• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap penerimaan norma kolektif ( Generalized Stage/Generalized other) para investor dengan diterapkannya SPIPISE pada Kantor

3. Meningkatkan kualitas pelayanan oleh personel yang bertanggungjawab untuk memberikan

4.4 Tahap penerimaan norma kolektif ( Generalized Stage/Generalized other) para investor dengan diterapkannya SPIPISE pada Kantor

Penanaman Modal di Kota Cimahi

Melalui proses persiapan, tahap meniru dan siap bertindak, para investor diharapkan berminat menggunakan SPIPISE dalam proses perizinan dan nonperizinan kegiatan penanaman modal. Dalam tahap ini para investor sudah bisa menentukan pilihan-pilihan sistem apa yang akan digunakan dalam kegiatan penanaman modal, apakah memilih secara manual atau secara online dengan menggunakan SPIPISE. Sebagai contoh kasus dalam hal mengapa para investor diharapkan memilih melakukan kegiatan penanaman modal secara online yaitu,

57   

terkadang informasi yang diberikan dari berbagai sumber dan ke-sahhannya bisa berbeda dari satu instansi ke yang lainnya. Dengan adanya sistem terpusat, diharapkan para investor yang mau menanam modalnya dapat mengetahui informasi mengenai jenis usaha, lokasi, luas areal, status (apakah PMDN atau PMA), dan biaya perizinan (transparan dan akuntabilitas) yang harus dikeluarkan untuk mengurus perizinan.

58  5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan penulis pada bab sebelumnya mengenai Sosialisasi Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) Pada Kantor Penanaman Modal Di Kota Cimahi, maka penulis mengemukan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Dengan adanya kegiatan dari Pusat Pengolahan Data dan Informasi BKPM kota Cimahi untuk melakukan kegiatan Pelatihan Pemantapan SPIPISE Kabupaten/Kota, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kemantapan bagi aparatur di daerah khususnya kota Cimahi dalam kegiatan pengoperasian SPIPISE. Dengan mengikuti pelatihan pemantapan ini, diharapkan para pengguna SPIPISE pada PTSP di daerah akan semakin cakap dan terampil dalam penggunaan sistem pelayanan perijinan ini. Sehingga dapat memberikan pelayanan prima kepada investor di daerahnya masing-masing.

Kota Cimahi sebagai salah satu kota yang tiap tahunnya minat investasinya terus mengalami kenaikan tidak mau kalah bersaing dengan kota lain dalam penerapan SPIPISE. Untuk menarik minat para investor dari dalam negeri ( PMDN ) dan juga pemodal asing (PMA), BKPM kota Cimahi mulai mensosialisasikan tentang SPIPISE kepada aparatur daerahnya. Dengan adanya layanan secara online ini dapat menjawab permasalahan perizinan yang selama ini terkesan birokratis dan

berbelit-59   

belit. Melalui keberhasilan daerah lainnya dalam penerapan SPIPISE, aparat kota Cimahi yang berkaitan langsung dengan kegiatan penanaman modal harus lebih bergiat lagi dalam meningkatkan pelayanan perizinan dan nonperizinan kegiatan penanaman modal melalui penerapan SPIPISE.

Melalui proses persiapan, tahap meniru dan siap bertindak, para investor diharapkan berminat menggunakan SPIPISE dalam proses perizinan dan nonperizinan kegiatan penanaman modal. Dalam tahap ini para investor sudah bisa menentukan pilihan-pilihan sistem apa yang akan digunakan dalam kegiatan penanaman modal, apakah memilih secara manual atau secara online dengan menggunakan SPIPISE.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang sudah penulis kemukakan, maka penulis mengemukakan beberapa saran yang dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan oleh aparatur daerah yang berkaitan dengan pengurusan perizinan dan nonperizinan dalam kegiatan penanaman modal kota Cimahi. Saran-saran tersebut antara lain :

1. Pemerintah yang berkaitan dengan kegiatan penanaman modal sebaiknya menambah fasilitas kecepatan dalam akses internetnya, yang tersedia sekarang adalah 512 kb, sedangkan yang dibutuhkan adalah 1 MB. Hal ini mempengaruhi minat para investor untuk menggunakan SPIPISE dalam proses perizinan dan nonperizinan kegiatan penanaman modal,

karena fasilitas yg di sediakan pemerintah tidak mencukupi kebutuhan pelanggan, dalam hal ini para investor akan tetap melaksanakan kegiatan penanaman modal secara manual walaupun memakan waktu yang lama dalam proses perizinannya.

2. Pemerintah yang berkaitan dengan kegiatan penanaman modal sebaiknya tidak berlama-lama lagi untuk mensosialisasikan penerapan SPIPISE bagi para investor yang ingin berinvestasi di Kota Cimahi. Sehingga para investor dapat dengan mudah mengakses informasi-informasi mengenai kegiatan penanaman modal dalam proses perizinan dan nonperizinan berinvestasi. Sehingga keefektifan penerapan SPIPISE di kota Cimahi dapat terlihat, jika para investor beralih menggunakan SPIPISE untuk kegiatan investasinya.

3. Pemerintah yang berkaitan dengan kegiatan penanaman modal di Kota Cimahi sebaiknya belajar dari keberhasilan daerah-daerah lain yang penerapan SPIPISE nya berjalan dengan baik. Sehingga sosialisasi penerapan SPIPISE kepada para Investor dapat mencapai tujuan yang akan dicapai, dimana para investor tertarik untuk menggunakan SPIPISE dalam kegiatan perizinan dan nonperizinan penanaman modal.

4. Aparatur Kota Cimahi yang berkaitan dengan kegiatan penanaman modal perlu dibenahi dari segi persiapannya untuk mensosialisasikan penerapan SPIPISE kepada para investor,

61   

melihat atau meniru daerah-daerah lain dalam keberhasilannya menerapkan SPIPISE, siap bertindak artinya para aparatur sudah menjalani proses pelatihan-pelatihan, sehingga saat kegiatan sosialisasi SPIPISE kepada investor dapat berjalan dengan baik, dan dalam hal ini juga, aparatur harus mengetahui apa kebutuhan para investor dan kemudahan-kemudahan apa saja yang perlu ditingkatkan dalam kegiatan proses perizinan dan nonperizinan penanaman modal.

62 

Bungin, M. Burhan.2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Fathoni, Abdurrahmat.2006. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: Rineke Cipta

Faisal, Sanapiah.2005. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Husein, Fakhri M dan Wibowo, Amin.2006. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Idianto, M.2004. Sosiologi. Jakarta: Erlangga.

Kantaprawira, Rusadi.1985. Sistem Politik Indonesia, Suatu Model Pengantar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Soejono, Soekanto.1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Subandi.2009. Sistem Ekonomi Indonesia. Jakarta: Alfabeta. Syamsuddin, Ali.2009. Sistem Sosial Budaya Indonesia. Bandung. http://www.nswi.bkpm.go.id

Dokumen Lainnya:

Inpres RI No.3 tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi.

Inpres RI No.6 tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Inpres RI No.5 tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008–

2009.

Perka BKPM No.14 Tahun 2009 Tentang Sistem Pelayanan Informasi Dan Perizinan Investasi Secara Elektronik.

Perka BKPM No.11 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Pelaksanaan, Pembinaan, dan Pelaporan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal.

63   

Perka BKPM No.12 Tahun 2009 Tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modal.

Perka BKPM No.13 Tahun 2009 Tentang Pedoman dan Tatacara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal.

Perpres 27 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu dibidang Penanaman Modal.

Undang-Undang Republik Indonesia No.25 tahun 2007 Tentang

Penanaman Modal.

Dokumen terkait