BAB III. METODE PENELITIAN
G. Pengabsahan Data
Menurut Lexy J. Moleong (2002:178) Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Sedangkan menurut Sugiyono (2012:125) Triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Ada tiga macam triangulasi yaitu:
1. Triangulasi Sumber, triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber yaitu melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen. Peneliti membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, serta membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang ada.
2. Triangulasi Teknik, triangulasi teknik merupakan teknik pengabsahan data dengan cara mengecek data pada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dengan menguji keabsahan data tentang pelaksanaan program keluarga harapan, maka dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen. Apabila ketiga teknik pengujian data tersebut menghasilkan data yang berbeda maka peneliti melakukan diskusi kepada sumber data yang lain untuk memastikan data mana yang dianggap benar.
3. Triangulasi Waktu, triangulasi waktu merupakan teknik pengabsahan data dengan cara mengecek data pada sumber yang sama tetapi suasana dan waktu yang berbeda. Data yang diperoleh melalui wawancara ataupun observasi langsung dilakukan di pagi hari kemudian diuji kembali pada siang hari.
Apabila data yang dihasilkan berbeda maka perlu dilakukan pengujian secara berulang-ulang sehingga dapat ditemukan data yang pasti.
38 1. Sejarah Desa
Sebelum tahun 1987, Panciro merupakan sebuah Dusun yaitu Dusun Mattirobaji Desa Bontosunggu Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa. Pada saat itu yang menjadi Kepala Dusun Mattirobaji adalah Makkarannu Abd. Hamid, BA.
Sedangkan yang menjadi Kepala Desa Bontosunggu pada waktu itu adalah Bapak Kamaruddin Dg. Sabbu (Alm.). Setelah memasuki tahun 1988 barulah Dusun Mattirobaji dimekarkan menjadi Desa persiapan Panciro yang dinahkodai oleh Bapak Makkarannu Abd. Hamid, BA. Perekembangan Sejarah Desa Panciro dapat digambarkan pada tabel di bawah ini:
TAHUN KEJADIAN-KEJADIAN
1988 Dusun Mattirobaji dimekarkan menjadi Desa Persiapan Panciro 1989 Tuan rumah pelaksanaan MTQ Tingkat Kecamatan Bajeng ke-23 1990 Pemilihan Kepala Desa Panciro setelah jadi Desa Panciro (Defenitif) 1998 Pemilihan Kepala Desa Panciro untuk kedua kalinya
2005 Mewakili Kec. Bajeng mengikuti Lomba P2WKSS 2008 Pemilihan Kepala Desa Panciro untuk ketiga kalinya
2008 Terbentuknya Dusun Bontoramba Selatan, pemekaran Bontoramba 2009 Tuan rumah kegiatan Jambore FASI Tingkat Kec. Bajeng
2010 Tuan rumah pelaksanaan MTQ Tingkat Kecamatan Bajeng ke-44 Sumber: diolah dari data primer, November 2015
2. Demografi Desa
Desa Panciro merupakan salah satu dari 14 Desa/Kelurahan di Wilayah Kecamatan Bajeng. Desa Panciro terletak 5 Km. Ke arah utara dari Kecamatan Bajeng, dengan luas wilayah ± 1.940 hektar 795 meter. Jumlah penduduk Desa Panciro 6.087 jiwa dengan rincian, Laki-laki sebanyak 3.022 jiwa sedangkan Perempuan sebanyak 3.065 jiwa. Adapun rincian jumlah penduduk Desa Panciro dalam kategori perdusun sebagai berikut:
No. Nama Dusun J u m l a h
T o t a l
Lk Pr
1. Mattirobaji 609 622 1.231
2. Kampung Parang 783 810 1.593
3. Bontoramba 932 981 1.913
4. Bontoramba Selatan 698 652 1.350
Sumber: diolah dari data primer, November 2015 3. Keadaan Sosial Ekonomi
Desa Panciro merupakan Desa pertanian, maka sebagian besar masyarakat Desa Panciro bermata pencaharian sebagai petani, selengkapnya dapat dilihat kategori mata pencaharian di bawah ini:
a. Petani = 350 orang
b. Karyawan, PNS/ABRI = 155 orang c. Pensiunan/Purnawirawan = 70 orang
d. Buruh Tani = 51 orang
e. Pedagang/Wiraswasta = 50 orang
f. Lain-lain = 4.744 orang Keadaan ekonomi di Desa Panciro sebagai berikut:
a. Kerajinan : menjahit, pembuatan sofa/springbed, kursi rotan, pot b. Industri : pembuatan roti, kue-kue, telur asin
c. Pertanian : padi, kacang hijau, kangkung d. Oelah pangan : jagung pipilan, gaplek, kripik peyek e. Peternakan : ayam, itik, kambing
4. Potensi Desa
Potensi yang dimiliki Desa Panciro yang bersifat sarana dan prasarana adalah sebagai berikut:
a. Kantor Desa Panciro = 1 unit
b. Jalan Desa = 15 jalan
c. Pustu = 1 unit
d. Masjid atau Mushallah = 13 unit
Latar belakang pendidikan merupakan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Desa Panciro. Potensi latar pendidikan di Desa Panciro sebagai berikut:
a. Sarjana = 182 orang b. Diploma = 143 orang c. SLTA/ sederajat = 2.532 orang d. SLTP/ sederajat = 1.624 orang e. SD/ sederajat = 415 orang
Sarana pendidikan merupakan potensi yang dimiliki Desa Panciro. Desa Panciro memiliki 6 unit Sarana di bidang pendidikan yaitu:
a. SMA Muhammadiyah Lempangang = 1 unit b. MTs. Muhammadiyah Lempangang = 1 unit
c. SD Negeri Panciro = 1 unit
d. Madrasah Ibtidaiyah Negeri Bontosunggu = 1 unit e. TK. ABA Aisyiyah Cabang Lempangang = 1 unit f. PAUD SPAS Desa Panciro = 1 unit 5. Karakteristik Informan
Karakteristik informan akan dipaparkan berdasarkan jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.
a. Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik informan berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5: Karakteristik Informan berdasarkan jenis kelamin
Keterangan Frekuensi Persentase %
Laki-Laki 2 20%
Perempuan 8 80%
Jumlah 10 100%
Sumber: diolah dari data primer, November 2015
Distribusi informan mengenai jenis kelamin berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 2 orang berjenis kelamin laki-laki atau sebesar 20 persen, 8 orang yang berjenis kelamin perempuan atau sebesar 80 persen dari keseluruhan jumlah informan.
b. Karakteristik Informan Berdasarkan Umur
Karakteristik informan berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 6: karakteristik informan berdasarkan umur
Sumber: diolah dari data primer, November 2015
Distribusi informan mengenai umur berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa kebanyakan informan memiliki umur yang berkisar dari 41-50 tahun sebanyak 5 orang informan atau sebesar 41-50 persen, informan yang berumur sekitar 31-40 sebanyak 3 informan atau sebesar 30 persen, sedangkan informan yang memiliki umur berkisar 51-60 tahun sebanyak 2 informan atau sebesar 20 persen dari keseluruhan informan.
c. Karakteristik Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Karakteristik informan berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 7: Karakteristik informan berdasarkan tingkat pendidikan
Keterangan Frekuensi Persentase %
Sumber: diolah dari data primer, November 2015
Distribusi informan mengenai tingkat pendidikan berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 4 orang yang berpendidikan SMA atau sebesar 40 persen, informan yang berpendidikan S1 sebanyak 3 orang atau sebesar 30 persen,
2 orang yang berpendidikan SMP atau sebesar 20 persen dan 1 orang yang berpendidikan SD atau sebesar 10 persen dari keseluruhan informan.
d. Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan
Karakteristik informan berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 8: Karakteristik informan berdasarkan pekerjaan
Keterangan Frekuensi Persentase %
Pegawai 3 30%
Ibu rumah tangga 7 70%
Jumlah 10 100%
Sumber: diolah dari data primer, November 2015
Distribusi informan mengenai pekerjaan berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 7 orang yang bekerja sebagai ibu rumah tangga atau sebesar 70 persen, dan yang bekerja sebagai pegawai sebanyak 3 orang atau sebesar 30 persen dari keseluruhan jumlah informan.
e. Karakteristik Informan Berdasarkan Pendapatan
Karakteristik informan berdasarkan pendapatan dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 9: Karakteristik informan berdasarkan pendapatan perbulan
Keterangan Frekuensi Persentase %
< Rp. 500.000 7 70%
Rp. 500.000 - Rp. 2.000.000 3 30%
Jumlah 10 100%
Sumber: diolah dari data primer, November 2015
Distribusi informan mengenai pendapatan perbulan berdasrkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 7 orang yang berpenghasilan kurang dari Rp. 500.000 perbulan atau sebesar 70 persen, dan 3 orang yang berpenghasilan antara Rp.
500.000- Rp. 2.000.000 perbulan atau sebesar 30 persen dari keseluruhan jumlah informan.
B. EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA HARAPAN BIDANG PENDIDIKAN
Efektivitas merupakan hal yang paling penting dalam pelaksanaan program atau kegiatan untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Dikatakan efektif jika tujuan dan sasaran yang telah telah ditetapkan sebelumnya tercapai dengan baik. Kebijakan atau program yang akan dilaksanakan tentunya terlebih dahulu ditentukan atau ditetapkan tujuanatau pun sasaran yang ingin dicapai. Kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah lebih menuju pada hasil keluarannya (efektif), bukan bertolak pada berapa besar biaya yang dibutuhkan atau dikeluarkan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Kebijakan atau program berhasil apabila tujuan yang telah ditetapkan tercapai dengan baik. Agar Program Keluarga Harapan di Desa Panciro terlaksana dengan efektif maka ada beberapa pendekatan yang perlu diperhatikan yaitu (a) pendekatan sumber, (b) pendekatan proses, serta (c) pendekatan sasaran.
1. Pendekatan Sumber (resource approach)
Pendekatan sumber (resource approach) yaitu mengukur keberhasilan suatu organisasi atau suatu program dalam mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan. Efektivitas suatu organisasi atau program dapat dikatakan berhasil jika memperoleh berbagai jenis sumber yang bersifat langka maupun yang bernilai tinggi. Mengetahui hal itu maka penulis memilih empat sub indikator sebagai tolak ukur pendekatan sumber, yaitu (a)
sumber daya manusia/tenaga kerja, (b) informasi, (c) fasilitas serta (d) mitra dalam pelaksanaan program keluarga harapan.
a. SDM/Tenaga kerja
Unsur yang penting dalam pencapaian tujuan ialah tersedianya sumber daya manusia atau tenaga kerja, sumber daya manusia baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Melaksanakan suatu kegiatan sangat perlu adanya sumber daya manusia. Tujuan tidak akan tercapai tanpa kegiatan, kegiatan tidak akan tercapai jika tanpa manusia. Sumber daya manusia atau tenaga kerja yang dibutuhkan bukan hanya dari segi banyaknya tetapi juga dibutuhkan dari segi kualitasnya.
Sumber daya yang berkualitas tinggi dangatlah penting dalam menjalankan suatu program. Para pelaksana kegiatan harus memiliki keterampilan yang memadai dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Kurangnya tenaga kerja yang terlatih dengan baik maka dapat menghambat pelaksanaan suatu program.
Wawancara dengan ZK selaku KAUR UMUM Desa Panciro mengatakan bahwa:
“awalnya yang ditunjuk sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Panciro adalah Marwan Tola (Alm.) tetapi dia meninggal jadi digantikan oleh Pak Munawir”. (Hasil Wawancara dengan ZK, 23 Oktober 2015).
Berdasarkan hasil wawancara di atas sumber daya manusia yang dimiliki PKH di Desa Panciro sudah ada yaitu satu orang pendamping. Hal yang sama juga diungkapkan oleh DK selaku penerima bantuan PKH.
Adapun Wawancara dengan DK selaku penerima bantuan dana PKH mengatakan bahwa:
“di Panciro ada ditugaskan sebagai pendamping dan ketua kelompok, pendampingnya langsung dari kecamatan dan ketua kelompoknya adalah warga Desa Panciro sendiri”. (Hasil Wawancara dengan DK, 26 November 2015). penerima PKH”. (Hasil Wawancara dengan MA, 28 November 2015).
Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa sumber daya manusia atau tenaga kerja yang dimiliki Program Keluarga Harapan sudah ada, baik itu pendamping maupun ketua kelompok. Ketua kelompok penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan pendamping masing-masing 1 (satu) orang. Sumber daya manusia dari segi jumlah atau kuantitas belum bisa dikatakan efektif karena khususnya di Kecamatan Bajeng, perbandingan jumlah pendamping dengan jumlah dampingan atau peserta penerima bantuan PKH dan beban kerja sangat tidak seimbang.
Berdasarkan wawancara dengan HJ selaku ketua kelompok ibu penerima PKH mengatakan bahwa:
“di Desa ini ada satu pendamping dan satu ketua kelompok, ketuanya ya saya sendiri, saya ditunjuk oleh para ibu penerima PKH sebagai ketua kelompok”. (Hasil Wawancara dengan HJ, 29 Oktober 2015).
Sesuai wawancara di atas bahwa pemilihan ketua kelompok PKH yang ada di Desa Panciro ditunjuk langsung oleh para ibu penerima bantuan PKH melalui musyawarah. Hal yang berbeda dijelaskan oleh Koordinator pendamping PKH.
Adapun Wawancara dengan NS selaku Koordinator Pendamping PKH mengatakan bahwa:
“syarat untuk menjadi seorang pendamping PKH minimal lulusan D3, untuk menjadi pendamping sangat banyak tahapan yang perlu dilalui, mulai dari pembukaan rekrutmen pendamping PKH dari Pusat, setelah itu baru keluar pengumuman hasil seleksi administrasi, kemudian ditempatkan di setiap daerah-daerah yang menerima PKH. Penempatan ini masih dekat dengan domisili dari pendamping. Seorang pendamping sangat dibutuhkan oleh peserta, peran seorang pendamping yaitu mendampingi peserta PKH itu sendiri, selain itu pendamping bertugas memutahirkan data, mengawasi dampingan serta memberikan motivasi agar peserta rajin ke sekolah”. (Hasil Wawancara dengan NS, 08 November 2015).
Wawancara di atas menyatakan bahwa untuk menjadi seorang pendamping harus melalui beberapa tahapan yaitu harus melalui seleksi atau rekrutmen pendamping dari pusat, setelah dinyatakan atau telah ditetapkan sebagai pendamping maka baru ditempatkan pada daerah-daerah yang mendapatkan bantuan dana PKH. Penempatan pendamping PKH masih dekat dengan domisili dari pendamping. Selain itu peran pendamping yaitu dalam hal pendampingan bagi peserta PKH mulai dari pemuktahiran data, pengawasan, memberikan motivasi kepada dampingan atau penerima bantuan dana PKH.
Wawancara di atas diperjelas oleh MN selaku Pendamping PKH di Panciro mengatakan bahwa:
“menjadi seorang pendamping PKH tidaklah mudah, kami direkrut oleh Kementrian Sosial RI. Kemensos membuka perekrutan pendamping. Di Kecamatan Bajeng hanya 3 Pendamping, dari tiga pendamping tersebut memiliki nilai paling tinggi dalam tahap seleksi atau perekrutan. Awalnya saya urutan ke empat, tetapi Marwan Tola meninggal jadi saya ditetapkan
sebagai penggantinya. Kami diberikan pelatihan oleh Dinas sosial terkait pendampingan. Tugas kami mensosialisasikan Program ini kepada masyarakat, pemerintah setempat, serta lembaga-lembaga terkait dengan program ini. Selain itu kami bertugas untuk memutakhirkan data, pertemuan dengan peserta, dan memberikan motivasi kepada peserta PKH agar memanfaatkan PKH ini”. (Hasil Wawancara dengan MN, 15 November 2015).
Sesuai dengan hasil wawancara di atas maka dapat diketahui bahwa seorang pendamping harus melalui tahapan seleksi yang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial. Kementerian Sosial sangat jeli dalam menetapkan seorang pendamping.
Selain itu Dinas Sosial melakukan pelatihan untuk memberikan pembekalan keapada seorang pendamping agar pendamping bekerja dengan baik. Seorang pendamping ditugaskan untuk mensosialisasikan Program Keluarga Harapan Kepada Masyarakat, Pemerintah setempat, ataupun lembaga-lembaga yang terkait program ini yaitu lembaga pendidikan dan kesehatan. Selain mensosialisasikan PKH seorang pendamping bertugas untuk memberikan motivasi kepada peserta agar menyukseskan program ini dan melakukan pemutakhiran data serta melakukan pertemuan dengan peserta.
Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa kualitas SDM/ tenaga kerja Program Keluarga Harapn bisa dikatakan efektif karena dalam pemilihan pendamping harus melalui tahapan seleksi yang dilaksanakan Kementerian Sosial RI serta adanya pelatihan untuk pendamping PKH. Sedangkan mengenai kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh Program Keluarga Harapan belum efektif karena khususnya di Kecamatan Bajeng, perbandingann jumlah pendamping dengan jumlah dampingan/ peserta
PKH sangatlah tidak seimbang. Di kecamatan Bajeng hanya memiliki 3 (tiga) pendamping sementara ada 14 Desa/ Kelurahan yang harus didampingi.
b. Informasi
Informasi merupakan sumber penting yang kedua dalam pelaksanaan suatu program kegiatan. Informasi mengenai bagaimana melaksanakan suatu kebijakan/program. Pelaksana perlu mengetahui apa yang dilakukan dan bagaimana mereka harus melakukannya. Dengan demikian, para pelaksana kebijakan harus diberi petunjuk untuk melaksanakan suatu kebijakan, menyangkut faktor-faktor komunikasi. Ketidakjelasan pesan komunikasi kebijakan akan menghambat keberhasilan suatu program. Informasi adalah bentuk data tentang ketaatan personil-pesonil lain terhadap peraturan pemerintah. Pelaksana harus mengetahui apakah orang-orang lain terlibat dalam pelaksanaan kebijakan mentaati peraturan yang ada.
Wawancara dengan NI selaku penerima bantuan dana PKH di Desa Panciro mengatakan bahwa:
“sebelum pencairan dana PKH kami melakukan pertemuan di rumah ketua kelompok. Dalam pertemuan tersebut kami diberikan informasi tentang pencairan dana tersebut”. (Hasil Wawancara dengan NI, 30 November 2015).
Wawancara di atas menunjukan bahwa masyarakat atau penerima bantuan PKH sudah diberikan informasi terlebih dahulu oleh pendamping melalui pertemuan kelompok yang membahas hal-hal mengenai PKH ataupun pencairan dana bantuan PKH.
Hal yang sama dijelaskan oleh KK selaku penerima bantuan dana PKH mengatakan bahwa:
“banyak informasi yang diberikan kepada kami, baik informasi dari pendamping maupun informasi dari ketua kelompok. Informasi yang diberikan yaitu tentang waktu dan tempat Pencairan dana, langkah-langkah pada saat penerimaan dana PKH”. (Hasil Wawancara dengan KK, 23 November 2015).
Sesuai dengan hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa informasi berasal dari ketua kelompok dan pendamping PKH. Informasi yang didapatkan berupa informasi tentang PKH itu sendiri.
Berdasarkan wawancara dengan SK selaku penerima bantuan dana PKH mengatakan bahwa:
“pada saat di tempat pencairan dana PKH kami diberikan informasi atau arahan oleh Pak Camat, Koordinator dan pendamping tentang bagaimana memanfaatkan bantuan tersebut. Kami diarahkan agar mempergunakan dana tersebut semata-mata untuk keperluan sekolah anak-anak kami”. (Hasil Wawancara dengan SK, 20 November 2015).
Hasil wawancara di atas mengenai informasi bahwa seluruh penerima bantuan dana PKH sudah diberikan informasi oleh koordinator, pendamping maupun dari pihak Pemerintah Kecamatan Bajeng. Informasi yang diterima oleh masyarakat yaitu berupa arahan agar penerima PKH mempergunakan dana tersebut semata-mata untuk keperluan sekolah anak.
Berdasarkan wawancara dengan HJ selaku ketua kelompok ibu penerima PKH mengatakan bahwa:
“saya mendapatkan informasi tentang Program Keluarga Harapan melalui pihak Kecamatan, Pihak Desa bahkan informasi tentang PKH ini saya juga dapatkan melalui tetangga saya.”.(Hasil Wawancara dengan HJ, 29 Oktober 2015).
Berdasarkan wawancara di atas dapat kita ketahui bahwa informasi didapatkan melalui dari semua pihak baik itu dari pihak Kecamatan, pihak Desa maupun dari masyarakat yang mengetahui Program ini. Hal ini berarti bahwa
Program Keluarga Harapan di Desa Panciro sudah disosialisasikan dengan baik.
Sosialisasi Program Keluarga Harapan dikatakan baik, karena dilihat dari informasi mengenai program ini diperoleh masyarakat secara langsung dari pihak Kecamatan ataupun dari pihak Desa dengan mudah. Hal ini juga diungkapkan oleh koordinator Pendamping Kecamatan dan Pendamping PKH di Desa Panciro bahwa:
Wawancara dengan MN selaku Pendamping PKH di Panciro mengatakan bahwa:
“sebelum bantuan tahap pertama kami selaku pendamping melakukan pertemuan awal dengan peserta PKH yang terpilih, serta mengundang kepala sekolah atau guru-guru untuk menghadiri pertemuan. Pertemuan tersebut untuk memberikan informasi kepada penerima PKH dan pihak sekolah terkait tujuan, tingkat bantuan, mekanisme Program Keluarga Harapan, serta hak dan kewajiban ibu peserta PKH. Informasi yang disampaikan tersebut kami dapatkan dari pelatihan yang diselenggarakan Dinas Sosial”. (Hasil Wawancara dengan MN, 15 November 2015).
Sesuai hasil wawancara di atas mengenai informasi bahwa tidak hanya peserta PKH mendapatkan informasi tetapi pihak sekolah mendapatkan informasi mengenai Program Keluarga Harapan (PKH) tersebut. Seorang pendamping juga mendapatkan informasi mengenai PKH ini melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial.
Adapun Wawancara dengan NS selaku Koordinator Pendamping PKH mengatakan bahwa:
“selaku pendamping sebelumnya kami diberikan Pelatihan selama 7 hari yang diadakan oleh Dinas Sosial, di tempat pelatihan tersebut kami diberikan penjelasan terkait PKH yakni, bagaimana tugas-tugas seorang pendamping PKH, mekanisme serta tujuan Program Keluarga Harapan (PKH). Hasil dari pelatihan yang kami dapatkan, kami sampaikan kepada peserta PKH pada tiap pertemuan”. (Hasil Wawancara dengan NS, 08 November 2015).
Berdasarkan hasil wawancara di atas mengenai informasi maka dapat disimpulkan bahwa informasi yang didapatkan oleh Pendamping, peserta atau pun semua unsur yang terlibat dalam PKH sudah efektif karena sebelum bantuan tahap pertama pendamping PKH melakukan pertemuan awal dengan peserta PKH untuk memberikan informasi kepada peserta mengenai mekanisme serta hak dan kewajiban peserta PKH. Pendamping juga sudah mengikuti pelatihan, pelatihan tersebut diadakan agar para pendamping bisa mengetahui tugas-tugasnya, mengetahui mekanisme serta tujuan Program Keluarga Harapan. Hal ini berarti Program Keluarga Harapan telah tersosialisasi dengan baik. Terlihat dari informasi yang sangat mudah didapatkan oleh masyarakat baik itu dari pihak Kecamatan maupun dari pihak Desa.
c. Fasilitas
Fasilitas merupakan sumber yang sangat penting dalam pelaksanaan suatu program. Di dalam pelaksanaan suatu program terdapat sumber daya manusia yang memadai, pelaksana sudah memahami apa yang harus dia lakukan, serta mempunyai wewenang untuk melaksanakan suatu tugas, tetapi tanpa fasilitas baik itu berupa kantor untuk melakukakan koordinasi, tanpa perlengkapan, tanpa perbekalan, atau pun fasilitas-fasilitas lainnya maka besar kemungkinan proses pelaksanaan suatu program yang telah direncanakan tidak akan berhasil. Hal ini dapat diketahui bahwa, fasilitas sangat penting diperlukan untuk pelaksanaan suatu program atau kebijakan yang efektif.
Adapun wawancara dengan HJ selaku ketua kelompok ibu penerima PKH mengatakan bahwa:
“selaku ketua kelompok saya bertugas membantu pekerjaan seorang pendamping, biasanya saya ditugaskan mengambil daftar hadir peserta PKH yang ada di sekolah serta memberikan informasi kepada ibu-ibu untuk melakukan suatu pertemuan. Saya diberikan biaya untuk melakukan semua tugas tersebut, kami juga melakukan pertemuan di rumah saya, rumah pendamping atau pun di sekretariat UPPKH yang ada di kecamatan”. (Hasil Wawancara dengan HJ, 29 Oktober 2015).
Wawancara di atas mengungkapkan bahwa fasilitas yang diberikan kepada semua pihak yang terlibat dalam Program Keluarga Harapan (PKH) ini sudah dimiliki. Fasilitas itu berupa gedung atau sekretariat untuk melakukan pertemuan kelompok. Selain itu, ketua kelompok mendapatkan biaya operasional untuk melakukan suatu pekerjaan.
Adapun wawancara dengan RA selaku penerima bantuan PKH mengatakan bahwa:
“ada tempat yang disediakan dalam pengambilan atau pencairan dana Program Keluarga Harapan (PKH). Tempat tersebut di samping Kantor Kecamatan”. (Hasil Wawancara dengan RA, 18 November 2015).
Berdasarkan wawancara di atas maka kita dapat mengetahui bahwa fasilitas yang diberikan oleh PKH terhadap penerima atau peserta PKH sudah ada yaitu berupa gedung atau tempat pencairan dana.
Wawancara dengan MA selaku penerima bantuan dana PKH di Desa Panciro mengatakan bahwa:
“ada tempat yang disediakan, di tempat tersebut pegawai POS memberikan kita bantuan dana PKH. Jadi kami tidak repot lagi ke kantor pos untuk
“ada tempat yang disediakan, di tempat tersebut pegawai POS memberikan kita bantuan dana PKH. Jadi kami tidak repot lagi ke kantor pos untuk