BAB V PENUTUP
Matriks 1. Pengalaman Informan Terhadap Ketidakadilan gender
Pengalaman informan terhadap burden atau beban kerja No Nama informan Mengalami
burden ya/tidak
Beban kerja yang dialami
1. M.Beru Barus Ya - pergi ke ladang untuk mengurus cokelat - mengurus pekerjaan
rumah tangga, memasak, membersihkan rumah. - Mengurus anak-anak 2. K.Beru.Ginting Ya - pergi ke ladang cokelat
- mengurus rumah tangga - mengurus anak-anak - mengurus suami yang
semasa hidup sering sakit-sakitan
-
- mengurus anak-anak - mengurus pekerjaan
rumah tangga 4. Ru.Beru Tarigan Ya - pergi ke ladang
- mengurus rumah tangga 5. M Beru.Tarigan Ya - pergi ke ladang
- mengurus pekerjaan rumah tangga 6. M.Beru Keliat Ya - pergi ke ladang
- mengurus pekerjaan rumah tangga 7. P.Beru Barus Tidak - Ibu pergi ke ladang
- Anak yang perempuan mengerjakan pekerjaan rumah
8. Rk.Beru Barus Tidak Bersama suami mengerjakan pekerjaan berladang, dan suami juga membantu pekerjaan rumah.
9. D.I Beru Sitepu Ya - pergi ke ladang - mengurus pekerjaan
rumah tangga
10. Rk.Beru Tarigan Tidak - sewaktu masih hidup, bersama suami pergi ke ladang.
- setelah suami meninggal, ibu pergi ke ladang,anak gadisnya yang
mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Dari hasil penelitian di Desa Penen ini juga menunjukkan bahwa sebagian informan mengalami beban ganda. Hal ini terjadi di dalam rumah tangga mereka, baik itu ketika suami mereka masih hidup, maupun ketika mereka sudah menjadi janda. Mereka harus mengerjakan
pekerjaan domestik dan juga harus mencari nafkah untuk keluarga dengan cara bertani. Pengalaman tersebut pernah dialami oleh sebahagian informan di Desa Penen Biru-biru, yang dituturkannya sebagai berikut. Dituturkan oleh informan M.Beru Barus :
(…”sewaktu masih hidup,suamiku lebih sering duduk di kedai kopi dari pagi sampai sore. Sedangkan aku harus pergi ke ladang lagi, masak lagi, urus rumah sama anak-anak juga. Tapi pernah juga di Bantu suami ke ladang atau masak kalau hatinya lagi senang…”)
Beban ganda dalam rumah tangga juga dialami oleh informan K.Beru Ginting :
(…”beban ganda dalam rumah tangga haus saya alami, hal tersebut dikarenakan suami saya yang tidak sanggup lagi bekerja karena sakit-sakitan. Saya lah jadinya yang bekerja mengurus rumah, suami dan anak-anak, saya juga yang pergi ke ladang…”)
Hal serupa dialami oleh R.Beru Tarigan, beban kerja yang dialaminya dikarenakan informan tinggal seorang diri di Desa Penen. Sedangkan anak perempuannya melanjutkan sekolah di Palembang.
(…”saya ini tinggal sendiri, suami saya tidak ada lagi, anak saya tidak tinggal bersama saya. Jadi saya sendirilah yang harus berusaha mencari uang untuk makan, kemudian mengerjakan pekerjaan rumah juga saya kerjakan…”)
Oleh informan Ru.Beru Tarigan, dan M.Beru Keliat, beban kerja juga dialaminya semenjak beliau menjadi janda, sehingga semua pekerjaan rumah dan pergi ke ladang harus dijalaninya.
Jawaban yang berbeda diberikan oleh informan M.Beru Tarigan. Ia tidak merasakan beban kerja karena ia tinggal bersama anaknya yang sudah menikah. Meskipun pekerjaan ke ladang dan domestik sering ia kerjakan, tetapi ia dibantu oleh anak-anaknya.
Oleh R.Beru Barus, juga tidak merasakan beban ganda ;
(…”karena sewaktu suami masih hidup saya dan suami pergi ke ladang bersama, dan mengurus rumah tangga juga bersama-sama. Sejak suami saya meninggal, anak-anak lah yang membantu saya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut…”)
(…”semua pekerjaan dibantu oleh anak-anak. Dan sewaktu suami masih hidup, juga sama-sama mengerjakan pekerjaan rumah tangga…”)
Matriks 11.
Pengalaman informan terhadap ketidakadilan gender No Nama
informan
marginalisasi Subordinasi Stereotype KDRT Beban ganda 1. M.Beru Barus - Ya - Ya Ya 2. K.Beru.Gtg - Ya - - Ya 3. R.Beru Trg Ya Ya - - Ya 4. Ru.Beru Trg - Ya - - Ya 5. M Beru.Trg - Ya - Ya Ya 6. M.Beru Keliat - Ya - - Ya 7. P.Beru Barus - Ya - - - 8. Rk.Beru Brs - Ya - - - 9. D.I Beru Stp - Ya - - Ya 10. Rk.Beru Trg - Ya - Ya - Ket :
4.2.5. Patriarki Dalam Budaya Masyarakat Karo
Di dalam bahasa umum, patriarki memiliki arti dominasi laki-laki; kata “patriarki” secara harafiah memiliki arti kekuasaan ayah atau “patriarch” (kepala keluarga), dan sejak semula digunakan untuk menggambarkan satu jenis yang spesifik dari “keluarga yang didominasi oleh laki-laki”, keluarga besar dari si patriarch, termasuk di dalamnya perempuan, laki-laki yang lebih muda, anak-anak, budak, dan pembantu rumah tangga, semuanya berada di bawah kekuasaan laki-laki yang dominan ini. Sekarang istilah itu lebih sering digunakan secara lebih umum untuk menunjuk kepada dominasi laki-laki, kepada relasi kekuasaan, dimana laki-laki mendominasi perempuan, dan mencirikan sebuah sistem dimana perempuan terus disubordinasikan dengan berbagai cara. (Kamla Basin 2001:26)
Patriarki tidaklah sama disetiap tempat. Sifat dasarnya bisa dan memang berbeda pada kelas yang berbeda dalam masyarakat yang sama; dalam masyarakat yang berbeda dan pada periode sejarah yang berbeda setiap sistem sosial atau periode sejarah memunculkan variasinya sendiri mengenai bagaimana patriarki bekerja dan bagaimana praktek-praktek sosial dan kebudayaan itu berbeda. Walaupun demikian, prinsip
umumnya tetap sama, yaitu bahwa laki-laki mengendalikan sebagian besar sumber- sumber penghasilan dan institusi-institusi sosial, ekonomi dan politik.
(Kamla Basin 2001:27)
Patriarki dalam budaya Karo ditunjukkan dengan pemberian merga dari suami, kepada keturunan, baik itu kepada anak perempuan maupun kepada anak laki-laki. Dalam keluarga masyarakat Karo, tidak ada anak laki-laki berarti tidak ada yang akan meneruskan merga dari keluarga tersebut. Anak perempuan yang ada dalam keluarga tersebut kelak akan memberi keturunan untuk meneruskan merga dari keluarga suaminya.
Hal tersebut diatas merupakan salah satu alasan, mengapa dikatakan sebuah keluarga yang meskipun sudah mempunyai anak perempuan, tetapi dikatakan belum lengkap dikarenakan belum mempunyai anak laki-laki. Ada juga alasan lain, yaitu agar ayah di dalam keluarga mempunyai ahli waris untuk harta yang diperoleh secara turun temurun, yaitu anak laki-lakinya sendiri. Tidak ada anak laki-laki, berarti harta warisan turun temurun tersebut akan berpindah kepada keluarga suami, yang terdekat, yang mempunyai anak laki-laki.
Anak laki-laki juga merupakan perwakilan dari keluarga, di dalam acara adat, apabila kelak ayah dalam keluarga tersebut sudah meninggal. Anak laki-laki sendiri, merupakan sebuah kebanggaan dalam keluarga. Harapan diberikan lebih besar kepada anak laki-laki daripada kepada anak perempuan. Hal tersebut secara terus-menerus tersosialisasi dalam keluarga budaya Karo. Seorang Ibu di dalam keluarga Karo, ada yang membedakan anak laki-laki dan perempuan dengan memberikan anak laki-laki kebebasan yang lebih dari perempuan, contohnya dalam memberikan anak laki-laki kekuasaan untuk memutuskan apakah saudara perempuannya berhak mendapatkan warisan atau tidak.
Sebagian lagi tidak membedakan anak laki-laki dengan anak perempuannya dengan memutuskan untuk membagi rata warisan yang ada kepada seluruh anak laki-laki maupun anak perempuannya.
Anak laki-laki ditinjau dari masalah warisan, akan mendapatkan warisan yang lebih banyak daripada anak perempuan. adat mendukung hal tersebut, tetapi keluarga itu sendiri mempunyai wewenang atau pilihan sendiri untuk mengikuti aturan tersebut atau tidak. Dalam rapat keluarga, anak laki-laki juga punya wewenang untuk memutuskan, apakah saudara perempuannya akan mendapatkan warisan atau tidak. Alasan mengapa anak perempuan mendapat warisan lebih sedikit atau tidak mendapat warisan sama sekali, tidak lain karena anak perempuan tersebut akan mendapatkan warisan juga dari suaminya.
Sebuah analisis terhadap institusi-institusi utama dalam masyarakat, institusi keluarga, agama, hukum, politik, pendidikan dan ekonomi, media dan sistem pengetahuan dengan cukup jelas menunjukkan bahwa mereka semua memiliki sifat-sifat patriakal, dan merupakan pilar-pilar dari sebuah struktural patriakal. Sistem yang kuat dan mengakar membuat patriaki seakan-akan tak terkalahkan; hal itu juga membuat patriarki seolah-olah alamiah.
Dominasi kekuasaan seperti ini dapat terjadi antar kelompok berdasarkan perbedaan jenis kelamin, agama, ras, atau kelas ekonomi. Ada tiga asumsi penting yang mendasari ideologi ini.
1. Kesepakatan-kesepakatan sosial yang sesungguhnya hanya menguntungkan kepentingan kelompok yang dominan cenderung dianggap mewakili kepentingan semua orang.
2. Ideologi hegemonis seperti ini merupakan bagian dari pemikiran sehari- hari, cenderung diterima apa adanya (taken for granted) sebagai sesuatu yang memang demikianlah adanya.
3. Dengan mengabaikan kontradiksi yang sangat nyata antara kepentingan kelompok yang dominan dengan kelompok subordinat, ideologi seperti ini dianggap sebagai penjamin kohesi dan kerjasama sosial sebab jika tidak demikian, yang terjadi justru sebuah konflik ((Pyke,1996) Darwin Muhadjir 2001;24)
Di bawah patriarki, berbagai jenis kekerasan dapat digunakan untuk mengendalikan dan menundukkan perempuan, serta kekerasan yang seperti itu bahkan dapat dianggap sah. (Kamla Bhasin 2001:29)
Hal serupa terjadi pada janda Karo di Desa Penen, meskipun hanya sebagian kecil yang mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga, yang dialami secara fisik dan non fisik. Kekerasan dalam rumah tangga sendiri oleh para janda Karo di Desa Penen, dianggap merupakan hal yang lumrah dalam berumahtangga.
Patriarki dalam masyarakat Karo, tentunya juga akan melahirkan hal yang baru dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Marginalisasi dan subordinasi yang kuat dalam budaya Karo, diterima dengan persepsi yang dianggap merupakan suatu kewajaran. Marginalisasi terhadap pendidikan yang dialami perempuan Karo di Desa Penen, dengan alasan bahwa setiap perempuan pasti akan ke dapur. Marginalisasi ekonomi terhadap perempuan dari segi warisan, dialami para Janda Karo dengan alsan, anak perempuan akan mendapat warisan dari suaminya. Subordinasi yang terjadi, akibat adanya dominasi kaum laki-laki, dan penghargaan yang diberikan lebih besar kepada anak laki-laki
ditunjukkan dengan fenomena pengambilan keputusan, di dalam musyawarah adat, di dalam keluarga, yang hanya akan diambil oleh kaum laki-laki.
Sebagai contoh, di dalam musyawarah adat-istiadat, yang menjadi protokol (si maba runggu)7 hanyalah kaum laki-laki dan sudah berkeluarga. Laki-laki sebagai pemimpin runggu tentunya tidak terlepas dari adanya stereotype, dimana perempuan dianggap sebagai kaum yang lemah, kurang terdidik, emosional, kurang terampil dalam memimpin, dan hanya berdedikasi di dalam rumah tangga. Dalam acara adat itu juga, yang duduk ditengah, berkumpul hanyalah kaum laki-laki. Sementara kaum perempuan duduk di bagian belakang. Ketika keputusan sudah diambil, protokol akan bertanya kepada seluruh hadirin untuk pernyataan setuju, yang akan dijawab setuju oleh seluruh hadirinnya.
Patriarki dalam masyarakat Karo juga berarti bahwa seluruh harta warisan dari suami akan diserahkan kepada keluarga suami, apabila dalam keluarga tersebut tidak mempunyai keturunan. Patriarki dalam masyarakat Karo juga berarti bahwa, jika suami meninggal, keluarga yang ditinggalkan akan tetap menjadi tanggung jawab dari keluarga suami. Dalam artian belum bercerai, jikalau si istri ingin untuk menikah lagi, harus membuat pernyataan secara lisan kepada keluarga suami, atau permisi, dan anak-anaknya akan diserahkan kepada keluarga suami.
BAB V PENUTUP
1.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa : - Persepsi dan pengalaman wanita Karo yang ditinggal mati suami, dalam
pembagian warisan menurut adat istiadat Karo di Desa Penen Biru-biru, dapat dilihat bahwa ikatan adat istiadat dalam pembagian warisan tersebut masih sangat kuat. Pembagian warisan sendiri mengalami perubahan ketika adanya pengaruh dari pendidikan dan pengaruh agama.
- Persepsi janda di Desa Penen terhadap hak waris menggambarkan bahwa meskipun janda Karo setuju jikalau anak perempuan mendapatkan warisan, namun sistem kekeluargaan yang patrilineal membuat laki-laki tetap dominan dalam hal hak waris dan masalah pembahagiannya.
- sebagian besar dari informan mendapatkan warisan dari suaminya, yang Pengalaman janda Karo dalam hal pembagian warisan, menunjukkan bahwa sebagian besar dari informan mendapatkan warisan dari suaminya, yang diperoleh melalui hasil rapat keluarga. Setelah menjadi janda, masih tetap menjadi tanggung jawab dari keluarga mendiang suami, karena dalam adapt istiadat Karo, ditinggal mati suami bukan berarti bercerai.
- Sebagian besar dari informan menyatakan tidak pernah mendengar kata gender.
- Pengalaman informan jika dianalisa secara gender, menunjukkan bahwa : - 10% dari informan, mengalami marginalisasi dari pembagian hak
warisnya sebagai janda. Dan sebagian besar informan berpendidikan hanya tamatan SR dan sebagian kecil tamatan SMP dan SMA. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa informan juga mengalami marginalisasi dari sege pendidikan.
- 100% dari informan mengalami subordinasi, dimana subordinasi tersebut lahir dari sistem kekerabatan yang dipegang oleh budaya Karo, patrilineal.
- 80% dari informan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Baik hal tersebut dilakukan dengan perilaku serangan fisik seperti pemukulan, dan serangan non fisik, yaitu dengan kata-kata kasar. - 70% dari informan mengalami burden, ada yang mengalami sejak
menikah, ada juga yang mengalami setelah ia menjadi janda, yaitu dengan mengerjakan pekerjaan domestik yaitu pekerjaan dalam rumah tangga, kemudian mengerjakan pekerjaan lain yaitu berladang atau bertani.
- Seluruh informan tidak mengalami perubahan dalam hubungan sosialnya dengan masyarakat,yang tetap mempunyai hubungan yang baik, meskipun informan sudah tidak mempunyai suami lagi.hal ini disebabkan karena janda yang menjadi informan tidak mempunyai stereotype yang buruk dari masyarakat.
- persepsi tokoh masyarakat terhadap wanita yang ditinggal mati suami, berpendapat bahwa :
- Seharusnya janda Karo mendapatkan keadilan dari suaminya dalam hal hak waris janda, yaitu dengan mendapat warisan dari suaminya, yang disetujui oleh keluarga suaminya tersebut. Karena jika dari keluarga suami tidak setuju harta dari suami jatuh ke tangan istri, maka janda tersebut tidak akan mendapatkan warisan, kecuali harta gono-gini.
- Masyarakat atau warga sekitar juga wajib untuk menolong janda yang membutuhkan bantuan atau pertolongan apabila keluarganya mengalami kesusahan.
- Mengenai pembagian warisan terhadap anak perempuan, tidak semua informan biaa setuju, seperti Bpk.J.W Tarigan yang berpendapat bahwa, anak perempuan tidak mutlak mendapatkan warisan karena jikalau anak perempuan menikah, ia juga akan mendapatkan warisan dari suaminya.
1.2Saran
- Sosialisasi gender sangatlah dibutuhkan di Desa Penen Biru-biru, agar semakin banyak kaum perempuan yang memahami keberadaaan dirinya dan ketimpangan yang terjadi akibat adanya bias gender, dan agar perempuan juga mampu memahami akan pentingnya pendidikan
- Pemberdayaan perempuan juga sangat dibutuhkan di Desa Penen Kecamatan Biru-biru, dengan tujuan untuk meningkatkaan kesejahteraan perempuan itu sendiri, sehingga mampu juga meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
BAB II Kajian Pustaka
2.1. Perempuan Karo Dalam Perspektif Gender
Dalam kehidupan masyarakat Batak pada umumnya dan masyarakat Karo pada khususnya bahwa pembagian harta warisan telah diatur secara turun temurun menurut hukum adat. Harta orangtua yang tidak bergerak seperti rumah, tanah dan sejenisnya diwariskan kepada anak laki-laki.
Ada kesan kedudukan wanita atau perempuan tergolong rendah yang diambil dari beberapa pengertian yang bertolak dari anggapan adanya mas kawin (tukur), seakan perempuan dijual. Adanya lakoman dan gancih abu1 yang menandakan bahwa perempuan diwarisi oleh saudara dari suaminya yang telah meninggal dan perempuan tidak mendapat warisan. Sebenarnya pendapat demikian sangat dangkal dan tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang kultur budaya masyarakat Karo. Emas kawin pengertiannya bukanlah menandakan wanita itu dijual tetapi merupakan perubahan status dari seorang gadis serta dianggap golongan kedalam kelompok merga lain. Lakoman dalam masyarakat Karo bukanlah merupakan suatu paksaan setelah suaminya meninggal dimana ia tidak otomatis bercerai dengannya. Adat memberikan suatu kesempatan ia kawin dengan saudara suaminya jika ia setuju dan dapat menolak bila ia tidak setuju.
1Lakoman berarti saudara kandung laki-laki dari mendiang suami ditunjuk secara adat untuk mengambil
alih tanggungjawab mendiang terhadap istri dan anak-anaknya baik secara jasmani dan rohani. Gancih abu berarti seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya, kemudian menikah lagi dengan
Mengenai sistem kekeluargaan masyarakat Karo, Djaja S.meliala (1997 : 30) mengatakan :
“…Sistem patrilineal dengan sistem perkawinan eksogami dengan membayar uang jujur dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan, membawa akibat bahwa:
1. Simempelai wanita setelah menikah dan setelah dibayar uang jujur mengikuti suaminya.
2. Anak-anak yang kemudian lahir dari perkawinan akan mengikuti klen ayahnya, dan hanya anak laki-laki yang dapat meneruskan keturunan dan menerima warisan.
3. Harta yang diperoleh selama masa perkawinan adalah milik suami.”
Dengan sistem kekeluargaan patrilineal yang dianut masyarakat Karo, di mana anak laki-laki menjadi penerus garis keturunan dari orangtuanya, maka hanya laki-laki saja yang berhak mewarisi harta kekayaan orangtuanya. Atas alasan itu pula maka wanita dalam adat masyarakat Karo sejak dahulu bukan merupakan ahli waris.
Adanya ketimpangan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan, antara laki-laki dan perempuan yang menguntungkan kaum laki-laki ini oleh sejumlah ahli dikaitjkan dengan dominasi laki-laki terhadap perempuan (male domination). Suatu bentuk organisasi sosial dalam mana laki-laki mendominasi perempuan oleh Mancions (1992:261) dinamakan patriarki (patriarchy). Sedangkan menurut bentuk sebaliknya, dalam mana perempuan mendominasi laki-laki dinamakan matriarki (matriarchy).
Unit analisis mengenai wanita di dalam masyarakat, hal ini merupakan suatu perkembangan yang penting, karena status atau posisi seseorang pada suatu tatanan sosial berhubungan dengan kekuasaan. Dalam hal ini wanita sering sekali dirugikan, seperti halnya wanita di masyarakat Karo selalu mendapat posisi lebih rendah terutama dalam hal pembagian harta warisan, seperti hal yang telah diuraikan di atas. Di masyarakat Karo, anak perempuan seakan tersisih karena jenis kelamin. Terutama dalam
hal pewarisan. Untuk menganalisa kedudukan wanita di masyarakat Karo dari perspektif gender kita akan menemukan sub-ordinasi mengacu pada “posisi bawah” dalam hubungan antara pria dan wanita. Diskriminasi juga yang dialami wanita Karo, sebagai akibat dari sistem kekeluargaan patrilineal yang hanya mengakui anak laki-laki sebagai ahli waris, dan mengabaikan hak anak perempuan.
Perubahan sosial pada masyarakat Karo telah mampu merubah sebagian pemikiran perempuan untuk berani memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan merdeka dari ketertindasan kaum laki-laki. Keterikatan terhadap nilai-nilai adat budaya dalam pembagian harta warisan lambat laun mulai pudar karena perempuan menganggap hal ini tidak adil. Hal ini ditandai dengan dengan dikeluarkannya Keputusan Mahkamah Agung No. 179/Sip/1961, tanggal 23 oktober 1961, yang menyatakan bahwa
“…berdasarkan selain rasa perikemanusiaan dan keadilan umum, juga atas hakikat persamaan hak antara wanita dan pria, dalam beberapa keputusan mengambil sikap dan menganggap sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia, bahwa anak perempuan dan anak laki-laki dari seorang peninggal waris bersama-sama berhak atas harta warisan dalam arti bahwa anak laki-laki adalah sama dengan anak perempuan.
Berhubungan dengan itu maka juga di Tanah Karo, seorang anak perempuan dianggap sebagai ahli waris yang berhak menerima bagian atas harta warisan dari orang tuanya” (Soekanto, 1983: 263).
Juga keputusan Mahkamah Agung No. 100 K/Sip/1967, tanggal 14 juni 1968, yang menyatakan bahwa (Soekanto, 1983: 263-264) :
“…karena mengingat pertumbuhan masyarakat dewasa ini yang menuju ke arah persamaan kedudukan antara pria dan wanita, dan penetapan janda sebagai ahli waris telah merupakan yurispodensi yang dianut oleh Mahkamah Agung,…” (Soekanto, 1983: 263)
Analisis gender muncul sebagai akibat dari kesadaran bahwa peningkatan peran wanita dalam pembangunan telah gagal membebaskan perempuan dari diskriminasi dan ketidakadilan. Salah satu yang dianggap menjadi persoalan terletak bukan pada kaum perempuannya, melainkan pada ideologi yang dianut oleh baik laki-laki maupun perempuan yang sangat berpengaruh dalam kebijakan dan pelaksanaan pembangunan, yakni bias gender dalam pembangunan.
Analisis gender sebagai analisis sosial konflik memusatkan perhatian pada ketidakadilan struktural yang disebabkan oleh keyakinan gender yang mengakar dan tersembunyi diberbagai tempat, seperti tradisi masyarakat, keyakinan keagamaan, serta kebijakan dan perencanaan pembangunan.
Gender (bahasa Inggris) adalah suatu pemahaman sosial budaya tentang apa dan bagaimana lelaki dan perempuan seharusnya berperilaku. Oakley dalam (Mansour Fakih, 2002:171) dalam bukunya yang berjudul sex, gender dan society memberi makna gender sebagai perbedaan jenis kelamin yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Gender adalah behavioral differences antara laki-laki dan perempuan yang sosial constructed,
yakni yang bukan kodrat atau bukan ciptaan Tuhan, melainkan diciptakan oleh kaum laki-laki dan perempuan melalui proses sosial dan budaya yang panjang. Menurut Caplan dalam (Mansour Fakih, 2002:171) yang dituliskan dalam bukunya yang berjudul The cultural construction of sexuality menegaskan bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan selain secara biologis, sebagian justru terbentuk melalui proses sosial dan kultural. Gender berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, bahkan dari kelas ke kelas, sementara jenis kelamin (sex) akan tetap tidak berubah. Perbedaan gender,