• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Pengabsahan data

Triangulasi bermakna yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari berbagai sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang lain, serta pengecekan pada waktu yang berbeda.

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek pada sumber lain pada keabsahan data yang telah diperoleh sebelumnya.

2. Triangulasi Metode

Triangulasi metode bermakna data yag diperoleh dari sumber dengan menggunakan metode atau teknik tertentu diuji kekuatan atau ketidak akuratannya.

3. Triangulasi Waktu

Triangulasi waktu berkenaan dengan waktu pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tersebut.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Gambaran Umum Kabupaten Bone a. Geografis

Kabupaten Bone adalah salah satu kabupaten di pesisir timur Provinsi Sulawesi Selatan yang berjarak 174 km dari Kota Makassar. Bone merupakan kabupaten terluas ketiga yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah kecamatan sebanyak 27 kecamatan. Luas wilayah Kabupaten Bone adalah 4.559 km2 dengan luas wilayah terluas berada di Kecamatan Bontocani dan luas wilayah terkecil berada di Kecamatan Tanete Riattang.

Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Watampone. Berdasarkan data Kabupaten Bone Dalam Angka Tahun 2015 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone, jumlah penduduk Kabupaten Bone Tahun 2015 adalah 738.515 jiwa, terdiri atas 352.081 laki‐laki dan 386.434 perempuan.

Dengan luas wilayah Kabupaten Bone sekitar 4.559 km2 persegi, rata‐rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Bone adalah 162 jiwa per km2.

Kabupaten Bone merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di pesisir timur Provinsi Sulawesi Selatan yang berjarak 174 km dari Kota Makassar Ibukotanya adalah Tanete Riattang. Mempunyai garis pantai sepanjang 138 km dari arah selatan kearah utara. Secara astronomis terletak dalam posisi 4013’-5006’ Lintang Selatan dan antara 119042’-120040’

Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

a) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Soppeng

b) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros, Pangkep, dan Barru.

c) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Gowa.

d) Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone.

Gambar 1.2 : Peta Wilayah Kabupaten Bone

b. Ketinggian Tempat

Daerah Kabupaten Bone terletak pada ketinggian yang bervariasi mulai dari 0 meter (tepi pantai) hingga lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut.

Ketinggian daerah digolongkan sebagai berikut : 1) Ketinggian 0-25 meter seluas 81.925,2 Ha (17,97%) 2) Ketinggian 25-100 meter seluas 101.620 Ha (22,29%) 3) Ketinggian 100-250 meter seluas 202.237,2 Ha (44,36%)

5) Ketinggian 750 meter keatas seluas 40.080 Ha (13,76%) 6) Ketinggian 1000 meter keatas seluas 6.900 Ha (1,52%) 7) Kemiringan Lereng

Keadaan permukaan lahan bervariasi mulai dari landai, bergelombang hingga curam. Daerah landai dijumpai sepanjang pantai dan bagian Utara, sementara di bagian Barat dan Selatan umumnya bergelombang hingga curam, dengan rincian sebagai berikut :

1) Kemiringan lereng 0-2 % (datar) : 164.602 Ha (36,1 %)

2) Kemiringan lereng 0-15 % (landai dan sedikit bergelombang) : 91.519 Ha (20,07 %)

3) Kemiringan lereng 15-40 % (bergelombang) : 12.399 Ha (24,65 %) 4) Kemiringan lereng >40 % (curam) : 12.399 Ha (24,65%)

c. Kedalaman Tanah dan Jenis Tanah

Kedalaman efektif tanah terbagi dalam empat kelas yaitu : 1) 0-30 cm seluas 120.505 Ha (26,44 %)

2) 30-60 cm seluas 120.830 Ha (26,50 %) 3) 60-90 cm seluas 30.825 Ha (6,76 %)

4) Lebih besar dari 90 cm seluas 183.740 Ha (40,30 %)

Jenis tanah yang ada di Kabupaten Bone terdiri dari tanah Aluvial, Gleyhumus, Litosol, Regosol, Grumosol, Mediteran dan Renzina. Jenis tanah didominasi oleh tanah Mediteran seluas 67,6 % dari total wilayah, kemudian Renzina 9,59 % dan Litosol 9 %. Penyebaran jenis tanahnya dapat dijelaskan sebagai berikut : sepanjang Pantai Timur Teluk Bone ditemukan tanah Aluvial.

d. Iklim

Wilayah Kabupaten Bone termasuk daerah beriklim sedang. Kelembaban udara berkisar antara 95% - 99% dengan temperatur berkisar 260C – 430C. Pada periode April-September, bertiup angin timur yang membawa hujan. Sebaliknya pada Bulan Oktober-Maret bertiup Angin Barat, saat dimana mengalami musim kemarau di Kabupaten Bone.

Selain kedua wilayah yang terkait dengan iklim tersebut, terdapat juga wilayah peralihan, yaitu: Kecamatan Bontocani dan Kecamatan Libureng yang sebagian mengikuti wilayah barat dan sebagian lagi mengikuti wilayah timur.

Rata-rata curah hujan tahunan diwilayah Bone bervariasi, yaitu: rata-rata<1.750 mm; 1750-2000 mm; 2000-2500 mm dan 2500-3000 mm.

Dilihat dari potensi sumber daya air permukaan, beberapa sungai di Kabupaten Bone, berpotensi untuk penggunaan bendung/pengairan untuk irigasi persawahan. Upaya untuk memelihara keseimbangan dan ketersediaan sumberdaya air di wilayah Kabupaten Bone, maka perlunya dilakukan pengelolaan dan pengawasan terhadap pemanfaatan sumber air baku, termasuk sistem perresapan air pada daerah hulu, melalui cara evapotranspirasi, pengisian air tanah (ground water) dan debit air yang mengalir sebagai run off (surface and subsurface).

Kondisi hidrologi di wilayah Kabupaten Bone dicirikan oleh banyaknya sungai, baik yang langsung bermuara ke laut, maupun bermuara di Danau Tempe di Kabupaten Wajo (Sungai Walane) dan sungai-sungai besar lainnya.

Pemanfaatan dan perlindungan sumberdaya air di Kabupaten Bone diarahkan

untuk menjaga keseinambungan sumber - sumber air baku yang ada. Sempadan sungai di sekitar sungai-sungai besar yang mengalir di Kabupaten Bone seperti Sungai Walanae, Cenrana, Palakka, Jaling, Bulubulu, Salomekko, Tobunne dan Sungai Lekoballo.

Daerah Aliran Sungai (DAS) yang harus dijaga kelestariannya dengan cara mempertahankan fungsi lindung hutan, yang ada di wilayah tersebut.

Sebagian besar sungai-sungai yang terdapat di Kabupaten Bone bermuara pada pesisir pantai Timur Kabupaten Bone, sedangkan hulu DASnya berada di kabupaten lain, seperti Kabupaten Wajo, Sinjai, Maros dan Soppeng. Untuk itu perlunya menjalin kerjasama dengan kabupaten lain disekitarnya untuk mengelolah sumberdaya air tersebut.

e. Luas Wilayah

Luas wilayah Kabupaten Bone tercatat 4.559 km2 dengan luas area terbangun 2.747,36 Ha, meliputi 27 kecamatan yang terdiri dari 328 Desa dan 44 Kelurahan, dimana Kecamatan Bontocani dan Kecamatan Libureng merupakan 2 kecamatan terluas dengan luas masing-masing adalah 463,35 km2 (10,16%) dan 344,24 km2 (7,55%). Sedangkan wilayah kecamatan dengan luas terkecil adalah Kecamatan Tanete Riattang yang merupakan ibukota kabupaten dan Kecamatan tanete Riattang dengan luas masing-masing adalah 23,79 km2 (0,52 %) dan 48,88 km2 (1,07%).

Tabel 1.2 : Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Bone

Tellu Siattinge 159,30 3,49

Amali 119,13 2,61

Ajangale 139,00 3,05

Dua Boccoe 144,90 3,18

Cenrana 143,60 3,15

Tanete Riattang Barat 53,68 1,18

Tanete Riattang 23,79 0,52

Tanete Riattang Timur 48,88 1,07

2. Gambaran Umum Kecamatan Bontocani

Bontocani adalah sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Indonesia Kecamatan Bontocani merupakan kecamatan terluas yang ada di Kabupaten Bone yang memiliki luas wilayah 463,35 km2. Kecamatan Bontocani merupakan wilayah dataran tinggi dengan geografi yang di dominasi oleh pegunungan dengan iklim yang mendukung terhadap pertanian.

Kecamatan Bontocani terdapat 10 Desa dan 1 kelurahan yang terdiri dari 41 Dusun , dimana Desa Bana dan Desa Bontojai merupakan 2 Desa yang memiliki jumlah Dusun terbanyak dengan masing-masing memiliki 6 Dusun.

Sedangkan wilayah Desa dengan jumlah Dusun terkecil adalah Desa Lamoncong yang hanya memiliki 2 Dusun.

Tabel 1.3 : Luas Wilayah Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Bontocan

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone

Desa/Kelurahan Luas km2 Persentase

Watang Cani 50,53 10,91

Pattukku 30,24 6,53

Bonto Jai 51,25 11,06

Bulu Sirua 42,19 9,11

Bana 69,16 14,93

Pammusureng 32,30 6,97

Kahu 34,26 7,39

Langi 59,20 12,78

Ere Cinnong 35,04 7,56

Lamoncong 29,42 6,35

Mattiro Walie 29,76 6,42

Tabel 1.4 :Jumlah Dusun/Lingkungan Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Bontocani

Desa/Kelurahan Dusun Lingkungan RW RT

Watang Cani 4 - 6 16

Pattukku 3 - 7 12

Bonto Jai 6 - 6 12

Bulu Sirua 4 - 6 8

Bana 6 - 8 14

Pammusureng 5 - 8 13

Kahu - 4 6 16

Langi 5 - 4 16

Ere Cinnong 3 - 6 12

Lamoncong 2 - 4 4

Mattiro Walie 3 - 4 6

Bontocani 41 4 69 129

Sumber : Kantor Kecamatan Bontocani 3. Gambaran Umum Desa Bana

a. Legenda Dan Sejarah Pembangunan Desa

Menurut cerita daerah Bana pada awalnya di huni oleh satu keluarga yang mempunyai 12 orang anak. Kemudian ke 12 anak itu mempunyai keluarga dan dibagi menjadi 12 bagian wilayah yang disebut “Lari Tanah” sesuai dengan wilayah tang diberikan kedua belas anak itu untu menjadi hak masing-masing untuk menguasai hal-hal didalamnya.

Adapun nama-nama Lari Tanah “ADE” sesuai julukan ke 12 bersaudara itu adalah :

Tabel 1.5 : Nama-Nama Lari Tana “Ade”

1 Fuatta 7 Segeri

2 Tengnga 8 Safosuji

3 Genre 9 Sullehatangnge

4 Saharu 10 Kapala

5 Anakarungnge 11 Guru Kampong

6 Kajuara 12 Sanro Hanua

Sumber : Kantor Desa Bana Kecamatan Bontocani

Kemudian pada waktu karena keadaan masyarakat untuk mempertahankan hidup mereka mencari makanan dihutan diluar tempat Lari Tananya. Tak terduga salah seorang penduduk melihat seorang laki-laki di hutan kemudian melapor kepada ketua Adat. Setelah itu ketua adat menemui orang tersebut dan ditanyakan asal-usulnya. Dari hasil pembicaraan terungkap bahwa laki-laki tersebut adalah keturunan Raja Bone (Wijanna Mangkau’E di Bone/Salassae). Kemudian ketua adat pergi ke kerajaan Bone untuk menghadap tentang kebenaran pernyataan dan stambuk yang dibawa laki-laki tersebut .

Ternyata keterangan yang disampaikan Ketua Adat kepada Raja Bone diiyakan dengan berkata “BA NA” artinya betul anak bahwa laki-laki tersebut adalah keturunan Raja Bone tapi, karena pernah membuat pelanggaran sehingga dihukum dengan diasingkan. Dan ternyata sampai kedaerah ketua adat tersebut.

Selanjutnya ketua adat meminta kepada agar laki-laki itu diangkat menjadi Raja/Arung kemudian diiyakan oleh raja Bone dengan kata Ba Na yang artinya ia betul . Sekembalinya dari menghadap Raja Bone, ketua adat tersebut

menikahkan anaknya dengan laki-laki tersebut dan kemudian diangkat menjadi Raja Bana.

Dari cerita diatas dari jawaban Raja Bone “BA NA” digabungkan menjadi BANA dan sampai sekarang menjadi nama sebuah dusun dan nama Desa. Desa Bana pada awal terbentuknya menjadi desa hanya menjadi 3 dusun yaitu Bana. Oro dan Paku. Tapi karena begitu luasnya daerah Bana sehingga dusun Paku dimekarkan menjadi 3 Dusun yaitu Cippaga dan Pao, Dusun Bana di mekarkan menjadi 2 dusun yaitu Dusun Bana Tengah dan Dusun Bana Jauh.

Sehingga sampai Desa Bana menjadi 6 dusun. Berikut ini diuraikan nama Kepala desa Bana.

Tabel 1.6 : Nama-nama Kepala Desa Sebelum dan Sesudah Berdirinya Desa Bana

No Periode Nama Kepala Desa Keterangan 1 1962-1963 A.Lanti Nyonri Penunjukan

2 1963-1964 A.Guntur Penunjukan

3 1964-2003 A.Muin Baso Penunjukan/Pemilihan

4 2003-2009 M.Amir.P Pemilihan

5 2009-2015 M.Amir.P Pemilihan

6 2015-Sekarang Ishak S.Pd Pemilihan

Sumber : Kantor Desa Bana Kecamatan Bontocani b. Geografis

Desa Bana merupakan salah satu dari 11 Desa di Wilayah Kecamatan Bontocani yang terletak 6 Km ke arah Utara Dari Kecamatan Bontocani. Desa

Bana mempunyai luas wilayah seluas ± 6916M2 dengan batas batas sebagai berikut :

1) Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bulusirua 2) Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai

3) Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kahu dan Desa Pammusureng 4) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sinjai

c. Iklim

Desa Bana, sebagaimana Desa-Desa lain di wilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Bana Kecamatan Bontocani.

d. Jumlah penduduk

Desa Bana merupakan salah satu desa di Kecamatan Bontocani dengan luas wilayah 69,16 Kilo Meter Persegi dengan jumlah penduduk dengan jumlah 2.615 jiwa dan memiliki kepadatan penduduk sebesar 33 jiwa / kilometer persegi. Desa Bana merupakan Desa dengan jumlah Penduduk terbanyak di Kecamatan Bontocani, kemudian desan bana ini merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Bontocani yang memiliki geografi yang di dominasi oleh pegunungan dengan iklim yang sangat mendukung terhadap pertanian di Desa Bana . Masyarakat Desa Bana memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan cara bertani dan berpernak. Kopi dan madu menjadi salah satu potensi yang ada di Desa Bana. Kondisi iklim yang mendukung membuat kopi di Desa Bana tumbuh subur sehingga Desa Bana menjadi salah satu desa penghasil kopi terbesar di

Kabupaten Bone dengan cita rasa yang berbeda denga kopi yang ada di daerah lain di Sulawesi Selatan.

4. Profil BUMDes Sipakarennu Desa Bana

1. Pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sipakarennu Desa Bana Pemerintah Desa Bana mendirikan Badan usaha Milik Desa (BUMDesa) dalam upaya pemberdayaan, pengembangan ekonomi masyarakat dan pembangunan desa sesuai kebutuhan dan potensi desa.

Lembaga ini bernama Badan Usaha Milik Desa Bana (BUMDesa ) Sipakarennu. BUMDes di Desa Bana berkedudukan di Desa Bana Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone. Daerah kerja BUM Desa Bana berada di Desa Bana Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone dan Jika dimungkinkan, dapat membuka cabang ditempat lain.

Permodalan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sipakarennu di Desa Bana dapat diperoleh dari :

a. Pemerintah desa b. Pemerintah Kabupaten c. Pemerintah Provinsi

d. Penyertaan modal maasyarakat desa

e. Pemupukan modal kerja yang disisihkan dari dana cadangan umum BUMDes.

2. Jenis Usaha yang dikelolah BUMDes sipakarennu Desa Bana

Adapun unit usaha yang dikelolah oleh BUMDes sipakarennu Desa Bana yaitu :

a. Unit Usaha pengolahan hasil pertanian dalam hal ini pengolahan kopi b. Unit usaha pengolahan hasil ternak madu

c. Unit usaha pengembangan ternak sapi

BUMDes Sipakarennu Desa Bana merupakan salah satu BUMDes yang ada di Kabupaten Bone dengan menjadikan kopi sebagai salah satu produk unggulan yaitu kopi Robusta, Arabika dan Excelsa. Ketiga jenis kopi tersebut memiliki cita rasa tersendiri. Selain kopi juga ada madu Trigona dan Dorsata (Madu Hutan) yang dikemas dengan teknologi terkini. Potensi pertanian yang ada di Kecamatan Bontocani khususnya di Desa Bana yang besar menjadi peluang untuk pengembangan perekonomian masyarakat dengan mengembangkan sumber daya alam yang ada.

3. Maksud dan Tujuan Pendirian BUMDes sipakarennu

a. Maksud pendirian BUMDes adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat Desa Bana melalui usaha pengembangan usaha ekonomi produktif industri, peternakan dan pertanian dan perkebunan serta sektor lainnya.

b. Tujuan BUM Desa Bana yaitu :

1) meningkatkan Perekonomian Desa;

2) mengoptimalkan aset Desa agar bermanfaat untuk kesejahteraan Desa;

3) meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolahan potensiDesa;

4) mengembangkan rencana kerja sama usaha antar desa

5) menciptakan peluang dan jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga;

6) membuka lapangan kerja;

7) meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pelayanan umum, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi desa; dan

8) meningkatkan pendapatan masyarakat desa dan Pendapatan Asli Desa.

4. Penghasilan BUMDes Sipakarennu Desa Bana

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sipakarennu Desa Bana kecamatan Bontocani Kabupaten Bone dapat meraih keuntungan kurang lebih 15 juta pertahunnya atau sekitar 1,2 juta perbulan. Aapun tata cara pembagian keuntungan yaitu sebagai berikut :

a. Tahun anggaran BUMDesa adalah menggunakan sistem kalender yaitu dimulai tanggal 1 Januari dan berakhir s/d 31 Desember tahun berjalan.

b. Hasil Usaha adalah Seluruh Pendapatan Dikurangi Pengeluaran.

c. Bagi hasil usaha BUMDesa setiap tahun, sebagai berikut:

1) Pendapatan asli Desa (PADes) sebanyak 30 % (tiga puluh persen);

2) Kelembagaan max sebanyak 30 % (tiga puluh persen);

3) Dana cadangan sebanyak 10 % (sepuluh persen);

4) dana sosial sebanyak 10 % (sepuluh persen); dan 5) tambahan modal min 20 % (Dua puluh persen).

5. Struktur BUMDes sipakarennu Desa Bana

Tabel 1.7 : Struktur Organisasi Pengurus BUMDes Sipakarennu Desa Bana Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone

Sumber : AD/ART Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sipakarennu Desa Bana B. Strategi Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dalam

Pemberdayaan Masyarakat Desa Bana Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan instrument pemberdayaan ekonomi lokal dengan berbagai ragam jenis usaha sesuai dengan potensi yang dimiliki desanya. Pengembangan potensi ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa melalui pengembangan usaha ekonomi.

Disamping itu, keberadaan BUMDes juga membawa dampak terhadap peningkatan sumber pendapatan asli desa (PAD) yang memungkinkan desa untuk mampu

No. Nama Jabatan Kedudukan dalam BUMDes

1.

melakukan sebuah pembangunan dan juga untuk peningkatan kesejahteraan secara lebih optimal.

Kehadiran BUMDes di setidaknya mampu memberikan sumbangsi dalam peningkatan perekonomian masyarakat setempat dan pemberdayaan potensi ini juga memberikan sumbangsih terhadap pengembangan Desa. Hal utama yang penting dalam upaya penguatan ekonomi desa adalah memperkuat kerjasama cooperatif, membangun kebersamaan atau menjalin kerekatan disemua lapisan

masyarakat desa. Sehingga itu menjadi daya dorongan steam engine dalam upaya pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan membuka akses pasar. Agar Strategi Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Bana Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone terealisasi dengan baik maka perlu adanya beberapa sifat yaitu pertama, menyatu (unived), menyeluruh (comprehensife) dan integral (integrated).

1. Menyatu (unifed)

Menyatu (unifed) : yaitu menyatukan seluruh bagian-bagian dalam organisasi atau perusahaan, dalam hal ini suatu kebijakan harus mampu menyatukan suatu bagian dalam organisasi sehingga strategi tersebut dapat berjalan secara efektif. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat terutama masyarakat yang ada dipedesaan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di Desa, Program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak, baik itu keterlibatan dari pihak swasta, masyarakat maupun pemerintah itu sendiri. Oleh karenanya Badan Usaha Milik Desa BUMDes

membutuhkan beberapa mitra agar dalam pelaksanaan program ini dapat mencapai tujuannya dengan sebaik mungkin. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bermitra dengan pihak-pihak yang membidangi sektor pemerintahan, sektor swasta dan sektor lainnya.

Sebagaimana dengan hasil wawancara dengan Kepala Desa Bana Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone yang mengatakan bahwa :

“Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Bana diberi nama BUMDes Sipakarennu. Ada 3 unit usaha yang dimiliki BUMDes sipakarennu ini yaitu unit usaha Kopi, Madu dan Ternak Sapi, dimana BUMDes itu sendiri adalah program yang dilaksanakan berdasarkan dukungan dari berbagai elemen baik dari pihak pemerintah itu sendiri, pihak swasta maupun dukungan dari pihak masyarakat, dengan dukungan dari berbagai pihak maka di harapkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sipakarennu Desa Bana ini dapat terlaksana dengan baik”. (hasil wawancara penulis dengan IH pada tanggal 17 Juni 2019)

Hasil wawancara diatas menggambarkan bahwa Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) adalah suatu program pemerintah yang diharapankan mampu meningkatkan perekonomi desa dan mensejahterakan masyarakat.

Wawancara dengan koordinator BUMDes Sipakarennu Desa Bana yang mengatakan bahwa :

“Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sipakarennu Desa Bana adalah satu-satunya BUMDes di Kabupaten Bone yang mengelolah Kopi, saya selaku Koordinator berharap dengan adanya BUMDes sipakarennu ini dapat memberikan dampak yang baik bagi masyarakat utamanya para petani Kopi di Desa Bana itu sendiri”. (hasil wawancara penulis dengan SL pada tanggal 19 Juni 2019)

Sesuai dengan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya BUMDes sipakarennu diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi masyarakat petani kopi terkhusus di Desa Bana Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone.

Kemudian di tambahkan oleh pengelola BUMDes sipakarennu yang mengatakan bahwa :

”BUMDes ini dapat memberikan keringanan bagi masyarakat petani kopi karna masyarakat tidak lagi membawa hasil panen mereka ke pasar untuk di jual karna kami dari pengelolah BUMDes sipakarennu ini akan terjun langsung untuk membeli hasil panen maupun hasil ternak di rumah masyarakat”. (hasil wawancara dengan MS pada tanggal 19 Juni 2019) Hasil dari wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dengan hadirnya BUMDes Sipakarennu Desa Bana ini masyarakat sangat terbantu karna mereka tidak lagi kepasar untuk memasarkan hasil panen mereka.

Wawancara dengan pengawas BUMDes yang mengatakan bahwa :

“Badan Usaha Milik Desa sipakarennu hadir dengan menjadikan kopi sebagai produk unggulan dapat memberikan dampak yang baik bagi masyarakat khususnya masyarakat petani kopi. Dengan hadirnya BUMDes Desa Bana diharapkan dapat menyatukan berbagai instansi seperti pemerintah, swasta dan masyarakat”. Hasil wawancara penulis dengan SP pada tanggal 19 Juni 2019

Hasil wawancara diatas penulis apat menarik kesimpulan bahwa hadirnya BUMDes ini memberikan dampak positif bagi masyarakat dan kemudian diharapkan kerjasama antara pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Wawancara dengan masyarakat Petani Kopi yang mengatakan bahwa :

“Kehadiran BUMDes ini memberikan manfaat bagi kami sebagai petani kopi karna hasil panen kami di beli langsung di rumah oleh pengelolah BUMDes sehingga kami sebagai masyarakat petani kopi tidak perlu lagi mengantarkan hasil panen kepasar yang jaraknya cukup jauh’. (hasil wawancara dengan JM pada 20 Juni 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa BUMDes Sipakarennu ini memberikan manfaat positif bagi masyarakan petani karna tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menjual hasil panennya.

Wawancara dengan pengelola BUMDes Sipakarennu yang mengatakan bahwa:

”Selain Kopi, BUMDes sipakarennu Desa Bana juga mengelolah Madu dan ternak sapi, dengan ini dari pengelola berharap dapat membantu para petani dan peternak khususnya masyarakat Desa Bana itu sendiri”. (hasil wawancara penulis dengan IL pada tanggal 20 Juni 2019)

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa BUMDes sipakarennu bertujuan untuk meringankan beban masyarakat petani dan masyarakat peternak sapi maupun peternak madu.

Senada dengan hasil wawancara dari petani kopi, masyarakat peternak madu mengatakan bahwa :

’Kehadira BUMDes ini bisa memberikan kami kemudahan dalam penjualan hasil ternak kami karna sebelum adanya BUMDes di Desa Bana ini kami sebagai peternak madu terkendala dalam penjualan hasil panen kami, dikarenakan madu trigona ini belum banyak dibudidayakan sebelum adanya BUMDes di Desa Bana”. (hasil wawancara penulis dengan ST tanggal 20 Juni 2019)

Hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya BUMDes ini memberikan dampak yang baik bagi masyarakat karna dapat memberikan kemudahan dalam pemasaran hasil panen masyarakat peternak madu.

Wawancara dengan masyarakat mengatakan Bahwa :

“BUMDes di Desa Bana ini memberikan kontribusi yang baik bagi kami sebagai masyarakat petani kopi namun belum merata karna sampai hari ini masih ada masyarakat di Desa Bana khususnya di Dusun Pao ini yang belum mempunyai kebun kopi, sedangkan unit usaha yang dikelola BUMDes dari sektor pertanian itu hanya kopi, ”. (hasil wawancara dengan JR pada tanggal 21 Juni 2019

Hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa :

BUMDes Sipakarennu Desa Bana memberikan kontribusi yang baik bagi masyarakat akan tetapi belum secara maksimal di karenakan masih banyak

Dokumen terkait