• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

D. Pengalaman dan Koping Kesepian pada Lansia

Moore dan Shcultz (dalam Crandall, 1989) melakukan penelitian

tentang bagaimana peran tanggung jawab dan kontrol terhadap kesepian

yang dialami oleh lansia. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel

lansia sebanyak 27 laki-laki dan 32 perempuan yang tergabung dalam

sebuah organisasi di South Carolina. Pengukuran dilakukan dengan skala

UCLA Loneliness (Russell, Peplau, & Cutrona, 1980), skala Self-esteem

(Rosenberg, 1965), skala Zung Depression (Zung, 1965), dan skala

mengenai ketertarikan, kebahagiaan, kenyamanan hidup, frekuensi dan

durasi kesepian serta peran tanggung jawab terhadap kesepian dan kontrol

kesepian yang dilakukan lansia. Hasil pengukuran yang didapat dari peran

tanggung jawab dan kontrol terhadap kesepian berkorelasi positif dengan

penurunan kesepian. Lansia yang dapat bertanggung jawab atau dapat

dikatakan sadar terhadap kesepian yang dialami dan mengontrol kesepian

tersebut mengalami peningkatan harga diri, kenyamanan hidup, dan

penurunan depresi.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa lansia tidak

dapat menghindari kesepian, dengan kata lain, lansia rentan terhadap

lansia perlu memilih langkah atau strategi dengan menghindari kesalahan

yang berasal dari dirinya sendiri misalnya merasa tidak berguna lagi

karena sudah tua. Tanggung jawab dan kontrol terhadap kesepian bukan

sebuah penyebab mengapa lansia harus melakukan hal ini, melainkan

konsekuensi yang harus diambil oleh lansia. Peran tanggung jawab dan

kontrol terhadap kesepian dinilai penting karena hal ini membangun

strategi koping yang efektif untuk mengurangi kesepian dan meningkatkan

rasa mampu pada lansia.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Mullins, Johnson, dan

Anderson (dalam Crandall, 1989). Mereka meneliti tentang pengaruh

keluarga dan teman terhadap pengalaman kesepian yang dialami lansia.

Sampel yang diambil sebanyak 131 orang dengan usia rata-rata 62 tahun

dan tinggal di sebuah apartemen yang memang disediakan untuk para

lansia di Florida city. Apartemen ini sangat bebas, tidak ada komunitas,

tidak ada tempat makan malam bersama, tidak menyediakan makanan dan

pelayanan kesehatan. Lansia yang tinggal di apartemen ini sebagian besar

masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik dan belum

mengalami sakit kronis atau masih dapat berjalan dengan baik.

Pengukuran dilakukan dengan skala UCLA Loneliness dan

wawancara menggunakan instrumen yang dimodifikasi dari Andersson

(1984). Ada dua pertanyaan pilihan yang diajukan yaitu : “Normalnya,

berapa kali Anda biasanya bertemu dengan anak, cucu, saudara, dan

jawaban : tidak ada (0), pada kenyataanya tidak pernah (1), satu atau

beberapa kali setiap tahun (2), satu kali dalam setiap bulan (3), satu kali

setiap minggu (4), beberapa waktu dalam satu minggu (5). Pertanyaan

yang kedua, “Umumnya, bagaimana situasi hubungan Anda dengan

mereka? Bagaimanakah tentang keinginanmu tentang hubunganmu dengan

orang-orang tersebut, apakah cukup dengan hanya bertemu saja atau Anda

menginginkan lebih, kurang atau sama antara hubungan Anda dengan

anak, cucu, saudara, anggota keluarga yang lain (termasuk orang tua),

tetangga, teman dan kenalan lain” dengan pilihan jawaban : tidak relevan

(0), tidak cukup banyak (1), sedikit (2), biasa-biasa saja (3), cukup banyak

(4), dan banyak (5).

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa lansia yang tidak memiliki

anak dan cucu lebih tidak merasa kesepian dibanding lansia yang memiliki

anak dan cucu. Di antara hubungan yang ada tersebut, kuantitas hubungan

lansia dengan keluarga tidak memiliki pengaruh yang kuat terhadap

kesepian. Di sisi lain, hubungan yang baik dengan tetangga dan teman

memperlihatkan penurunan kesepian. Penemuan ini menjadi sebuah

wawasan baru bagi beberapa ahli. Frekuensi hubungan dengan keluarga

yang cukup tinggi berhubungan dengan penurunan kesepian. Selain itu,

kesepian akan menurun ketika lansia memiliki hubungan yang baik dengan

teman sebayanya daripada hubungannya dengan keluarga. Isu keterpisahan

menjalin hubungan dengan keluarga dan teman yang berpengaruh pada

perasaan kesepian.

Hasil diskusi mengindikasikan bahwa adanya perbedaan hubungan

antara keluarga dan teman dengan kesepian. Walaupun hubungan dengan

keluarga tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap kesepian, namun

keinginan yang sangat besar untuk berhubungan dengan keluarga berelasi

dengan meningkatnya kesepian. Di lain pihak, lansia yang memiliki

hubungan yang nyata dengan teman atau tetangga berpengaruh pada

menurunnya kesepian. Kesimpulannya, keluarga dan pertemanan memiliki

pengaruh terhadap kesepian yang dialami lansia. Ketika lansia memiliki

keinginan untuk bertemu dengan keluarga namun tidak tercapai, ada teman

yang dapat menggantikan dan mengatasi keinginannya yang tidak tercapai

tersebut sehingga kesepian yang dialami lansia menurun.

Pada beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia mengenai

pengalaman kesepian yang dialami lansia di panti wreda ditemukan bahwa

lansia hanya mengalami kesepian yang ringan karena lingkungan panti

yang cukup kondusif untuk para lansia. Sebagai contoh, penelitian yang

dilakukan oleh Juniarti, dkk (calon perawat) tahun 2008 di Panti Tresna

Wreda Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran

mengenai jenis dan tingkat kesepian pada lansia yang tinggal di panti

tersebut. Pengukuran dilakukan menggunakan skala UCLA Loneliness

dengan 20 pertanyaan, 11 pertanyaan yang menunjukkan kesepian dan 9

sampel sebanyak 95 orang dari 150 orang lansia yang tinggal di panti

tersebut. Hasil menunjukkan bahwa 16 orang tidak mengalami kesepian,

66 orang mengalami kesepian ringan, 11 orang mengalami kesepian

sedang dan 2 orang mengalami kesepian berat.

Hasil ini didukung oleh hasil observasi yaitu adanya kegiatan

rohani yang diwajibkan untuk lansia sehingga lansia mengalami

pengalaman spiritualitas yang baik, lingkungan panti yang mendukung dan

perawat yang melayani dengan cukup baik. Selain itu, dari hasil

wawancara dengan beberapa lansia, para lansia mengungkapkan bahwa

ketika mereka merasa kesepian karena jauh dengan keluarga, mereka dapat

berbincang-bincang dengan teman lansia yang lain sehingga rasa kesepian

dapat terobati. Jenis kesepian yang sering dialami lansia adalah kesepian

emosional, kesepian yang merujuk pada kurang adanya hubungan yang

dekat dan perhatian dari lingkungan sosialnya (Weiss dalam Sharma,

2002). Hal ini didukung dengan hasil wawancara dengan lansia, lansia

mengungkapkan bahwa mereka hanya bergaul dengan sesama lansia saja

dan mereka merasa jenuh dengan kegiatan yang ada di panti.

Dari hasil penelitian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa

kesepian yang dialami lansia yang tinggal di Panti Wreda disebabkan oleh

adanya keinginan untuk berhubungan dengan keluarga namun pada

kenyataannya keluarga jauh dari lansia. Keinginan ini membuat lansia

merasa tidak memiliki hubungan dengan orang lain dan kurang adanya

secara emosional. Kesepian yang dialami lansia memang tidak dapat

dihindari, namun lansia dapat menguranginya dengan secara sadar

menghadapi dan mengontrol kesepian tersebut. Lansia menjalin hubungan

dengan teman sebayanya untuk menggantikan hubungan dengan keluarga

yang diinginkan atau dirindukannya.

Penelitian sebelumnya hanya mengungkap faktor-faktor penyebab,

akibat dan cara mengatasi kesepian yang dialami lansia secara kuantitatif.

Penelitian sebelumnya kurang dapat memberikan saran secara personal

bagi lansia yang mengalami kesepian sesuai dengan pengalamannya. Pada

penelitian ini, peneliti berusaha mengungkap bagaimana proses

pengalaman kesepian dialami lansia dan bagaimana lansia mengatasi

kesepiannya tersebut dengan metode kualitatif. Proses pengalaman akan

diungkap dari sebelum hingga kesepian dialami oleh subjek. Proses

pengalaman kesepian mengacu pada dinamika psikologis yang dialami

subjek secara personal sehingga membantu subjek untuk lebih menyadari

proses kesepiannya melalui member checking. Ketika subjek sudah

menyadari proses kesepian yang dialami, subjek akan lebih mudah

mengatasi kesepian yang dialami. Hasil penelitian ini juga dapat

membantu pengelola panti wreda dan keluarga subjek supaya lebih

Dokumen terkait