• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Hubungan personal - manfaat sosial informasi dalam percakapan; pengganti media untuk kepentingan perkawanan.

3. Identitas pribadi atau psikologi individu - penguatan nilai atau penambah keyakinan; pemahaman-diri; eksplorasi realitas; dan sebagainya.

4. Pengawasan - informasi mengenai hal-hal yang mungkin mempengaruhi seseorang atau akan membantu seseorang melakukan atau memutuskan sesuatu.

Secara umum Katz, Gurevitch, dan Haas berkeyakinan terhadap tipologi kebutuhan manusia yang berkaitan dengan media yang diklasifikasikan ke dalam lima kelompok:

1. Kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan)

2. Kebutuhan afektif (yang menjawab tentang pengalaman yang dirasakan) 3. Kebutuhan integratif personal (yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan

kepercayaan, kesetiaan, dan status pribadi)

4. Kebutuhan integratif sosial (kebutuhan ini didasarkan oleh adannya keinginan inidividu untuk berafiliasi)

5. Kebutuhan berkhayal (yang berkaitan akan pelepasan ketegangan atau hiburan) (Yusup, 2009:338-339).

Aplikasi Sehat Jiwa

Pengertian. Aplikasi Sehat Jiwa adalah suatu aplikasi yang dikembangkan sebagai wadah komunikasi, edukasi, serta informasi tentang kesehatan jiwa bagi masyarakat yang dikembangkan oleh direktorat pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan jiwa dan napza.

Manfaat. Aplikasi ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam mengetahui informasi mengenai kesehatan jiwa, seperti : bagaimana mendeteksi pasien berpenyakit jiwa, bagaimana mengetahui lokasi rumah sakit dan puskesmas yang menerima pasien berpenyakit jiwa dan bagaimana melaporkan pasien sakit jiwa.

Solusi. Solusi Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah dengan meluncurkan Aplikasi Sehat Jiwa Indonesia adalah suatu Aplikasi yang dikembangkan sebagai wadah Komunikasi, Edukasi serta Informasi (e-KIE) tentang Kesehatan Jiwa bagi masyarakat yang dikembangkan oleh Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI. Aplikasi ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam mengetahui informasi mengenai kesehatan jiwa, seperti : bagaimana mendeteksi pasien berpenyakit jiwa, bagaimana mengetahui lokasi rumah sakit dan puskesmas yang menerima pasien berpenyakit jiwa dan bagaimana melaporkan pasien sakit jiwa. Aplikasi ini

merupakan kerjasama antara Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan WHO. Aplikasi ini mulai diakses pada hari kesehatan jiwa sedunia yaitu 10 oktober tahun 2015. Fasilitas fitur aplikasi sehat jiwa yaitu informasi kesehatan, informasi pelayanan, deteksi dini dan laporan.

Gambar 1. Tampak depan Aplikasi Sehat Jiwa

Gambar 2. Tampilan menu dalam Aplikasi Sehat jiwa

Gambar 3. Tampilan Aplikasi Sehat Jiwa Pencegahan

Upaya promotif kesehatan jiwa bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat, menghilangkan stigma, diskriminasi, pelanggaran hak asasi ODGJ, serta meningkatkan pemahaman, keterlibatan, dan penerimaan masyarakat terhadap kesehatan jiwa. Oleh karena itu penting untuk melaksanakan upaya promotif di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, media massa, lembaga keagamaan dan tempat ibadah, serta lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan. Upaya preventif kesehatan jiwa bertujuan untuk mencegah terjadinya masalah kejiwaan, mencegah timbul dan kambuhnya gangguan jiwa, mengurangi faktor risiko akibat gangguan jiwa pada masyarakat secara umum atau perorangan, serta mencegah timbulnya dampak masalah psikososial yang dilaksanakan di lingkungan keluarga, lembaga dan masyarakat.

Upaya kuratif dilaksanakan melalui kegiatan pemberian pelayanan

kesehatan terhadap ODGJ yang mencakup proses diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat sehingga ODGJ dapat berfungsi secara wajar di lingkungan keluarga, lembaga dan masyarakat. Tujuan upaya kuratif adalah untuk penyembuhan dan pemulihan, pengurangan penderitaan, pengendalian disabilitas, dan pengendalian gejala penyakit. Kegiatan penatalaksanaan kondisi kejiwaan pada ODGJ dilaksanakan di fasilitas pelayanan bidang kesehatan jiwa. Selanjutnya, upaya rehabilitatif kesehatan jiwa bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan disabilitas, memulihkan fungsi sosial, memulihkan fungsi okupasional, mempersiapkan dan mempersiapkan dan memberi kemampuan ODGJ agar mandiri di masyarakat.

Upaya rehabilitatif ini meliputi rehabilitatif psikiatrik, psikososial, serta rehabilitatif sosial (dapat dilaksanakan dalam keluarga, masyarakat, dan panti sosial). Saat ini UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa menjadi pedoman dalam penyelenggaraan kesehatan jiwa yang komprehensif. Penetapan pelayanan kesehatan jiwa dasar dan rujukan menjadi upaya kesehatan jiwa yang dilaksanakan dengan membangun sistem pelayanan kesehatan jiwa berjenjang dan komprehensif. Selain aspek pelayanan juga ditetapkan sumber daya dalam penyelenggaraan tersebut diantaranya sumber daya manusia, fasilitas pelayanan, perbekalan, teknologi dan produk teknologi, serta pendanaan. Undang-undang ini menjadi dasar kebijakan penanganan kesehatan mental di Indonesia yang fokus pada peningkatan derajat kesehatan jiwa masyarakat serta pencegahan gangguan jiwa bagi mereka yang rentan atau berisiko. Secara tegas dituliskan bahwa setiap orang dan/atau menyuruh orang lain dengan sengaja melakukan pemasungan,

penelantaran, kekerasan atau tindakan lainnya yang melanggar hak asasi ODMK dan ODGJ harus dipidana.

Selain itu, guna memenuhi hak seluruh masyarakat agar mampu menjangkau pelayanan kesehatan jiwa yang bermartabat, maka Pemerintah telah mengupayakan;

1) Pemerataan layanan kesehatan jiwa dimulai dari tingkat pertama sebagai ujung tombak layanan kesehatan di masyarakat

2) Penyediaan layanan kesehatan jiwa yang terpadu dengan layanan kesehatan umum dengan dukungan masyarakat sebagai penggerak

3) Pengembangan upaya kesehatan jiwa berbasis masyarakat yang dimulai dari keluarga dengan dukungan jajaran lintas sektor

4) Pengembangan kesadaran dan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan jiwa.

Kondisi pelayanan kesehatan mental di Indonesia yang dilaporkan pada tahun 2010 menggambarkan perkembangan selama lima tahun sebelumnya antara lain adanya Undang-undang kesehatan mental, pengembangan kebijakan kesehatan mental, pengembangan program perawatan kesehatan mental komunitas, pembentukan kelompok pengguna, memasukkan kesehatan mental dalam kegiatan di puskesmas, dan dukungan politik yang baik (WHO, 2011).

Landasan Teori

Teori S-O-R sebagai singkatan dari Stimulus – Organism – Response atau stimulus theory. Ada dua jenis respons menurut teori Skiner, yaitu:

a. Refleksif yaitu respons yang timbul karena stimulus tertentu yang disebut electing stimuli dan ini menimbulkan respons yang relatif tetap.

b. Instrumental respons yakni respons yang timbul dan berkembang dan kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan yang lain. Perangsang yang ini disebut reinforcing stimuli atau reinforce, karena berfungsi untuk memperkuat respons.

Berdasarkan teori S-O-R, dapat dikelompokkan dua perilaku yaitu terbuka dan tertutup. Perilaku tertutup (Covert Behavior) terjadi bila respons terhadap stimulus masih belum dapat dirasakan orang dari luar secara jelas. Bentuk perilaku tertutup yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap.

Gambar 4. Landasan teori Kerangka Konsep

Gambar 5. Kerangka konsep

Response

Stimulus Organisme

Pengetahuan dan Sikap Pelatihan Aplikasi

Sehat Jiwa pada Mahasiswa FKM

Keterangan:

Berdasarkan gambar diatas pelatihan penggunaan aplikasi sehat jiwa mengenai kesehatan mental merupakan stimulus yang akan diberikan kepada organisme.

Aplikasi sehat jiwa adalah suatu Aplikasi yang dikembangkan sebagai wadah Komunikasi, Edukasi serta Informasi (e-KIE) tentang Kesehatan Jiwa bertujuan untuk memudahkan dalam mengetahui informasi mengenai kesehatan jiwa, seperti: bagaimana mendeteksi pasien berpenyakit jiwa, bagaimana mengetahui lokasi rumah sakit dan puskesmas yang menerima pasien berpenyakit jiwa dan bagaimana melaporkan pasien sakit jiwa. Setelah aplikasi sehat jiwa berisi materi mengenai kesehatan mental maka reaksi yang diteliti adalah perilaku organisme mengenai kesehatan mental. Organisme yang berperan dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Jenis penelitian ini adalah perlakuan semu (quasi experiment) dimana bentuk desain yang dipakai adalah desain rancangan one group pretest posttest untuk mengetahui pengaruh pelatihan penggunaan aplikasi sehat jiwa terhadap perilaku mahasiswa FKM USU tentang kesehatan jiwa. Dalam rancangan ini tidak menggunakan kelompok pembanding dan dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan yang terjadi setelah adanya perlakuan (Sugiyono,2013).

Pretest Perlakuan Posttest

Gambar 6: Model rancangan penelitian Keterangan:

O1 = Pre-test pada kelompok perlakuan

X = Promosi kesehatan dengan aplikasi sehat jiwa O2 = Post-test pada kelompok perlakuan

Observasi yang dilakukan sebelum perlakuan (O1) disebut pretest sedangkan observasi yang dilakukan sesudah perlakuan (O2) disebut post-test.

Perbedaan antara pre-test dan post-test dapat diasumsikan sebagai pengaruh dari perlakuan yang diberikan oleh peneliti (Arikunto, 2010).

O1 X O2

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian. Penelitian akan dilaksanakan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Jl. Universitas No.21, Medan. Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian yaitu:

1. Belum pernah dilakukan penelitian tentang aplikasi Sehat Jiwa

2. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan masih ditemukan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang belum mengetahui adanya aplikasi Sehat Jiwa

3. Adanya kemudahan dan dukungan dari pihak Fakultas Kesehatan Masyarakat USU untuk melakukan penelitian tersebut.

Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan selama 14 (empat belas) hari. Menurut Brigham dalam Azwar (2003) dengan konsep sleeper effect dinyatakan bahwa orang akan masih ingat isi pesan yang disampaikan dalam waktu 10-14 hari setelah pesan itu disampaikan.

Populasi dan Sampel

Populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif stambuk 2015-2017 di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU. Menurut data kemahasiswaan jumlah populasi dalam penelitian ini berjumlah 845 mahasiswa.

Tabel 1

Data Stambuk Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Tahun 2015 – 2017

Tahun ajaran Jumlah mahasiswa

2015 223

2016 322

2017 300

Total 845

Sampel. Sampel yang disebut sebagai responden dalam penelitian ini adalah sampling jenuh. Adapun untuk jumlah sampel berjumlah 30 orang merupakan mahasiswa tahun ajaran 2015, 2016 dan 2017.

Teknik sampling. Metode pengambilan sampel yang disebut sebagai responden dalam penelitian ini adalah purposive sampling (rancangan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu (Singarimbun, 1989)), yaitu pertimbangan kriteria pada populasi penelitian.. Besarnya jumlah sampel/responden pada penelitian ini adalah 30 orang yang diberi perlakuan.

Syarat sampel:

a. Tahun ajaran 2015 yang belum ujian sidang skripsi

b. Tahun ajaran 2016 yang tidak PBL (Pengalaman Belajar Lapangan) c. Tahun ajaran 2017 yang bersedia menjadi responden

Variabel dan Definisi Operasional

Variabel penelitian. Adapun variabel penelitian terdiri dari:

1. Variabel pengaruh (independent variable), yaitu pelatihan dengan menggunakan media Aplikasi Sehat Jiwa.

2. Variabel terpengaruh (dependent variable), yaitu perilaku mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat tentang Aplikasi Sehat Jiwa.

Defenisi operasional. Adapun definisi operasional terdiri dari:

1. Pelatihan kesehatan adalah program intervensi yang dilakukan oleh pelaku promosi kesehatan untuk mengubah pengetahuan, sikap dan tindakan sasaran dalam hal ini adalah pelatihan aplikasi sehat jiwa.

2. Pengetahuan terhadap aplikasi sehat jiwa merupakan pengetahuan