III.1.7.1. Potensi Konflik Kepentingan di Dalam Kawasan SAP
Potensi konflik kepentingan tidak ada untuk lokasi survei. Masyarakat di 19 (sembilan belas) desa sampel; tidak pernah menimbulkan konflik antara pengguna maupun dengan petugas terhadap pemanfaatan dan pengelolaan SDL. Kesadaran bahwa laut adalah kepemilikan bersama ini yang membuat tidak adanya konflik selama ini. Lebih dari 12 tahun ini sudah tidak ada konflik. Dahulu pernah ada konflik dengan nelayan dari luar desa untuk pemboman ikan dan penggunaan sianida, itupun tidak bisa dikatakan konflik karena hanya adu mulut antara nelayan dan berakhir dengan pengusiran dari wilayah penangkapan, tidak sampai pengaduan ke pihak yang berwajib.
III.1.7.2. Potensi Konflik Kepentingan di Luar Kawasan SAP
Potensi konflik kepentingan dapat dijumpai di luar kawasan SAP yakni di desa Tapolangu, dan Lerahinga (Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata) serta di desa Kawalelo (Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur). Potensi konflik muncul dari kehadiran usaha budidaya mutiara di desa desa tersebut. Penyebabnya adalah ada larangan oleh pengusaha budidaya mutiara kepada masyarakat nelayan setempat untuk tidak boleh menangkap ikan di area budidaya tersebut. Keluhan dari masyarakat nelayan setempat adalah mereka tidak pernah dilibatkan oleh pemerintah desa tentang keberadaan dari usaha budidaya mutiara di desa mereka dan nelayan merasa dirugikan sebagai akibat dari kalim sepihak pemilik buduidaya mutiara. Berdasarkan hasil FGD, justru tempat tempat di mana dilakukan budidaya muitiara adalah tempat-tempat yang menghasilkan ikan menurut para nelayan.
Laporan Survei Sosial Ekonomi SAP Flores Timur - 2018 III.1.8 Dampak dari Pengelolaan dan Manfaat Terbesar
III.1.8.1 Dampak Sosial dan Dampak Ekologi dari Pengelolaan
Menurut pendapat masyarakat, dampak sosial dari pengelolaan adalah masyarakat sejahtera dan pendapatan bertambah. Hal ini berdasarkan pada pemahaman masyarakat jika perikanan tangkap menjadi sektor utama dalam hal ini mata pencaharian utama maka akan sangat membantu meningkatkan pendapatan selain menjadi petani atau pekerja kebun/ladang. Dengan demikian, taraf kehidupan masyarakat akan meningkat. Dampak sosial lainnya juga ditambahkan adalah dengan adanya pengelolaan yang baik sesuai aturan yang berlaku maka konflik kepentingan antara kelompok pengguna dijamin tidak ada, apalagi ditambah dengan fungsi pengawasan dari pihak berwajib seperti Polisi Air.
Berdasarkan hasil diskusi, dampak ekologi dari pengelolaan adalah laut terjaga, lestari dan hasil laut seperti ikan bertambah banyak. Hal ini juga dirasakan oleh kelompok masyarakat yang bermatapencaharian utama dan sampingan utama serta nelayan yang ikut dengan kapal nelayan lain (bukan desa asal), hasil perikanan sangat menjanjikan jika dikelola dengan baik sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pemahaman masyarakat terhadap kelestarian laut yang terjaga sangat tinggi walaupun sosialisasi dari pihak terkait kurang namun dari jaman dahulu menurut sejarah dari nenek moyang sudah mengajarkan agar memperlakukan laut sebagai bagian dari kehidupan sehingga tidak boleh sembarangan bertindak di laut dan harus dijaga perilaku yang baik jika tidak maka terjadi marabahaya bahkan kematian dari orang yang dicintai.
Pengakuan masyarakat nekayan yang diperoleh dari hasil wawancara melalui FGD dan dengan informan kunci mengatakan bahwa dewasa ini praktek penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun ikan sudah sangat jarang terjadi. Walaupun diakui bahwa jumlah ikan yang ditangkap tidak sebanyak jaman para orang tua mereka tetapi masih lebih baik dari tahun tahun belakangan di mana masih marak terjadi pemboman ikan dan penggunaaan racun untuk menangkap ikan. Selain itu, ada aturan-aturan pemerintah yang jelas yang mengatur tentang alat tangkap yang diperbolehkan untuk digunakan agar tidak merusak sumber daya laut yang ada. Semuanya ini disadari yang akhirnya berujung pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat nelayan.
III.1.8.2 Penerima Manfaat Terbesar
III.1.8.2.1. Penerima Manfaat Terbesar di Dalam Kawasan SAP
Berdasarkan hasil diskusi, penerima manfaat terbesar adalah nelayan dari luar desa sampel dengan armada dan/atau alat tangkap yang lebih besar seperti lampara dengan pukat cincin (purse seine), rawai dan/atau pancing Tuna (longline Tuna), lampara atau kapal motor dengan double fishing gears (alat tangkap rangkap) seperti pukat dan pancing dalam satu armada penangkapan. Jika dibandingkan hasil kontribusi sumber daya laut terhadap pendapatan masyarakat di desa sampel, nilai kontribusi berada pada rentang 1% sampai dengan 25% artinya hasil penangkapan atau sumber daya laut menyumbang 1%-25% dari pendapatan masyarakat di desa sampel. Hal ini disebabkan karena masyarkat desa sampel sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan hanya pekerjaan sampingan utama dan lebih banyak untuk konsumsi dalam rumah tangga sendiri, beberapa desa dengan nilai kontribusi 1% disebabkan karena kondisi demografi desa yang jauh dari pantai.
Dari 19 (sembilan belas) desa sampel, kontribusi dari hasil laut terbesar terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 60% sampai dengan 70% berada di desa Terong dan Desa Waiburak , 20% sampai dengan 25% berada pada Desa Kenere dan Desa Ongalereng; rentang nilai kontribusi 10% sampai dengan 15% berada pada 7 (tujuh) desa sampel yakni Desa Dani Wato, Desa Sulengwaseng, Desa Ritaebang, Desa Kalike Aitaman, Bubu Atagamu, Nurri dan Riang Bura; sedangkan kontribusi dibawah 5% berada pada Desa Balaweling I, Karawatung, Tanah Lein, Lewo Tanah Ole, Lamawolo dan Nelerereng. Gambar 8 menyajikan data kontribusi hasil penangkapan pada saat melaut terhadap pendapatan rumah tangga dari masyarakat desa sampel di SAP Flores Timur.
Laporan Survei Sosial Ekonomi SAP Flores Timur - 2018
Gambar 8. Kontribusi SDL terhadap Pendapatan Masyarakat 13 (tiga belas) Desa Sampel di SAP Flores Timur
III.1.8.2.2. Penerima Manfaat Terbesar di Luar Kawasan SAP
Penerima manfaat terbesar dari dampak adanya pengelolaan sumber daya kelautan yang benar menurut pengakuan masyarakat dirasakan paling besar oleh masyarakat nelayan setempat baik itu yang ada di dalam dan di luar kawasan SAP. Berdasarkan pada hasil FGD diakui pula bahwa masyarakat sekitarnya juga menerima dampak itu. Salah satu contoh adalah usaha rumpon di desa BAMA oleh pemerintah desa dan warga masyarakat. Sering masyarakat nelayan dari desa lain meminta ijin kepada pemerintah desa Bama atau pemilik rumpon yang ada di desa Bama untuk menangkap ikan di area rumpon. Hasil penangkapan di bagi dua dengan pemilik rumpon. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa masyarakat nelayan dari luar desa yang biasanya mempunyai kapasitas tangkap lebih besar menerima manfaat yang cukup besar pula dari pembelakuan pengelolaan sumber daya laut yan baik. Salah satu contohnya adalah masyarakat nelayan dari desa Lamahala dan desa-desa lainnya.
Laporan Survei Sosial Ekonomi SAP Flores Timur - 2018 III.1.9 Praktik Pengelolaan Masyarakat Lokal
III.1.9.1. Praktik Pengelolaan Masyarakat Lokal di Dalam Kawasan SAP
Berdasarkan hasil diskusi dengan masyarakat pada 19 (sembilan belas) desa sampel tidak ada praktik pengelolaan masyarakat lokal untuk sumber daya laut di SAP Flores Timur. Hanya 3 (tiga) desa yakni Desa Karawatung, Desa Kalike Aimata, dan Desa Bubu Atagamu yang mempunyai sejarah dari jaman nenek moyang terdahulu dan sampai dengan saat ini masih berlaku dan tidak ada perubahan dari sejarah tersebut. Sejarah tersebut berupa kepercayaan terhadap tata cara melaut dan hewan laut yang terdampar.
Desa Karawatung mempunyai kepercayaan lokal tidak boleh menangkap buaya karena buaya adalah jelmaan dari nenek moyang masyarakat lokal. Jika ditangkap maka akan terjadi bahaya berupa kematian keluarga dekat. Desa Kalike Aimatan mempunyai ritual jika ada ikan terdampar atau ikan terapung diatas perairan atau disebut dengan Ikan Wetang (ikan konsumsi) harus terlebih dahulu dibuat ritual adat baru boleh dikonsumsi, jika tidak maka akan terjadi kematian. Ritual adat Ikan Wetang ini melibatkan tuan tanah. Sama halnya dengan Desa Kalike Aimatan, ritual adat jika ikan besar terdampar seperti pari/lumba-lumba/paus yang dipimpin oleh tuan tanah juga berlaku di Desa Bubu Atagamu. Secara umum, masyarakat pada 19 (sembilan belas) desa sampel selalu memberlakukan upacara adat jika mempunyai armada penangkapan baru seperti lampara atau perahu dan/atau sampan beserta alat tangkap yang baru perlu dibuatkan acara oleh orang yang dipercaya atau tetua adat dengan bahan adat seperti darah ayam kampung dan air kelapa muda. Adapun ritual ini dilakukan agar terhindar dari marabahaya ketika melaut dan mendapat rejeki seperti hasil tangkapan dari laut. Kebiasaan lain yang sering dilakukan masyarakat Pulau Solor adalah Berkarang atau Meting, kebiasaan ini dimulai pada saat air laut surut dan masyarakat mulai mencari ikan, kepiting atau udang yang berada di antara karang atau terkadang alga hijau untuk konsumsi di rumah tangga. Meting masih dilakukan oleh masyarakat Pulau Solor dan Pulau Adonara sampai dengan saat ini.
III.1.9.2. Praktik Pengelolaan Masyarakat Lokal di Luar Kawasan SAP
Praktik pengelolaan masyarakat lokal untuk sumber daya laut dapat dijumpai di desa Dikesari (kawasan di luar SAP) dengan adanya penetapan “no fishing area” yang dikelola oleh pemerintah desa dan masyarakat adat setempat. Selain itu, praktek pengelolaan masyarakat lokal untuk sumber daya laut dapat dijumpai di desa Waiburak (kawasan di dalam SAP) bagaimana peranan dari remaja mesjid untuk menjaga kebersihan pantai serta peranan tokoh-tokoh agama di mesjid dalam mendorong masyarakat nelayan untuk melakukan praktek-praktek peangkapan ikan yang ramah lingkungan.
Laporan Survei Sosial Ekonomi SAP Flores Timur - 2018