BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Pengalaman Remaja Putri Korban Kekerasan Seksual d
1. Kronologi kekerasan seksual.
Wawancara yang telah dilakukan kepada masing-masing remaja korban kekerasan seksual dan juga psikolog pendamping maka diperoleh hasil kekerasan seksual yang dialami korban tersebut adalah pelaku kekerasan seksual, cara mendekati korban, jenis kekerasan seksual,
pengungkapan kekerasan seksual, alasan korban tidak melaporkan kekerasan seksual.
a. Pelaku kekerasan seksual
Remaja putri korban kekerasan seksual yang menjadi partisipan penelitian ini mengenal pelaku. Pelaku kekerasan seksual merupakan orang yang dikenal bahkan dekat dengan partisipan. Hasil wawancara ke tiga partisipan menyatakan bahwa korban mengenal pelaku kekerasan seksual yakni pacar, tetangga dan teman dari korban.
1. Pacar
Hasil penelitian mendapatkan pelaku kekerasan seksual pada partisipan pertama adalah pacar korban.
“Pertama itu kan si sp itu pacaran dengan si Joe”
(Partisipan 1, Line 3)
2. Tetangga
Hasil penelitian menunjukkan pelaku kekerasan seksual merupakan orang yang sangat dekat dengan korban yakni tetangga korban.
“ternyata si pelaku itu adalah orang tua kan itu memang
tetangganya kan, orang tua dari salah satu murid yang
sekolahnya sama dengan dia cuma beda kelas”
3. Teman
Wawancara pada partisipan ketiga mendapatkan hasil bahwa pelaku kekerasan seksual merupakan teman korban.
“Udah 4 bulan apa 3 bulan gitu lah kenal di HP sebelum
jumpa itu.”
(Partisipan 3, Line 31) b. Cara mendekati korban
Hasil penelitian ketiga korban pada penelitian ini mengatakan pada awalnya tidak tahu atau berfikiran bahwa pelaku akan melakukan kekerasan seksual pada diri korban. Pelaku kekerasan seksual pada penelitian ini mengatakan bahwa pelaku mendekati dengan cara mengajak untuk bertemu orang tua pelaku, mengulur waktu pulang dan menolong korban.
1. Mengajak untuk bertemu dengan orang tua pelaku.
Pada penelitian ini partisipan menceritakan bagaimana kekerasan seksual terjadi pada korban dan hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku pada partisipan pertama yang merupakan pacar korban mengajak ke rumah pelaku untuk bertemu orang tua pelaku.
“pada tanggal 10 Oktober 2014 disitu dia mengajak aku
kerumah orang tuanya, tapi aku nanyak sama dia”ngapain kita ke rumahmu?”, dia malah menjawab “Cuma main-
main aja dek”, terus aku bilang sama dia “oh, emang orang tua abang ada dirumah?” katanya “ya adalah dek”.
Disitu kami pergi ke rumah orang tuanya, tapi waktu kami
sampai dirumahnya, rumahnya malah sepi”
(Partisipan 1, Line 223-230)
2. Mengulur waktu pulang
Salah satu korban lainnya dilakukan kekerasan seksual karena pelaku menggunakan satu cara untuk mendekati korban adalah dengan cara pelaku mengulur-ulur waktu agar korban lama pulang dan akhirnya korban tidak berani untuk pulang.
“Udah gitu dia bilang gini ayoklah minum dulu, ngapa- ngapain waktu dia. Terus E bilang udah sore loh udah setengah 3 ga biasa jam segini pulang. Jadi kan di bilangnya bentar aja, jadi kan udah minumlah kami kan. Udah ya pulang ku bilang, nantilah katanya minuman kita aja belum habis. Itu dia itu mesan mie lagi dianya mau
ngulur-ngulur waktu.”
(Partisipan 3, Line 180-188)
3. Menolong
Pelaku pada partisipan ketiga awalnya ingin menolong korban dari teman pelaku yang ingin menjual korban ke tempat prostitusi dan akhirnya membawa korban pergi.
“Temannya aja jahat, temannya aja mau jual E. Si
andrenya itu Dia ngajak ngomong-ngomong gitu, udah gitu pas tanggal 7 itu dialah nyuruh2 gitu. Katanya lima juta loh dek mau napa, daripada ga makan kita. Ahh ga mau lah aku kayak gitu2 ku bilang. E bilang ga mau ga mau
datang si beny nya itulah ayoklah kita pergi aja dari pada
sama si andrenya jadi maulah E.”
(Partisipan 3, Line 233-261)
c. Jenis kekerasan seksual
Kekerasaan yang dialami remaja yang menjadi partisipan berupa kekerasan dengan sentuhan yaitu oral seks dan hubungan seksual. Dua remaja mengatakan dalam melakukan hubungan seksual pelaku memaksa korban untuk melakukan hubungan seksual.
1. Intercouse
Remaja yang menjadi partisipan pada penelitian ini mengatakan bahwa kekerasn seksual yang dialaminya adalah kekerasan seksual dengan penetrasi atau intercouse.
“Setelah itu dia berusaha untuk membuka semua pakaian
aku, tapi aku berusaha untuk melepaskan tangannya dari pakaian aku. Tapi dia terus saja memaksa-maksa untuk membuka seluruh pakaian aku, karena dia telah membuka seluruh pakaian aku, disitulah dia telah mensetubuhi aku, disitu aku tidak bisa melakukan apa-apa aku tidak bisa
meminta bantuan kepada orang karena rumah itu sepi”
(Partisipan 1, Line 248-254)
“Kawannya udah tidur aku dibanguni. Padahal E udah
tidur baik-baiknya disitu tapi dibangunkannya. Udah E dorongnya dia, E bilang aku ga mau, aku ga ma kayak
gini”
2. Oral seksual
Kekerasan seksual yang dialami korban bukan hanya
intercourse tetapi juga oral seks. Partisipan pertama selain
mengalami kekerasan seksual dengan intercourse juga mengalami kekerasan seksual oral seks oleh pelaku kedua.
“Tapi dia tidak melakukan hal itu lagi karena aku lagi ada halangan jadi dia hanya melampiaskan nafsunya ke leher
dan sampai payudaraku.”
(Partisipan 1, Line 315-317)
Kekerasan seksual yang dialami oleh remaja bukan hanya terjadi satu kali, satu partisipan mengalami kekerasan seksual sebanyak dua kali sementara dua partisipan lainnya mengalami kekerasan seksual berulang-ulang.
“setelah itu beberapa kali mereka melakukan hubungan
seksual eeee tapi si sp ini ga pernah ini ga pernah menolak
tetap melakukannya”
(Partisipan 1, Line 9-10)
“Jadi waktu kejadian pertama dia tidak bilang, nah karena
dia tidak bilang dan tidak ketahuan akhirnya kan si pelaku
untuk kedua kalinya malah menjemput ke rumah...”
(Partisipan 2, Line 20-22)
“Iya setiap malam itu lah di datanginnya. Itu kan E kamar
sendiri dikasih...”
d. Pengungkapan kekerasan seksual
Kekerasan seksual yang dialami remaja yang menjadi partisipan tidak diungkapkan secara langsung oleh korban, dua dari tiga korban kasusnya dapat terungkap karena perhatian dari orang sekitar yang melihat perubahan dari korban sehingga melaporkannya, sementara satu korban lainnya kekerasan seksual diungkapkan oleh pelaku sendiri dikarenakan kondisi pelaku telah membawa korban pergi dari rumah lebih dari 20 hari.
1. Orang lain.
Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa pengungkapan kekerasan seksual pada dua partisipan dilakukan oleh orang lain yang melihat perubahan pada korban.
“Sehingga bekas ciumannya itu tertinggal di leherku dan
itu menjadi ketahuan sama guru les dan orang tua aku. Sehingga guru les menyampaikan permasalahan ini kepada
komisi perlindungan anak ”
(Partisipan 1, Line 318-321)
“setelah kejadian kedua kali sebenarnya dia masih berusaha untuk bungkam tapi kan ketahuannya ketika memang dia buang air kecil dan merasa sakit dan kemudian yang kebetulan buang air besar bersama adiknya dan dari anusnya keluar darah, jadi yang ngasih tau itu
adiknya.”
e. Alasan korban tidak melaporkan kekerasan seksual
Dua dari tiga korban menggungkapkan alasan mengapa tidak mengungkapkan kekerasan seksual yang dialami.
1. Ancaman
Hasil wawancara pada partisipan mendaptkan bahwa partisipan tidak melaporkan kekerasan seksual karena ancaman yang diberikan oleh pelaku.
“tapi karena dia diancam akan dibunuh dan ibunya
diancam akan dipukuli jadi dia tidak berani
mengatakannya.”
(Partisipan 2, Line 18-20)
2. Memberikan uang
Dua partisipan menyebutkan bahwa pelaku memberikan uang kepada partisipan setelah kejadian kekerasan seksual tersebut.
“si Kana setelah dari warnet dia ngasih duit ke sp. Lima
ribu, untuk ongkos si sp pulang, si Kana ngasih 5.000 dan
aku pulang.”
(Partisipan 1, Line 35)
“kejadian lagi dan dikasih uang 10 ribu dan 5 ribu untuk
adeknya”
3. Dijanjikan akan menikah
Partisipan pada penelitian ini mengatakan bahwa alasan tidak melapor karena akan dinikahi oleh pelaku sehingga korban tidak mau melaporkan kekerasan seksual yang dialami oleh korban.
“Udah gitu kan pas besoknya mau apa, kayak udah mau
dinikahkan gitu sama si beny. Udah dibelikan kebaya, sepatu, si beny nya pun udah beli jas soalnya si beny nya
kan kristen.”
(Partisipan 3, Line 8-340)
Dia cuma bilang waktu pertama kali kejadian itu gini “aku
sayang kali sama adek, aku ingin hubungan kita ini sampai
adek tamat”
(Partisipan 1, Line 380-381)
2. Faktor resiko
Remaja putri korban kekerasan seksual yang menjadi partisipan penelitian ini sehari-hari tinggal dengan orang tua. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan beberapa hal mengenai keluarga yang muncul ketika melakukan penelitian yakni pola asuh dan status sosial ekonomi. Hal ini menjadikan anak akan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekerasan seksual.
a. Pola Asuh
Hasil penelitian menunjukkan dua dari tiga partisipan menampilkan pola asuh orang tua. Pada bagian pola asuh data yang
didapatkan adalah orang tua yang memenuhi semua permintaan korban (permisif), pola asuh otoriter.
1. Permisif
Hasil penelitian menunjukkan orang tua dari dua partisipan selalu memenuhi permintaan korban bahkan sebelum kejadian kekerasan seksual yang dialami oleh korban.
“Nah mamanya kan semua apa yang dimintanya dikasih, bapak dan mamanya”
(Partisipan 1, Line 57-58)
Hasil penelitian satu partisipan menunjukkan bahwa orang tuanya kurang memberi perhatian kepada partisipan, hal yang sama juga dikatakan oleh ibu korban bahwa ia sibuk sekali terkadang pulang hingga pukul sepuluh malam dikarenakan kesibukan pekerjaan.
“Dia sama keluarganya emang kurang dekat sih karena orang tuanya kerja dari pagi sampai sore, setelah kejadian
ini baru diperhatikan banget”
(Partisipan 1, Line 157-159)
2. Otoriter
Hasil penelitian menunjukkan satu keluarga partisipan menggunakan sikap otoriter dalam mendidik korban, sikap otoriter yang ditunjukkan kadang menggunakan hukuman fisik.
“Kalau dulu yah kadang tali pinggang kalau ga pakai bambu itu lah”
(Partisipan 1, Line 608)
“waktu malam tahun baru itu kan mau pergi sama kawan- kawan sama kakak kelas terus dibolehin terus pas udah
mau pergi ga dikasih jadinya”
(Partisipan 3, Line 109-110)
“terus siap itu kata ayah. “jangan, sempat kau pergi ayah tampar kau”
(Partisipan 3, Line 114-115)
Dari hasil penelitian juga tampak bahwa orang tua menunjukkan sikap overcontrolling atau sikap orang tua yang terlalu mengontrol anak. Satu partisipan menunjukkan bahwa orang tuanya bersikap terlalu mengontrolnya bahkan ibu partisipan tersebut juga mengatakan jika setiap hari ia akan datang ke sekolah pukul 10.00 dan menunggu anaknya di gerbang sekolah sampai pulang, bahkan ibu partisipan tidak akan membiarkan anaknya keluar sendiri walaupun hanya ke simpang rumah.
“Biasanya kan kalau lama pulang dimarahi”
Hal lain yang menjadi faktor risiko adalah status sosial ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua partisipan berasal dari keluarga dengan ekonomi rendah, hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh satu korban yang ayahnya merupakan supir becak dan ibunya buruh cuci di rumah orang lain dan dari pengungkapan orang tua partisipan lainnya bahwa orang tua sehari-hari bekerja sebagai buruh pengupas ikan teri dimana mengupas 1 kantong ikan teri (15 kg) mendapatkan 30 ribu, sedang ayah buruh angkut di pasar dan peneliti melihat kondisi rumah yang cukup kecil untuk menampung 7 orang di dalam rumah.
“bapaknya tukang becak.”
(Partisipan 1, Line 69)
3. Dampak kekerasan seksual a. Dampak fisik
Kekerasan seksual yang dialami oleh remaja yang menjadi partisipan pada penelitian ini mengungkapkan adanya luka fisik yang ditimbulkan langsung karena stimulasi di organ seksual maupun dampak fisik yang ada setelah kejadian kekerasan seksual terjadi. Pada bagian ini akan dijelaskan secara terpisah dampak fisik yang diakibatkan oleh kekerasan seksual secara langsung dan dampak fisik setelahnya. Satu partisipan mengalami dampak fisik
akibat langsung dari kekerasan seksual sementara dua partisipan lain tidak ada mengeluhkan hal tersebut.
“luka pada organ intimnya dan sakit kan pas dia buang air kecil”
(Partisipan 2, Line 46)
Selain dampak fisik secara langsung yang dirasakan oleh korban ada juga masalah fisik tidak langsung yang dirasakan korban. Dua dari tiga partisipan mengalami masalah pada berat badan salah satu kelebihan dan yang lain mengalami kenaikan berat badan. Menurut orang tua partisipan 3 saat menemui korban sudah kurus dan setelah pulang nafsu makannya akhirnya berat badan korban naik secara drastis. Masalah penurunan berat badan ini bisa dihubungkan dengan masalah makan yang dialami korban setelah kejadian.
“Iya dari 48kg-44kg karena sakit itu”
(Partisipan 1, Line 538)
Pusing atau sakit kepala yang dirasakan korban diakibatkan karena kesulitan tidur yang dialami korban.
“Kadang suka pusing kepala”
Masalah gastrointestinal atau sakit maag yang diderita korban lebih disebabkan oleh masalah makan yang sudah dialami korban.
“Sakit maag kata bidan yang dekat rumah.”
(Partisipan 1, Line 515)
Dua partisipan mengalami dampak fisik berupa demam. Demam yang dialami oleh salah satu korban yakni ketika ditanyai kejadian yang dialami jadi hal tersebut berhubungan dengan kecemasan dan stres yang dialami korban.
“Kena dingin dikit aja kan langsung demam.”
(Partisipan 1, Line 628)
“kemudian keringat dingin apalagi kalau ditanya tentang
kronologisnya kalau ditanya dia pasti diam terus tangan sama kakinya dingin, pusing kepalanya dan besoknya
biasanya demam”
Korban juga mengeluhkan sering sakit, hal ini disebabkan oleh kumpulan sympthom yang dialami korban setelah kekerasan seksual yang dialaminya.
“Terus aku sering sakit kan sekarang makin sulitlah aku disekolah”
(Partisipan 1, Line 512-513)
b. Dampak psikologis
Dampak yang dirasakan korban bukan hanya dampak fisik tetapi juga dampak psikologis. Hasil wawancara menemukan beberapa dampak psikologis yang ditunjukkan oleh remaja putri yakni ketakutan, melamun, sedih, menangis, murung, masalah tidur, mimpi buruk, tidak mau menceritakan yang terjadi, selalu mengingat kejadian, cemas, ingin kembali pada pelaku, tidak mau bertemu orang.
1. Ketakutan
Dampak psikologis korban kekerasan seksual salah satunya adalah ketakutan. Ketiga korban yang menjadi partisipan ketiganya menyatakan mengalami ketakutan setelah kekerasan seksual yang dialaminya. Ketakuan yang dialami korban bervariasi tergantung individu sendiri tetapi ketiga korban menyebutkan takut akan pelaku bahkan takut
akan bayang-bayang pelaku. Hasil catatan field note ketiga korban mengalami ketakutan dengan orang yang baru dikenalnya dalam hal ini adalah peneliti.
“Aku takut kali kalau dia keluar dari penjara dia jadi
ngejar-ngejar aku.”
(Partisipan 1, Line 375-376)
“Waktu dari kejadian pertama dia itu masih merasanya
takut, takut ketahuan mamaknya takut kalau ketemu si
pelaku.”
(Partisipan 2, Line 44-45)
“Ditanyanya kau pilih kami atau pilih mamamu? Yah
ketakutan gitulah, udah gitu kalau sendirian ga berani kayak ngerasa dibelakang ada yang ngikuti makanya
mama ga pernah ninggalin sendiri”
(Partisipan 3, Line 461-463)
2. Kecemasan
Dampak psikologis korban kekerasan seksual salah satunya adalah kecemasan. Psikolog partisipan 2 mengatakan korban sering terlihat cemas, sementara di dua partisipan lainnya hal tersebut tidak ditemukan.
“dia mengalami kecemasan”
3. Mimpi buruk
Dampak psikologis korban kekerasan seksual salah satunya adalah mimpi buruk. Mimpi buruk juga disebabkan karena korban cemas, cemas jika pelaku datang dan juga ketakutan. Dua partisipan mengalami mimpi buruk, mimpi buruk yang dialami korban membuat korban menjadi ketakutan. Mimpi buruk waktunya bervariasi ada 1 kali bahkan sampai 4 hari berturut-turut.
“Aku pun pernah mimpi buruk sekali karena terus- terusan datang aja mamanya ke rumahku bagusan di berhentikan lah ku bilang sama mama jadi udahlah di
hentikan mama.”
(Partisipan 1, Line 371-373)
“Yah tidur, duduk, diam aja gitu terus, mimpi buruk”
(Partisipan 3, Line 452)
“mimpi dia udah berapa lama gitu udah menghilang dia
kan udah biasa aja kan E kan, udah biasa aja udah
ngomong2 rupanya balik lagi kan kayak gitu”
(Partisipan 3, Line 457-459)
4. Masalah tidur
Dampak psikologis korban kekerasan seksual salah satunya adalah masalah tidur. Masalah tidur ini juga disebabkan karena mimpi buruk yang dialami korban sehingga korban mengalami kesulitan tidur. Ketiga korban
mengalami masalah tidur yakni susah memulai tidur dan sulit mempertahankan tidur. Kesulitan tidur yang dialami korban juga mengganggu kegiatannya di sekolah
“Yah kadang kalau udah siap pr aku susah tidur terus
kadang suka baca buku, ku cari buku yang bisa ku baca”
(Partisipan 1, Line 551-552)
“Nah kemudian setelah ketahuan kan ancamannya kalau dikasih tau siapa nanti dia akan dibunuh, karena itu sudah ketahuan dan dilaporkan ke polisi, si pelaku di tangkap nah dampaknya bertambah lagi jadi ga hanya merasa takut
bertambah jadi dia sulit tidur iya”
dia sulit tidur kalau tidur itu dia suka tersentak, gampang
bangun”
(Partisipan 2, Line 58-63)
5. Selalu mengingat kejadian
Dampak psikologis korban kekerasan seksual salah satunya adalah selalu mengingat kejadian kekerasan seksual yang dialaminya atau selalu mengingat pelaku kekerasan seksual.
“sering melamun, kemudian diajak ngomong sering gak
nyambung, karena dia sering melamun kan teringat
peristiwa itu”
“pas pertama kali pulang terus terus ingat dia gitu ga bisa dilupakan”
(Partisipan 3, Line 456-457)
6. Tidak mau menceritakan yang terjadi
Dampak psikologis korban kekerasan seksual salah satunya adalah tidak mau menceritakan yang terjadi. Dua orang psikolog yang merupakan psikolog partisipan 1 dan 2 menyebutkan bahwa korban tidak mau menceritakan apa yang telah terjadi sementara partisipan ke tiga memang sangat sulit bercerita ketika peneliti bertanya mengenai kejadian yang dialaminya. Sangat sulit bagi korban menceritakan kejadian yang dialaminya.
“dia gak mau bicara apa yang terjadi”
(Partisipan 1, Line 115-116)
“dia memang tidak akan cerita karena kalau dia cerita dia
itu flashback dan ingat lagi kejadian traumatisnya itu, jadi
dia ga mau menceritakan”
(Partisipan 2, Line 31-33)
7. Memiliki fikiran untuk bersama pelaku
Dampak psikologis korban kekerasan seksual salah satunya memiliki fikiran unuk bersama pelaku. Satu partisipan memiliki perasaan untuk bersama pelaku
dikarenakan pelaku mengatakan akan bertanggung jawab dan akan menikahinya. Partisipan juga berfikir bahwa karena sudah melakukan hubungan seksual dengan pelaku akhirnya korban mencintai pelaku.
“Soalnya pas udah dibawa pulang mama kan masih apa
masih kayak orang linglung gitu masih mau sama dia
sama dia”
(Partisipan 3, Line 389-391)
“Itu pas pulang dari rumah beny yah itu perasaan asik
mau ke beny beny aja terus gitu ajalah terus.”
(Partisipan 3, Line 426-427)
8. Melamun
Dampak psikologis korban kekerasan seksual salah satunya adalah melamun. Dua partisipan menyatakan bahwa sering melamun, bahkan orang tua dari partisipan pertama juga menyatakan hal yang sama. Hasil field note partisipan ketiga kadang terlihat melamun saat sedang bersama peneliti.
Sering melamun lah aku, diam-diam aja.”
(Partisipan 1, Line 488)
“Yah tidur, duduk, diam aja gitu terus, mimpi buruk”
9. Sedih
Dampak psikologis berupa perubahan emosional korban kekerasan seksual salah satunya adalah kesedihan. Satu partisipan mengungkapkan bahwa ia merasa sedih, sedangkan satu psikolog mengungkapkan partisipan pertama sering terlihat sedih. Hasil field note pada partisipan 1 dan 3 terlihat sedih terutama ketika membicarakan pelaku.
“nangis-nangis gitu”
(Partisipan 3, Line 428)
10.Mudah marah
Dampak psikologis berupa perubahan emosional yang dialami korban kekerasan seksual yang menjadi partisipan penelitian adalah mudah marah. Hasil penelitian menunjukkan dua partisipan menunjukkan perilaku yang mudah marah.
“Yah ngamuk, kadang ga ngamuk kali lah. Tapi kalau di pancing bisa ngamuk kali lah”
(Partisipan 1, Line 528-529)
“mudah marah sama adik-adiknya padahal biasanya
kan dia anaknya ceria kan,anaknya ceria”
Selain dampak psikologis berupa perubahan emosional di atas, hasil penelitian menunjukkan bahwa korban kekerasan seksual juga merasa bersalah akan kekerasan seksual yang terjadi dan menganggap bahwa kekerasan seksual yang terjadi adalah tanggung jawabnya.
“dia ngerasa bersalah gini maksudnya “aku udah ga bagus untuk orang tua ku, jadi aku harus seperti apa.”
(Partisipan 1, Line 95-96)
“dia merasa bersalah itu ketika kan sudah ketahuan dan dilaporkan.”
(Partisipan 2, Line 108)
Partisipan juga merasa bahwa masa depannya sudah hancur. Hasil penelitian mendapatkan dua partisipan merasa masa depannya sudah hancur karena kejadian yang dialaminya tetapi perasaan tersebut hanya dirasakan di awal-awal kekerasaan seksual yang dialaminya tetapi perasaan tersebut menghilang seiring dengan dukungan yang diberikan orang tua.
“aku udah salah, aku udah buat malu keluarga, masa depanku udah hancur”
Partisipan juga merasa menyesal. Hasil penelitian menunjukkan dua partisipan mengungkapkan perasaan menyesal atas kejadian yang sudah terjadi.
“Menyesal lah apalagi selalu melawan orang tua, ga pernah dengarin apa yang dibilang mama jadi gini lah.”
(Partisipan 1, Line 563-564)
“Menyesal gitu, pertama kalinya tapi karena katanya dia
tanggung jawab tapi udah gini ya udahlah”
(Partisipan 3, Line 431-432)
Selain merasa bersalah terhadap dirinya korban kekerasan seksual yang menjadi partisipan penelitian juga merasa bersalah terhadap keluarganya, yakni: keluarga menjadi malu karena kesalahannya. Hasil penelitian menunjukkan dua partisipan merasa bahwa keluarganya telah malu karena kejadian yang menimpanya dan itu merupakan kesalahannya.
“aku sayang papa mamaku, aku sudah membuat malu papa
mamaku”
(Partisipan 1, Line 132-133)
“Dia pastinya dia merasa bersalah bahwa dialah yang membuat keluarganya menjadi malu dan lain sebagainya”
Partisipan juga merasa takut dan malu terhadap ayah. Penelitian ini mendapatkan hasil satu partisipan merasa takut dan malu dengan ayahnya. Partisipan tersebut merupakan partisipan yang ayahnya sering memberikan hukuman fisik atas kesalahannya.
“Semenjak kejadian jadi takut kali sama bapak, takut bapak makin marah samaku”
(Partisipan 1, Line 506-507)
“Takut,ada merasa perasaan malu gitu sama bapak.”
(Partisipan 1, Line 535)
Remaja putri korban kekerasan seksual yang menjadi partisipan juga menunjukkan adanya perasaan kepada pelaku. Satu partisipan sebelum mengalami kekerasan seksual oleh pacarnya memang mengaku menyukai pelaku akan tetapi kecewa karena sikap pacarnya sementara satu partisipan lain mengatakan menyukai pelaku setelah kekerasan seksual yang dialaminya karena merasa sudah tidak memiliki pilihan lain.
“aku sama dia karena aku cinta lah tapi karena