BAB III URGENSI ETIKA DAN PENDIDIKAN
B. Substansi Pendidikan Moral Islam
Sesungguhnya hakikat pendidkan menurut kaca mata Islam adalah menumbuhkan manusia dan membentuk kepribadiannya agar menjadi manusia sempurna yang berbudi luhur dan dan berahlak mulia, sehingga menjadi pendorong baginya untuk berbuat kebaikan dalam kehidupannya dan menghalangi mereka dari perbuatan maksiat.5
Islam menyerukan kepada pemeluknya agar menggunakan sistem dan metode serta ruang lingkup pendidikan yang sesuai dengan petunjuk nilai-nilai Islam. Ahlak atau moral Qurani tidaklah berlebih-lebihan dan tidak pula tendensius.
Sifat bersih rasa cinta karena Allah, menolong manusia yang lemah dan yang membutuhkan pertolongan merupakan ahlak Islam.
3 Abdullah, Pengantar, 56- 57.
4 Istigfartur Rahmaniyah, Pendidikan Etika, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), 90.
5 Miqdad Yaljin, Peranan Pendidikan Ahlak Islam dalam Membangun Pribadi Masyarakat dan Budaya Manusia, (Kuala Lumpur: Penerbitan Pustaka Antara, 1986), 76.
Islam adalah sebuah pandangan hidup yang ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Ia membentuk cara hidup yang di dasrka pada nila-nilai yang agung dan universal. Nila-nilai yang dibawa oleh Islam dapat diterima oleh pemikikran manusia secara global sebagai nilai yang sanggup membangun peradaban manusia. Nila-nilai tersebut bahkan dapat diterima oleh orang-orang yang berlainan keyakinan (agama).6
Suatu bangsa akan sejahtera dan hidup harmonis jika warga negaranya terdiri dari orang-orang yang bermoral dan berbudi pekerti luhur. Sebaliknya jika warga negaranya terdiri terdiri dari orang-orang yang berbudi pekerti buruk maka hancurlah bangsa dan negara tersebut. Ahlak atau moral atau budi pekerti akan baik jika pembinaannya dimulai dari rumah tangga kemudian mengarah pada masyarakat luas.
Semua agama yang ada di dunia ini mengandung ajaran moral, baik agama Islam, Nasrani, Budha, Hindu, dan sebagainya. Dalam istilah sosiologi, hal ini sering disebut agama yang berbentuk vertikal dan horizontal. Hanya saja para penganut kepercayaan atau agama yang tidak mau mengamalkan ajaran-ajaran moral lebih disebabkan oleh pengaruh lingkungan dimana mereka tinggal.
Dalam ajaran Islam akhlak adalah iman seseorang.
Keimanan seseorang sangat ditentukan oleh ahlak yang dimilinya. Nabi SAW bersabda: “orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang terbaik ahklaknya.” (HR. Tirmidzi)
Dr. Muhammad Abdullah Daraz telah mengklasifi kasikan akhlak atau moral kedalam lima kategori, antara lain:
6 Abdul munir Yacob, islam dan cabaran Era baru (Kuala Lumpur: Institut Kefahaman Islam Malaysia, 1994), 64.
1. Ahlak Fardhiyyah (individu) 2. Ahlak usariyah (kekeluargaan) 3. Ahlak ijtimaiyah (kemasyarakatan) 4. Ahlak Daulah (negara)
5. Ahlak diniyah (agama)
Semua kategori ini menjadi bidang dan ruang lingkup ahlak Islam yang mulia dari pembinaan pribadi keluarga, masyarakat sampai pada pembentukan sebuah negara, peradaban dan sebagainya.Namun kalau manusia tidak pernah dibekali dengan pendidikan moral sejak kecil, maka tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa manusia tersebut lebih ganas dari serigala dan singa yang tidak pernah mempelajari human right (hak asasi manusia). Krisis moral yang melanda alam manusia pada kurun waktu ini telah mencapai puncaknya. Hal ini terjadi secara menyeluruh, akibatnya terjadi pelanggaran-pelanggaraan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan pembantaian terhadap manusia yang tidak bersalah karena kerakusan yang menyerupai binatang.7
Pendidikan moral tidak mengenal batas waktu dan tempat. Islam adalah agama moral atau ahklak. Oleh sebab itu jika seseoranh mengakau muslim dan tidak mempunyai budi pekerti yang mulia maka hendaklah ia mengistighfar.
Allah SWT mengutus Nabi Muhammda SAW adalah untuk memperbaiki kebobrokan moral bangsa arab yang bersifat jahiliyah pada masa sebelum Islam. Ini diperkuat oleh hadits sebagai berikut:” sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki budi pekerti yang mulia”. Begitulah pentingnya ahlak sehingga pada tahap awal penyebaran risalah Islam, Nabi menyerukan
7 Ismail Ibrahim, Islam dan Cabaran Era Baru, (Kuala Lumpur: Institut Kefahaman Islam Malaysia, 1994), 74.
bahwa yang perlu sekali diajarkan atau diperkenalkan kepada manusia bukanlah ketauhidan dan yurisprudensi, akan tetapi memperbaiki moral yang rusak. Kalu moral sudah bagus secara otomatis yang lain mudah di sesuaikan. Sebaliknya kalau moral sudah kronis maka perlu chemotraphy beberapa kali agar seluruh kuman kejahiliyahan bisa lenyap, sehingga disket ketauhidan bisa lenyap, sehingga disket ketauhidan dan keIslaman dengan mudah dapat dimasukkan tanpa ada halangan yang berarti.
Era globalisasi yang tengah berlangsung pada milenium baru ini seolah-olah ingin mengesampingkan seluruh tatanan moral yang pernah diajarkan oleh Nabi SAW. Media cetak dan elekronik telah sampai keplosok desa sehingga tidak ada lagi hijab antara barat dan timur, antara siang dan malam, sehingga diperlukan pendidikan moral yang Islami yang bisa membedakan man yang haq dan mana yang batil, mana yang halal dan mana yang haram .
Tanggung jawab orang tua dalam mendidik ank-anak mereka adalah harga mati, kalau mereka lalai atau mengabaikan pendidikan anak-anak khususnya dalam pendidikan moral, sudah melanda bangsa ini semakin kompleks. Hal ini terlihat pada hubungan antara guru dan murid seperti teman kencan, hubungan anak dengan orang tua sudah semakin jauhdari moral Islam, hubungan rakyat dengan pemerintah seperti domba dan serigala, ulama dan penguasa selalu melanda dalam kecurigaan.itulah realitas yang terpampang sekarang ini.
Orang tua, guru, dan pemerintah harus bertanggung jawab terhadap kebobrokan ahlak pemuda dan pemudi yang tengah menimpa kita pada saat ini. Mereka sibuk mencari nafkah, uang, pangkat, dan jabatan sehingga generasi muda
menjadi terombang-ambing dalam mengurangi kehidupan ini oleh karena ketentuan arah yang diberikan oleh orang-orang yang bertanggung jawab terhadapnya.
Realitas yang ada sekarang adalah orang tua hanya karena gaji bulanan, pemerintah hanya karena gaji bulanan, pemerintah hanya memikirkan pembangunan infra-struktur dengan sekian persenkomisi (fee), sementara ahlak anak-anak mereka semakin hari semakin luntur dan memunculkan penyakit masyarakat.
Islam juga memberi kemuliaan kepada wanita sebagai ibu, apabila kita mendurhakainya, maka kita akan merasakan kesengsaraan dan kesulitan di dunia ini dan akan mendapat siksa neraka di akhirat kelak. Inilah ganjaran bagi orang yang melanggar nilai-nilai moral yang telah digariskan oleh syariat Islam.
C. Pendekatan Etika dalam Moral Pendidikan dan Strategi yang