• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.8 Sistematika Penulisan

3.1.2. Pengakuan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat

Ketika berbicara tentang distribusi tanah berdasarkan pemaparan sebelumnya, maka tidak lupa bahwa hal tersebut menyangkut terhadap kepentingan nasional, tidak ada pengecualian atau pembedaan terhadap rakyat Indonesia termasuk masyarakat hukum adat yang masih mempercayai tanah ulayat nenek moyang mereka sebagai tanah peninggalan para leluhur yang harus tetap dijaga kelestariannya. Mengingat dalam bidang kehutanan, dari sisi sosial, ekonomi dan budaya, tanah merupakan kekayaan jasmaniah dan rohaniah masyarakat sebagai objek pengaturan dan dipertahankan oleh masyarakat adat.100

“Dengan mengingat ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat. Masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya, masih ada harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang dan pertaturan-peraturan lain yang lebih tinggi.”

Untuk itu dalam UUPA ini, menjelaskan terkait hak-hak masyarakat hukum adat yang notabene juga sama kedudukannya dengan rakyat Indonesia yang lainnya:

101

99Data dari BPS per Maret 2016, PDF

100Erman. Rajagukguk.1986. Hukum dan Masyarakat ,Jakarta: PT. Bina Aksara., Hal 35

101

Pasal tersebut juga diperkuat dalam pasal 17 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok Kehutanan menentukan bahwa pelaksanaan hak-hak masyarakat, hukum adat dan anggota-anggotanya serta hak perseorangan untuk mendapatkan manfaat dari hutan baik langsung maupun tidak langsung. 102

Hak milik masyarakat adat atas hutan adat tertulis dalam pasal 22 yang berisi tentang :

Hal itu didasarkan atas suatu peraturan hukum sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan tidak boleh mengganggu tercapainya tujuan-tujuan yang dimaksudkan dalam undang-undang tersebut. sehingga dalam pelaksanaannya, pemerintah dalam UUPA mengakui adanya hak milik dari pada masyarakat hukum adat atas tanah adat atau hutan adat

103

1. Terjadinya hak milik menurut hukum adat diatur dengan peraturan pemerintah

2. Selain menurut cara sebagai yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, hak milik terjadi karena : penentapan pemerintah, menurut cara dan syarat-syarat yanag ditetapkan dengan peraturan pemerintah, ketentuan Undang-Undang

Selain itu, masyarakat juga diberikan ijin untuk membuka lahan hutan dan memungut hasil hutan namun hanya diperbolehkan terhadap rakyat Indonesia asli dan tidak ada disebutkan untuk diberikan ijin kepada asing untuk membuka lahan hutan tersebut. hal itu dijelaskan pada pasal 46 yang berbunyi :104

102Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960,Pasal 17 ,PDF

103Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960,Pasal 22 ,PDF

104Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960,Pasal 46, PDF

1.Hak membuka tanah dan memungut hasil hutan hanya dapat dipunyai oleh warga negara Indonesia dan diatur dengan peraturan Pemerintah 2.Dengan mempergunakan hak memungut hasil hutan secara sah tidak dengan sendirinya diperoleh hak milik atas tanah itu

Hak untuk memungut hasil memang ada pada masyarakat namun bukan berarti dengan diambilnya hasil hutan, itu berarti tanah itu secara otomatis menjadi miliknya. Ini merupakan poin yang sangat tegas dalam Undang-undang ini mengingat dengan demikian maka tidak akan ada klaim dari sepihak bahwa tanah itu adalah miliknya berdasarkan hasil hutan yanga sudah diambilnya. Dan dengan jelas dinyatakan dalam penjelasan pasal 46 yang menyatakan bahwa hak membuka tanah dan hak memungut hasil hutan adalah hak-hak dalam hukum adat yang menyangkut tanah. Namun hak tersebut perlu diatur dengan peraturan pemerintah demi kepentingan umum yang lebih luas daripada kepentingan orang atau masyarakat hukum yang bersangkutan. Karena seringkali masyarakat salah memahami makna dari poin pasal tersebut, sehingga hal tersebutlah yang sering memicu munculnya konflik.

Pengakuan hak ulayat pada masyarakat hukum adat dalam Stragnas Jokowi-Jusuf Kalla berangkat dari kondisi masyarakat yang selalu tersingkirkan dari tanah ulayatnya dengan alasan program-program pembangunan ataupun bentuk-bentuk investasi pengelolaan sumber daya agraria. Sehingga dengan demikian perlu adanya pengakuan dan perlindungan wilayah adat yang harus dikeluarkan dari kawasan hutan negara dengan prinsip yang sejalan dengan reforma agraria, yakni dengan mewujudkan keadilan agraria dan mencegah monopoli yang menyebabkan

ketimpangan pemilikan dan penguasaan tanah oleh segelintir pihak, hal itu juga diperkuat dalam UUD 1945 yang mengakui keberadaan masyarakat adat. 105

Untuk menyikapi hal tersebut, telah dicanangkan rancangan Undang-undang untuk menjalankan pengakuan tersebut. Kantor staf presiden juga mengawal berjalannya RUU pengakuan dan perlindungan Hak Masyarakat Adat yang saat ini telah menjadi prioritas dalam Prolegnas di DPR, mengawal usulan mengenai rencana pembentukan Satgas Masyarakat yang saat ini menunggu arahan dari presiden serta menjalankan fungsi koordinasi untuk mengintegrasikan program dan kegiatan di masing-masing kementrian/lembaga dan daerah terkait reforma agraria dan masyarakat adat.106

Ketika pengakuan itu mendapat perhatian serius dari pemerintah maka akan sedikit kemungkinan konflik terjadi mengenai klaim wilayah dan hutan adat tersebut. Berangkat dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan lingkungan yang masih diterapkan sampai saat ini, banyak masyarakat hukum adat, masyarakat desa, maupun masyarakat lokal justru menjadi sasaran diskriminalisasi. Bagaimana tidak dalam undang-undang ini menambah pasal-pasal yang mengatur ancaman pemidanaan

105Naskah Arahan Presiden tentang stragnas Refroma Agraria Tahun 2016-2019, Op. Cit. Hal.9

106 http://KSP.go.id/menghadirkan-negara-untuk-masyarakat-adat-dan-menghadirkan-masyarakat-adat-ke-dalam-negara/diakses pada tanggal 03 April 2016, Pukul 12.12

terhadap masyarakat hukum adat , masyarakat desa, dan masyarakat lokal yang bersinggungan dengan kawasan hutan. 107

Terdapatnya sebaran masyarakat hukum adat di Indonesia dalam RPJMN yang menurunkan strategi pelaksanaan reforma agraria juga tidak masuk dalam pertimbangan pembangunan 2015-2019. Perlindungan dan penghargaan atas tanah ulayat pada buku III RPJMN mengenai agenda pembangunan wilayah hanya secara eksplisit tertulis pada provinsi Papua dan Papua Barat. Padahal masyarakat hukum adat di Indonesia yang berkonflik dengan agenda pembangunan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tidak terlihat upaya sungguh-sungguh pemerintah dalam memberikan perlindungan, penghargaan dan pemenuhan hak atas tanah masyarakat hukum adat. Memang secara eksplisit hak ulayat tertulis pada bagian penguatan regulasi bagi peningkatan iklim investasi dan usaha di wilayah Papua.

Pertimbangan hak Ulayat tersebut berupa membangunan kawasan pembangunan ekonomi berbasis wilayah adat hingga memfasilitasi terbitnya sertifikat hak ulayat. Namun juga dalam RPJMN juga secara eksplisit dijelaskan bahwa wilayah Papua akan difokuskan pada pengembangan infrastruktur penunjang transportasi atau dalam kata lain untuk tujuan konektivitas .108

107Lihat:pernyataan koalisi Anti mafia Hutan dapat diakses di: http://www.aman.or.id/2014/09/11/koalisi-,asyarakat sipil-ajukan-uji-materi-uu-p3h/diakses 03 Maret 2017, pukul 16.49

108Lihat: Komnas HAM.2014.Kajian MP3EI dalam perspektif Hak Asasi Manusia. Komnas HAM: Jakarta.

Sehingga dapat dipastikan pengakuan hak ulayat akan tenggelam demi kepentingan investasi korporasi dan akan memicu banyak konflik antara masyarakat adat dengan para penguasaha atau korporat.

Melihat faktanya, pada tahun 2016, berdasarkan data yang dihimpun dari Konsorium Pembaharuan Agraria (KPA) menyebutkan bahwa sektor kehutanan menempati posisi kedua untuk sektor luasan konflik yang seluas 450.215 Hektar setelah sektor perkebunan. hal tersebut merupakan dampak dari monopoli kawasan hutan melalui hak pengusahaan dan pemberian berbagai izin pemanfaatan dalam hutan produksi maupun hutan tanaman industri.Kemudian penetapan fungsi-fungsi hutan untuk konservasi, taman nasional, dan restorasi ekosistem menjadi jalan pengukuhan monopoli atas kawasan hutan. Seperti di pulau Jawa, Perhutani melakukan monopoli atas kawasan hutan dibanyak daerah.

Kondisi tersebut betambah buruk dengan tidak jelasnya penetapan tata batas kawasan hutan dan tanah hak masyarakat. Salah satu contohnya di Kabupaten Tebo, Jambi menunjukkan bahwa masyarakat yang telah menguasai tanahnya selama puluhan tahun berkonflik dengan perusahaan yang mengantongi ijin pemanfaatan hutan. Kemudian, di Desa Bungku, Kabaupaten Batanghari, penetapan kawasan hutan sebagai hutan restorasi ekosistem merampas tanah-tanah masyarakat yang telah menggarap tanah-tanahnya sejak dulu. PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (PT. Reki) sebagai pemegang konsesi terlibat konflik dengan masyarakat di Desa Bungku dan belum menemukan titik penyelesaiannya.109

Hal itu membuktikan bahwa pengakuan wilayah dan hutan adat yang dihuni oleh masyarakat adat masih belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah mengingat posisi konflik sektor hutan masih menempati urutan yang kedua

109Laporan Akhir Tahun 2016 Konsorium Pembaruan Agraria (KPA), PDF. Diakses tanggal 03 Maret 2017, pukul 17.00 WIB

dibandingkan dengan konflik sektor yang lain. Ketika sedikitpun poin itu dapat perhatian serius dari pemerintah bukan tidak mungkin posisi konflik sektor hutan dapat berubah dari tahun sebelumnya. Namun faktanya menunjukkan bahwa luasan konflik sektor hutan sama urutan posisinya ditahun 2016 dengan tahun sebelumnya yakni 2015.

Menanggapi hal tersebut, Abdon Nababan selaku Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara yang dilansir dari Tempo mengemukakan bahwasannya Rancangan undang-undang pengakuan masyarakat adat masuk dalam prolegnas 2017 sebagai inisiatif DPR. Namun prosesnya dinilai sangat lambat, dan meminta pemerintah untuk mengambil alih agar segera disahkan.

Mengingat ini merupakan janji dalam nawacita, sehingga pemerintah lah yang mengambil alih dalam mempercepat proses pengesahan undang-undang tersebut.110

Dokumen terkait