• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.3. Penerimaan Usahatani Ubi Jalar

Analisis terhadap penerimaan usahatani ubi jalar terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan tidak tunai. Penerimaan tunai merupakan penerimaan yang langsung diterima oleh petani dalam bentuk uang tunai dari hasil penjualan ubi jalarnya. Sedangkan penerimaan non tunai merupakan penerimaan yang diperoleh petani tidak dalam bentuk uang tunai melainkan dalam bentuk seperti konsumsi atau stock bibit. Produksi ubi jalar merupakan keseluruhan hasil panen yang diperoleh oleh petani pada setiap lahan yang diusahakan, karena pada daerah penelitian tidak ada sortasi terhadap hasil produksi menjadi ubi kualitas baik maupun afkir.

Penerimaan usahatani ubi jalar dapat dihitung dari hasil perkalian antara jumlah hasil produksi ubi jalar dengan harga. Jumlah rata-rata produksi ubi jalar pada musim tanam 2010 pada lokasi penelitian adalah 13.281,74 kg/ha dengan harga jual rata-rata Rp 754,26/kg. Penerimaan tunai yang diperoleh petani dari hasil penjualan ubi jalar adalah Rp 10.198.907,60. (Tabel 25)

Tabel 25. Penerimaan Usahatani Ubi Jalar per Hektar di Desa Purwasari Tahun 2010

Penerimaan Jumlah (kg) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp)

Ubi kualitas baik 13.281,74 754, 26 10.017.883,60

Penerimaan tunai 10.017.883,60

Konsumsi oleh RT 240 754, 26 181.024,00

Penerimaan non tunai

Total penerimaan

10.198.907,60

6.3.1. Biaya Usahatani Ubi Jalar

Biaya usahatani ubi jalar terdiri dari dua bagian, yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani responden meliputi biaya pemupukan, biaya tenaga kerja luar keluarga, sewa lahan, dan pajak lahan. Sedangkan biaya diperhitungkan merupakan biaya yang dikeluarkan

petani untuk kegiatan produksi yang harus diperhitungkan sebagai pengeluaran petani untuk usahatani ubi jalar. Biaya diperhitungkan yang dikeluarkan petani responden meliputi biaya tenaga kerja dalam keluarga, biaya pembibitan, biaya penyusutan, dan biaya sewa lahan milik. Tabel 26 menyajikan gambaran biaya usahatani petani responden.

Tabel 26. Biaya Usahatani Ubi Jalar per Hektar di Desa Purwasari per Musim Tanam pada Tahun 2010

Keterangan Jumlah Harga

satuan (Rp) Nilai (Rp) % atas biaya Biaya tunai

TKLK (HOK hari) 181,75 25.000,00 4.546.750,00 54,65

Pajak lahan (ha/5 bulan) 1,00 350.000,00 350.000,00 3,34

Pupuk Urea 139,17 2000,00 278340,00 3,47

Pupuk TSP 37,02 2500,00 92550,00 1,11

Phonska 47,91 3000,00 143730,00 1,72

Total biaya tunai 5.109.495,00 65,05

Biaya diperhitungkan

TKDK (HOK hari) 51,57 25.000,00 1.289.250,00 16,08

Pembibitan (stek) 46.068,85 - 706.646,70 8,61

Sewa lahan (ha/5 bulan) 1,00 750.000,00 750.000,00 9,01

Penyusutan 151.713,00 151.713,00 1,82

Total biaya diperhitungkan 2.893.459,20 34,95

Total biaya 8.304.829,20 100,00

Nilai biaya terbesar pada komponen biaya tunai adalah biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK) sebesar Rp 4.546.750,00 atau 54,65 persen dari biaya total. Jumlah tenaga kerja luar keluarga adalah 181,75 HOK dengan upah rata-rata Rp 25.000. Biaya tenaga kerja luar keluarga yang besar dikarenakan pada lokasi penelitian aktivitas usahatani ubi jalar mulai dari pengolahan lahan sampai panen lebih banyak menggunakan tenaga kerja luar keluarga atau buruh tani, selain itu faktor usia dari petani responden juga berpengaruh terhadap banyaknya penggunaan tenaga kerja luar keluarga.

Biaya terbesar kedua adalah tenaga kerja dalam keluarga sebesar 16,08 persen dari biaya total. Total biaya tenaga kerja dalam keluarga yaitu sebesar Rp.1. 289.250,00 .Biaya ini diperhitungkan untuk semua aktivitas sperti penyiapan bibit, penanaman, pengolahan lahan hingga panen. Biaya sewa lahan

untuk satu musim tanam selama lima bulan di lokasi penelitian berkisar adalah Rp 750.000.000/ha. Biaya pajak lahan di lokasi penelitian beragam sesuai dengan kondisi lahan yang dimiliki rata-rata biaya pajak yang dikeluarkan per hektar per musim tanam yaitu Rp 350.000 . Semakin dekat lokasi lahan dengan irigasi, jalan utama dan luasan lahan yang dimiliki makan pajak yang dibayarkan petani juga akan semakin besar.

Komponen biaya pemupukan terdiri dari biaya pupuk urea, biaya pupuk TSP dan biaya untuk pupuk phonska. Biaya pemupukan terbesar adalah biaya untuk pupuk Urea yaitu sebesar 3,47 persen dari total biaya usahatani. Biaya pemupukan lainnya secara berturut-turut dari presentase biaya yang besar adalah Phonska 1,72 persen dari total biaya usahatani, dan TSP sebesar 1,11 persen dari total biaya usahatani

Biaya tunai pajak lahan satu hektar selama lima bulan masa tanam untuk lahan milik adalah Rp 350.000 atau 4,20 persen dari biaya total. Biaya lahan tidak terlalu besar karena sebagian lahan yang diusahakan di lokasi penelitian adalah lahan tadah hujan yang nilai jualnya lebih rendah dari lahan irigasi.

Pada komponen biaya diperhitungkan, biaya terbesar adalah biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) sebesar Rp 1.289.250,00 atau 16,08 persen dari total biaya. Jumlah tenaga kerja yang digunakan adalah 51,57 HOK. Biaya tenaga kerja dalam keluarga digunakan untuk jenis pekerjaan mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit. Komponen biaya pembibitan sebesar 8,61 persen atau senilai Rp 706.646,70 untuk lahan pembibitan 0,1 ha. Biaya pembibitan sendiri terdiri dari biaya bibit, tenaga kerja, pengairan, pupuk, pestisida, dan sewa lahan selama dua bulan. Baik petani yang melakukan perbanyakan melalui pembibitan sendiri ataupun hasil produksi menggunakan biaya bibit yang diperhitungkan.

Komponen biaya diperhitungkan terbesar lainnya yaitu sewa lahan milik sebesar 9,01 persen dari total biaya atau senilai Rp 750.000/ha untuk lima bulan masa produksi ubi jalar. Biaya ini dikenakan kepada petani yang mengusahakan lahan milik, lahan sakap. Selanjutnya biaya penyusutan alat-alat pertanian sebesar 1,82 persen atau senilai Rp 147.562,50 Penghitungan biaya penyusutan berdasarkan metode garis lurus.

6.3.2. Pendapatan Usahatani Ubi Jalar

Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan usahatani dengan pengeluaran usahatani. Komponen pendapatan usahatani meliputi pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Analisis R/C rasio digunakan untuk menunjukan perbandingan antara nilai output terhadap nilai inputnya sehingga dapat diketahui kelayakan usahatani yang diusahakan petani ubi jalar. Penerimaan usahatani ubi jalar petani responden adalah Rp 10.198.907,60 sedangkan biaya tunai adalah Rp 5.411.370,00 dan biaya total adalah Rp 8.304,829,00. Rincian penerimaan dan biaya ubi jalar dapat dilihat pada tabel 27.

Tabel 27. Perhitungan Pendapatan dan Rasio Penerimaan Terhadap Biaya (R/C) Usahatani Ubi Jalar per Hektar di Desa Purwasari Musim Tanam 2010. Uraian (Rp) (Rp) Penerimaan 10,198,907.60 BIAYA TUNAI Pupuk Urea (139.17@2000) 278,340.00 TSP(37.02@2500) 92,550.00 Phonska(47.91@3000) 143,730.00 Pajak Lahan 350,000.00

Tenaga Kerja Luar Keluarga 4.546.750,00 Total Biya Tunai 5.411.370,00

BIAYA YANG

DIPERHITUNGKAN

Bibit 706.646,10

Sewa Lahan 750.000,00

Tenaga Kerja Dalam Keluarga 1.289.250,00

Penyusutan 147.562,50

Total Biaya Yang

Diperhitungkan 2.907.213,00 Total Biaya Usahatani 8.304.829,20 Pendapatan Terhadap biaya

tunai 4.787.537,60

Pendapatan Terhadap biaya total 1.894.078,40

R/C Terhadap Biaya Tunai 1.88

R/C Terhadap Biaya Total 1.23

Berdasarkan tabel, dapat dilihat bahwa pendapatan atas biaya tunai usahatani ubi jalar sebesar Rp 4.787.537,60 lebih besar dari nol. Hal ini berarti usahatani ubi jalar di lokasi penelitian memberikan keuntungan sebesar Rp 4.787.537,60 bagi petani atas biaya tunai yang dikeluarkannya dalam

memproduksi ubi jalar seluas satu hektar. Sedangkan pendapatan atas biaya total adalah Rp 1.894.078,40 lebih besar dari nol menunjukan bahwa usahatani ubi jalar di lokasi penelitian memberikan keuntungan sebesar Rp 4.787.537,60 bagi petani atas total biaya yang dikeluarkannya untuk memproduksi ubi jalar seluas satu hektar. Hasil analisis pendapatan menunjukan bahwa usahatani ubi jalar di Desa Purwasari menguntungkan untuk diusahakan. Namun, pendapatan usahatani ubi jalar pada petani responden di Desa Purwasari Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor jauh lebih rendah dibandingkan dengan daerah penghasil ubi jalar lainnya seperti Desa Gunung Malang Kabupaten Bogor. Pendapatan usahatani terhadap biaya total pada petani ubi jalar di Desa Gunung Malang Kabupaten Bogor berdasarkan penelitian Herdiman (2008) sebesar Rp. 6.989.90,59. Sedangakan, pada petani responden di Desa Purwasari Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor hanya sebesar Rp. 1.894.078,40,-.

Nilai R/C atas biaya tunai usahatani ubi jalar di lokasi penelitian adalah 1,88. Hal ini berarti bahwa setiap Rp 1.000 yang dikeluarkan petani dalam kegiatan produksi ubi jalar akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1.880. Sedangkan nilai R/C atas biaya total adalah 1,23. Hal ini berarti bahwa setiap Rp 1.000 biaya total yang dikeluarkan petani dalam kegiatan produksi ubi jalar akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1.230. Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka usahatani ubi jalar di Desa Purwasari menguntungkan untuk diusahakan. Hal ini dikarenakan nilai R/C atas biaya tunai maupun R/C atas biaya total lebih dari satu. Secara keseluruhan berdasarkan analisis pendapatan, dan analisis R/C dapat disimpulkan bahwa usahatani ubi jalar di Desa Purwasari Kabupaten Bogor menguntungkan untuk diusahakan.

Dokumen terkait