• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

4 Pengalaman Usaha Jamur Merang

Pengalaman usahatani adalah lamanya seseorang dalam menjalankan usahatani jamur merang. Pengalaman merupakan suatu proses belajar yang dialami oleh orang di masa sebelumnya. Secara umum semakin lama petani dalam mengusahakan usaha jamur merang, maka akan semakin baik dalam mengelola usahanya. Pengalaman usaha jamur merang di Kecamatan Susukan berkisar antara 1 tahun sampai 8 tahun dengan rata-rata pengalaman usaha yaitu 4 tahun. Jika dilihat dari rata-rata pengalaman usaha yang telah dijalankan oleh masing-masing petani sampel, bahwa pengalaman yang dimiliki sudah cukup baik dalam menjalankan usahatani jamur merang. Hal ini dikarenakan usaha jamur merang dapat diusahakan selama satu musim tanam selama satu bulan, sehingga dengan pengalaman yang telah dilakukan tersebut maka petani sampel dapat menggambarkan keadaan uasha jamur merang. Tabel 7 Sebaran jumlah petani sampel menurut pengalaman usaha jamur merang

Pengalaman Usaha

Skala Kecil Skala Besar Jumlah Persentase

(%) Jumlah

Persentase (%) Di bawah rata-rata (< 4 tahun) 9 45 9 60 Di atas rata-rata (> 4 tahun) 11 55 6 40

Pengalaman yang cukup baik tidak menghentikan usaha petani untuk dapat terus mencari informasi-informasi terkait dengan usaha jamur merang. Pengalaman usaha petani skala kecil berada di atas rata-rata sebanyak 11 orang atau sebesar 55 persen, sedangkan pengalaman usaha petani skala besar lebih banyak berada di bawah rata-rata sebanyak 9 orang atau sebesar 60 persen dapat dilihat pada Tabel 6.

Penggunaan Sarana Produksi

Sarana Produksi yang digunakan dalam usahatani jamur merang di Kecamatan Susukan antara lain:

1 Bibit

Bibit merupakan faktor penting dalam usahatani jamur merang, karena tanpa adanya bibit maka tidak akan menghasilkan output. Kualitas bibit akan sangat menentukan hasil panen yang diperoleh petani. Ciri-ciri bibit jamur merang yang berkualitas adalah bibit yang kemasan atau baglognya masih tertutup rapat dan memilki ketebalan miselium yang tumbuh merata pada kemasan (baglog) bibit jamur merang. Selain itu usahakan supaya tidak memilih bibit yang berjamur yaitu baglog bibit jamur merang yang ditumbuhi dengan jamur pengganggu, cirinya terdapat bercak kuning yang tumbuh diantara miselium jamur merang.

Bibit yang digunakan oleh petani sampel di lokasi penelitian berasal dari para pedagang pengumpul yang memesannya melalui agen. Rata-rata jumlah bibit yang digunakan petani di lokasi penelitian dalam satu kali periode produksi adalah sebanyak 58 log. Distribusi penggunaan bibit oleh petani sampel dibawah rata-rata sebanyak 14 petani sebesar 40 persen menggunakan bibit sebanyak 39.5 log dalam satu kali produksi. Sementara sebanyak 21 petani sampel atau sebesar 60 persen menggunakan bibit di atas rata-rata sebanyak 68.81 log dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Sebaran jumlah petani sampel menurut penggunaan bibit Jumlah Bibit Rata-rata

(Log)

Jumlah (orang)

Persentase (%) Di bawah rata-rata (< 58 Log)

Di atas rata-rata (> 58 Log) Total Petani Sampel

39.5 68.81 14 21 35 40 60 100 2 Kapas

Kapas merupakan bahan baku yang dijadikan sebagai media untuk tumbuhnya jamur merang. Kapas yang digunakan oleh petani sampel di lokasi penelitian berasal dari hasil pemintalan pabrik tekstil yang dijual kepada petani melalui pedagang pengumpul. Alasan memilih media tumbuhnya berupa limbah kapas adalah karena terdapat kandungan selulosa dan terdapat serat yang bisa menyerap air lebih banyak. Selain itu mudah diperoleh karena di sekitar lokasi penelitian terdapat pabrik tekstil, sehingga dapat menghemat biaya untuk memperolehnya. Rata-rata harga kapas sebesar Rp799 per kilogram dan rata-rata penggunaan kapas dalam satu kali produksi sebanyak 1108.57 kilogram. Distribusi penggunaan kapas oleh petani sampel di bawah rata-rata sebanyak 23 petani atau sebesar 65.71 persen, dengan rata-rata

penggunaannya sebanyak 978.26 kilogram. Sedangkan sebanyak 12 petani atau sebesar 35.9 persen di atas rata-rata menggunakan kapas sebanyak 1358.33 kilogran atau sebesar 40 persen dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Sebaran jumlah petani sampel menurut penggunaan kapas Jumlah Kapas Rata-rata

(Kg) Jumlah (orang) Persentase (%) Di bawah rata-rata (< 1108 Kg) Di atas rata-rata (> 1108 Kg) Total Petani Sampel

978.26 1358.33 23 12 35 65.71 34.29 100 3 Dedak

Penggunaan dedak pada usahatani jamur merang berfungsi untuk menambah asupan nutrisi pada pertumbuhan jamur merang. Dedak merupakan bahan yang mengandung nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, lignin dan selulosa yang dicampurkan pada media tanam jamur merang. Pembelian dedak pada petani sampel berasal dari pabrik penggilingan padi disekitar lokasi penelitian, rata-rata harga yang ditawarkan oleh penjual adalah Rp1 694 per kilogram. Penggunaannya dilakukan dengan cara ditabur secara merat pada setiap lapisan komposan dan diberikan kembali pada saat pembalikan media kompos bila diperlukan. Rata-rata penggunaan dedak dalam satu kali produksi sebanyak 54 kilogram. Distribusi penggunaan dedak oleh petani sampel sebanyak 19 orang atau sebesar 54.29 persen di bawah rata-rata, dengan menggunakan dedak sebanyak 21.05 kilogram. Sedangkan sebanyak 16 orang atau sebesar 45.71 persen di atas rata-rata menggunakan dedak sebanyak 93.13 kilogram dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Sebaran jumlah petani sampel menurut penggunaan dedak Jumlah Dedak Rata-rata

(Kg) Jumlah (orang) Persentase (%) Di bawah rata-rata (< 54 Kg) Di atas rata-rata (> 54 Kg) Total Petani Sampel

21.05 93.13 19 16 35 54.29 45.71 100 4 Kapur

Kapur yang digunakan oleh petani sampel di lokasi penelitian dibeli dari toko-toko pertanian yang tersedia disekitar tempat usahanya. Kapur digunakan oleh petani sampel pada saat proses pengomposan pada setiap lapisan media kompos. Tujuannya untuk menaikkan pH media tanam, mempercepat proses pelapukan media kompos, membunuh mikroorganisme pengganggu dan parasit. Jenis kapur yang digunakan oleh petani sampel dalam usahatani jamur merang di Kecamatan Susukan adalah kapur yang digunakan untuk bangunan maupun kapur pertanian. Rata-rata penggunaan kapur oleh petani dalam satu kali produksi adalah 29.2 kilogram, dengan rata-rata harga per kilogramnya sebesar Rp984. Distribusi penggunaan kapur oleh petani sampel sebanyak 11 orang atau sebesar 31.43 persen, dengan rata-rata penggunaan sebanyak 18.36 kilogram. Sedangkan penggunaan kapur di atas rata-rata oleh petani adalah 24 orang atau sebesar 68.57, dengan rata-rata penggunaan sebanyak 34.17

kilogram. Sebagian besar petani sampel di Kecamatan susukan menggunakan kapur di atas rata-rata 29.2 kilogram dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Sebaran jumlah petani sampel menurut penggunaan kapur Jumlah Kapur Rata-rata

(Kg) Jumlah (orang) Persentase (%) Di bawah rata-rata (< 29.2 Kg) Di atas rata-rata (> 29.2 Kg) Total Petani Sampel

18.36 34.17 11 24 35 31.43 68.57 100

Dokumen terkait