruang dengan biaya yang dapat dijangkau pemakai akan lebih bervariatif dan memiliki berbagai jenis usaha, sedangkan jika ruangnya mahal, hanya beberapa jenis usaha yang dapat ditemukan.
Jangkauan rancangan sehingga mampu menciptakan interaksi positif di antaranya. Variety tidak dapat dicapai hanya dengan meletakkan sekumpulan aktivitas pada suatu
FUNGSI
MANUSIA BENTUK
lokasi. Untuk dapat berlangsung baik, fungsi-fungsi tersebut harus memberikan dukungan satu sama lainnya atau dapat dikatakan terjadi interaksi antaraktivitas.
Dalam pembagian fungsi, terdapat fungsi utama dan fungsi pendukung. Beberapa aktivitas yang memiliki fungsi utama, berfungsi seperti magnet yang menarik orang untuk menuju tempat tersebut. Fungsi pendukung akan didukung oleh fungsi utama yang salah satunya adalah dengan adanya jalur pedestrian.
Contoh sederhananya yaitu pada pusat perbelanjaan. Toko yang utama akan menarik orang untuk datang berkunjung. Pada saat bersamaan, toko pendukung yang terletak di sepanjang pedestrian tersebut akan juga akan terpengaruh. Toko pendukung dinilai penting sebagai pendukung karena meningkatkan keberagaman dalam fungsi dan aktivitas (Gambar 4.1).
Gambar 4.1 Pengaruh Pedestrian Terhadap Fungsi Bangunan
Waktu juga merupakan faktor penting dalam sistem dukungan fungsi satu sama lainnya. Beberapa fungsi pendukung, seperti pub dan restoran, memerlukan jam kerja yang panjang, kira-kira dari pagi sampai larut malam. Keadaan ini tidaklah menjadi masalah apabila fungsi utamanya juga beroperasi dalam waktu yang lama. Hal ini biasanya memerlukan fungsi utama campuran karena waktu manusia terbagi saat berada di tempat kerja dan di rumah, sehingga saat ini muncul adanya tempat kerja yang digabung dengan hunian.
Dalam membangun suatu proyek, salah satu hal penting yang harus diperhatikan dan diuji adalah kelayakannya. Kelayakan proyek menyatakan apakah suatu proyek layak untuk dibangun atau tidak. Hal ini dapat dtinjau dari 3 segi, yaitu:
Kelayakan fungsional
Beberapa fungsi tidak cocok untuk digabung dalam suatu proyek karena faktor seperti kebisingan ataupun penyebab kemacetan. Ini tidak dapat diletakkan secara berdekatan karena hanya akan menimbulkan masalah. Selain itu, beberapa fungsi juga dinilai tidak
AREA PARKIR JALUR PEDESTRIAN AREA TOKO AREA TOKO GENERATOR AKTIVITAS
cocok apabila orang menilainya dalam status yang berbeda. Hal ini dapat teratasi dengan rancangan detail secara hati-hati.
Kelayakan politik
Ketika pola dari fungsi yang direncanakan menyimpang dari norma yang berlaku ataupun kebijakan perencanaan di sekitarnya, pihak berwenang di sekitarnya berhak menyetujui atau tidak berdasarkan dukungan publik terhadap fungsi bangunan tersebut. Jika permintaan awalnya sudah tersusun, maka pola fungsi seharusnya, atau minimal harus mencerminkan permintaan dari masyarakat sekitar. Dukungan dan ketertarikan masyarakat di sekitarnya merupakan hal yang penting dalam mewujudkan suatu proyek. Kelayakan ekonomi
Untuk dapat berlangsung, suatu proyek harus memenuhi suatu kriteria dasar, yaitu nilai ekonomis ketika proyek selesai harus lebih besar ataupun sama dengan biaya pembangunannya, ditambah keuntungan yang didapatkan pihak pengembang.
Variety layak diterapkan pada perancangan bangunan karena merupakan salah satu kriteria yang penting dalam desain. Tema variety in responsive environment dapat diterapkan melalui beberapa tahap yaitu:
Menentukan fungsi pada lokasi
Tahap pertama dalam perancangan bertema variety in responsive environment ini adalah menentukan fungsi apa yang sesuai dengan kebutuhan atau permintaan masyarakat. Permintaan ini terkait dengan dua aspek, yaitu dari aspek sosial dan ekonomi. Dari aspek sosial, penentuan fungsi harus mempertimbangkan tuntutan sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan menanyakan informasi dari area sekitar maupun sumber lainnya yang dapat memberi informasi mengenai akomodasi apa yang diperlukan.
Dari aspek ekonomi, penentuan fungsi didasarkan pada biaya pembangunan suatu proyek, di mana beberapa tenant sangat dibutuhkan untuk mengembangkan proyek tersebut.
Menerapkan adanya jalur pedestrian
Beberapa fungsi, seperti toko-toko, tidak dapat bertahan jika tidak ada jalur pedestrian yang menghubungkannya. Untuk memperoleh jalur pedestrian yang terpusat, diperlukan magnet, yaitu fasilitas seperti department store, ataupun area parkir, yang menarik pejalan kaki dalam jumlah yang besar. Magnet tersebut harus terletak pada jarak tertentu
antara satu dengan lainnya, seperti pada rancangan pusat perbelanjaan memiliki jarak antarmagnet efektif 90-120 m.
Menghubungkan kecocokan fungsi
Beberapa fungsi tidak sesuai untuk ditempatkan pada suatu lokasi karena merupakan faktor penyebab kebisingan ataupun kemacetan. Itu sebabnya fungsi ini tidak boleh diletakkan berdekatan. Masalah lainnya adalah status bangunan. Bangunan yang baru dan bangunan lama di sekitarnya harus menunjukkan adanya suatu kecocokan. Untuk itu, diperlukan data mengenai fungsi bangunan sekitar dan kemudian dikaitkan dengan fungsi baru yang akan ditempatkan.
Menghitung nilai dan biaya proyek
Dalam menentukan kelayakan ekonomi suatu proyek, diperlukan perhitungan terhadap nilai dan biaya proyek, termasuk biaya tanah, konstruksi, arsitek, surveyor, insinyur, dll. Memeriksa kelayakan ekonomi
Suatu proyek dikatakan layak secara ekonomi apabila nilai bangunan setelah siap dibangun lebih besar atau sama dengan total biaya pembangunannya.
Ada tiga cara untuk membuat sebuah proyek lebih bertahan, yaitu:
Menerapkan fungsi campuran untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Meletakkan akomodasi yang lebih banyak pada lokasi.
Memikirkan kembali faktor yang mempengaruhi nilai dan biaya proyek.
4.3 Keterkaitan Tema dengan Judul
Semakin berkembangnya taraf kehidupan masyarakat kota Medan memacu peningkatan terhadap kebutuhan ruang. Masyarakat menginginkan adanya efektivitas dan efisiensi dalam segala sesuatu. Untuk itulah, menjadi dorongan muncul beragam aktivitas dalam suatu kawasan. Keberagaman tersebut memberikan banyak pilihan yang ditawarkan fungsi bangunan terhadap penggunanya, sehingga aktivitas pada kawasan tersebut juga akan bertambah ramai dan berkembang lebih baik.
Konsep variety sangat membantu dalam menciptakan dan memaksimalkan fungsi bangunan. Untuk itulah, konsep ini cocok untuk dipadukan pada perancangan bangunan multifungsi. Selain dapat meningkatkan fungsi bangunan itu sendiri, juga akan membawa pengaruh positif terhadap lingkungan di sekitarnya.
Gambar 4.3 Entrance BCW Gambar 4.2 Eksterior Bandung City 4.4 Studi Banding Tema Sejenis
Adapun studi banding yang menggunakan tema sejenis adalah sebagai berikut:
4.4.1 Braga City Walk
BCW (Braga City Walk) adalah satu– satunya mix used development di Bandung yang menggabungkan antara shopping center, condominium, dan hotel (Gambar 4.2). Braga adalah salah satu jalan di pusat kota Bandung.
Sejak zaman kolonial hingga akhir 70-an, Braga dikenal sebagai pusat kawasan bisnis di Bandung. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan berbelanja paling elit di Bandung. Namun, pada saat ini, kepopuleran kawasan Braga sudah menurun. Untuk itulah, pemerintah merencanakan diadakannya konservasi, dengan menunjuk Agung Podomoro Grup untuk menata kembali kawasan pusat kota tersebut menjadi Braga City Walk.
Lokasi : Jl. Braga, Bandung
Fungsi bangunan : shopping mall, pertokoan retail, apartemen, dan hotel Jumlah lantai : apartemen 18 lantai
lifestyle center 3 lantai
Dibangun : 2005
Luas site : 8.853 m2
Developer : PT Bangun Mitra Mandiri (BMM), Agung Podomoro Grup
Usulan pengembangan mixed use oleh Dinas Tata Kota Bandung yaitu Braga City Walk bertujuan untuk menata kembali kawasan Braga yang mengalami kemunduran aktivitas perdagangan. Dengan penggabungan beragam fungsi yaitu hotel, apartemen, lifestyle center, dan pertokoan retail, diharapkan jalan tersebut akan hidup kembali dan mengalami peningkatan terhadap aktivitas dan kegunaan lahannya (Gambar 4.3).
Gambar 4.5 Pedestrian Mall BCW
Gambar 4.4 Foto Udara BCW Gambar 4.6 Plaza Terbuka BCW
Selain kemampuan bersaingnya rendah, kenyamanan serta keleluasaan bagi pengunjung terutama pejalan kaki juga rendah karena padatnya arus lalu lintas, sarana parkir yang seadanya dan kondisi trotoar yang minim. Untuk itulah, usulan perencanaan BCW didasari oleh konsep usulan yang dikemukakan oleh Thomas Klaas dengan tujuan menjadikan Braga sebagai pusat perbelanjaan yang dikhususkan bagi pejalan kaki, dikenal dengan Konsep Pedestrian Mall (Gambar 4.4 dan 4.5).
Fasilitas retail akan mengadopsi konsep lifestyle Center yang bukan saja akan menjadi tempat belanja yang nyaman tapi juga menjadi pusat akulturasi budaya lokal dan lokal budaya metropolis. Luas lifestyle Center ini meliputi 20.000 m², yang tersebar di 3 lantai bangunan. Kekhasan Braga City Walk yang akan menjadi daya tarik utama masyarakat adalah disediakannya plaza terbuka yang dapat digunakan untuk berbagai acara (Gambar 4.6). Plaza terbuka ini direncanakan seperti plaza terbuka kota-tua di Eropa.
4.4.2 Orchard Turn
Orchard Turn menandai pintu gerbang menuju Orchard Road, dirancang untuk
pengembangan retail yang dipadukan dengan Orchard MRT Station dan terkoneksi dengan pengembangan area yang berada di sekitarnya.
Gambar 4.7 Suasana Luar Ion Orchard
Gambar 4.8 Suasana Pedestrian di Ion Orchard
Lokasi : Jl. Orchard, Singapura Fungsi bangunan : shopping center,
condominium, galeri Jumlah lantai : kondomium 56 lantai
Shopping center 9 lantai Orchard MRT Station 1 lantai
Orchard Turn yang memiliki luas 1,8 ha dan berada di atas Orchard MRT Station, direncanakan untuk fungsi komersial seluas 125.726 m2 (Gambar 4.7). Ion Orchard, mall yang terdapat di Orchard Turn dibangun untuk retail, area makan, dan fungsi hiburan. Di dalamnya terdapat anchor utama yang menawarkan sejumlah retail dan pengalaman berbelanja yang beragam.
Variety diterapkan melalui beragam fungsi yang terpadu dalam suatu lingkungan yang tanggap, yaitu Orchard Road yang merupakan shopping street, jalan yang selalu ramai dilalui dan dipenuhi dengan fungsi retail, shopping center, dll (Gambar 4.8). Orchard Road terkenal dengan konsep pedestriannya, di mana pengunjung dibawa untuk
berjalan ketika mengunjungi bangunan yang terdapat sepanjang jalan tersebut. Desain Orchard Turn ini bertujuan memberi dukungan terhadap bangunannya sendiri dan lingkungan di sekitarnya, melalui pengalaman pedestrian yang dinamis. Kenyamanan dan banyaknya pilihan yang mendukung segala aktivitas yang terdapat di Orchard Road.
Ion Orchard memiliki fasilitas seperti area publik, 400 retail, tempat penyelenggaraan acara seluar 3000 m², galeri seni seluas 500 m² . Untuk fungsi hunian, terdapat Orchard Residence yang memiliki 175 unit. Desain bangunan itu sendiri menggunakan berbagai konsep seperti kanopi retail menggunakan metafora dari pohon, dan tower yang ikonik tersebut berdasar pada konsep akar dan tumbuhan yang tumbuh dan menjulang tinggi. Secara konseptual, desainnya terlihat seperti tumbuh dari kanopi yang berada di bawah.
SITE
BAB V
ANALISIS
5.1 Analisa Kondisi Tapak dan Lingkungan
Dalam menganalisa kawasan perancangan, dilakukan analisa terhadap lokasi, tata guna lahan, bangunan sekitar, sirkulasi, pencapaian, view, iklim, kebisingan dan vegetasi.
5.1.1 Analisa Lokasi
Lokasi proyek berada di Jl. Palang Merah, Kecamatan Medan Maimoon, Kelurahan Aur, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Gambar 5.1).
Luas lahan : ±16.300 m2 (±1,63 ha) Sifat proyek : fiktif
GSB : Utara (Jl. Palang Merah) : 10m Selatan (Jl. Cakrawati) : 0
Timur (Jl. .Kolonel Sugiono) : 8m
Barat (Jl. Mangkubumi) : 3m KDB : ±13.494m2 (83%) Pemilik : Swasta
A
B
C
D
Adapun batas-batas lokasi proyek bangunan multifungsi ini adalah seperti pada Gambar 5.2: Batas Utara (A) : Jl. Palang Merah
Batas Selatan (C) : Jl. Cakrawati Batas Timur (B) : Jl. Kolonel Sugiono Batas Barat (D) : Jl. Mangkubumi
Gambar 5.2 Foto Jalan di Sekeliling Site
5.1.2 Analisa Tata Guna Lahan
Bangunan di sekitar didominasi oleh perdagangan dan jasa yang berupa pertokoan (Gambar 5.3). Selain itu, fungsi perkantoran seperti bank juga banyak dijumpai. Dengan demikian, maka pembangunan bangunan multifungsi di kawasan ini akan semakin memperkuat citra kawasan sebagai area komersil.
Gambar 5.3 Tata Guna Lahan
Analisa batas-batas dan peruntukan lahan di sekitar site ditunjukkan oleh Gambar 5.4.
Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Palang Merah yang berseberangan dengan kawasan komersil, di mana terdapat Apotek Kimia Farma, kantor notaris, tempat fotokopi, dll.
Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Kolonel Sugiono yang berseberangan dengan kawasan perkantoran, pemukiman dan komersil, di mana terdapat kantor Jiwasraya, bank BNI, agen travel, dll.
Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Mangkubumi yang berseberangan dengan kawasan perkantoran seperti kantor imigrasi, sarana pendidikan, pemukiman dan lahan kosong.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Cakrawati di mana terdapat kawasan pemukiman dan komersil, seperti restoran.
5.1.3 Analisa Bangunan Sekitar
Bangunan di sekitar area site terdiri dari beragam fungsi, di antaranya adalah:
5.1.3.1Berdasarkan Tinjauan Fungsi Kantor
SITE
A1
A7
A2
A5
A4
A3
A6
Fungsi perkantoran yang terdapat di sekitar site merupakan potensi yang mendukung munculnya kegiatan perkantoran di kawasan ini (Gambar 5.5). Yang menjadi permasalahan adalah kebanyakan perkantoran merupakan bangunan single use sehingga jika ditinjau dari segi penggunaan lahan, hal tersebut tidak efisien.Untuk penyelesaiannya, sebaiknya didirikan bangunan untuk beberapa fungsi sehingga dapat mengefisienkan pemanfaatan lahan.
Kantor Direktorat Pajak Kantor Imigrasi Polonia
Bank BNI Kantor Jiwasraya
A1
A2
A3
B.K.S.P.P.S Bank Kesawan Bank BTNA4
A5
A6
A7
5.1.3.2 Berdasarkan Tinjauan Fungsi Hotel dan Apartemen
5.1.3.3Berdasarkan Tinjauan Fungsi Perdagangan dan Jasa
B1
B2
Pada area di sekitarnya terdapat fungsi hotel dan apartemen berupa hotel Danau Toba dan apartemen Royal Residence (Gambar 5.6). Permasalahannya adalah kualitas hotel sudah agak menurun. Untuk itu, diperlukan penyediaan bangunan yang memiliki kualitas baik serta fasilitas yang lengkap sehingga area ini bisa ditingkatkan kualitas lingkungannya.
Royal Residence Hotel Danau Toba
B1
B2
Pada lokasi sekitar site, terdapat banyak area perdagangan dan jasa yang ramai sehingga berpotensi mengundang pengunjung yang banyak ke lokasi (Gambar 5.7). Namun, permasalahannya adalah beberapa area perdagangan dan jasa tersebut ada yang sudah tidak terawat dan tidak tertata rapi, sehingga merusak wajah kota dan ada juga yang tidak tersewa. Untuk itulah, maka perlu adanya penyediaan fasilitas perdagangan dan jasa yang lebih terencana dalam desain dan mempertimbangkan daya sewa penyewanya.
C1
C2
C3
C4
C5
C7
C6
C1
C2
C4
C5
C3
C6
C7
Ruko Apotek Kimia Farma Percetakan, wartel dan FotokopiRuko Asia Jaya Furniture
5.1.3.4Berdasarkan Tinjauan Fungsi Pemukiman
D4
D1
D5
D3
D2
Pemukiman di sekitar lokasi site kebanyakan berupa ruko (Gambar 5.8). Kecenderungan ini disebabkan karena dengan ruko, orang dapat melakukan kegiatan usaha di lantai dasar dan tinggal di lantai 2 dan 3. Masalahnya, masih terdapat area pemukiman yang kurang terawat di area Jl.Mangkubumi yang dekat ke sungai Deli. Untuk itu, dengan keberadaan bangunan baru diharapkan dapat memberi pengaruh yang positif kepada daerah di sekitar sehingga dapat memacu pertumbuhan daerah di sekitarnya dan meningkatkan nilai daerah tersebut.
Ruko di Jl.Cakrawati Ruko di Jl. Kol.Sugiono Ruko di Jl.Cakrawati
Rumah di Jl.Pemuda Pemukiman di Jl. Mangkubumi
D1
D2
D3
D4
D5
5.1.3.5Berdasarkan Tinjauan Fungsi Sarana Pendukung
5.1.4 Analisa Prasarana
Adapun prasarana pendukung yang terdapat pada lokasi proyek antara lain: Jaringan jalan (infrastruktur) yang baik
Jaringan saluran air bersih, air kotor
Bangunan Kolonial SD Negeri
Gereja Katedral
Sarana yang tersedia seperti sarana pendidikan, peribadatan peninggalan kolonial, dan sebuah bangunan kolonial yang tentunya berpotensi mendukung kegiatan di sekitarnya dan memperkaya kota dalam segi arsitektur (Gambar 5.9). Permasalahan yang sering terjadi adalah kemacetan pada sarana-sarana tertentu dan jam tertentu, seperti pada sekolah dan tempat peribadatan. Untuk penyelesaiannya, maka sarana tersebut harus mempunyai tempat parkir yang cukup dalam lingkungannya sendiri sehingga tidak mengganggu aktivitas jalan.
E1
E2
E3
E4
SD St.YosephE1
E2
E3
E4
Jaringan listrik, telepon dan gas Fasilitas Pedestrian
Permasalahannya adalah jalur pedestrian yang tidak jelas, sehingga pejalan kaki terkadang merasa tidak nyaman. Selain itu, terdapat area pembuangan sampah di Jl. Mangkubumi yang harus ditindaklanjuti untuk menjaga kebersihan di sekitarnya (Gambar 5.10 dan 5.11).
Untuk penyelesaiannya dilakukan dengan menyediakan tempat pembuangan akhir bagi masyarakat di sekitarnya, sehingga pembuangan sampah bisa dilakukan pada tempatnya dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan sekitar.
Gambar 5.11 Keadaan Jalan Mangkubumi
5.1.5 Analisa Skyline
Adapun ketinggian bangunan yang terdapat di sekitar lokasi site tampak seperti Gambar 5.12 berikut ini.
Untuk bangunan di sekitar, kebanyakan berupa ruko dengan ketinggian 3 lantai. Untuk bangunan yang tertinggi di sekitarnya adalah Royal Residence dengan ketinggian 15 lantai. Itu sebabnya ketinggian bangunan multifungsi ini nantinya disesuaikan dengan keadaan di sekitarnya.
Skyline Jl. Kol. Sugiono Skyline Jl.Palang Merah
Skyline Jl. Cakrawati
Skyline Jl. Mangkubumi
SITE
A
C
B
5.1.6 Analisa SirkulasiAnalisa sirkulasi terdiri dari sirkulasi kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki.
5.1.6.1Sirkulasi Kendaraan
Adapun sirkulasi kendaraan pada area di sekitar site dapat dilihat dari Gambar 5.13 di bawah ini. Gambar Tingkat Kemacetan Jalan Tinggi Sedang Rendah
D
Jalan Palang Merah merupakan jalur dengan kepadatan tinggi di kawasan ini. Dengan lebar jalan ±20m, sirkulasi 2 arah, dan dapat dilalui kendaraan umum maupun pribadi.
Jalan Kolonel Sugiono merupakan jalur dengan kepadatan sedang. Lebar jalan ±14m, sirkulasi 2 arah, dan dilalui kendaraan umum maupun pribadi.
Jalan Mangkubumi merupakan jalur dengan kepadatan sedang. Lebar jalan ±10m, sirkulasi 2 arah, dan dilalui kendaraan umum dan pribadi.
Jalan Cakrawati merupakan jalur dengan kepadatan relatif rendah. Lebar jalan ±8m, sirkulasi 2 arah, dan dilalui kendaraan umum dan pribadi.
D
C
B
A
Sering terjadi kemacetan di arah belokan dari Jl. Palang Merah ke Jl. Mangkubumi sehingga harus diupayakan adanya pengaturan lalulintas yang baik, misalnya dengan membuat bundaran ataupun rambu lalu lintas di persimpangan sehingga kemacetan dapat dihindarkan.
A
C
B
D
5.1.6.2Sirkulasi Pejalan Kaki
Adapun sirkulasi pejalan kaki pada area di sekitar site dapat dilihat dari Gambar 5.14 di bawah ini. Gambar Intensitas Tinggi Sedang Rendah SITE
Jalur pedestrian terdapat pada jalan Palang Merah memiliki intensitas yang tinggi karena merupakan jalan raya yang banyak dilalui oleh pegawai kantor, pelaku serta pengunjung dari kegiatan komersil yang terdapat di sekitarnya. Pada pedestrian dengan lebar ±1,5m ini juga terdapat tiang listrik dan rambu lalu lintas.
Jalur pedestrian pada jalan Mangkubumi dan Kolonel Sugiono memiliki intensitas yang sedang, di mana pada Jl. Kolonel Sugiono, terdapat jalur pedestrian sebesar 1m dengan material dan warna yang berbeda terhadap jalan, sedangkan pada Jl. Mangkubumi, pedestrian tidak memiliki material, warna, maupun ketinggian yang berbeda, juga tidak terdapat jalur hijau yang khusus.
Jalan Cakrawati tidak memiliki jalur pedestrian secara khusus, sehingga pejalan kaki tidak terfasilitasi dengan baik dan jarang dilalui pejalan kaki.
A
B
&
C
D
Tersedia jalur pedestrian yang baik di Jl. Palang Merah
Tidak tersedia jalur pedestrian khusus, sehingga orang berjalan pada GSB. Menyediakan jalur pedestrian
yang nyaman baik dalam maupun luar bangunan.
5.1.7 Analisa Pencapaian
Analisa Pencapaian terhadap inti-inti kota dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut ini. Tabel 5.1 Pencapaian Inti Kota
WPP Cakupan Kecamatan Inti Kota Pencapaian
A
1. Kec. Medan Belawan 2. Kec. Medan Marelan
3. Kec. Medan Labuhan Belawan
Pencapaian dapat diakses melalui Jalan arteri kota primer dan dapat ditempuh dari inti pengembangan kota menuju lokasi selama ± 1 jam.
B Kec. Medan Deli Tanjung Mulia
Dari pusat pengembangan kota menuju lokasi dapat ditempuh selama ± 45 menit.
C
1.Kec. Medan Timur 2.Kec. Medan perjuangan 3.Kec. Medan Tembung 4.Kec. Medan Area 5.Kec. Medan Denai 6.Kec. Medan Amplas
Aksara
Pencapaian dapat diakses dari pusat pengembangan kota yaitu Aksara menuju lokasi dapat ditempuh selama ± 15 menit. Sedangkan dari lokasi terjauh yaitu Kecamatan Medan Amplas menempuh waktu selama ± 30 menit.
D
1.Kec. Medan Johor 2.Kec. Medan Kota 3.Kec. Medan Baru 4.Kec. Medan Maimoon 5.Kec. Medan Polonia
Inti Kota
Pencapaian dapat diakses dari inti kota yaitu kawasan Kantor Walikota Medan dapat ditempuh ± 5 menit, sedangkan dari kawasan terjauh yaitu Kec. Medan Johor ditempuh selama ± 20 menit.
E
1.Kec. Medan Barat 2.Kec. Medan Petisah 3.Kec. Medan Sunggal 4.Kec. Medan Selayang 5.Kec. Medan Tuntungan
Sei
Sikambing
Pencapaian dapat diakses melalui jalur arteri kota primer melalui Jalan Gatot Subroto dan Jalan Lingkar pendukungnnya ditempuh selama ± 20 menit. sedangkan dari titik terjauh yaitu Kec. Medan Tuntungan ditempuh selama ± 30 menit.
Untuk proyek bangunan multifungsi ini, pencapaian ke lokasi proyek dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi (Gambar 5.15). Lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan dalam waktu ±5 menit dari kawasan pusat kota dan sekitar 20 menit dengan berjalan kaki.
Site dapat dicapai melalui sisi Utara, yaitu dari Jl. Palang Merah yang merupakan jalan 2 arah.
Site dapat dicapai melalui sisi Timur, yaitu dari Jl. Pemuda yang merupakan jalan 1 arah.
Site juga dapat dicapai melalui Jl. Suprapto, kemudian memasuki Jl. Mangkubumi yang merupakan jalan 2 arah.
SITE
A
B
C
Site juga dapat dicapai dari Jl. Mangkubumi dan Jl. Palang Merah.
Site mudah dicapai karena merupakan area pusat kota dan banyak dilalui kendaraan
Jalan arteri kota Medan, yaitu Jl. Pemuda dapat mengakses ke lokasi site dnegan melalui Jl. Palang Merah
Dilalui oleh kendaraan umum maupun pribadi
Pencapaian pada titik B merupakan pencapaian terbaik bagi kendaraan karena memiliki jalur 2 arah. Titik A dapat dijadikan entrance bagi pejalan kaki, dan titik C dapat dijadikan side entrance atau service entrance.
A
C
B
5.1.8 Analisa View
Analisa view dibagi atas view ke luar dan view ke dalam. Adapun analisa tersebut