• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Kelelahan pada Pasien dengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

4. Kelelahan Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa

4.4 Pengalaman Kelelahan pada Pasien dengan

Pengalaman kelelahan penting untuk pengembangan intervensi untuk membantu mengurangi kelelahan. Dalam penelitian (Horigan et al., n.d.) terdapat lima studi terdahulu yang membahas pengalaman kelelahan pada pasien hemodialisa, tiga diantaranya dilakukan di luar Amerika Serikat (AS) yang berfokus pada bagaimana kelelahan mempengaruhi fungsi fisik dan kognitif. Kelelahan berkorelasi negatif dengan fungsi fisik dan keterbatasan peran dan tingkat aktivitas dengan r = -0.51, p < 0.0005 pada pasien hemodialisis. Dua penelitian kualitatif yang dilakukan di luar AS juga menunjukkan bahwa kelelahan memengaruhi fungsi fisik dan mental. Pasien menghubungkan kelelahan fisik yang mereka alami dengan efek samping hemodialisis dan kurangnya fungsi ginjal. Kelelahan fisik yang dialami pasien hemodialisa tampak lebih buruk dan mempengaruhi kemampuan

peserta untuk mengelola kehidupan serta melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka. Pasien juga mengalami kelelahan kognitif yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengingat dan berkonsentrasi (Lee et al., 2007)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

1. Kerangka Penelitian

Kerangka penelitian dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelelahan sesudah menjalani hemodialisa di RS Bhayangkara Tebing Tinggi.

Gambar 3.1 Kerangka Penelitian Tingkat kelelahan sesudah

menjalani hemodialisa:

Kelelahan Ringan Kelelahan Sedang Kelelahan Berat

2. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan pengertian dari semua variabel yang digunakan dalam penelitian secara operasional (Nursalam, 2017).

Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

No Variabel Definisi

Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1 Tingkat

BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan

peristiwa-peristiwa penting yang sedang terjadi (Nursalam, 2017). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelelahan sesudah menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi.

2. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling 2.1. Populasi

Populasi adalah seluruh objek yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh penulis (Nursalam, 2017). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani terapi hemodialisa di Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh, pada bulan Juni 2020 terdapat 48 pasien yang menjalani terapi hemodialisa di Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi.

2.2. Sampel

Sampel merupakan bagian dari jumlah populasi yang memiliki karakteristik dari populasi tersebut yang dipergunakan sebagai subjek dalam penelitian (Sugiyono, 2017). Banyak sampel dalam penelitian ini berjumlah sama dengan populasi yaitu sebanyak 48 responden. Dalam penelitian ini, seluruh responden (48 orang) menjalani hemodialisa dua kali seminggu dengan durasi 4-5 jam.

2.3. Teknik Sampling

Teknik sampling adalah proses yang dilakukan dalam pengambilan sampel untuk mendapatkan sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2008). Cara pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu Accidental Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan kebetulan dimana responden yang secara kebetulan/incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi.

3.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juni 2020 sampai dengan Juli 2020.

4. Pertimbangan Etik

Penelitian ini dilakukan setelah peneliti mendapat persetujuan untuk melakukan penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan Komisi Etik penelitian kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, kemudian dikirim kepada Direktur Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi dan kepala ruangan hemodialisa. Setelah mendapatkan izin dari kepala ruangan hemodialisa, peneliti mulai mengumpulkan data dengan memberikan lembar persetujuan (informed consent) kepada responden yang akan diteliti.

Sebelum penelitian dilakukan, peneliti akan memperkenalkan diri kemudian menjelaskan maksud, tujuan dan prosedur penelitian sebelum lembar persetujuan diisi oleh responden. Responden yang bersedia menjadi partisipan diminta untuk menandatangani lembar persetujuan. Jika responden menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian ini maka peneliti tidak akan memaksa responden dan tetap menghormati hak-haknya.

5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner sebagai alat pengukur data. Instrumen pada penelitian ini terdiri dari dua bagian, yaitu Kuesioner Data Demografi dan Post Dialysis Fatigue Scale yang telah diterjemahkan. Skala kuesioner ini menggunakan skala likert dengan pilihan jawaban sangat setuju (5), setuju (4), kurang setuju (3), tidak setuju(2), sangat tidak setuju(1).

5.1.Kuesioner Data Demografi

Kuesioner ini berisi data yang menggambarkan data demografi responden yang terdiri dari: nomor responden, jenis kelamin, usia, pekerjaan, lama menjalani hemodialisa, kadar hemoglobin, kadar ureum, frekuensi HD dalam satu minggu, dan durasi HD.

5.2. Post-dialysis fatigue Scale

Kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat kelelahan sesudah hemodialisa adalah Post-dialysis fatigue Scale yang dibuat oleh Kodama et al (2020) dan digunakan pada 126 orang responden. Kuesioner yang diperoleh dalam bahasa inggris dan diterjemahkan sendiri oleh peneliti dan belum

dilakukan uji validitas dan reliabilitasnya di Indonesia. Kuesioner ini berisi 13 pertanyaan dan menggunakan skala Likert dengan pilihan jawaban sangat setuju diberi nilai 5, setuju diberi nilai 4, kurang setuju diberi nilai 3, tidak setuju diberi nilai 2, dan sangat tidak setuju diberi nilai 1. Berdasarkan Setiaman (2020), digunakan perhitungan sebagai berikut untuk mendapatkan hasil ukur, yaitu:

a. Menentukan skor maksimal dan minimal

Skor maksimal, yaitu skor jawaban terbesar di kali banyak item.

5 x 13 = 65

Skor minimal, yaitu skor jawaban terkecil dikali banyak item.

1 x 13 = 13

b. Menentukan panjang kelas

Dalam penelitian Jhamb et al (2011 dalam Maesaroh 2019) disebutkan bahwa tingkat kelelahan yang dialami pasien hemodialisa dari tingkat ringan sampai berat. Maka berdasarkan itu peneliti membuat kategori kelelahan sebagai berikut:

1. Kelelahan Ringan = 13 – 30 2. Kelelahan Sedang = 31 – 48 3. Kelelahan Berat = 49 – 65

6.Validitas dan Reliabilitas 6.1. Validitas.

Validitas adalah suatu pengamatan terhadap instrumen atau alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian dan instrumen dapat benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen dinyatakan memiliki validasi yang baik bila nilai Content Validity Index (CVI) > 0,80 (Polit & Beck,2010). Instrumen ini telah dilakukan uji validitas dengan nilai 0,924 oleh Kodama et al (2020).

6.2. Reliabilitas

Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran jika fakta diukur berkali-kali diukur dalam waktu yang berbeda (Nursalam, 2017). Kuesioner ini telah diuji reliabilitas dengan hasil cronbach α : 0,924 oleh Kodama et al (2020).

7. Rencana Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan setelah peneliti mengajukan surat izin penelitian ke institusi pendidikan yaitu Fakultas Keperawatan dan setelah mendapat persetujuan kemudian surat izin penelitian yang diperoleh diserahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi. Setelah itu, peneliti meminta izin kepada kepala ruangan unit hemodialisa. Setelah mendapat persetujuan dari kepala ruangan unit hemodialisa, peneliti dapat melakukan penelitian pada pasien yang menjalani terapi hemodialisa. Sebelum memulai penelitian, peneliti terlebih dahulu memperkenalkan diri kepada pasien dan menanyakan kepada pasien bersedia atau tidak menjadi responden penelitian.

Apabila responden setuju, maka peneliti menjelaskan kepada calon responden tentang tujuan penelitian,manfaat penelitian dan prosedur pengisian setiap lembar kuesioner. Kemudian peneliti meminta responden untuk menandatangani lembar persetujuan (informed consent) dan meminta responden untuk mengisi kuesioner tentang tingkat kelelahan pasien. Responden diberi kesempatan untuk bertanya mengenai pernyataan yang tidak dimengerti dan peneliti mendampingi responden selama pengisian kuesioner. Setelah responden selesai mengisi kuesioner, peneliti mengumpulkan kuesioner dan memeriksa kembali setiap lembar kuesioner, apabila terdapat lembar kuesioner yang belum lengkap diisi oleh responden, maka peneliti meminta kepada responden untuk melengkapinya. Setelah data terkumpul dari seluruh responden, peneliti melakukan analisa data.

8. Analisis Data

Setelah semua data penelitian terkumpul, maka peneliti melakukan pengolahan data dengan menggunakan komputerisasi. Data yang dikumpulkan diolah dengan beberapa tahap-tahap berikut ini agar analisis dalam penelitian ini menghasilkan informasi yang benar, yaitu editing, coding, entry, cleaning data dan Saving (Notoatmodjo, 2012).

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis univariat yaitu analisis data bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan variabel penelitian. Analisis data ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan presentasi dari variabel penelitian. Analisis univariat dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisa data demografi dari responden penelitian, antara lain nomor responden, jenis kelamin, usia, pekerjaan, lama

menjalani hemodialisa, kadar hemoglobin, kadar ureum, frekuensi HD dalam satu minggu, dan durasi HD.

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Pada bab ini peneliti menguraikan hasil penelitian dan pembahasan yaitu tingkat kelelahan sesudah menjalani hemodialisa di RS Bhayangkara Tebing Tinggi.

1.1 Karakteristik Responden

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Pasien Hemodialisa di RS Bhayangkara Tebing Tinggi (n=48) Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Jenis Kelamin

8,1 – 9, g/dL 12 25

Responden dalam penelitian ini adalah pasien Hemodialisa di RS Bhayangkara Tebing Tinggi. Karakteristik data demografi mencakup jenis kelamin, usia, pekerjaan, lama menjalani hemodialisa, kadar hemoglobin, dan kadar ureum. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data bahwa paling banyak responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 27 orang (56,3%) dan sebagian besar usia responden adalah >50 tahun sebanyak 24 orang (50%). Berdasarkan pekerjaan, responden yang tidak bekerja sebanyak 30 orang (62,5%). Berdasarkan lama menjalani HD, sebagian besar responden menjalani HD selama >1 tahun sebanyak 36 orang (75%). Berdasarkan kadar hemoglobin, sebagian besar responden memiliki kadar hemoglobin 7,1–8 g/dL yaitu sebanyak 16 orang (33,3%). Berdasarkan kadar ureum, sebagian besar responden memiliki kadar ureum 100-150 mg/dL yaitu sebanyak 26 orang (54,2 ]%).

1.2 Tingkat Kelelahan Responden

Kelelahan pasien sesudah menjalani hemodialisa di RS Bhayangkara dilihat dari hasil jawaban pasien melalui Post-dialysis fatigue (PDF) Scale yang terdiri dari 13 pernyataan.

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkat Kelelahan Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa di RS Bhayangkara Tebing Tinggi (n=48)

Kategori Tingkat Kelelahan Frekuensi Persentase (%)

Kelelahan Ringan 3 6,3

Kelelahan Sedang 13 27,1

Kelelahan Berat 32 66,7

Total 48 100

Berdasarkan data yang diperoleh, sebanyak 3 responden (6,3%) merasakan kelelahan ringan, 13 responden (27,1%) merasakan kelelahan sedang dan 32 responden merasakan kelelahan berat sesudah menjalani hemodialisa di RS Bhayangkara Tebing Tinggi.

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkat Kelelahan berdasarkan Karakteristik Responden

>50 tahun 3 12,5 10 41,7 11 45,8

Jika dilihat berdasarkan karakteristik responden, tingkat kelelahan pasien sesudah menjalani hemodialisa di RS Bhayangkara Tebing Tinggi dapat dilihat pada tabel 5.3. diatas. Berdasarkan jenis kelamin, responden laki-laki yang mengalami kelelahan sedang sebanyak 3 orang (11,1%) dan kelelahan berat sebanyak 24 orang (88,9%). Sedangkan pada responden perempuan, yang mengalami kelelahan ringan sebanyak 3 orang (14,3%), kelelahan sedang sebanyak 10 orang (47,6%), dan kelelahan berat sebanyak 8 orang (38,1%). Berdasarkan usia, responden yang berusia 17 -27 tahun hanya terdapat 1 orang yang mengalami kelelahan berat.

Responden yang berusia 28 – 38 tahun mengalami kelelahan sedang

sebanyak 2 orang (28,6%) dan kelelahan berat sebanyak 5 orang (71,4%).

Responden yang berusia 39 - 49 tahun mengalami kelelahan sedang sebanyak 1 orang (6,3%) dan kelelahan berat sebanyak 16 orang (93,8%).

Responden yang berusia >50 tahun yang mengalami kelelahan ringan sebanyak 3 orang (12,5%), kelelahan sedang sebanyak 10 orang (41,7%), dan kelelahan berat sebanyak 11 orang (45,8%). Berdasarkan pekerjaan, responden yang tidak bekerja mengalami kelelahan sedang sebanyak 3 orang (10%) dan kelelahan berat sebanyak 27 orang (90%). Responden yang bekerja sebagai wiraswasta mengalami kelelahan sedang sebanyak 2 orang (28,6%) dan kelelahan berat sebanyak 5 orang (71,4%). Responden yang bekerja sebagai petani mengalami kelelahan sedang sebanyak 2 orang (100%). Responden yang bekerja sebagai PNS mengalami kelelahan ringan sebanyak 1 orang (50%) dan kelelahan sedang sebanyak 1 orang (50%). Responden yang merupakan pensiunan mengalami kelelahan ringan sebanyak 2 orang (28,6%) dan kelelahan sedang sebanyak 5 orang (71,4%). Berdasarkan lama menjalani hemodialisa, responden yang menjalani hemodialisa selama <1tahun mengalami kelelahan sedang sebanyak 2 orang (16,7%) dan kelelahan berat sebanyak 10 orang (83,3%).Responden yang menjalani hemodialisa >1 tahun mengalami kelelahan sedang sebanyak 36 orang (100%). Berdasarkan kadar hemoglobin, responden dengan kadar hb 6 – 7 g/dL mengalami kelelahan sedang sebanyak 1 orang (16,7%) dan kelelahan berat sebanyak 5 orang

(83,3%). Responden dengan kadar hb 7,1 – 8 g/dL mengalami kelelahan sedang sebanyak 2 orang (12,5%) dan kelelahan berat sebanyak 14 orang (87,5%). Responden dengan kadar hb 8,1 – 9 g/dL mengalami kelelahan sedang sebanyak 1 orang (8,3%) dan kelelahan berat sebanyak 11 orang (91,7%). Responden dengan kadar hb 9,1 – 1- g/dL mengalami kelelahan ringan sebanyak 1 orang (10%), kelelahan sedang sebanyak 7 oran (70%) dan kelelahan berat sebanyak 2 orang (20%). Responden dengan kadar hb 10,1 – 11 g/dL mengalami kelelahan ringan sebanyak 2 orang (50%) dan kelelahan sedang sebanyak 2 orang (50%). Berdasarkan kadar ureum, responden yang memiliki kadar ureum <100 mg/dL mengalami kelelahan sedang sebanyak 1 orang (14,3%) dan kelelahan berat sebanyak 6 orang (85,7%). Responden yang memiliki kadar ureum 100-150 mg/dL mengalami kelelahan sedang sebanyak 3 orang (11,5%) dan kelelahan berat sebanyak 23 orang ( 88,5%). Responden yang memiliki kadar ureum 150 – 200 mg/dL mengalami kelelahan ringan sebanyak 2 orang (14,3%), kelelahan sedang sebanyak 9 orang (64,3%) dan kelelahan berat sebanyak 3 orang (21,4%). Responden yang memiliki kadar ureum >200 mg/dL mengalami kelelahan ringan hanya terdapat 1 orang (100%).

2. Pembahasan

2.1 Tingkat Kelelahan Pasien

Kelelahan merupakan salah satu keluhan yang paling sering dirasakan pasien hemodialisa. Kelelahan sesudah hemodialisa sering terjadi dan mempengaruhi hingga 50% pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 48 pasien Hemodialisa di RS Bhayangkara Tebing Tinggi yang ditunjukan pada tabel 5.2, didapatkan data bahwa sebanyak 3 responden (6,3%) merasakan kelelahan ringan, 13 responden (27,1%) merasakan kelelahan sedang dan 32 responden (66,7%) merasakan kelelahan berat. Hal ini dilihat dari hasil jawaban responden pada kuesioner, dimana pasien menjawab sangat setuju pada pernyataan merasakan badan terasa pegal/ tidak nyaman, pusing, dan tidak nafsu makan. Menurut Jhamb et al (2008), uremia pada pasien hemodialisa dapat menyebabkan pasien kehilangan nafsu makan, mual, muntah, kehilangan energi dan protein, dan penurunan produksi karnitin yang menyebabkan penurunan produksi energi untuk skeletal dan mengakibatkan kelelahan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Su-Jeong Han (2015) yang menunjukkan hasil bahwa pada pasien hemodialisa dengan PGK memiliki tingkat kelelahan sesudah hemodialisa yang tinggi. Prevalensi pasien yang mengalami kelelahan sesudah hemodialisa sebanyak 59,8%. Penelitian ini menjelaskan bahwa

kelelahan sesudah hemodialisa terkait dengan tekanan darah pasca dialisis, perubahan berat badan, dan hemoglobin. Hal lain yang terkait dengan kelelahan sesudah hemodialisa yaitu anemia. Anemia mengurangi suplai oksigen ke jaringan dan sering disebut sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi kelelahan pada gagal ginjal, dan ini terjadi akibat penurunan produksi eritropoietin. Menurut Kodama et al (2020) kelelahan sesudah hemodialisa mempengaruhi fungsi fisik pasien. Hal itu sesuai dengan hasil penelitian ini dimana pasien merasakan badan pegal dan tidak nyaman, perlu berbaring atau istirahat, tidak ingin bergerak, tidak termotivasi melakukan apapun, dan merasakan nyeri hingga tidak melakukan apapun sepanjang hari. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Suwanti et al (2017 dalam Nurfitriani 2020) didapatkan data dari 41 responden bahwa kesehatan fisik dalam kategori baik sebanyak 18 orang dan kesehatan dalam kategori buruk sebanyak 23 orang, hal ini menunjukkan masih banyak responden yang mengalami gangguan fisik. Gangguan kesehatan fisik dalam teori World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) dapat disebabkan oleh beberapa faktor,

yaitu : aktivitas sehari-hari, energi kelelahan, mobilitas, kesulitan dan ketidaknyamanan, istirahat dan tidur, serta kapasitas pekerjaan.

Menurut Horigan (2012), penyebab terjadinya kelelahan sesudah hemodialisa sebenarnya belum cukup jelas, namun beberapa peneliti menyatakan bahwa kelelahan, kram otot dan sakit kepala mungkin saja muncul sebagai akibat dari pertukaran cairan yang terjadi saat hemodialisa. Gejala ini dapat dihubungkan

dengan terjadinya hipotensi, yang mungkin saja terjadi akibat laju ultrafiltrasi yang terlalu cepat pada pengisian plasma dan menyebabkan hypervolemia.

Kelelahan pada pasien hemodialisa secara statistik menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kenaikan berat badan saat dialisis (penambahan jumlah cairan).

Hasil penelitian ini juga didukung oleh Bossola et al (2018) yang menunjukkan hasil bahwa 164 dari 271 pasien mengalami kelelahan sesudah hemodialisa (Post-dialysis fatigue). 60 pasien mengalami kelelahan sedang dan 104 pasien mengalami kelelahan berat. Pasien dengan kelelahan berat memiliki usia yang lebih tua dan lebih lama menjalani hemodialisa, juga waktu pemulihan yang lebih lama dan tingkat ultrafiltrasi rendah. Kelelahan sesudah hemodialisa merupakan keluhan yang sangat mengganggu, yang digambarkan sebagai perasaan lelah dan membutuhkan istirahat atau tidur setelah sesi dialitik. Ia juga menyatakan bahwa pasien yang mengalami kelelahan sesudah hemodialisa memiliki waktu pemulihan setelah dialisis yang jauh lebih lama dibandingkan pasien tanpa kelelahan setelah dialisis. Rata-rata waktu pemulihan pasien yang mengalami kelelahan sesudah hemodialisa yaitu 5- 6 jam sesudah hemodialisa.

Berdasarkan data demografi responden pada penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 27 orang (56,3%). Dari 27 orang tersebut, 3 orang (11,1%) merasakan kelelahan sedang dan 24 orang (88,9%) merasakan kelelahan berat. Hasil penelitian ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Maesaroh, dkk (2019) dari 96 responden, 53 orang (85,5%) berjenis kelamin laki-laki. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Pranandari dan Supadmi (2015) dimana didapatkan hubungan yang bermakna antara pasien dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan kejadian gagal ginjal kronis (GGK), karena laki-laki memiliki risiko mengalami GGK 2 kali lebih besar dari pada perempuan dimana perempuan lebih bisa menjaga pola hidup sehat ketimbang laki-laki. Pasien laki-laki lebih berisiko terkena gagal ginjal dilihat dari faktor-faktor seperti proses penuaan, kontrol yang buruk terhadap tekanan darah, anemia, serta sensitif terhadap proteinuria yang buruk yang diakibatkan karena ekskresi albumin urin. Sedangkan pada perempuan lebih merujuk pada faktor-faktor seperti lebih sensitif terhadap glikemia serta kontrol yang buruk terhadap tekanan darah. Hiperglikemi menyebabkan beban kerja ginjal semakin berat dan menimbulkan hipertrofi glomerulus pada ginjal yang dapat menyebabkan peningkatan albumin, fibrosis serta atrofi tubulus (Chang et al, 2016). Berdasarkan hasil penelitian Maesaroh, dkk (2019) menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan terjadinya fatigue. Hal tersebut sesuai dengan hasil peneltian Sodikin dan Sri Suparti (2015)

bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan terjadinya fatigue (P=0,89). Artinya ketika kondisi sudah mengalami penurunan tidak membedakan jenis kelamin semuanya mempunyai dampak yang sama mengalami fatigue ketika sudah menjalani hemodialisis.

Berdasarkan usia pada hasil penelitian ini menyatakan bahwa responden terbanyak berusia >50 tahun yaitu sebanyak 24 orang (50%). Dari 24 responden yang berusia >50 tahun, sebanyak 3 orang (12,5%) merasakan kelelahan ringan, 10 orang (33,3%) merasakan kelelahan sedang, dan 11 orang (36,7%) merasakan kelelahan berat. Seseorang yang berusia lebih dari 40 tahun akan terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus secara progresif hingga usia 70 tahun sebanyak kurang lebih 50% dari normalnya. Pada penelitian Maesaroh,dkk (2019) dikatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia dengan tingkat kelelahan dan hasil penelitian menunjukkan bahwa usia responden terbanyak adalah usia >40 tahun yaitu sebanyak 94 orang (79%). Hal itu dikarenakan penambahan usia mengakibatkan berkurangnya fungsi organ. Menurut Isroin (2016), usia berkaitan dengan prognosis penyakit dan harapan hidup dimana pasien berusia lebih dari 55 tahun rentan mengalami komplikasi yang memperberat fungsi ginjal.

Berdasarkan pekerjaan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak responden tidak bekerja yaitu sebanyak 30 orang (62,5%). Responden yang merasakan kelelahan sedang sebanyak 3 orang (10%) dan responden yang merasakan kelelahan berat sebanyak 27 orang (90%). Hal ini serupa dengan hasil penelitian Nurfitriani (2020) dimana sebagian besar responden dalam penelitian tersebut sudah tidak bekerja yakni sebanyak 38 orang (59,4%). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maesaroh (2019) yaitu sebanyak 69 orang (58%) tidak bekerja dan menunjukkan adanya hubungan

antara pekerjaan dengan terjadinya fatigue pada pasien hemodialisis. Hal yang mendukung hasil penelitian ini yaitu hasil penelitian yang dilakukan oleh Shapiro (2008) bahwa status pekerjaan mempengaruhi tingkat kelelahan pada pasien hemodialisa, menggambarkan bahwa pasien hemodialisa yang bekerja lebih kelihatan sehat dan lebih energy daripada pasien hemodialisa yang tidak bekerja karena dengan bekerja membuat mereka merasa lebih baik. Pasien hemodialisa yang tidak bekerja dan tanpa aktivitas cenderung mempunyai tingkat kelelahan yang lebih berat (Mollaoglu, 2009).

Berdasarkan lama menjalani hemodialisa, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak pasien yang menjalani hemodialisa > 1 tahun, yaitu sebanyak 36 orang (75%). Seluruh responden yang menjalani hemodialisa >1 tahun mengalami kelelahan sedang. Dalam penelitian ini sebagian besar pasien mengatakan bahwa mereka mengalami kelelahan berat pada fase awal menjalani hemodialisa. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian ini bahwa dari 12 orang responden yang menjalani hemodialisa <1 tahun, 10 orang (27,8%) diantaranya mengalami kelelahan berat dan 2 orang (5,6%) mengalami kelelahan sedang. Hal ini sejalan dengan penelitian Ossareh (2013) yang menyatakan bahwa kelelahan mulai dialami pasien yang menjalani hemodialisa rata-rata 6 sampai dengan 8 bulan pertama dan kelelahan akan meningkat di akhir kunjungan dialisis. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Sulaiman (2015) dimana jumlah pasien yang menjalani hemodialisa 1-2 tahun sebanyak 8 orang (13,3%) dan pasien yang menjalani hemodialisa lebih dari 2 tahun sebanyak 41

orang (68,3%). Hal ini berkaitan dengan hasil penelitian Sulistini (2012) dimana ia mengatakan bahwa ada hubungan antara lama menjalani hemodialisa dengan tingkat kelelahan dan pasien yang bertambah 1 bulan masa menjalani HD, maka tingkat kelelahannya menurun 0,022.

Berdasarkan kadar hemoglobin, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang memiliki kadar hemoglobin 7,1 – 8 g/dL yaitu sebanyak 16 orang (33,3%). Dari 16 responden tersebut, 2 orang (12,5%) mengalami kelelahan sedang dan 14 orang (87,5) mengalami kelelahan berat. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Mollaoglu (2009) yang menyatakan adanya hubungan antara kadar hemoglobin yang rendah dengan kelelahan. Hasil penelitian Sulistini (2012) juga menunjukkan bahwa tingkat kelelahan akan berkurang 0,44 bila terjadi peningkatan hemoglobin 1 mg/dl. Peneliti menyimpulkan bahwa semakin rendah kadar hemoglobin maka semakin tinggi kelelahan yang dirasakan pasien. Pasien akan mulai merasakan kelelahan jika memiliki kadar hemoglobin sebesar 10 g/dL (Rosenthai et al, 2008).

Berdasarkan kadar ureum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki kadar ureum sebesar 100-150 mg/dL yaitu sebanyak 26 orang (54,2%). Dari 26 orang tersebut, 3 orang (11,5%) mengalami kelelahan sedang dan 23 orang mengalami kelelahan berat (88,5%). Ureum merupakan

Berdasarkan kadar ureum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki kadar ureum sebesar 100-150 mg/dL yaitu sebanyak 26 orang (54,2%). Dari 26 orang tersebut, 3 orang (11,5%) mengalami kelelahan sedang dan 23 orang mengalami kelelahan berat (88,5%). Ureum merupakan

Dokumen terkait