BAB II TINJAUAN PUSTAKA TERHADAP HAK CIPTA
2.6. Pengalihan Hak Cipta
Hak Kekayaan Intelektual, termasuk hak cipta, bukanlah benda material, akan tetapi merupakan benda tidak terwujud atau immaterial242 sehingga dapat dijadikan objek jaminan fidusia.243 Hal ini diperkuat dengan Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 yang dengan tegas menyatakan hal tersebut. Pengalihan hak cipta, baik seluruh maupun sebagian, dapat terjadi karena:244
1) Pewarisan
Ketika seseorang meninggal dunia, maka warisan menjadi terbuka dan mulai saat itu terjadi peralihan harta kekayaan pewaris. Warisan merupakan salah satu bentuk pengalihan harta kekayaan karena dengan
240
Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
241
Pasal 74 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
242
H. OK Saidin,op.cit.,hal 11.
243
Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
244
meninggalnya seseorang berakibat harta kekayaannya beralih kepada ahli warisnya.
Pada prinsipnya, setiap orang dapat dipastikan mempunyai keluarga dan mempunyai harta kekayaan walaupun misalnya nilai hartanya tidak seberapa. Selain itu, ada kalanya dimana selama hidupnya pewaris memiliki utang. Utang yang ditinggalkan pewaris merupakan kekayaannya, karena yang disebut harta kekayaan itu meliputi aktiva dan pasiva yang berupa hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.245
Pengalihan hak cipta yang terjadi karena pewarisan berlaku prinsip- perinsip hukum waris dimana ahli waris yang berhak untuk mewarisi kekayaan si pewaris adalah golongan pertama yakni anak dari si pewaris dan apa bila tidak ada barulah diberikan kepada golongan berikutnya. Jika ahli warisnya lebih dari satu orang tidak menjadi masalah dalam menerima warisan karna hak cipta dapat dimiliki secara bersama-sama.246
2) Hibah
Hibah adalah pemberian milik seseorang secara sukarela atas hartanya kepada orang lain semasa hidupnya tanpda mengharapkan balasan. Hibah menurut bahasanya artinya sama dengan pemberian, hadiah, atau sedekah. Terdapat empat elemen hukum dalam hibah yaitu (1) pemberi hibah; (2) penerima hibah; (3) objek harta hibah; serta (4) shigahyaitu ijab kabul.247 Hibah merupakan sebuah perjanjian yang didasarkan atas kesepakatan. Meskipun berupa perjanjian, namun hibah bukan sebagai perjanjian timbal-balik hak dan kewajiban para pihak melainkan perjanjian yang sepihak. Hibah adalah perjanjian penyerahan barang yang dibuat oleh penghibah kepada penerima hibah dan yang mempunyai janji hanyalah penghibah saja. Hibah yang telah diperjanjikan, apalagi yang telah dilaksanakan penyerahan barang yang dihibahkan, maka objek hibah tidak
245
Gatot Suparmono, Hak Cipta dan Aspek-Aspek Hukumnya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal 30.
246 Ibid.
247
Rahmi Jened, Hukum Hak Cipta (Copyrights Law), (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2014), hal 192.
dapat ditarik kembali oleh penghibah. Walaupun perbuatan menghibahkan barang itu merupakan hak seseorang.248
Pengalihan hak cipta dengan cara hibah dilakukan dengan cara pemegang hak cipta membuat akta hibah dihadapan seorang notaris. Apabila pemegang hak cipta tidak memahami caranya, maka pemegang hak cipta mengutarakan niatnya kepada notaris. Notaris selanjutnya membuatkan akta sehingga pemegang hak cipta tinggal menandatangani akta bersama notaris dan para saksi yang biasanya pegawai notaris. Dengan dasar akta hibah tersebut, penerima hibah sah sebagai pemegang hak cipta atas suatu ciptaan yang pada akhirnya berhak menjalankan hak eksklusifnya.249 3) Wakaf
Apabila dilihat dari segi etimologis, kata wakaf berasal dari bahasa Arab yaitu waqf (jamaknya awqaf), yang berarti menyerahkan harta milik dengan penuh keikhlasan (dedikasi) dan pengabdian, yaitu berupa penyerahan sesuatu pada satu lembaga Islam, dengan menahan benda itu.250 Wakaf sendiri adalah perbuatan hukum waqif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingan guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.251 Wakaf mempunyai dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi religi dan dimensi sosial ekonomi. Dimensi religi karena wakaf merupakan anjuran agama yang perlu diperaktekkan sehingga mereka yang memberi wakaf mendapat pahala. Dalam fungsi sosial, wakaf merupakan aset yang sangat bernilai dalam pembangunan. Selain merupakan usaha pembentukan watak dan kepribadian untuk rela melepaskan sebagian hartanya untuk kepentingan orang lain, wakaf juga merupakan investasi pembangunan yang bernilai tinggi tanpa memperhitungkan jangka waktu dan keuntungan materi bagi yang mewakafkan. Sedangkan wakaf dalam fungsi ekonomi sangat mencolok, sebab dengan adanya lahan atau modal yang dikelola
248
Gatot Suparmono,op.cit., hal 31.
249
Ibid., hal 33.
250
Abdul Halim,Hukum Perwakafan di Indonesia,(Jakarta: Ciputat Press, 2005), hal 1.
251
secara produktif akan membantu masyarakat untuk memenuhi kehidupan bagi orang yang tidak mampu dengan motivasi etos kerja.252 Jadi, substansi yang terkandung dalam ajaran wakaf adalah adanya semangat penegakan keadilan sosial melalui pendermaan harta untuk kepentingan umum. Walaupun wakaf sebatas amal kebajikan yang bersifat anjuran, tetapi daya dorong untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan sangat tinggi.253
Wakaf harus dimanfaatkan dalam asas-asas yang diperbolehkan, seperti untuk kepentingan umum, menolong fakir miskin, kepeluan anggota keluarga, serta tujuannya tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai ibadah.254
Sebagai objek wakaf, harta benda yang bisa diwakafkan harus dapat memenuhi syarat-syarat berikut:255
a) Harta wakaf memiliki nilai (ada harganya)256 b) Harta wakaf harus jelas bentuknya
c) Harta wakaf merupakan hak milikwaqif
d) Harta wakaf berupa benda yang tidak bergerak, seperti tanah atau benda yang disesuaikan dengan kebiasaan wakaf yang ada.
Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Pasal 16 tentang Wakaf ditetapkan dua macam objek wakaf yaitu: (1) wakaf benda tidak bergerak; dan (2) wakaf benda bergerak. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf Pasal 15, ditetapkan bahwa objek wakaf berupa benda bergerak dibedakan menjadi dua: (1) wakaf benda bergerak
252
Satria Effendi, et al., Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Analisis Yurisprudensi dengan Pendekatan Ushuliyah, (Jakarta : Prenada Media, 2004), hal 410.
253
Muhamad Zulfikar, "Tinjauan Yuridis Wakaf atas Hak Kekayaan Intelektual Menurut Hukum Islam," tesis pada magister Ilmu Hukum Universitas Indonesia, 2013, hal 6.
254
Muhammad Daud Ali sebagaimana dikutip dalam Dimas Fahmi Fikri dan Afif Noor, "Reformasi Hukum Wakaf di Indonesia: Studi terhadap Wakaf Hak atas Kekayaan Intelektual",
Jurnal Al-Ahkam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, (Volume 22, Nomor 1, April 2012), hal 47.
255
Muhammad Abid Abdullah Al-Kabisi,Hukum Wakaf (Kajian Kontemporer Pertama dan Terlengkap tentang Fungsi dan Pengelolaan Wakaf serta Penyelesaian atas Sengketa Wakaf),
(Jakarta: IIMAN Press, 2004), hal 247.
256
Harta disebut bernilai apabila harta tersebut dimiliki oleh seseorang dan dapat dimanfaatkan dalam kondisi apapun,
selain uang, dan (2) wakaf benda bergerak berupa uang. Benda bergerak selain uang pun dibedakan menjadi dua: (1) benda bergerak karena sifatnya (dapat dipindahkan), dan (2) benda bergerak karena dinyatakan dalam peraturan perundang-undangan sebagai benda bergerak. Hak cipta dianggap sebagai benda yang bergerak yang dapat beralih atau dialihkan baik secara keseluruhan maupun sebagian. Dengan demikian, hak cipta termasuk dalam kategori benda bergerak yang merupakan harta benda yang tidak habis karena dikonsumsi oleh karena itu hak cipta dapat diwakafkan
4) Wasiat
Secara etimologis, kata wasiat berasal dari kata "wassa" yang berarti menasihatkan atau pemberian harta setelah pemberi harta meninggal dunia. Dasar hukum wasiat adalah Surah Al-Baqarah [2]: 180. Elemen hukum dalam wasiat yaitu (1) pewasiat; (2) penerima wasiat; (3) objek harta wasiat; dan (4)shigahyaitu ijab kabul.257
Harta kekayaan pewaris yang meninggal dunia adalah milik ahli warisnya, namun terdapat pengecualian apabila pewaris membuat surat wasiat. Menurut Pasal 875 KUHPerdata, surat wasiat adalah suatu akta yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya untuk di kemudian hari setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Pernyataan tersebut dapat dicabut kembali oleh pewaris sebelum ia meninggal dunia.258
Surat wasiat harus dibuat oleh pewaris dalam keadaan bebas artinya tidak ada paksaan untuk membuat surat tersebut. Di samping itu, dalam pembuatannya harus dengan itikad baik tidak didasarkan adanya penipuan atau akal licik. Apabila tidak seluruh persyaratan tersebut maka menurut Pasal 893 KUHPerdata maka surat wasiat tersebut batal demi hukum.259 Pewaris yang telah meninggal dunia harus menyebutkan objek dari hak cipta tersebut baik itu ciptaan di bidang ilmu, seni, atau kebudayaan serta menjelaskan bentuknya. Apabila ciptaan pewaris telah didaftarkan di
257
Rahmi Jened,loc.cit.
258
Gatot Supramono,op.cit., hal 33.
259 Ibid.
Dirjen HKI perlu disebutkan tanggal penerimaan pendaftaran ciptaan maupun nomor pendaftaran ciptaan yang telah terdaftar di daftar umum ciptaan. Apabila penerima wasiat menolak wasiat maka surat wasiat tidak dapat dilaksanakan sehinga hak cipta yang merupakan harta peninggalan pewaris kembali kepada ahli waris yang berhak menerimanya.260
5) Perjanjian tertulis
Hak cipta merupakan intangible asset yang memiliki nilai ekonomis sangat tinggi.261 Bentuk perjanjian tertulis tidak dijelaskan di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta tetapi dapat dipahami bahwa perjanjian tertulis yang dimaksud adalah perjanjian yang bertimbal balik di mana kedua belah pihak yang melakukan perjanjian mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang saling bertimbal balik antara yang satu dengan yang lainnya. Bentuk perjanjian ini antara lain dapat berupa perjanjian jual beli atau perjanjian tukar menukar. Pemegang hak cipta dapat menjual hak ciptanya kepada orang lain, atau menukarkan hak ciptanya dengan barang yang lain.262 Dalam hal hak cipta menjadi objek jual beli, ketentuan Pasal 1476-1485 KUHPerdata tetap berlaku sepanjang tidak diatur secara khusus menyimpang.263
Pengalihan hak cipta yang dibuat secara perjanjian tertulis bertujuan untuk kepentingan pembuktian bahwa telah terjadi peralihan hak dari pemegang hak cipta kepada orang lain. Pada dasarnya perjanjian tertulis ini dibuat untuk kepentingan dikemudian hari apabila ada masalah atau sengketa dengan menunjukkan surat perjanjiannya akan lebih mudah membuktikan peristiwa yang telah terjadi.264
6) Sebab lain yang dibenarkan sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan
Sebab lain yang dibenarkan sesuai dengan ketentuan perundang undangan antara lain pengalihan hak cipta yang disebabkan oleh putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, merger, akuisisi, atau
260
Ibid., hal 35.
261
Rahmi Jened,op.cit., hal 192.
262
Gatot Supramono,loc.cit..
263
Rahmi Jened,op.cit., hal 193.
264
pembubaran perusahaan atau badan badan hukum dimana terjadi penggabungan atau pemisahan aset perusahaan265 serta karena menjadi bagian dariboedelpailit.266
Hak ekonomi suatu ciptaan tetap berada di tangan pencipta atau pemegang hak cipta, selama seluruh hak ekonomi tersebut tidak dialihkan kepada penerima pengalihan hak atas ciptaan. Hak ekonomi yang dialihkan pencipta atau pemegang hak cipta untuk seluruh atau sebagian tidak dapat dialihkan untuk kedua kalinya oleh pencipta atau pemegang hak cipta yang sama.267
Sebagai hak milik kebendaan hak cipta dapat beralih ataupun dialihkan baik status maupun penguasaannya, kepada orang lain. Pencipta atau pemegang hak cipta dapat mengalihkan hak cipta baik untuk seluruh hak yang melekat maupun sebagian dari hak itu kepada orang lain.
Pengalihan kepemilikan hak cipta sering kali lebih didasari oleh kebutuhan praktis. Misalnya, karena pencipta tidak dalam posisi yang memungkinkan atau tidak memiliki kemampuan untuk mengekploitasi sendiri ciptaannya. Seorang penulis novel akan merasa lebih baik bila menyerahkan hak ciptaannya kepada penerbit untuk melaksanakan pencetakan dan mengedarkan buku-bukunya. Demikian pula pencipta lagu yang akan dapat lebih berkonsentrasi pada aktivitas kreatifnya ketimbang harus mengurus sendiri urusan-urusan teknis seperti penyewaan studio rekaman, pemilihan penyanyi, musisi, hingga proses perekaman, dan penggandaan serta pendistribusiannya yang memerlukan networkingsampai ke tingkat pengecer hingga konsumen.268
Pengalihan hak atas pencatatan ciptaan dan produk hak terkait juga dapat beralih apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut:269
1) Pengalihan hak atas pencatatan ciptaan dan produk hak terkait dapat dilakukan jika seluruh hak cipta atas ciptaan tercatat dialihkan haknya kepada penerima hak
265
Penjelasan Pasal 16 ayat (2) huruf f Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
266
Rahmi Jened,op.cit., hal 195.
267
Tim Visi Yustisia,op.cit., hal 4.
268
Henry Soelistyo,Hak Cipta Tanpa Hak Moral, (Yogyakarta: PT Rajawali Pers, 2011), hal 98.
269
2) Pengalihan hak dilakukan dengan mengajukan permohonan tertulis dari kedua belah pihak atau penerima hak kepada Menteri Hukum dan HAM
3) Pengalihan hak cipta dicatat dalam daftar umum ciptaan dengan dikenai biaya
Pengalihan hak cipta dapat pula dinyatakan tidak berlaku oleh pengadilan apabila pelaksanaannya bertentangan dengan kebijakan di bidang perekonomian. Undang-undang hak cipta memiliki norma yang dibakukan dalam pengaturan mengenai lisensi. Pengaturan ini berupa larangan bagi perjanjian lisensi untuk memuat ketentuan-ketentuan yang dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia, atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat.
Pada kenyataannya bentuk-bentuk tindakan tersebut sangat beragam. Contohnya adalah perjanjian pengalihan hak cipta dikalangan musisi atau pencipta lagu dengan industri rekaman. Meski tidak banyak, hal seperti ini pernah terjadi. Ketika itu, seorang pencipta lagu dan sekaligus penyanyi dikontrak oleh perusahaan rekaman untuk lima album. Dalam perjanjian dinyatakan bahwa perusahaan rekaman dapat menghentikan kontrak itu setiap saat dengan pemberitahuan sebulan sebelumnya. Sekilas perjanjian itu seperti menjamin prospek kehidupan pencipta lagu. Akan tetapi, perjanjian itu lebih menuntut komitmen total dari pencipta lagu kepada produser rekaman tanpa ada jaminan karya-karyanya akan disediakan di pasaran. Perselisiahan akan timbul karena prosedur rekaman seringkali harus menunggu waktu yang dianggap tepat untuk mengedarkan hasil karya rekamannya. Pertimbangan produser rekaman yang murni didasarkan alasan bisnis seperti itu sering kali menjadi berlarut-larut dan cenderung merugikan kepentingan pencipta lagu.270
2.7. Pelanggaran Hak Cipta
Pelanggaran hak cipta adalah penggunaan karya yang dilindungi hak cipta, yang melanggar hak ekslusif pemegang hak cipta, seperti hak untuk mereproduksi, mendistribusikan, menampilkan, atau memamerkan, atau membuat
270
karya turunan tanpa seizin pemegang hak cipta. Pelanggaran terjadi jika ada kesamaan antara dua ciptaan yang ada. Namun, pencipta atau pemegang hak cipta harus membuktikan bahwa karyanya telah dijiplak, atau karya lain tersebut berasal dari karyanya. Hak cipta tidak dilanggar jika karya-karya sejenis diproduksi secara independen, dalam hal ini masing-masing pencipta akan memperoleh hak cipta atas karya mereka.271 Singkatnya, pelanggaran hak cipta terjadi apabila materi hak cipta digunakan tanpa izin dan harus ada kesamaan antara dua karya yang ada.272
Hak cipta juga dilanggar jika seluruh atau bagian substansial dari suatu ciptaan yang dilindungi hak cipta diperbanyak. Pengadilan akan menentukan apakah suatu bagian yang ditiru merupakan bagian substansial dengan meneliti apakah bagian yang digunakan itu penting, memiliki unsur pembeda atau bagian yang mudah dikenali. Bagian ini tidak harus dalam jumlah atau bentuk besaran (kuantitas) untuk menjadi bagian substansial. Substansial disini dimaksudkan sebagai bagian penting, bukan bagian dalam jumlah besaran. Jadi, yang dipakai sebagai ukuran adalah ukuran kualitatif bukan ukuran kuantitatif.273
Terdapat tiga teori kesalahan pada pelanggaran hak cipta yaitu direct infingement, contributory infringement, dan vicarious infringement yang dapat diuraikan sebagai berikut:274
1) Pelanggaran langsung (direct infringement)
Pelanggaran langsung adalah pelanggaran dimana seseorang melanggar hak cipta orang lain dengan maksud dan tujuan tertentu sehingga tidak diperlukan lagi upaya penggugat untuk membuktikan kesalahan pelanggar.
2) Pelanggaran tidak langsung (contributory infringement)
Pelanggaran tidak langsung adalah pelanggaran dimana pihak yang bertanggungjawab atas hak cipta seseorang melakukan suatu kesalahan sehingga hak cipta tersebut dapat diakses oleh pihak lain.
271
Tim Linsey, dkk,op.cit., hal 122.
272
Dimas Amirul Prihandoko, "Perlindungan Hukum Hak Cipta Program Komputer untuk Permainan Ketangkasan yang Tidak Melekat Permanen pada Suatu Console (Game Emulator)," tesis pada Program Magister Hukum Universitas Indonesia, 2012, hal 61.
273
Tim Linsey, dkk,op.cit., hal 123.
274
Gerald R. Ferrera, dkk.,Cyberlaw Text and Cases (Second Edition), (Tennessee: South Western Educational Publishing, 2004), hal 94.
Contoh kasus dari pelanggaran tidak langsung ini adalah kasus Sega Enterprises Ltd. vs Maphia serta pengelola perdagangan online yang membiarkan kegiatan jual beli barang yang melanggar hak cipta di tempat yang dikelolanya.
3) Vicarious infringement
Vicarious infingement adalah pelanggaran pihak yang diuntungkan dari suatu pelanggaran langsung sehingga pihak tersebut dapat mendapatkan keuntungan/benefit diantaranya dapat mengakses hak cipta pihak lain.
Pelanggaran hak cipta dapat berupa perbuatan mengambil, mengutip, merekam, memperbanyak, atau mengumumkan sebagian atau seluruh ciptaan orang lain, tanpa izin pencipta/pemegang hak cipta, atau yang dilarang undang- undang, atau melanggar perjanjian. Dilarang undang-undang artinya undang- undang tidak memperkenankan perbuatan itu dilakukan karena:275
1) Merugikan pencipta/pemegang hak cipta, misalnya melakukan fotocopy/menggandakan sebagian ciptaan orang lain kemudian diperjualbelikan kepada masyarakat
2) Merugikan kepentingan negara, misalnya mengumumkan ciptaan yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah di bidang pertahanan dan keamanan
3) Bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan, misalnya memperbanyak dan menjual Video Compact Disk (VCD) berisi film porno
Cara lain yang dianggap sebagai pelanggaran oleh seseorang terhadap suatu hak cipta adalah saat seseorang:276
1) Memberi wewenang (berupa persetujuan atau dukungan) kepada pihak lain untuk melanggar hak cipta;
2) Memiliki hubungan dagang/komersial dengan barang bajakan ciptaan- ciptaan yang dilindungi hak cipta;
275
Abdulkadir Muhammad, 2001,op.cit., hal 220.
276
3) Mengimpor barang-barang ciptaan yang dilindungi hak cipta untuk dijual eceran atau didistribusikan;
4) Memperbolehkan suatu tempat pementasan umum untuuk digunakan sebagai tempat melanggar pementasan atau penayangan karya yang melanggar hak cipta.
Pencipta, pemegang hak cipta atau pengelola hak terkait yang mengalami kerugian hak ekonomi atas pelanggaran hak cipta berhak mengajukan gugatan kepada Pengadilan Niaga dan memperoleh ganti rugi. Gugatan ganti rugi dapat berupa permintaan untuk menyerahkan seluruh atau sebagian penghasilan yang diperoleh dari penyelenggaran ceramah, pertemuan ilmiah, atau pameran karya yang merupakan hasil dari pelanggaran hak cipta. Ganti rugi tersebut harus dibayarkan paling lama 6 (enam) bulan setelah putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.277
Demi menyeimbangkan hak-hak pemilik hak cipta dengan kepentingan masyarakat luas untuk memperoleh akses informasi, Undang-Undang Hak Cipta mengizinkan penggunaan ciptaan-ciptaan tertentu tanpa perlu izin pencipta atau pemegang hak cipta. Berdasarkan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta, perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta yaitu:
1) Pengumuman, pendistribusian, komunikasi, dan/atau penggandaan lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli
2) Pengumuman, pendistribusian, komunikasi, dan/atau penggandaan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh atau atas nama pemerintah, kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang undangan, pernyataan pada ciptaan tersebut dilakukan pengumuman, pendistribusian, komunikasi, dan/atau penggandaan
3) Pengambilan berita aktual, bai k seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lainnya dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap 4) Pembuatan dan penyebarluasan konten hak cipta melalui media
teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat tidak komersial
277
dan/atau menguntungkan Pencipta atau pihak terkait, atau pencipta tersebut menyatakan tidak keberatan atas pembuatan dan penyebaranluasan tersebut
5) Penggandaan, pengumuman, dan/atau pendistribusian potret presiden, wakil presiden, mantan wakil presiden, pahlawan nasional, pimpinan lembaga negara, pimpinan kementrian/lembaga pemerintah non kementrian, dan/atau kepala daerah dengan memperhatikan martabat dan kewajaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Selanjutnya dalam Pasal 44 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014, terdapat ketentuan mengenai beberapa perbuatan yang juga tidak dianggap melanggar hak cipta yakni:
1) Penggunaan, pengambilan, penggadaan, dan/atau perubahan suatu ciptaan dan/atau produk hak terkait secara seluruh atau sebagian yang substansial tidak dianggap sebagai pelangaran hak cipta jika sumbernya dicantumkan secara lengkap untuk keperluan:
a) Pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta atau pemegang hak cipta;
Kepentingan yang wajar sendiri didefinisikan sebagai kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu ciptaan278
b) Keamanan serta penyelenggaraan pemerintahan, legislatif, dan peradilan;
c) Ceramah yang hanya untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan; dan
d) Pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta
278
Penjelasan Pasal 44 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
2) Fasiltas akses atas suatu ciptaan untuk menyandang tuna netra, penyandang kerusakan penglihatan atau keterbatasan dalam membaca, dan/atau pengguna hurufbraille, buku audio, atau sarana lainnya, tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta jika sumbernya disebutkan atau dicantumkan secara lengkap, kecuali bersifat komersial
3) Dalam hal ciptaan berupa karya arsitektur, pengubahan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta jika dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai fasilitas akses terhadap ciptaan bagi