• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rataan fertilitas yang diperoleh pada penelitian pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E berkisar antara 84.89 % - 93.68 % (Gambar 20). Dosis selenium berpengaruh nyata terhadap fertilitas (P<0.05). Uji analisis statistik lebih lanjut menunjukkan bahwa umur berpengaruh tehadap fertilitas, dalam arti bahwa seiring dengan bertambahnya umur penetasan fertilitas juga akan menurun (Lampiran 7).

Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda menunjukkan ha nyata (P<0.05)

To : Ransum komersial

T1 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.5 T2 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.0 T3 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.5 T4 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin T5 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitamin

T6 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 T7 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 T8 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 Gambar 20 Rataan fertilitas telur de

inorganik dan vitamin

Hal ini sesuai pendapat akan menurun apabila induk bulan. Fertilitas tertinggi ppm + vitamin E 87.00 sedangkan fertilitas yang dicapai hanya 89.44 % (T6:

Perlakuan T0, T perlakuan T2 dan T6 tidak perlakuan T0, T1, T3, T

perlakuan T2berbeda dengan Perla Penelitian pengk

menunjukkan bahwa semakin diperoleh walaupun dosis peranan dari vitamin E

78 80 82 84 86 88 90 92 94 T0 T1 87.88b±5.31 87.24b F er ti li ta s te lu r (% )

Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda 0.05). komersial + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm

20 Rataan fertilitas telur dengan pengkayaan Selenium organik, k dan vitamin E.

sesuai pendapat Woodard dan Abplanap (1967) bahwa apabila induk dan pejantan puyuh telah berusia lebih dari

tertinggi 93.68 % diperoleh pada perlakuan T2(Se inorganik 87.00 ppm) yang diperkaya dengan selenium inorganik, fertilitas yang diperkaya dengan selenium organik fertilitas

89.44 % (T6: Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm , T1, T3, T4, T5, T7 dan T8 tidak menunjukkan perb

tidak menunjukkan perbedaan, demikian pula T6 , T4, T5, T7 tidak menunjukkan ada perbedaan, berbeda dengan Perlakuan T0, T1, T3, T4, T5, T7dan T8.

pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin bahwa semakin tinggi dosis vitamin E semakin tinggi fertilitas yang walaupun dosis selenium rendah, hal ini disebabkan fungsi

vitamin E bukan hanya sebagai antioksidan akan tetapi

T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 b±3.69 93.68a±2.36 85.91b±4.30 84.89b±6.08 86.28b±2.93 89.44ab±4.92 86.89b±3.24 85.01 Perlakuan

ukkan hasil yang berbeda

engkayaan Selenium organik,

bahwa fertilitas lebih dari enam (Se inorganik 0.46 nium inorganik, fertilitas yang + vitamin E 87.00 ppm). menunjukkan perbedaan, pula T6 dengan perbedaan, namun dan vitamin E tinggi fertilitas yang disebabkan fungsi serta akan tetapi juga

T8

mempunyai peranan penting dengan adanya suplementasi konsentrasi vitamin E

peningkatan fertilitas. Fertilitas dengan apa yang dilaporkan

%, Lubis (2007) berkisar antara 86.60

Pengkayaan sele (P<0.01) mempengaruhi diperoleh selama penelitian tetas tertinggi pada perlakuan ppm).

Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda menunjukkan ha sangat nyata (P<0.01).

To : Ransum komersial

T1 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm +

T2 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.0 T3 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.5 T4 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.0 T5 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitam

T6 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 T7 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 T8 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 Gambar 21 Rataan daya tetas

inorganik dan vitami 64 66 68 70 72 74 76 78 80 82 84 T0 T1 73.00 b± 4.32 73.57b D ay a t et as t el u r (% )

peranan penting dalam hal peningkatan fertilitas, disamping

suplementasi vitamin E dalam pakan menyebabkan peningkatan vitamin E pada kuning telur dan ini akan berpengaruh

. Fertilitas yang diperoleh dalam penelitian ini dilaporkan oleh Nur (2001) yaitu berkisar antara 84.33 berkisar antara 86.60 – 97.56 %

Daya Tetas

Pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E sangat mempengaruhi daya tetas (Lampiran 8). Rataan daya tetas

penelitian berkisar antara 71.92% - 82.91 % (Gambar pada perlakuan T7 (Se organik 0.92 ppm + vitamin

Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata (P<0.01). komersial + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm

aya tetas telur dengan pengkayaan Selenium organik, inorganik dan vitamin E.

T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 b± 7.02 71.92b± 6.98 72.50b± 3.93 76.79ab± 3.57 72.79b± 5.4773.13b± 6.04 82.71a± 5.46 73 Perlakuan

disamping itu juga menyebabkan peningkatan berpengaruh pada penelitian ini berbeda antara 84.33 – 98.33

sangat nyata daya tetas yang (Gambar 21). Daya vitamin E 43.50

ukkan hasil yang berbeda

lenium organik, T8 73.84b± 2.61

Perlakuan T7berbeda sangat nyata dengan perlakuan lain kecuali dengan perlakuan T4. Daya tetas yang tertinggi diperoleh dari perlakuan yang diperkaya dengan selenium organik sebesar 82.71 % (T7) sedangkan untuk perlakuan yang diperkaya dengan selenium inorganik hanya mencapai daya tetas paling tinggi 76.79 % (T4).

Peningkatan daya tetas telur dengan pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E karena kandungan selenium dan vitamin E pada telur tetas meningkat (Gambar 16, 17 dan 18), kandungan nutrisi antioksidan pada telur tetas mencukupi untuk perkembangan embrio. Ini berhubungan dengan proses embriogenesis, selenium dan vitamin E melindungi perkembangan embrio dari kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh radikal bebas dan meningkatkan daya tahan hidupnya sampai menetas. Surai (2000) melaporkan manfaat penting dari selenium berhubungan dengan kemampuannya untuk melindungi perkembangan embrio burung dari peroksidasi selama embriogenesis. Peningkatan selenium dalam jaringan bertanggung jawab terhadap peningkatan pertahanan antioksidan di dalam jaringan puyuh melawan stres oksidasi tinggi yang mengganggu proses penetasan. Peningkatan level selenium potensial memperbaiki ekspresi berbagai selenoprotein yang bermanfaat bagi penetasan.

Penggunaan selenium dalam pakan puyuh (0.5 mg/kg) potensial sebagai sumber selenium tambahan untuk perkembangan embrio (Surai et al. 2006). Usaha paling efektif meningkatkan konsentrasi selenium telur adalah melalui penggunaan selenium dalam pakan induk. Suplementasi selenium 0.5 mg/kg ransum signifikan meningkatkan konsentrasi selenium komponen-komponen telur, albumin meningkat 8.8 kali dari kontrol, dimana selenium kontrol 41.8 ŋg/g meningkat menjadi 0.368 mcg/g sedangkan konsentrasi kuning telur meningkat dua kali yaitu selenium kontrol 0.459 mcg/g setelah disuplementasi meningkat menjadi 0.865 mcg/g (Surai 2006). Selanjutnya Renema (2004) mendapatkan perbaikan daya tetas sebagai hasil penggantian sodium selenit dengan selenium organik. Daya tetas yang diperoleh pada penelitian ini berbeda dengan yang dilaporkan oleh Nur (2001) yaitu berkisar antara 74.94 – 89.52 % dan Lubis (2001) yaitu berkisar antara 81.45 – 93.48 %.

Pengkayaan seleni analisis uji statistik tidak bobot tetas dalam penelitian 22).

To : Ransum komersial

T1 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.5 T2 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.0 T3 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.5 T4 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.0 T5 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitam

T6 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 T7 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 T8 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 Gambar 22 Rataan bobot tetas de

dan vitamin E.

Bobot tetas tertinggi vitamin E 43.50 ppm) selenium inorganik sebesar organik bobot tetas yang bahwa pengkayaan dengan berat tetas puyuh yang tinggi.

Tingginya berat tetas E 43.50 ppm) disebabkan demikian akan berpengaruh

5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 T0 T1 7.82a ± 0.51 7.72 B o b o t t et as an ak (g ra m /e k o r) Bobot Tetas

Pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E berdasarkan tidak nyata mempengaruhi bobot tetas (Lampiran 9). dalam penelitian ini berkisar antara 7.48 – 8.21 gram/ekor

mersial + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm

obot tetas dengan pengkayaan Selenium organik, inorganik dan vitamin E.

tetas tertinggi diperoleh dari perlakuan T7(Se organik 0.92 ppm) sebesar 8.21 gram/ekor. Bobot tetas yang diperoleh organik sebesar 8.06 gram/ekor (T2) sedangkan untuk

tetas yang diperoleh sebesar 8.21 gram/ekor (T7) ini menunjukkan pengkayaan dengan menggunakan selenium organik mampu menghasilkan berat tetas puyuh yang tinggi.

berat tetas dari perlakuan T7(Se organik 0.92 ppm + disebabkan oleh kecukupan nutrisi yang ada dalam telur berpengaruh terhadap bobot tetas. Tingginya kandungan

T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 7.72a ±0.74 8.06a ± 0.63 7.79a ± 0.97 7.48a ± 0.607.67a ± 0.62 7.81a ± 1.22 8.21a ± 0.39 Perlakuan berdasarkan hasil (Lampiran 9). Rataan gram/ekor (Gambar

Selenium organik, inorganik

organik 0.92 ppm + yang diperoleh dari untuk selenium ini menunjukkan ampu menghasilkan

0.92 ppm + vitamin dalam telur, dengan

kandungan nutrisi T8 7.55a ± 0.61

didalam telur ini juga dip T7 mengkonsumsi ransum tetas (Lampiran 9) menunjukkan akan semakin bertambah

telur maksimal diumur 76 minggu.

Secara umum pengkayaan vitamin E berpengaruh sangat pemeliharaan dua minggu pemeliharaan berkisar antara

Keterangan :Huruf superskrip yang berbeda menunjukka sangat nyata (P<0.01).

To : Ransum komersial

T1 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitam

T2 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.0 T3 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.5 T4 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.0 T5 : Ransum + Se organik 0.46 ppm

T6 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 T7 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 T8 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 Gambar 23 Mortalitas selama

pengkayaan sele

Mortalitas terendah diperoleh pada perlakuan yang mengguna organik (T7: Se organik 0 5 10 15 20 25 30 T0 T1 25.75a±5.28 23.34a± M o rt al it as (% )

ga dipengaruhi oleh konsumsi induk (Wilson 1997). ransum lebih tinggi dari T2. Pengaruh umur terhadap ) menunjukkan bahwa semakin bertambah umur, bobot bertambah karena ukuran telur juga akan bertambah sampai imal diumur 76 minggu.

Mortalitas

umum pengkayaan selenium organik, selenium inorganik berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap mortalitas anak

minggu (Lampiran 10). Rataan mortalitas selama dua berkisar antara 10.97 – 26.00 % (Gambar 23).

Huruf superskrip yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata (P<0.01). komersial Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm

Gambar 23 Mortalitas selama dua minggu pemeliharaan setelah menetas dengan pengkayaan selenium organik,inorganik dan vitamin E.

Mortalitas terendah diperoleh pada perlakuan yang menggunakan sel Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm) yaitu sebesar 10.

T2 T3 T4 T5 T6 T7 ±7.74 26.00a±7.33 22.68a±4.73 18.92a±5.97 23.43a±5.13 21.89a±1.20 10.97b±4.02 23.94 Perlakuan lson 1997). Perlakuan terhadap bobot umur, bobot tetas bertambah sampai berat

inorganik dan mortalitas anak selama selama dua minggu

da menunjukkan hasil yang berbeda

h menetas dengan

roleh pada perlakuan yang menggunakan selenium itu sebesar 10.97

T8 23.94a±5.38

%, sedangkan yang menggunakan selenium inorganik diperoleh mortalitas sebesar 26.00 % (T2: Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm).

Rendahnya mortalitas yang diperoleh pada perlakuan T7, disebabkan pengaruh bentuk selenium, dimana selenium organik lebih efisien dibandingkan dengan selenium inorganik. Transfer selenium dari telur ke embrio berpengaruh pada pertahanan antioksidan tidak hanya pada saat penetasan tapi juga kehidupan setelah menetas. Pakan induk berpengaruh terhadap level selenium jaringan hasil tetas. Konsentrasi selenium pada kuning dan putih telur berpengaruh pada peningkatan selenium jaringan puyuh yang baru menetas (Gambar 16 & 17). Jaringan puyuh yang baru menetas nyata diperkaya dengan selenium sebagai hasil manipulasi pakan induk (Surai et al. 2006). Kehidupan awal setelah menetas pada ayam, ada perubahan strategi pertahanan antioksidan dari akumulasi antioksidan alami selama embriogenesis menjadi sintesis tambahan enzim antioksidan seperti GSH-Px (Surai 2003). Pappas et al. (2005) melaporkan pemakaian selenium (0.4 mg/kg) dalam pakan menurunkan mortalitas 3.1 sampai 6.2 %. Surai et al. (2006) melaporkan bahwa sistem kekebalan unggas yang baru menetas belum stabil dan tidak sempurna karena sistem kekebalan utama berasal dari antibodi induk yang ditransfer melalui telur. Peningkatan konsentrasi selenium dalam jaringan puyuh selama 2 minggu pertama setelah menetas bermanfaat untuk perkembangan sistem kekebalan.

Peningkatan konsentrasi selenium dan pertahanan antioksidan pada puyuh diawal kehidupan setelah menetas dapat berpengaruh sebagai perlindungan anti stres. Keadaan ini dapat dicapai dengan suplementasi selenium pada pakan induk. Selanjutnya Huang dan Cheng (1996) melaporkan bahwa penggunaan 0.6 mg/kg selenium dalam pakan ayam akan meningkatkan kemampuan menghancurkan radikal bebas oksigen dan peroksida lemak sehingga dapat mencegah kerusakan jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas oksigen serta dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas dari penyakit mareks.

Speake et al. (1998) melaporkan bahwa jaringan embrio unggas mengandung asam-asam lemak tidak jenuh di dalam fraksi lemak, karena itu perlu perlindungan antioksidan yang efektif, pertahanan antioksidan jaringan unggas yang baru menetas tersusun atas antioksidan alami (vitamin E, karotenoids, asam

askorbat dan glutathione) glutathione peroksidase dan

Absorbsi selenium kehidupan awal unggas dan terakumulasi selama embriogenes

Pengkayaan selenium organik, anak puyuh selama 2 minggu

anak puyuh selama dua minggu

Keterangan :Huruf superskrip yang sama nyata.

To : Ransum komersial

T1 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.5 T2 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.0 T3 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm +

T4 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.0 T5 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitam

T6 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 T7 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 T8 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 Gambar 24 Konsumsi ransum anak

selenium organik, inorganik dan 32 34 36 38 40 42 T0 T1 39.98a±2.10 37.75a K o n su m si (g ra m /e k o r)

glutathione) dan enzim antioksidan (Superoxide dismutase, glutathione peroksidase dan katalase).

selenium yang berasal dari pakan tidak mencukupi unggas dan anak harus bergantung pada cadangan mineral terakumulasi selama embriogenesis (Surai 2003).

Konsumsi Anak

Pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E terhadap selama 2 minggu dapat dilihat pada Gambar 24. Ratan anak puyuh selama dua minggu berkisar antara 34.93 – 40.19 gram/ekor.

Huruf superskrip yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda

komersial + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm

Konsumsi ransum anak selama dua minggu dengan pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E.

T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 a±4.72 38.05a±4.44 36.70a±5.00 40.19a±5.64 37.75a±3.29 37.50a±1.86 34.93a±4.10 Perlakuan (Superoxide dismutase, mencukupi untuk ngan mineral yang

rhadap konsumsi Ratan konsumsi 40.19 gram/ekor.

menunjukkan hasil yang tidak berbeda

pengkayaan T8 4.10

Hasil analisis uji statistik (Lampiran 11) menunjukkan bahwa pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E terhadap konsumsi anak tidak berpengaruh nyata. Konsumsi ransum paling rendah sebesar 34.93 gram/ekor diperoleh dari perlakuan T7 (Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm) dan paling tinggi diperoleh dari perlakuan T4(Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm). Besarnya konsumsi ransum anak puyuh selama dua minggu pemeliharaan disebabkan beberapa faktor, seperti faktor lingkungan (eksternal) maupun internal tubuh puyuh. Faktor eksternal dapat berupa stres panas yang dapat menurunkan konsumsi sedangkan internal berupa pengaturan fungsi fisiologis tubuh yang berpengaruh terhadap konsumsi, misalnya enzim pencernaan. Pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E dapat mencegah stres pada ternak sehingga ternak tetap mengkonsumsi pakan dengan baik. Rendahnya konsumsi menunjukkan bahwa efisiensi dalam penggunaan ransum, hal ini disebabkan selenium dan vitamin E berperan melindungi jaringan pankreas dari kerusakan oksidatif, sehingga pankreas dapat berfungsi dengan baik menghasilkan enzim-enzim pencernaan yang akan meningkatkan daya cerna nutrisi (MacPherson 1994). Meningkatnya daya cerna akan mempercepat proses metabolisme nutrisi sehingga konsumsi ternak meningkat, akan tetapi hal ini tidak menunjukkan bahwa konsumsi yang tinggi menghasilkan performa yang lebih baik, karena tidak efisien dalam mengkonsumsi ransum.

Pertambahan Bobot Badan (PBB)

Rataan pertambahan berat badan dalam penelitian pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E selama dua minggu berkisar antara 36.1 – 39.38 gram/ekor (Gambar 25). Hasil analisis uji statistik menunjukkan bahwa pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan (Lampiran 12). Pertambahan bobot badan tertinggi diperoleh dari perlakuan T7(Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm) dan pertambahan bobot badan terendah diperoleh dari perlakuan T2 (Se organik 0.46 pp + vitamin E 87.00 ppm.

Keterangan :Huruf superskrip yang sama menunjukkan nyata.

To : Ransum komersial

T1 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.5 T2 : Ransum + Se inorganik 0.46 ppm + vitam

T3 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.5 T4 : Ransum + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.0 T5 : Ransum + Se organik 0.46 ppm + vitam

T6 : Ransum + Se organik 0.46 ppm +

T7 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 T8 : Ransum + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 Gambar 25 Pertambahan bobot bada

pengkayaan sele

Walaupun pada penelitian namun menunjukkan bahwa badan yang lebih tinggi induk yang tinggi tinggi tinggi akan ditransfer secara memperbaiki pertahanan Adanya perbaikan status

berpengaruh juga terhadap pertambahan bobot badan 34 35 36 37 38 39 40 T0 T1 37.43a 2.40 38.03a B o b o t b ad an a n ak (g ra m /e k o r)

Huruf superskrip yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda

komersial + Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm Se inorganik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se inorganik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.46 ppm + vitamin E 87.00 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 43.50 ppm + Se organik 0.92 ppm + vitamin E 87.00 ppm

Pertambahan bobot badan anak selama dua minggu dengan pengkayaan selenium organik, inorganik dan vitamin E.

pada penelitian ini tidak memperlihatkan perbedaan yang menunjukkan bahwa selenium organik memberikan pertambahan

(Perlakuan T7). Hal ini disebabkan kandungan tinggi tinggi (Gambar 14, 16 dan 17). Kandungan selenium ditransfer secara efisien melalui telur dan jaringan embrio yang aka

pertahanan antioksidan anak serta daya tahan hidup anak lebih status pertahanan antioksidan dan daya tahan hidup berpengaruh juga terhadap pertambahan bobot badan. Hal ini didukung oleh apa

T2 T3 T4 T5 T6 T7 a ± 2.51 36.21a ± 4.31 38.52a ±3.18 38.51a ±3.83 38.76a ± 3.69 37.43a ± 2.17 39.38 a± 1.59 Perlakuan

hasil yang tidak berbeda

perbedaan yang nyata pertambahan bobot kandungan selenium Kandungan selenium yang embrio yang akan anak lebih baik.

hidup akan . Hal ini didukung oleh apa

T8 1.59

yang telah dilaporkan oleh Surai (2003) bahwa kelebihan selenium organik dibandingkan dengan selenium inorganik adalah dapat berakumulasi pada jaringan dalam menyediakan cadangan selenium. Cadangan selenoaminoacid akan digunakan pada kondisi stres untuk sintesis selenoprotein dan pengaruh buruk radikal bebas. Transfer yang efisien dari pakan induk ketelur dan jaringan embrio yang dapat memperbaiki pertahanan antioksidan anak yang baru menetas dan meningkatkan resistensi terhadap penyakit serta memperbaiki daya tahan hidup anak.

Disamping itu juga selenium mempunyai peran penting dalam metabolisme tiroksin sebagai bagian dari enzim iodothyronine deiodinase. Enzim

deiodinase untuk konversi tiroksin (T4) ke triiodothyronine (T3) membutuhkan selenium (Bredbenner et al. 2009). Tiroksin berperan untuk pertumbuhan, sehingga pada penelitian ini menunjukkan pertambahan bobot badan lebih tinggi pada perlakuan T7 karena ketersediaan selenium untuk mendukung proses reaksi tersebut.

Dokumen terkait