BAB III Kehidupan Elpidius Sebagai Biarawan Dan Misionaris Di Simalungun Atas
3.2 Pengalaman Pertama Elpidius Sebagai Biarawan
Gambaran keamanan dan situasi pewartaan zaman dulu kontras dengan zaman sekarang yang relatif tenang dan bebas hiruk pikuk perang. Wilayah pewartaan Elpidius zaman dulu bisa dikatakan rawan. Suatu waktu Elpidius sedang membawa uang kolekte ke Pematang Siantar. Di tengah perjalanan Elpidius dicegat para
15 Gentilis Aster, Kepentingan Kita Berbeda, Kaban Jahe : 2008 hal 107
16Wawancara dengan Henry Apoy Simorangkir pada tanggal 28 Desember 2015 di Pematang Siantar
perampok bersenjata. Sudah umum diketahui bahwa di masa lalu jalur ini Saribudolok-Pematang Siantar pernah rawan perampokan. Dalam perjalanan itu Elpidius dipaksa menyerahkan uang dalam karung goni. Akan tetapi Elpidius menolak menyerahkan sembari berujar bahwa jika uang tersebut uang miliknya pribadi maka ia akan ikhlas menyerahkan. Perampok mengancam jika tidak menyerahkan uang maka akan langsung ditembak. Elpidius tidak bergeming. Dia memilih mempertahankan uang itu, dan mempersilahkan ia ditembak sembari teguh mempertahankan uang kolekte tersebut. Perampok itu memicu kokang tetapi kokangan macet. Kemudian si penembak menguji senjata dengan menembak ke arah langit. Tembakan bisa dilakukan dengan baik. Lanjutan ceritanya si perampok bersenjata malah langsung menyuruh Elpidius berlalu saja dengan membawa uang itu17.
Pewartaannya juga berlangsung di era penjajahan Jepang yang pernah menguasai Asia Raya, 1942-1945. Saat ini juga adalah periode penggusuran semua warga Belanda oleh Jepang. Pada suatu hari di tahun 1942 Elpidius sedang bertugas di Haranggaol. Dari kejauhan dia mengetahui berita baku tembak gencar antara tentara Jepang dan Belanda di Tigarunggu.
Mengapa pertempuran terjadi di Tigarunggu? Kejadian ini karena tentara Jepang memang ingin memburu warga dan tentara Belanda yang sedang melarikan diri. Jalur Siantar ke Gunung Leuser via Tigarunggu adalah yang paling singkat.
Tentara Belanda dicegat di Tigarunggu. Tentara Belanda relatif rileks karena mengira tentara Jepang masih jauh di belakang. Akan tetapi Jepang mengambil jalur lain via
17Ibid hal.15
jalur Simarjarunjung lalu menanti di Tigarunggu. Para tentara dan warga Belanda berjalan melalui jalur Pematang Raya dan tidak tahu jka Jepang sudah tiba dan menunggu di Tigarunggu18.
Setiba di Tigarunggu warga dan tentara Belanda sudah terpojok. Para tentara Jepang tidak mengganggu warga tapi meminta agar jalan-jalan dihadang dengan meja-meja, kursi-kursi dan ban-ban milik warga. Dalam keadaan panik Belanda mencoba melakukan perlawanan tetapi Jepang lebih siap. Ada warga dan tentara Belanda yang wafat dan tentara Belanda yang wafat dan yang selamat dibawa sebagai tawanan.
Menurut Abner Purba, yang juga pernah sangat dekat dengan Elpidius, saat itu Elpidius berangkat karena ingin mengetahui situasi di lokasi tempur. Elpidius pun mengajak seorang guru dari Haranggaol untuk menemani di Tigarunggu. Sepeda motor sengaja dia tinggalkan di Sirpang Haranggaol untuk menghindari penyitaan.
Dengan pakaian jubah Elpidius dan guru itu berangkat. Mereka tiba di Sirpang Haranggaol yang berjarak 10 kilometer dari Haranggaol lalu melanjutkan perjalanan ke Tigarunggu. Belum berapa jauh berjalan melewati Sirpang Haranggaol mereka langsung berpapasan dengan tiga truk da satu mobil penuh dengan tentara Jepang.
Hatinya was-was menunggu reaksi dari tentara Jepang. Akan tetapi perasaan Elpidius lega. Tak diduga komandan tentara dari dalam mobil memberi salam kepadanya.
Karena kejadian itu Elpidius makin berani dan mengajak pak guru untuk meneruskan perjalanan.
18Wawancara dengan Abner Purba, pada tanggal 16Desember 2015, di Tigarunggu.
Setibanya di Sirpang Gajapokki, masih tidak jauh dari Sirpang Haranggaol, nyali guru tidak kuat lagi. Elpidius gagal meyakinkan si guru untuk melanjutkan perjalanan karena itu dia berjalan kaki sendirian. Firasat si guru benar, menjelang Desa Pematang Purba, lagi-lagi satu konvoi Tentara Jepang lewat. Dari dalam truk spontan para tentara Jepang mengangkat senjata dan siap menembak. Elpidius langsung angkat tangan tinggi-tinggi supaya tidak ditembak. Tindakan itu ternyata ampuh. Para tentara itu menurunkan kembali senjata mereka. Keadaan genting dan beresiko nyawa ini merupakan salah satu kisah yang pernah dituturkan Elpidius kepada orang-orang dekatnya. Kisah ini menjadi salah satu legenda terkait pewartaan Elpidius.
Elpidius Van Duijnhoven pernah dipenjara oleh tentara Jepang karena melakukan protes atas surat keputusan pemerintah Jepang yang akan menarik misionaris Belanda dari Simalungun. Mereka ditahan di Siringoringo.
Pernah juga sebuah peristiwa lain yang tak kalah menegangkan menimpa Elpidius. Kejadian ini juga turut membuat warga sangat was-was. Akan tetapi kini bagi warga Saribudolok “tragedi” itu merupakan kenangan manis yang tidak terlupakan. Pada tanggal 17 Agustus 1966 di Lapangan Kecamatan Silimakuta, Saribudolok, para warga dan pejabat pemerintah setempat memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang rutin dilakukan.
Pada saat acara doa Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) setempat menunjuk Elpidius untuk memimpin doa. Mengapa Muspika menunjuk Elpidius?
Pihak Muspika setempat sudah mengenal luar dalam Elpidius. Misionaris asal
Belanda ini bukan lagi berdarah merah putih biru (bendera Belanda) tetapi merah putih (bendera Indonesia).
Pada saat itu Elpidius mendoakan para warga tak berdosa yang terbunuh pada saat peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang sering disebut dengan Gestapu.
Dalam doanya dia memohon pada Tuhan agar dosa-dosa para korban diampuni dan arwah mereka mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan. Elpidius juga memohon supaya dosa-dosa para pelaku eksekusi diampuni. Elpidius sedikitnya mengetahui peristiwa yang menelan korban jiwa itu. Dia sudah ada di Saribudolok sejak dekade 1930-an. Interaksinya yang konstan dengan warga membuatnya selalu mendapatkan informasi terbaru tentang banyak hal. Dan karena isu PKI, warga yang tidak beragama mendadak berminat memeluk agama
Kaum ateis rawan masuk kategori atau cap PKI. Sehubungan dengan itu Elpidius pun disibukkan dengan masuknya umat ke Katolik dalam jumlah relatif besar untuk ukuran kecamatan di beberapa desa. Walaupun di sisi lain hal ini dianggap sebagai sebuah hikmah. Namun doa Elpidius itu membuat panas telinga intel “partikelir dan intel kodam Bukit Barisan. Tema doa ini kemudian tersebar ke kalangan tertentu dan dianggap perlu “diatasi”. Keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1966, Elpidius langsung dijemput oleh Intel Kodam Bukit Barisan.
Elpidius pun dibawa ke jalan Gandi (Markas Intel Kodam Bukit Barisan) di Medan. Dia diperiksadan dimintai pendapat tentang makna doa yang dia panjatkan.
“Doa yang dibawakan Oppung Dolok dianggap masuk ke ranah politik dan
dipersepsikan bisa merusak kesatuan dan persatuan bangsa. Doa dan politik tidak boleh digabung. Begitu kira-kira konsep berpikir Intel saat itu19.
Istilah kesatuan bangsa saat itu sangat kental. Negara memang rawan perpecahansetelah kemerdekaan. Ada berbagai upaya merongrong bangsa oleh beberapa kelompok. Setelah Elpidius dijemput, warga Saribudolok dan umat Separoki benar-benar gempar. Mereka sangat khawatir akan keselamatan Elpidius yang sudah mereka kenal puluha tahun dan tidak pernah mencampuri urusan politik praktis. Bahkan aparat lokal sendiri pun tahu siapa Elpidius. Markas aparat dan Elpidius sudah puluhan tahun pula berdekatan.
Peringatan HUT RI itu baru kurang setahun dari peristiwa Gestapu. Para jenderal saja telah menjadi korban. Karena itu saat Elpidius dibawa, umat hanya bisa berdoa untuk keselamatannya. Mereka tak berdaya karena saat itu aksi melibas warga sekampung adalah hal yang biasa. Namun betapa senang dan bahagianya mereka.
Doa mereka terkabulkan. Besoknya atau tanggal 19 Agustus 1966, Elpidius sudah pulang ke Saribudolok dalam kondisi sehat walafiat. Semua warga bersuka cita .