• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN EKONOMI REGIONAL PDRB KABUPATEN BANJAR

A. Nominal PDRB

Salah satu kegunaan angka nominal PDRB adalah melihat kinerja perekonomian suatu daerah. Nilai PDRB tinggi menunjukkan kinerja perekonomian tersebut cukup berhasil serta memiliki potensi sumber daya yang cukup tinggi karena kesediaan faktor produksi yang melimpah atau karena efisiensi pengelolaan faktor produksi.

Gambar 3.1. Nominal PDRB Harga Berlaku Kabupaten/Kota Se Kalimantan Selatan, Tahun 2014 (trilyun rupiah)

Seperti yang nampak pada gambar 3.1 kinerja perekonomian masing-masing kabupaten/kota di wilayah Kalimantan Selatan berbeda sesuai dengan potensi sumber daya yang ada diwilayah tersebut.

Dari beberapa faktor produksi yang tersedia, ternyata modal luas wilayah (lahan) dan ketersediaan sumber daya alam (SDA) menjadi faktor kunci dari kemampuan penciptaan nilai tambah. Oleh karena itu kabupaten/kota yang memilikinya mampu menghasilkan PDRB yang relatif besar. Selain itu, ketersediaan prasarana juga turut mempe-ngaruhi pembentukan nilai tambah.

Sementara itu faktor tenaga kerja di setiap kabupaten/kota di Kalimantan Selatan relatif memiliki kualitas yang berimbang kecuali untuk kota

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 47 0

2 4 6 8 10 12 14

2012 2013

2014 2015

9.52 10.30 11.77 12.46

8.67 9.07 9.53 9.96

Harga Berlaku Harga Konstan

Banjarmasin yang merupakan ibukota provinsi dan tentu saja lebih maju akan memiliki tenaga kerja dengan kualitas yang lebih baik.

Pada tahun 2014, besaran nominal PDRB Kabupaten Banjar sebesar 11,77 trilyun rupiah berada diurutan ke lima setelah Banjarmasin, Kotabaru, Tanah Bumbu dan Tabalong. Adapun nilai PDRB terkecil adalah Kabupaten Hulu Sungai Utara

Gambar 3.1. Nominal PDRB Kabupaten Banjar, Tahun 2012-2015 (trilyun rupiah)

Dengan wilayah yang relatif luas, beberapa kabupaten seperti Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tabalong termasuk Banjar mampu menciptakan PDRB diatas 11 trilliun rupiah. Selain itu, daerah-daerah tersebut juga memiliki SDA yang cukup melimpah dibandingkan daerah lain. Sedangkan untuk Kota Banjarmasin yang memiliki luas wilayah relatif sempit mampu menghasilkan PDRB yang cukup tinggi karena didukung kekuatan sektor sekunder dan tersier dengan melimpahnya prasarana untuk kegiatan ekonomi seperti industri, konstruksi, perdagangan, hotel dan transportasi, keuangan dan jasa-jasa.

Bila dilihat nominal PDRB Kabupaten Banjar atas dasar harga berlaku, selama periode 2012-2014 meningkat 31 persen, dari 9,52 trilyun rupiah pada tahun 2012 menjadi 11,77 trilyun rupiah pada tahun 2014 dan diperkirakan 2015 mencapai 12,46 trilyun rupiah. Sedangkan nilai PDRB atas dasar harga konstan juga meningkat dari 8,67 trilyun rupiah pada tahun 2012 menjadi 9,96 trilyun rupiah pada tahun 2015.

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 48 B. STRUKTUR EKONOMI

Perubahan struktur ekonomi sering dijadikan sebagai salah satu sinyal untuk mengetahui ke arah mana pembangunan berlangsung dalam periode waktu tertentu.

Kondisi tersebut disandarkan pada kekuatan efisiensi dan eksploitasi sumber daya yang terjadi. Saat suatu kategori lapangan usaha yang mampu menciptakan efisiensi yang lebih tinggi, maka lapangan usaha tersebut akan tumbuh lebih cepat dalam memproduksi barang dan jasa dibandingkan dengan lapangan usaha lain yang belum mampu berkinerja secara efisien. Implikasinya, sektor yang mengalami pertumbuhan yang lebih cepat tersebut akan meningkatkan pangsa lapangan usahanya dan menyusutkan pangsa lapangan usaha lain dalam memproduksi barang dan jasa.

Pada saat kondisi tersebut terjadi, maka sebetulnya telah berjalan proses restrukturisasi/rebalancing dalam perekonomian wilayah. Pada umumnya, seiring pembangunan yang berlangsung, proses tersebut berjalan diawali dengan membesarnya kontribusi lapangan usaha pertanian, kemudian berangsur menurun bergeser ke arah lapangan usaha industri dan jasa. Proses perubahan struktur tersebut idealnya akan diikuti dengan perubahan pergeseran dalam pasar tenaga kerja dalam arah yang sama. Namun demikian, pada prakteknya, kondisi tersebut tidak selalu berjalan.

Kondisi yang dijelaskan di atas tampak berlangsung di Kabupaten Banjar. Bukti nyatanya tampak dari menyusutnya distribusi PDRB kategori lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan yang secara konsisten, terus menurun dari 18,66 persen menjadi 17,93 persen dalam kurun waktu 3 tahun dan diperkirakan turun lagi menjadi 17,73 persen pada tahun 2015. Penurunan kontribusi lapangan usaha pertanian tersebut diikuti dengan penurunan kontribusi lapangan usaha pertambangan dan penggalian, yaitu dari 24,33 persen menjadi 21,81 persen dalam kurun waktu 4 tahun.

Penurunan kontribusi kedua lapangan usaha sektor primer yang telah disebutkan diatas diikuti oleh meningkatnya kontribusi lapangan usaha sekunder dan tersier (perdagangan dan jasa). Misalnya lapangan usaha perdagangan, dalam kurun waktu 3 tahun kontribusinya justru bertambah dari 11,69 persen menjadi 12,99 persen dan diperkiraan bertambah lagi menjadi 13,20 persen pada tahun 2015.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa proses pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah daerah telah mengurangi dominasi kategori pertanian dan pertambangan di Kabupaten Banjar dalam penciptaan nilai tambah.

Postur ekonomi (dilihat dari kontribusi PDRB) Kabupaten Banjar menunjukkan bahwa corak perekonomian Kabupaten Banjar masih tergantung pada eksploitasi

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 49 sumber daya alamnya. Hal ini terlihat dari besarnya kontribusi lapangan usaha pertanian dan pertambangan yang secara agregat menyumbang 39,09% PDRB Kabupaten Banjar pada tahun 2014. Kabupaten Banjar didukung oleh wilayah produsen komoditas pertambangan di hampir seluruh wilayah Kabupaten Banjar.

Tabel 3.1. Distribusi PDRB Kabupaten Banjar Atas Dasar Harga Berlaku, Tahun 2012-2015 (persen)

G Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

11,69 12,14 12,99 13,20

H Transportasi dan Pergudangan 3,96 4,19 4,32 4,18 I Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum

Pada tabel 3.1 di atas terlihat bahwa lapangan usaha pertambangan menjadi penyumbang PDRB terbesar sekaligus menjadi pintu penghubung perekonomian Kabupaten Banjar dengan ekonomi global. Hal tersebut mengingat sebagian besar komoditas tambang dari Kabupaten Banjar mengalir melalui keran ekspor ke luar negeri.

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 50 Meskipun corak ekonomi Kabupaten Banjar masih tergolong agraris (didominasi oleh lapangan usaha pertanian dan pertambangan), namun peran lapangan usaha perdagangan dapat dikatakan cukup strategis. Data distribusi PDRB Kabupaten Banjar memperlihatkan bahwa lapangan usaha perdagangan menjadi penyumbang PDRB ketiga terbesar setelah lapangan usaha pertambangan dan pertanian. Pada tahun 2012, kontribusi PDRB lapangan usaha perdagangan sebesar 11,06 persen, terus meningkat hingga 12,99 persen pada tahun 2014, dan diperkirakan meningkat lagi menjadi 13,20 persen pada tahun 2015.

Gambar 3.3. Struktur Ekonomi Kabupaten Banjar, Tahun 2014 (persen)

C. PERTUMBUHAN EKONOMI

Perlambatan ritme ekonomi global turut membawa dampak penyebaran ke berbagai negara/wilayah. hal ini disebabkan semakin terintegrasinya perekonomian antar negara sebagai konsekuensi dari semakin terbukanya perekonomian negara di dunia. Luasnya dampak penyebaran krisis tersebut juga turut menyebabkan pemulihan/recovery perekonomian global menjadi berlarut-larut. Perekonomian Kabupaten Banjar sebagai salah satu bagian integral perekonomian nasional juga tidak luput dari dampak krisis global. Kategori lapangan usaha pertambangan (batubara) menjadi lapangan usaha dominan dalam perekonomian Kabupaten Banjar, oleh

21.16 17.93

12.99 9.37

7.16 6.85

4.78 4.32

3.32 3.24 2.88

2.08 1.95 1.39

0.30 0.20 0.07 0

5 10 15 20 25

Pertambangan dan Penggalian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Konstruksi Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan… Industri Pengolahan Jasa Pendidikan Transportasi dan Pergudangan Real Estate Informasi dan Komunikasi Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Jasa Keuangan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya Jasa Perusahaan Pengadaan Air Pengadaan Listrik, Gas

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 51 karena itu, jalur perdagangan (ekspor) batubara menjadi rentan dari penularan dampak perekonomian global, yang pada akhirnya mau tidak mau akan mempengaruhi pergerakan mesin ekonomi Kabupaten Banjar.

Tabel 3.2. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Banjar Menurut Harga Konstan 2010, Tahun 2013-2015 (persen)

Lapangan Usaha 2013 2014* 2015**

(1) (2) (3) (4) (5)

G Perdagangan Besar dan Eceran, dan

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8,79 8,75 7,97

Secara agregat, perekonomian Kabupaten Banjar menunjukkan tren yang melambat sejak tahun 2011. Perlambatan tersebut diakibatkan karena melambatnya kategori lapangan usaha yang menjadi sumber pertumbuhan selama ini.

Pertambangan batubara adalah salah satunya. Kontribusi PDRB kategori pertambangan batubara yang besar sangat mempengaruhi besar kecilnya pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar. Potret tersebut tergambar dari melemahnya pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar dalam beberapa tahun

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 52 belakangan. Faktor pemicu utama perlambatan ekonomi di dunia belakangan adalah krisis eropa yang tidak kunjung reda. Dampak krisis tersebut tidak hanya menimpa kawasan eropa, namun menyebar ke berbagai negara dan kawasan lain.

Permintaan dunia menjadi salah satu efek dari perlambatan akibat krisis tersebut. Hal ini tampak dari melambatnya permintaan beberapa komoditas dunia, termasuk diantaranya batubara. Krisis global dan berlebihnya produksi minyak USA, bahkan tertinggi selama seperempat abad terakhir turut menyebabkan permintaan batubara melambat. Perlambatan permintaan dunia terhadap batubara tercermin dari turunnya harga batubara dan penurunan volume perdagangan batubara (ekspor impor). Kondisi tersebut tentu menyebabkan negara/wilayah yang memproduksi batubara juga terimbas. Kasus tersebut juga berimbas pada perekonomian Kabupaten Banjar. Dalam perekonomian Kabupaten Banjar, pertambangan batubara menyumbang sekitar 21 persen dari PDRB total. Hal ini menjadikan pertambangan batubara menjadi kategori lapangan usaha yang memiliki kontribusi terbesar.

Namun jika kita lihat pada tabel 3.2 di atas, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar pada tahun 2014 mengalami sedikit percepatan, yaitu dari 4,61 persen pada tahun 2013 menjadi 5,08 persen pada tahun 2014. Percepatan ini disokong oleh munculnya beberapa perusahaan tambang batubara baru dengan skala kecil, yang mana sebagian produksi batubara dari perusahaan tersebut juga untuk melayani pasar dalam negeri sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh kelesuan pasar batubara global.

Peningkatan pada lapangan usaha pertambangan ini bisa menutupi melambatnya salah satu sumber pertumbuhan lainnya, yaitu lapangan usaha pertanian yang rentan oleh perubahan iklim pada tahun 2014.

Pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar diperkirakan melambat dari 5,08 persen pada tahun 2014 menjadi 4,54 persen pada tahun 2015.

Hal ini dipengaruhi oleh penurunan produksi batu bara di Kabupaten Banjar yang diikuti oleh tren menurunnya harga batu bara. Perlambatan kategori pertambangan ini berimbas ke kategori lapangan usaha lainnya, seperti kategori perdagangan, transportasi, dan jasa keuangan.

Di samping itu kategori pertanian diperkirakan juga turut melambat pada tahun 2015. Alasan utamanya adalah kondisi iklim yang tidak kunjung stabil, musim kemarau panjang sebagai imbas dari bencana el nino di sebagian besar penjuru dunia mempengaruhi produktivitas pertanian di Kabupaten Banjar, terutama untuk subkategori pertanian tanaman pangan dan perikanan.

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 53 Gambar 3.4. Share dan Pertumbuhan PDRB Kabupaten Banjar, Tahun 2014 (persen)

Jika melihat trend dari besarnya kontribusi dan pertumbuhan setiap kategori lapangan usaha seperti pada gambar 3.2. maka kategori perdagangan dan konstruksi akan terus bertumbuh menggantikan kategori pertambangan dan pertanian.

D. PDRB PER KAPITA

Pembangunan tidak cukup hanya menyasar pencapaian pertumbuhan ekonomi saja. Akan tetapi terdapat banyak dimensi yang dicakup dan target yang ingin dicapai. Salah satunya adalah mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat. Pertumbuhan hanyalah sasaran antara (syarat perlu) bagi tercapainya kesejahteraan. Tanpa pertumbuhan, esensi pembangunan akan menjadi bias dan identik dengan membagi-bagikan kemiskinan. Ukuran kesejahteraan memang sulit tercakup dalam satu indikator yang komprehensif, karena masalah aspek multidimensi yang melatarbelakanginya. Namun demikian, banyak literatur dan kajian akademik yang menggunakan berbagai alternatif, diantaranya adalah dengan pendekatan variabel PDRB per kapita. PDRB per kapita diperoleh dengan membagi nilai PDRB dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun pada waktu tertentu.

21.16 17.93 12.99 9.37 7.16 6.85 4.78 4.32 3.32 3.24 2.88 2.08 1.95 1.39 0.30 0.20 0.07

2.83 2.30 8.75 6.08 5.48 4.62 8.24 6.70 5.48 9.41 7.15 5.23 6.77 8.20 6.89 6.73 12.08

0 5 10 15 20 25

Pertambangan dan Penggalian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Konstruksi Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Industri Pengolahan Jasa Pendidikan Transportasi dan Pergudangan Real Estate Informasi dan Komunikasi Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Jasa Keuangan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya Jasa Perusahaan Pengadaan Air Pengadaan Listrik, Gas Share Pertumbuhan

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 54 Negara yang sudah maju, rata-rata memiliki PDB perkapita yang lebih besar dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang. Menurut klasifikasi world bank, negara yang berpendapatan per kapita kurang dari $1.045 dikategorikan sebagai negara berpendapatan rendah. Sementara negara yang berpendapatan per kapita antara $1.045-$4.125 termasuk negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income), negara yang memiliki pendapatan per kapita antara $4.125-$12.746 dikategorikan sebagai negara yang berpendapatan menengah tinggi (upper middle income). Sedangkan negara yang memiliki pendapatan per kapita lebih dari $12.746 termasuk negara berpendapatan per kapita tinggi.

Perkembangan PDRB per kapita di Kabupaten Banjar dapat dilihat pada tabel 3.3 di bawah ini. Selama kurun tahun 2012-2014 PDRB perkapita Kabupaten Banjar semakin meningkat setiap tahunnya dari 18,03 juta rupiah pada tahun 2010 menjadi 21,59 juta rupiah pada tahun 2014 dan diperkiraan meningkat lagi pada tahun 2015 menjadi 22,47 juta rupiah, atau tumbuh rata-rata 3,05 persen setiap tahunnya. Namun demikian, apabila diukur dalam USD, PDRB perkapita Kabupaten Banjar masih termasuk dalam jajaran wilayah berpendapatan menengah bawah. Dari sisi PDRB perkapita konstan, PDRB perkapita Kabupaten Banjar cenderung tumbuh melambat selama periode 2012-2015, atau dari 2,98 persen pada tahun 2013 menjadi 2,84 persen pada tahun 2015. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika perekonomian Kabupaten Banjar yang sedang mengalami perlambatan dalam kurun waktu yang sama.

Tabel 3.3. PDRB Per Kapita Kabupaten Banjar, Tahun 2010-2015

Uraian 2012 2013 2014* 2015**

(1) (2) (3) (4) (5)

PDRB Perkapita ADHB (Rp ribu) 18.026,65 19.210,47 21.586,98 22.466,03 PDRB Perkapita ADHK (Rp ribu) 16.422,14 16.911,73 17.476,16 17.971,70 Pertumbuhan PDRB Perkapita

ADHB (persen)

- 6,57 12,37 4,07

Pertumbuhan PDRB Perkapita ADHK (persen)

- 2,98 3,34 2,84

* Angka sementara

** Angka perkiraan

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 55

4 BAB IV

PERTUMBUHAN DAN PERANAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA

PDRB Kabupaten Banjar menurut lapangan usaha dirinci menjadi 17 kategori lapangan usaha dan sebagian besar kategori dirinci lagi menjadi subkategori.

Pemecahan menjadi subkategori atau sublapangan usaha ini disesuaikan dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009. Perkembangan setiap kategori lapangan usaha diuraikan pada penjelasan di bawah ini.

A. PERTANIAN, KEHUTANAN DAN PERIKANAN

Lapangan usaha ini mencakup Sublapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang terdiri atas tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, dan jasa pertanian dan perburuan, Sublapangan Usaha kehutanan dan Penebangan Kayu, dan Sublapangan Usaha Perikanan. Lapangan usaha pertanian tersebut, sejauh ini masih menjadi tumpuan dan harapan dalam penyerapan tenaga kerja.

Pada tahun 2014 Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberi kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Banjar sebesar 17,9 persen dan diperkirakan turun menjadi 17,73 persen pada tahun 2015. Sublapangan usaha tanaman pangan dan perikanan merupakan penyumbang nilai tambah Lapangan usaha pertanian terbesar, yaitu berturut-turut sebesar 35,2 persen dan 31,82 persen dari seluruh nilai tambah pertanian. Namun demikian, pertumbuhan keduanya menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Pada tahun 2014 pertumbuhan lapangan usaha tanaman pangan cukup tertinggal bahkan menurun (-0,16%) dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan usaha perikanan (3,97%). Sedangkan pada tahun 2015 pertumbuhan sublapangan usaha tanaman diperkirakan kembali menunjukkan angka positif (1,58%). Sebaliknya dengan sublapangan usaha perikanan yang diperkirakan mengalami sedikit perlambatan menjadi 3,95 persen.

Selain lapangan usaha tanaman pangan dan perikanan, kinerja pertanian Kabupaten Banjar juga ditopang oleh lapangan usaha perkebunan tahunan, dengan kontribusi tersebesar ketiga terhadap lapangan usaha pertanian yaitu sebesar 16,4 persen dan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 3,41 persen pada tahun 2014.

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 56 Kinerja lapangan usaha tersebut ditopang oleh produksi komoditas kelapa sawit dan karet yang tersebar Kecamatan Mataraman, Astambul dan Simpang Empat, baik berupa perusahaan maupun perkebunan rakyat. Karena belum didirikannya pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) di Kabupaten Banjar, maka produksi kelapa sawit yang cukup besar tersebut dikirim ke kabupaten lain dalam bentuk buah.

Sedangkan sublapangan usaha dengan kontribusi terbesar selanjutnya adalah peternakan yaitu cenderung stabil di kisaran 10 persen terhadap lapangan usaha pertanian. Namun jika dilihat dari pertumbuhannya yang terus menurun dari 6,7 persen di tahun 2011 menjadi 2,73 persen di tahun 2014 maka sublapangan usaha ini terlihat kurang menjanjikan.

Tabel 4.1. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pertanian, Peternakan, Perburuan Dan Jasa Pertanian, Tahun 2012-2015 (persen)

Kategori Lapangan Usaha 2012 2013 2014* 2015**

(1) (2) (3) (4) (5)

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 100 100 100 100 1 Pertanian, Peternakan, Perburuan

dan Jasa Pertanian 65,81 65,49 65,07 64,61

a. Tanaman Pangan 36,63 35,89 35,20 34,52

b. Tanaman Hortikultura Semusim 0,29 0,29 0,31 0,30

c. Perkebunan Semusim 0,03 0,03 0,03 0,03

d. Tanaman Hortikultura Tahunan

dan Lainnya 0,75 0,78 0,80 0,79

e. Perkebunan Tahunan 16,41 16,48 16,45 16,62

f. Peternakan 10,29 10,63 10,68 10,85

g. Jasa Pertanian dan Perburuan 1,41 1,40 1,59 1,51 2 Kehutanan dan Penebangan Kayu 3,27 3,17 3,11 2,97

3 Perikanan 30,92 31,34 31,82 32,42

* Angka sementara

** Angka perkiraan

Kinerja sublapangan usaha pertanian tanaman pangan Kabupaten Banjar sebagian besar ditopang oleh produksi tanaman padi sawah. Padi sawah memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan produksi padi ladang. Secara umum, kinerja produksi tanaman pangan dan hortikultura masih terpengaruh oleh iklim.

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 57 Sebagai ilustrasi, pada tahun 2013 terjadi banjir yang menyebabkan sawah puso di beberapa daerah produsen padi. Akibatnya pertumbuhan tanaman pangan pada tahun 2013 menjadi terkontraksi mencapai 0,73 persen, dan bahkan menurun menjadi -0,16 persen di tahun 2014. Pada tahun 2014 banyak sawah yang gagal panen karena kekeringan. Kekeringan juga terjadi di tahun 2015 sebagai efek dari musim kemarau panjang sehingga banyak sawah yang puso. Diperkirakan pertumbuhan sublapangan usaha tanaman pangan masih lesu di tahun 2015 (1,58%).

B. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

Pada Kategori Pertambangan dan Penggalian, Kabupaten Banjar hanya disokong oleh dua sublapangan usaha, yaitu pertambangan batubara dan lignit dan pertambangan dan penggalian lainnya.

Sub lapangan usaha yang berkontribusi terbesar adalah pertambangan batubara dan lignit yaitu sebesar 90,69 persen pada tahun 2014, menurun dari 91,85 persen pada tahun 2012. Nilai tambah kategori lapangan usaha pertambangan batubara tersebut sekaligus menjadi kontributor terbesar PDRB yang tercipta di Kabupaten Banjar, sehingga kinerjanya sangat berpengaruh terhadap dinamika perekonomian Kabupaten Banjar.

Perlambatan ekonomi Kabupaten Banjar dalam beberapa tahun belakangan juga tidak lepas dari pengaruh kinerja pertambangan batubara di Kabupaten Banjar.

Situasi perekonomian global telah menyebabkan permintaan terhadap komoditas sumber energi terdampak. Hal ini menyebabkan kinerja perusahaan-perusahaan tambang menjadi terganggu. Bahkan beberapa diantaranya sudah merumahkan karyawannya. Pada akhirnya, dampak terhadap kabupaten/kota produsen tambang tidak dapat dielakkan.

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 58 Tabel 4.2. Peranan lapangan usaha terhadap PDRB kategori pertambangan dan

penggalian,Tahun 2012-2015 (persen)

Kategori Lapangan Usaha 2012 2013 2014* 2015**

(1) (2) (3) (4) (5)

Pertambangan dan Penggalian 100,00 100,00 100,00 100,00 1 Pertambangan Minyak dan Gas

Bumi

Kinerja pertambangan batubara sangat mendominasi kinerja lapangan usaha pertambangan Kabupaten Banjar. Karena sebagian besar komoditas batubara diekspor ke manca negara, maka hal ini sekaligus menjadi jalur infiltrasi dampak perekonomian global ke dalam perekonomian Kabupaten Banjar. Hal ini nampak dari pertumbuhan sublapangan usaha pertambangan batubara yang terus melambat sejak tahun 2011, seiring dengan perlambatan perekonomian negara tujuan ekspor batubara Kabupaten Banjar (Cina, Jepang dan India). Selain faktor eksternal tersebut, faktor internal berupa kebijakan mengenai keharusan mendirikan smelter bagi perusahaan pada tahun 2013 disinyalir juga turut berdampak pada perlambatan sublapangan usaha pertambangan batubara.

Gambar 4.1. Laju Pertumbuhan PDRB Kategori Pertambangan dan Penggalian, Tahun 2013-2015 (persen)

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 59 Di tengah terus melemahnya pertambangan batubara nasional, pertambangan batubara di Kabupaten Banjar mengalami peningkatan pada tahun 2014, yaitu dari -0,36 persen pada tahun 2013 menjadi 2,6 persen pada tahun 2014. Hal ini disebabkan pesatnya peningkatan produksi batubara dari perusahaan-perusahaan kecil di Kabupaten Banjar, yang mana sebagian besar produksi batubara di perusahaan tersebut hanya untuk konsumsi nasional (tidak untuk diekspor). Selain itu, ditemukannya galian tambang batubara jenis baru juga turut menggenjot produksi batubara di Kabupaten Banjar. Dengan demikian, menurunnya harga batubara dunia bisa diimbangi oleh produksi batubara yang tinggi.

Tidak demikian halnya pada tahun 2015, produksi batubara baik pada perusahaan besar maupun perusahaan kecil mengalami perlambatan seiring dengan penurunan harga batubara. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi sublapangan usaha pertambangan batubara diperkirakan sedikit melambat di tahun 2015 menjadi 1,53 persen.

C. INDUSTRI PENGOLAHAN

Kategori lapangan usaha industri pengolahan dalam PDRB dengan tahun dasar 2010 dibagi 16 sublapangan usaha. Sublapangan usaha yang mendominasi kinerja industri pengolahan di Kabupaten Banjar adalah industri makanan dan minumam.

Produksi industri makanan dan minuman rata-rata mencapai lebih dari 60 persen dari total produksi industri pengolahan keseluruhan di Kabupaten Banjar. Pertumbuhan industri makanan dan minuman pun cukup stabil di kisaran 5,41 persen pada tahun 2012 hingga tahun 2014 dan diperkirakan meningkat menjadi 5,58 persen pada tahun 2015, sehingga sublapangan usaha ini dirasa cukup menjanjikan. Komoditas utama dari industri makanan dan minuman Kabupaten Banjar adalah air mineral, aneka roti dan kue, dan sirup gula.

Kajian Ekonomi Regional PDRB Kabupaten Banjar 2012-2014 dan Perkiraan 2015 | 60 Tabel 4.3. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Industri Pengolahan,

Tahun 2012-2015 (persen)

Kategori Lapangan Usaha 2012 2013 2014* 2015**

(1) (2) (3) (4) (5) 5 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas

Kaki

- - - -

6 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya

1,13 1,12 1,09 1,06

7 Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman

0,45 0,45 0,43 0,43

8 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional

0,14 0,15 0,14 0,15 9 Industri Karet, Barang dari Karet dan

Plastik

21,62 21,76 20,69 21,05 10 Industri Barang Galian bukan Logam 8,53 8,56 8,07 8,18

11 Industri Logam Dasar 0,00 0,00 0,00 -

12 Industri Barang dari Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik dan Peralatan

16 Industri pengolahan lainnya, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan

1,30 1,27 1,24 1,23

* Angka sementara

** Angka perkiraan

Selain industri makanan dan minuman, penyumbang terbesar nilai tambah dalam industri manufaktur Kabupaten Banjar adalah industri karet yang menyumbang PDRB mencapai 21 persen dari total PDRB industri pengolahan Kabupaten Banjar.

Sebagian besar produksi karet alam di Kabupaten Banjar diekspor dalam bentuk mentah. Ekspektasi pertumbuhan/kinerja industri karet masih menjanjikan seiring dengan pertumbuhan industri otomotif, konstruksi dan pertumbuhan negara tujuan

Sebagian besar produksi karet alam di Kabupaten Banjar diekspor dalam bentuk mentah. Ekspektasi pertumbuhan/kinerja industri karet masih menjanjikan seiring dengan pertumbuhan industri otomotif, konstruksi dan pertumbuhan negara tujuan

Dokumen terkait