BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Deskripsi Data Kualitatif
3. Pengalaman Tidak Menyenangkan yang Pernah Dihadapi Siswa . 59
Dalam menjalani kehidupan, siswa pasti tidak pernah lepas dengan adanya pengalaman yang mengiringinya, baik itu pengalaman menyenangkan maupun pengalaman yang kurang menyenangkan. Pengalaman kurang menyenangkan yang terjadi di masa lalu dimungkinkan dapat berpengaruh terhadap permasalahan afek dan motivasi belajar siswa. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apakah siswa pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan sepanjang kehidupannya serta apa saja bentuk peristiwanya.
Berdasarkan hasil penelitian dari data kualitatif, peneliti mendapatkan data mengenai kategorisasi Pengalaman tidak menyenangkan yang pernah dialami oleh siswa sebagai berikut :
Tabel 4.5
Kategorisasi Pengalaman Tidak menyenangkan yang Pernah Dialami Siswa
No Pengalaman Kurang Menyenangkan Frekuensi Prosentase 1. Tidak memiliki pengalaman kurang menyenangkan 27 28,8%
2. Memiliki pengalaman kurang menyenangkan yang tidak terdefinisi bentuknya
13 13,8%
3. Masalah dengan teman sebaya 24 25,5%
Bullying verbal 11 11,6%
Bullying fisik 8 8,5%
Bullying relasional 5 5,4%
4. Masalah di rumah 15 16%
60
Dari data yang diperoleh, dapat diketahui dari 94 siswa terdapat 27 siswa dengan persentase sebesar 28,8% menyatakan bahwa mereka belum memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan. Terdapat 67 siswa dengan persentase sebesar 71,2% menyatakan bahwa mereka memiliki pengalaman kurang menyenangkan yang terjadi di dalam hidupnya. Namun dari 67 siswa tersebut, sebanyak 13 siswa dengan persentase 13,8% tidak menyebutkan bentuk pengalaman kurang menyenangkan yang pernah dialami. Sebanyak 54 siswa dengan persentase 50,8% yang memiliki pengalaman kurang menyenangkan dikategorikan dalam empat kategori. Empat kategori tersebut adalah masalah dengan teman sebaya, masalah di rumah, masalah di sekolah dan masalah pribadi.
Pengalaman kurang menyenangkan juga dapat berpengaruh bagi permasalahan afek dan motivasi belajar siswa. Apabila terdapat siswa yang memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan dalam kehidupannya, maka dapat dimungkinkan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya dapat terus teringat sehingga siswa dapat memiliki rasa takut, sedih bahkan memiliki rasa kurang percaya diri sehingga dapat mempengaruhi afek siswa.
Pengalaman kurang menyenangkan yang paling banyak dialami oleh siswa adalah permasalahan dengan teman sebaya sebanyak 24 siswa dengan persentase sebesar 25,5%. Dapat diketahui bahwa permasalahan dengan teman sebaya merupakan permasalahan siswa dengan bentuk penerimaan bullying. Dari data yang telah diperoleh, tindakan bullying ini merupakan tindakan yang didapatkan dari teman-temannya. Jenis bullying yang paling banyak dihadapi oleh siswa adalah bullying verbal. Persentase siswa yang menerima bullying secara verbal sebesar 11,6%. Pernyataan yang berkaitan dengan permasalahan afek dan motivasi belajar siswa digambarkan oleh beberapa respon di bawah ini:
“Aku pernah diejek goblok di sekolah” (R-48)
Jenis bullying yang dialami oleh siswa selanjutnya adalah bullying fisik dengan jumlah 8 siswa dan persentase sebesar 8,5%. Pernyataan yang berkaitan dengan permasalahan afek dan motivasi belajar siswa digambarkan oleh beberapa respon di bawah ini:
“Pernah dipukul teman” (R-26)
61
“Didorong teman” (R-42)
Jenis bullying paling sedikit dialami siswa adalah bullying relasional dengan jumlah 5 siswa dan persentase sebesar 5,4%. Pernyataan yang berkaitan dengan permasalahan afek dan motivasi belajar siswa digambarkan oleh beberapa respon di bawah ini:
“Dibisik-bisikin oleh teman” (R-30)
“Dijauhi teman” (R-40)
Pengalaman kurang menyenangkan yang kedua adalah permasalahan di rumah dengan jumlah 15 dan persentase sebesar 16%. Permasalahan yang dihadapi siswa di rumah dapat dikelompokkan menjadi dua, konflik orang tua dengan anak dan konflik sibling atau permasalahan dengan saudara.
Permasalahan yang terjadi di rumah juga dapat menjadi pemicu permasalahan afek siswa, sehingga motivasi dalam belajar siswa pun dapat terganggu. Hal ini dikuatkan dengan persentase siswa sebesar 9,6% yang menyatakan bahwa mereka memiliki konflik orang tua dengan anak dan konflik sibling sebanyak 6 anak dengan persentase sebesar 6,4%. Dari data yang diperoleh, pernyataan konflik orang tua dengan anak yang berkaitan dengan permasalahan afek dan motivasi belajar siswa digambarkan oleh beberapa respon di bawah ini:
“Di rumah aku rajin belajar tetapi mamaku tidak mengjariku”
“Dimarahi orang tua” (R-80)
Permasalahan selanjutnya yang dihadapi oleh siswa adalah konflik sibling atau konflik dengan saudara pernah dialami oleh 6 siswa dengan persentase sebesar 6,4%. Dari data yang diperoleh, pernyataan konflik sibling atau konflik dengan saudara yang berkaitan dengan permasalahan afek dan motivasi belajar siswa digambarkan oleh beberapa respon di bawah ini:
“Saat adikku menangis karena hal-hal kecil aku merasa jengkel”
“Ya, dirumah berantem sama kakak” (R-75)
Pengalaman kurang menyenangkan yang ketiga adalah masalah disekolah.
Terdapat 8 siswa dengan persentase sebesar 8,5% yang mengalami permasalahan di lingkungan sekolah. Permasalahan di lingkungan sekolah terbagi menjadi 2 yaitu akademik dan perilaku yang ditujukan pada saat berada
62
di lingkungan sekolah. Sebanyak 5 siswa dengan persentase 5,3% mengalami masalah pada bagian akademik. Bentuk dari permasalahan akademik tersebut antara lain kurang dapat memahami materi pelajaran serta masih memiliki rasa kurang percaya diri. Dari data yang diperoleh, pernyataan permasalahan akademik yang berkaitan dengan permasalahan afek dan motivasi belajar siswa digambarkan oleh beberapa respon di bawah ini:
“Kadang di sekolah nggak terlalu mudeng tentang pelajaran yang diajarkan tapi aku malu tanya” (R-89)
“Ada, tapi yang membaca ini pertama pasti guru jadi saya tidak akan menjawab” (R-60)
Terdapat 3 siswa dengan persentase sebesar 3,2% yang memberikan pernyataan bahwa mereka pernah melakukan tindakan kurang terpuji antara lain malas dalam belajar serta mendapat dimarahi oleh guru karena membuat kelas menjadi gaduh saat pelajaran berlangsung. Tindakan yang dilakukan siswa dapat berpengaruh pada permasalahan afek dan motivasi belajar siswa. Apabila terdapat siswa yang memiliki rasa malas dalam belajar, maka siswa tersebut juga tidak akan memiliki motivasi dalam kegiatan belajarnya. Dari data yang diperoleh, pernyataan permasalahan tindakan kurang terpuji yang berkaitan dengan permasalahan afek dan motivasi belajar siswa digambarkan oleh beberapa respon di bawah ini:
“Malas belajar” (R-20)
“Pernah selalu berisik, lalu dimarahi guru” (R-85)
Terdapat 7 siswa dengan persentase sebesar 7,4% yang menyatakan bahwa mereka memiliki masalah pribadi. Permasalahan pribadi yang dialami oleh siswa berkaitakan dengan kesehatan fisik yang dialami oleh siswa tersebut.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Tingkat Permasalahan Afek dan Motivasi belajar siswa Kelas III dan IV SD Gembira
Deskripsi hasil penelitian tingkat permasalahan afek dan motivasi belajar siswa kelas III dan IV SD Gembira mengungkapkan bahwa tingkat
63
permasalahan afek dan motivasi belajar siswa cenderung berada pada kategori rendah. Hal ini dapat diketahui dari data yang diperoleh bahwa sebanyak 45 siswa dengan persentase 47,9% masuk pada kategori rendah, 44 siswa dengan persentase sebesar 46,8% masuk pada kategori sedang dan sebanyak 5 siswa dengan prosentase 5,3% masuk pada kategori tinggi. Data yang telah diperoleh dapat memberikan informasi bahwa tingkat permasalahan afek dan motivasi belajar di SD Gembira tergolong rendah. Meskipun tingkat permasalahan afek dan motivasi belajar di SD Gembira tergolong rendah, sekolah juga perlu mewaspadai tentang bentuk lain dari permasalahan afek dan motivasi belajar siswa yang tidak disebutkan pada pengisian kuesioner pernyataan tertutup.
Peneliti melakukan analisis dari beberapa bentuk permasalahan afek dan motivasi belajar siswa dari kuesioner tertutup kemudian mendapatkan 5 permasalahan yang merujuk pada permasalahan afek yang selalu dialami oleh siswa lima bentuk permasalahan afek tersebut antara lain : (1) Suasana hati mudah berubah, (2) Mudah merasa jengkel, (3) Merasa tidak bahagia, (4) Memiliki ketakutan yang sebenarnya tidak perlu ditakuti, (5) Sulit menunjukkan emosi. Permasalahan dalam aspek afek sangatlah berpengaruh dalam diri siswa.
Apabila afek tersebut bersifat negatif maka akan mempengaruhi motivasi anak dalam kegiatan belajar.
Bentuk permasalahan afek pertama yang didasari pada pernyataan tertutup adalah adalah suasana hati yang mudah berubah, hal ini sering dialami oleh 34%
siswa yang menyatakan bahwa mereka memiliki permasalahan suasana hati mudah berubah. Permasalahan yang dialami siswa ini dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Megayanti (2016) yang menyatakan bahwa faktor intrinsik penyebab siswa malas belajar adalah (1) kurangnya motivasi yang bersumber dari siswa, (2) kebiasaan makan yang tidak baik, sehingga tubuh menjadi lemas dan letih (3) suasana hati mudah berubah menjadi marah ketika di rumah, minat terhadap mata pelajaran tertentu saja, dan bakat yang dimiliki oleh siswa.
Bentuk permasalahan afek yang kedua adalah mudah merasa jengkel.
Perasaan ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan Ekman (2003:202)
64
bahwa ketika seseorang terganggu, sesuatu akan dirasa menjengkelkan dan membuat seseorang tersebut menjadi marah. Kemarahan yang terjadi menginformasikan bahwa ada masalah yang terjadi. Bachtiar (2012:107) menyatakan bahwa terdapat dua jenis ekspresi kemarahan, yaitu (1) reaksi marah yang impulsif atau agresif. Bentuk dari ekspresi impulsif atau agresif seperti melempar, menendang dan berguling-guling, (2) reaksi marah yang terhambat.
Bentuk dari reaksi marah yang terhambat seperti menarik diri dari orang lain dan menghindari orang yang menyebabkan dia marah. Bentuk permasalahan afek yang ketiga adalah merasa tidak bahagia. Dapat dimungkinkan bentuk permasalahan siswa yang merasa dirinya tidak bahagia yaitu dengan merasakan suatu kesedihan. Kesedihan tersebut dijumpai dalam lingkungan keluarga, teman sebaya, sekolah, maupun masyarakat. Bentuk permasalahan afek ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Alfonsa (2010) yang menyatakan bahwa kesedihan merupakan salah satu emosi yang sering dialami dalam kehidupan manusia. Kesedihan merupakan keadaan yang tidak permanen dan berlangsung dengan jangka tidak lama.
Bentuk permasalahan afek yang keempat adalah memiliki ketakutan yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Penelitian ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Santrock (2007:529) bahwa kecemasan adalah perasaan takut dan kegundahan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan. Beberapa murid memiliki tingkat kecemasan tingi dan konstan, sehingga dapat mengganggu kemampuan dalam meraih prestasinya. Bentuk kecemasan yang terjadi yang biasa terjadi pada siswa adalah saat menghadapi ujian, beberapa anak akan mengalami kecemasan lantaran orangtua membebankan standar prestasi yang harus dicapai oleh anaknya. Bentuk permasalahan afek yang kelima adalah sulit menunjukkan emosi.
2. Permasalahan Afek dan Motivasi Belajar yang Sedang Dialami Siswa Kelas III dan Kelas IV SD Gembira.
Berdasarkan hasil dari analisis data penelitian, diperoleh hasil bahwa sebanyak 38 siswa dengan persentase 40,42% siswa menyatakan bahwa mereka sedang mengalami permasalahan afek dan motivasi. Permasalahan pada aspek
65
afek dan motivasi tersebut merujuk pada permasalahan di sekolah dan permasalahan di rumah. Pemasalahan di sekolah yang dialami oleh sebanyak 28 siswa dengan persentase 29,8% siswa dikategorikan dalam bidang akademik dan bidang non akademik. Dari data yang diperoleh, bentuk dari permasalahan afek dan motivasi yang dialami siswa di sekolah adalah kesulitan dalam mempelajari suatu materi yang telah diberikan oleh guru. Kesulitan belajar dalam bidang akademik ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (2016) bahwa faktor yang lebih berpengaruh dalam menyebabkan kesulitan belajar siswa adalah faktor internal yang didominasi oleh kebiasaan belajar dan minat. Apabila minat belajar rendah, maka akan berpengaruh pada rendahnya hasil belajar siswa. Peneliti menganalisis data dan menemukan bahwa mayoritas siswa mengalami kesulitan dalam mata pelajaran Matematika dan Bahasa Jawa. Dalam mata pelajaran Matematika, terdapat siswa yang memberikan pernyataan bahwa siswa tersebut kesulitan dalam materi soal cerita yang diberikan oleh guru. Hal itu dapat diketahui dari pernyataan siswa yang diungkapkan berikut ini: “Kesulitan mengerjakan soal cerita matematika” (R-39). Sedangkan dalam mata pelajaran Bahasa Jawa, terdapat siswa yang memberikan pernyataan bahwa siswa tersebut kesulitan dalam materi aksara jawa. Hal itu dapat diketahui dari pernyataan siswa yang diungkapkan berikut ini: “Saya tidak bisa mengerjakan soal bahasa Jawa Aksara Jawa”. (R40)
Dari hasil penelitian yang diperoleh, guru diharapkan untuk dapat memberikan solusi dari permasalahan yang diungkapkan oleh siswa. Sebab, matematika dan Bahasa Jawa merupakan suatu mata pelajaran penting yang harus dikuasai oleh siswa. Santosa (2016) mengungkapkan bahwa mata pelajaran bahasa Jawa bertujuan untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kemampuan emosional, dan kemampuan sosial.
Selain permasalahan akademik, terdapat juga 10 siswa dengan persentase 10,6% mengalami permasalahan non akademik yang dialami oleh siswa di sekolah. Sebanyak 6 siswa menyebutkan bahwa mereka memiliki permasalahan dalam bidang non akademik. Beberapa siswa melaporkan bahwa permasalahan non akademik yang dihadapi adalah kesulitan mengerjakan tugas yang diberikan
66
oleh guru, yaitu menghias kelas. Peneliti mengetahui permasalahan yang dialami oleh siswa karena pada saat proses pengambilan data, para siswa sesang menghias kelas dalam rangka menyambut perayaan Natal. Beberapa siswa sibuk merangkai bunga dan menghias kelas dengan berbagai prakarya yang telah dibuat, namun peneliti mengamati bahwa terdapat beberapa siswa yang tidak melakukan aktivitas seperti yang dilakukan oleh teman-temannya. Dari pernyataan yang disebutkan siswa itulah, peneliti kini mengetahui bahwa beberapa anak yang tidak ikut bergotong royong menghias kelas dengan teman-temannya ternyata memiliki permasalahan dalam kegiatan menghias kelas.
Mereka menyebutkan bahwa tidak memiliki keterampilan dalam membuat dan menempelkan hiasan untuk memperindah kelas. Pernyataan permasalahan tersebut digambarkan dari respon siswa, yaitu “Kesulitan memasang hiasan Natal di kelas” (R-31).
Permasalahan afek dan motivasi juga merujuk pada permasalahan siswa yang dialami di rumah. Permasalahan di rumah yang dialami oleh siswa memiliki persentase sebesar 10,6%. Permasalahan di rumah terbagi menjadi dua macam, yaitu konflik orang tua dengan anak dan konflik sibling atau saudara.
Bentuk permasalahan anak dengan orang tua tersebut antara lain sering dimarahi orang tua, dan kurang adanya dukungan dalam keluarga saat anak sedang belajar.
Sejalan dengan penelitian yang dilakkan oleh Selfia (2018) yang menyatakan bahwa orang tua harus memberikan motivasi kepada peserta didik saat mengerjakan tugas dirumah karena pemberian motivasi penting bagi peserta didik supaya dapat belajar dengan baik. Maksun (2013) menyatakan bahwa motivasi mempunyai peranan penting bagi setiap individu. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian hasil prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan dapat mewujudkan hasil yang baik.
Bentuk permasalahan kedua yang dialami oleh anak adalah konflik sibling atau permasalahan dengan saudara di rumah. Rafaelli (dalam Lestari 2014: 104) mengungkapkan bahwa konflik dengan sibling meningkat seiring meningkatnya kontak. Selain itu, jumlah waktu yang dihabiskan bersama lebih signifikan memprediksi konflik sibling dibandingkan faktor usia, jenis kelamin, jumlah
67
anggota keluarga, dan variabel lain. Bentuk permasalahan konflik sibling tersebut antar lain diganggu oleh kakak maupun adik saat sedang belajar.
Selain permasalahan yang dialami oleh siswa di sekolah dan di rumah, permasalahan dengan teman sebaya juga dapat dimungkinkan merujuk pada permasalahan afek dan motivasi belajar siswa. Permasalahan dengan teman sebaya yang dialami oleh siswa adalah bentuk penerimaan bullying. Kejadian bullying yang dilaporkan oleh siswa tersebut dapat dimungkinkan dapat menjadi permasalahan afek dan motivasi yang perlu diperhatikan oleh guru, akibat dari permasalahan tersebut siswa dapat menjadi gelisah dan memiliki ketakutan terhadap teman sebayanya sehingga dapat mengganggu siswa dalam melakukan aktivitas belajarnya.
Tindakan bullying ini dikategorikan dalam tiga bentuk, antara lain adalah bullying verbal, bullying fisik dan bullying rasional. Contoh dari tindakan bullying verbal yang diterima oleh siswa adalah diejek teman dan dimarahi oleh teman. Selain bullying verbal, tinndakan bullying yang diterima oleh beberapa siswa adalah adalah bullying fisik. Tindakan bullying fisik yang dilaporkan oleh siswa berupa ajakan teman untuk berkelahi. Tindakan bullying yang paling sedikit dialami oleh siswa adalah bullying relasional. Tindakan bullying relasional yang diterima oleh beberapa siswa berupa dibeda-bedakan oleh teman.
Dari 94 siswa yang menjawab pertanyaan mengenai permasalahan yang sedang dihadapi, terdapat 6 siswa menyebutkan bahwa mereka sedang menghadapi suatu permasalahan namun tidak menyebutkan bentuk permasalahan apa yang sedang dihadapi. Peneliti melihat jawaban yang ditulis siswa hanyalah jawaban singkat, seperti “ya” (R-46), “tentu” (R-62). Dari jawaban tersebut dapat dimungkinkan bahwa siswa tersebut memiliki rasa takut untuk menjawab dan dirasa kurang terbuka dengan orang lain.
Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa masih terdapat siswa yang memiliki permasalahan pada aspek afek dan motivasi belajar siswa yang awalnya belum diketahui oleh guru. Dengan adanya penelitian ini serta dilakukan sreening, dapat mendeteksi mengenai permasalahan-permasalahan yang dialami oleh siswa serta dapat membantu guru untuk menyusun
langkah-68
langkah selanjutnya berupa intervensi sebagai upaya mengatasi permasalahan yang dialami oleh siswa.
69 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat permasalahan afek dan motivasi belajar siswa kelas III dan kelas IV di SD Gembira cenderung berada pada kategori rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari data yang diperoleh bahwa sebanyak 47,9% siswa memiliki permasalahan afek dan motivasi belajar pada kategori rendah, sebanyak 46,8% siswa memiliki permasalahan afek dan motivasi belajar pada kategori sedang, dan sebanyak 5,3% siswa memiliki permasalahan afek dan motivasi belajar pada kategori tinggi.
2. Bentuk permasalahan afek dan motivasi belajar paling banyak yang saat ini sedang dihadapi oleh siswa adalah (1) Suasana hati mudah berubah (2) Mudah merasa jengkel, (3) Merasa tidak bahagia, (4) Memiliki ketakutan yang sebenarnya tidak perlu ditakuti, (5) Sulit menunjukkan emosi. Selain itu, permasalahan afek dan motivasi belajar yang sedang dialami siswa saat ini adalah kurang memiliki semangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Hasil dari penelitian dapat digunakan untuk membantu guru mengetahui permasalahan afek dan motivasi belajar yang dialami oleh siswa.
B. Keterbasatan penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti masih menyadari bahwa masih terdapat beberapa keterbatasan yang dialami. Berikut merupakan beberapa keterbatasan peneliti:
1. Penelitian ini hanya menggunakan metode survei melalui kuesioner tanpa terlibat langsung dalam wawancara sehingga dapat dimungkinkan informasi yang disampaikan oleh responden kurang akurat.
2. Sekolah memberikan waktu yang terbatas untuk pengambilan data.
70 C. Saran
Saran yang diberikan peneliti sehingga dapat digunakan sebagai masukan untuk penelitian yang akan dilakukan selanjutnya agar dapat mengurangi terjadinya kesalahan atau keterbatasan dalam melakukan peneliti adalah:
1. Penelitian selanjutnya akan lebih baik apabila dilakukan wawancara dengan guru kelas sebagai informasi tambahan mengenai aspek-aspek yang akan diteliti.
2. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk lebih mempertimbangkan waktu yang akan dalam pelaksanaan penelitian.
71
DAFTAR PUSTAKA
Adinugroho, I. (2015). Memahami mood dalam konteks Indonesia: Adaptasi dan uji validitas four dimensions mood scale. Jurnal Psikologi.
Alex, S. (2003). Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia.
Alfonsa, M. Theoterra. Yoshanti. (2010). Pengalaman dan ekspresi kesedihan. Skripsi.
Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Anggraeni, D. K. (2016). Identifikasi kesulitan belajar siswa kelas v sd negeri sosrowijayan kota yogyakarta. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Anni, C. T. (2006). Psikologi belajar. Semarang: UNNES Press.
Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian suatu pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Asfandiyar, A. Y. (2009). Kenapa guru harus kreatif. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Bachtiar, S. (2012). Buku pintar memahami psikologi anak didik. Yogyakarta:
Pinang Merah Publiser.
Baharuddin, dkk. (2015). Teori belajar dan pembelajaran. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Chaplin, J. P. (2006). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Christner, R. W., & Mennuti, R. B. (2009). School based mental health: A practitioner's guide to comparative practices. New York: Tylor & Francis Group.
Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2007). Research methods in education (6th ed). London and New York: Routledge.
Danim, S. (2010). Pengantar kependidikan. Bandung: Alfabeta.
Dwi, S. (2016). Meningkatkan keterampilan berbicara bahasa jawa melalui implementasi model pembelajaran bermain peran. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Ekman, P. (2003). Membaca emosi orang. Yogyakarta: Think Yogyakarta.
72
Effendi, S., & Tukiran. (2012). Metode penelitian survey. Jakarta: LP3ES
Faizi, M. F. (2018). Pengaruh kecerdasan emosional terhadap motivasi belajar matematika siswa kelas IV Sekolah Dasar Islam Babusallam Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek tahun ajaran 2017/2018. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 3, 2.
Furqon. (2005). Konsep dan aplikasi bimbingan dan konseling di sekolah dasar.
Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Goleman, D. (2006). Kecerdasan emosional: mengapa emosional lebih tinggi dari IQ. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Hioeliani, d. (2015). Studi kasus mengenai subjective-well being pada remaja dalam masa emerging adulthood yang orang tuanya bercerai. Jurnal Pemikiran & Penelitian Psikologi, 10, 1.
Hosnan, M. (2016). Psikologi perkembangan peserta didik: Kiat sukses pendidikan anak dalam era modern. Bogor: Ghalia Indonesia.
Kompri. (2015). Motivasi pembelajaran perspektif guru dan siswa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kurniastuti, I. (2010). Dinamika pencapaian prestasi remaja jawa. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Kurniawan, A. (2018) Metodologi penelitian pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Lestari, S. (2014). Psikologi keluarga: Penanaman nilai & penanganan konflik dalam keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Loysiana, Arini. (2016). Tingkat motivasi belajar siswa studi deskriptif pada siswa kelas VI SD Maria Immaculata tahun ajaran 2015/2016 dan implikasinya terhadap penyusunan topik bimbingan belajar. Skripsi. Tidak diterbitkan.
Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Maiyeni, S. (2014). Permasalahan peserta didik kelas tinggi di SD Negeri 19 Pasar Ambacang Durian Tarung Kecamatan Kuranji Padang. Jurnal Bimbingan Konseling, 4, 2.
Maksum, K. (2013). Hubungan kecerdasan emosional dan motivasi dengan tingkat prestasi belajar siswa kelas V Madrasah bbtidaiyah negeri jejeran bantul pada mata pelajaran bahasa indonesia. Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman, 03, 01.
73
Megayanti. (2016). Identifikasi faktor-faktor penyebab siswa malas belajar pada kelas V. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Nazir, M. (2011). Metode penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
Ningtyas, C. T. (2013). Studi deskriptif kemampuan mengelola emosi pada peserta
Ningtyas, C. T. (2013). Studi deskriptif kemampuan mengelola emosi pada peserta