5. MAsyArAKAt sIPIl onlIne: MedIA bArU dAn
5.3. Pengadopsian media baru: berbagai penggerak,
Mengingat hasil penelitian terbaru kami yang mensurvei 231 organisasi masyarakat sipil di Indonesia (nugroho, 2011a), terungkap bahwa
[sementara] kebutuhan untuk terus memperbarui informasi saat ini adalah penggerak internal terkuat untuk pengadopsian internet dan media sosial, alasan yang berkaitan dengan peningkatkan visibilitas publik sebuah organisasi telah mendorong proses adopsi secara internal lebih kuat daripada peningkatan efektivitas dan eisiensi pekerjaan dan ‘kehausan’ terhadap teknologi baru. [...] secara eksternal, beberapa alasan utama untuk mengadopsi internet dan media sosial dalam masyarakat sipil adalah berjaringan, berkolaborasi dan memperluas pengetahuan dan perspektif. hal ini juga menunjukkan bahwa masalah persaingan bukanlah sebuah alasan yang penting untuk mengadopsi internet dan media sosial dalam masyarakat sipil. (hal. 41)
selanjutnya, mengenai hambatan,
Aspek negatif yang paling dapat diamati dari penggunaan internet dan media sosial dalam masyarakat sipil tampaknya adalah masalah teknis (virus komputer). namun, hal yang mencolok, meskipun tidak mengejutkan, adalah bahwa dalam sejumlah besar kasus, teknologi mengalihkan perhatian para staf organisasi. Penggunaan internet dan media sosial tidak benar-benar dilihat untuk tujuan isu- isu yang berkaitan dengan organisasi dan adanya kekhawatiran untuk menjadi bias. [...] dalam hal kesulitan, survei menunjukkan bahwa kekurangan biaya, sumber daya, infrastruktur dan keahlian nampaknya cukup tinggi dalam daftar (mulai dari sedang/moderate sampai dengan sangat tinggi/very high). Mungkin karena sifat organisasi, masalah seperti kebijakan internal, politik eksternal, budaya konservatif, dan banyak lainnya, tidak memberikan kontribusi yang signiikan (rendah/low dan sangat rendah/very low) terhadap kesulitan dalam penggunaan internet dan media sosial dalam sebagian besar kelompok masyarakat sipil dan komunitas masyarakat di Indonesia. (hal. 44-45)
hasil ini menunjukkan bahwa penggerak untuk masyarakat sipil dalam mengadopsi internet dan media sosial tampaknya berakar pada kebutuhan akan hubungan timbal balik dengan masyarakat lain, seperti yang tercermin dalam kebutuhan untuk berjaringan, berkolaborasi, memperluas perspektif dan mencari pengetahuan. namun, sementara faktor penggerak ini lebih substansial, hambatan-hambatannya bersifat lebih teknis. Jika direleksikan, hal demikian mungkin berhubungan dengan masalah umum yang dialami oleh masyarakat sipil di negara-negara berkembang, di mana ketersediaan akses internet dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi tidak merata. Penggerak dan hambatan tidak bekerja sendiri-
sendiri, lebih tepatnya, mereka saling mempengaruhi (nugroho, 2011b). oleh karena itu, untuk memahami sifat dari penggunaan media sosial di masyarakat sipil, fokusnya harus terletak pada kondisi di mana proses adopsi difasilitasi. dengan kata lain, hal itu adalah kondisi yang memungkinkan, yang mendorong adopsi dan penggunaan teknologi di masyarakat sipil. setidaknya ada beberapa aspek yang dibahas di sini.
Pertama, apakah media sosial membuka peluang baru bagi perdebatan politik? beberapa kelompok dalam masyarakat sipil Indonesia menemukan bahwa teknologi dapat membantu menyebarkan isu yang sentral menjadi perhatian mereka, dan pengalaman ini yang membantu mereka menyesuaikan dengan teknologi. selain beberapa contoh kontemporer yang ditampilkan dalam bagian sebelumnya, kami mengingat diskusi dengan beberapa kelompok masyarakat sipil yang aktif dengan isu hak asasi manusia di Aceh beberapa waktu lalu. Untuk mempertahankan kekayaan data, kami mengutip bagian dari diskusi seperti di bawah ini:
Masalah [dengan isu-isu hak asasi manusia] adalah bahwa hal itu dihadapkan secara langsung dengan syariah Islam. ... Anda tahu bahwa hukum syariah diterapkan di Aceh. tapi beberapa hal telah menjadi terlalu ekstrim. sekarang ada wacana publik apakah hukuman rajam [melempari batu sampai mati] dan potong tangan harus segera disahkan. dan bahkan ketika itu masih sebagai wacana, kami telah memperhatikan bahwa di beberapa buku sekolah sd terdapat bab yang merinci bagaimana hukuman harus dilakukan. ... Jadi sekarang kami harus mengubah strategi kami. berkat adanya ledakan hotspot gratis di seluruh Aceh, orang-orang terhubung ke internet. sebagian besar dari mereka – sebetulnya semua dari mereka - menggunakan facebook. sekarang kami menggunakan facebook untuk berkampanye tentang hak asasi manusia dan pluralisme. Kami tidak mengatakan bahwa kami telah benar-benar berhasil, tetapi kami bisa melihat banyak anak muda sekarang menjadi sadar akan masalah ini; bagaimana masalah ini dibicarakan secara terbuka di sekolah-sekolah, di milis; bahkan bagaimana beberapa pejabat publik tingkat tinggi terlibat dalam wacana ini. saya percaya, sekarang, akan ada beberapa ketidakpuasan publik jika rencana hukuman diteruskan (focus group, banda Aceh, 4/10/10).
tampaknya, bagi masyarakat sipil di Indonesia, kemampuan teknologi untuk membuka kemungkinan bagi perdebatan politik merupakan hal yang penting. di sini, itur terutama dari media sosial yang dapat dengan cepat dan luas menyebarkan ide-ide kepada masyarakat merupakan hal yang utama. seperti dicontohkan dalam kasus Aceh di atas, media sosial seperti facebook memiliki potensi untuk membantu mengubah masyarakat dengan cara memperluas perspektif mereka dan memperdalam pemahaman mereka tentang isu-isu tertentu yang diperdebatkan.
Kedua, apakah media baru mendukung jaringan dan koordinasi di antara kelompok-kelompok masyarakat sipil? seperti yang diperdebatkan dan didukung di beberapa bagian dalam makalah ini, dalam konteks Indonesia, jaringan dan koordinasi gerakan sipil untuk sebagian besar telah difasilitasi oleh penggunaan media sosial dan tIK pada umumnya – tepatnya sejak sebelum reformasi pada tahun 1998. saat ini, banyak pertemuan masyarakat sipil, termasuk unjuk rasa dan demonstrasi, telah diselenggarakan dengan bantuan twitter dan blackberry Messenger (terkenal dikenal sebagai bbM). Kelompok-kelompok seperti AIMI- AsI (Asosiasi Ibu Menyusui), misalnya, menggunakan segala macam bentuk media baru (termasuk twitter, blog, facebook, dan website) dan memperluas jaringannya tidak hanya untuk sesama organisasi masyarakat sipil, tetapi juga untuk departemen pemerintahan (departemen Kesra, departemen Kesehatan, dll), badan-badan Pbb (UnIcef, Who, dll), dan lsM internasional (helen Keller, cAre, save the children, dll). AIMI-AsI telah sangat sukses dalam kampanye untuk membantu membentuk kembali kebijakan Kementerian Kesehatan Indonesia dengan memanfaatkan jaringannya: sekarang iklan susu formula sudah mulai dilarang di rumah sakit pemerintah di Indonesia (Mia sutanto , akun personal, 2010-2011). berkenaan dengan kegiatan internasional, masyarakat sipil Indonesia telah jelas memiliki jaringan di luar negeri (Uhlin, 2000). bagaimanapun, sebuah penelitian kecil telah dilakukan berkaitan dengan apakah jaringan ini difasilitasi oleh penggunaan media baru atau tidak, terutama di Indonesia pada masa kini (penelitian kami sebelumnya mengenai topik ini menyangkut internet pada umumnya. lihat nugroho dan tampubolon, 2008).
Ketiga, apakah media baru mendukung perekrutan dan mobilisasi pengikut dalam gerakan-gerakan sosial? beberapa contoh dalam bagian sebelumnya, khususnya kasus Prita Mulyasari dan bibit-chandra (atau cicak versus buaya), menunjukkan sejauh mana teknologi secara efektif dapat digunakan untuk memobilisasi dukungan dalam gerakan sosial. namun, sangat jarang media sosial bekerja secara terisolasi dari media lain ketika masuk ke masalah perekrutan dan mobilisasi. dalam konteks di mana infrastruktur tIK masih tidak dapat diakses secara merata, ketergantungan pada media konvensional tidak bisa dihindari. bahkan keberhasilan dari kasus Prita dan bibit-chandra itu, sampai batas tertentu, juga karena media tradisional seperti televisi yang mengangkat pesan yang beredar di ranah online, kemudian diperkuat melalui saluran mereka dan disampaikan secara luas kepada masyarakat, termasuk yang berada di luar jangkauan media baru seperti facebook dan twitter.
hal di atas berkaitan erat dengan aspek akhir dari kondisi yang memungkinkan bagi penggunaan media baru dalam masyarakat sipil, yaitu konvergensi: sejauh mana media baru menyatu dengan dan mempengaruhi media tradisional? dalam banyak kasus, penggunaan media sosial dalam masyarakat sipil harus diperkuat
oleh media konvensional. Kasus-kasus yang disebutkan di atas seperti kasus Prita dan bibit-chandra hanyalah dua contoh. Ada begitu banyak contoh lain, mulai dari menggunakan saluran televisi untuk memperkuat kampanye seperti dalam contoh gerakan #IndonesiatanpafPI, sampai dengan menggunakan radio komunitas untuk menyebarkan isu-isu tertentu seperti yang dilakukan oleh suara Komunitas berbasis di yogyakarta dalam mempromosikan model-model ekonomi alternatif bagi masyarakat akar rumput. salah satu faktor yang perlu diperhitungkan di sini adalah keterlibatan dari pemilik kepentingan yang bersangkutan, yang dapat menjadi instrumen dalam strategi konvergensi media. di Indonesia, di mana hubungan sosial di antara masyarakat masih sangat kuat karena budaya lokal, nilai-nilai dan sistem kepercayaan, pemangku kepentingan lokal dapat menjadi sangat penting dalam strategi konvergensi media – karena konvergen media juga berarti konvergen gerakan. Komunitas langsat dan salingsilang.com di Jakarta tampaknya memahami masalah ini. selain menyediakan layanan web untuk masyarakat (antara lain seperti Politikana.com untuk jurnalisme warga, cicak.org untuk berita tentang korupsi, bicarafilm.com untuk mengulas ilm, curiPandang. com untuk gosip selebriti, dan ngerumpi.com untuk isu-isu perempuan), mereka secara teratur menjadi tuan rumah pertemuan obrolan langsat atau obsat (obrolanlangsat.com). Melalui inisiatif ini (yang dulu juga termasuk solidaritas publik dalam kasus gerakan Koin untuk Prita), kelompok masyarakat sipil dan banyak masyarakat datang bersama-sama dan mengenal satu sama lain - meskipun mungkin tidak sengaja. seperti juga halnya dengan commonroom di bandung, atau rumah blogger Indonesia bengawan di solo. Mereka menyediakan ruang untuk berjaringan untuk berbagai elemen masyarakat sipil, di samping upaya mereka dalam membawa teknologi media baru lebih dekat dengan pengguna tingkat masyarakat. setelah mempresentasikan penggerak, hambatan, dan beberapa aspek dari kondisi memungkinkan yang berperan dalam proses adopsi media baru di masyarakat sipil Indonesia, sekarang kami beralih ke beberapa studi kasus dalam rangka memperoleh pandangan yang lebih mendalam dan pengertian yang lebih bernuansa.