BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Foetus (janin) berkembang setelah fase embrio dan sebelum kelahiran. Foetus dapat diartikan "bibit muda, kandungan". Foetus sapi berada pada salah satu kornua, sedangkan kornua yang lain tetap kecil. Terdapat dua cara untuk mengukur panjang foetus, yaitu :
Curved Crown Rump
Pengukuran dengan cara mengukur panjang saluran tubuh foetus dimulai dari pangkal ekor membentuk garis curva sampai “forehead”. Cara ini tidak lazim dipakai.
Straight Crown Rump
Pengukuran dengan cara mengukur panjang tubuh foetus mulai dari pangkal ekor membentuk garis lurus sampai “forehead”. Cara inilah yang sering digunakan. 1.2 Tujuan
Praktikum Embriologi tentang pengukuran foetus ini bertujuan untuk mengukur foetus dengan dua cara dan untuk menentukan umur foetus tersebut. 1.3 Manfaat
Dengan dilakukannya praktikum Embriologi tentang pengukuran Foetus ini, di harapkan Mahasiswa mengetahui rasio ukuran foetus, umur foetus dan berat foetus berdasarkan usia kebuntingan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Foetus kontak secara langsung dengan darah maternal selama kebuntingan. Foetus mempunyai antigen asing yang berasal dari paternal, tetapi foetus tidak ditolak oleh respons imun maternal. Hubungan antara maternal dengan foetus memerlukan kerja imunomodulator yang khusus, karena fetus harus dilindungi dari penolakan respon imun maternal. Sementara, pada saat bersamaan system imun maternal hrus melindungi dari serangan agen infeksi baik untuk melindungi dari serangan agen infeksi baik untuk melindungi maternal maupun foetus (Arvola.2001)
Semakin meningkatnya ukuran embrio maka proses pemberian makanan zigot menjadi tidak mencukupi untuk mempertahankan hidup dan meneruskan pertumbuhannya. Membran ekstra embrional atau plasenta selanjutnya berkembang sebagai sarana untuk mencukupi kebutuhan nutrisis embrio selanjutnya yang lebih banyak (Frandson, 1991).
Plasenta adalah suatu sistem yang terdiri dari dua komponen, yaitu selaput ekstra embrionik dan selaput lender rahim yang berintegrasi menjadi satu kesatuan untuk keperluan pertukaran timbal balik faal antara induk dan fetus serta dapat menghasilkan hormon. Plasenta induk adalah indometrium rahim dan plasenta fetus adalah chorio-allantois (Poernomo dkk., 2004).
Pengaliran bahan-bahan metabolic dari induk ke fetus melewati membran plasenta melalui beberapa mekanisme. Dahulu diperkirakan pemindahan ini berlangsung secara difusi sederhana, molekul berpindah dari daerah berkonsentrasi tinggi ke daerah berkonsentrasi rendah. Kini disinyalir hampir semua molekul fisiologik penting dipindahkan melalui mekanisme transport aktif, molekul-molekul dipompakan dengan konsentrasi tinggi sehingga memungkinkan embrio untuk menumpuk zat-zat makanan yang berasal dari darah induk. (Samik, A. 1989).
Deteksi antigen khusus kebuntingan, mendeteksi adanya antigen khusus kebuntingan dalam plasma darah induk dapat dilakukan dengan reaksi hemaglutinasi (Hunter, 1995).
BAB III
METODE PRAKTIKUM 3.1 Alat dan Bahan
1. Tali pengukur 1 buah. 2. Penggaris 1 buah. 3. Bak aluminium 1 buah. 4. Pinset 1 buah.
5. Foetus sapi atau kambing yang telah diawetkan.
3.2 Cara Kerja.
1. Foetus yang telah disediakan dikeluarkan dari dalam stoples dan diletakkan di atas baki alumunium
2. Dilakukan pengukuran dengan cara CC-R dan SC-R
3. Pengukuran CC-R dilakukan dengan cara mengukur panjang saluran tubuh foetus dimulai dari pangkal ekor berbentuk kurva sampai forehead
4. Pengukuran SC-R dilakukan dengan cara mengukur panjang tubuh foetus mulai dari pangkal ekor berbentuk garis lurus sampai forehead. Cara ini yang sering digunakan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari hasil pengukuran foetus sapi maka diperoleh hasil sebagai berikut : 1. dengan cara CC-R panjang foetus yang diperoleh adalah 26,5cm 2. dengan cara SC-R panjang foetus yang diperoleh adalah 21,5cm
Tabel Hasil Pengukuran
4.2 Pembahasan
Dari hasil pengamatan didapatkan panjang foetus 26,5 cm dengan tekhnik CC-R dan 21,5 cm dengan tekhnik SC-R. Panjang yang diperoleh ini dapat menunjukkan berat dan umur dari foetus tersebut, sebagai berikut :
UMUR (bulan) PANJANG (cm) BERAT (g) SIFAT FETAI/PLASENTA
1 0,8-1 0,3-0,5 Pucuk kepala dan kaki jelas, plasenta belum bertaut
2 6-8 10-30 Pucuk teracak, skrotum kecil, plasenta terpaut
3 13-17 200-400 Rambut pada vivir, dagu, dan kelopak mata, skrotum pada jantan
4 27-32 1000-2000 Teracak, berkembang warna kuning, ada
Metode Umur BB
(gr)
Panjang Ratio Panjang Ratio
Kepala (cm) Tubuh (cm) Kaki Depan Kaki Belakang CC-R 5 bulan 1500 14 24 1:1,71 18,5 25 1:1.35 SC-R 5 bulan 1500 13,5 21 1:1.55 14,5 15,5 1:1
legok bakal tanduk
5 30-45 3000-4000 Rambut pada alis, bibir, testes dalam skrotum, puting susu
6 40-60 5000-10000
Rambut dibagian dalam telinga, sekeliling legok tanduk, ujung ekor, dan moncong
7 55-25 8000-18000
Rambut pada meta tarsal, meta carpal phalanx dan punggung, rambut panjang pada ekor
8 75-85 15000-25000
Rambut pendek, halus diseluruh tubuh
9 20-100 20000-50000
Rambut panjang sempurna diseluruh tubuh, gigi seri normal, foetus besar
Semakin bertambahnya usia kehamilan, makin bertambah pula berat foetus. Peningkatan yang drastis terjadi pada masa kehamilan 8-9 bulan. Pertumbuhan pada masa prenatal dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu : hereditas, ukuran, induk, nutrisi, lama kebuntingan, dan jumlah anak per “litter.”
Posisi foetus dalam kornua uteri juga dipengaruhi oleh komposisi antar sesama litter, perkembangan embrio dan endometrium sebelum implantasi, ukuran plasenta, dan suhu udara luar. Ukuran foetus secara genetik dipengaruhi oleh komponen gen itu sendiri, komponen gen induk, dan komposisi intra uteri dengan foetus lain. Kontribusi genetik material dalam variabilitas ukuran foetus jauh lebih besar daripada kontribusi prenatal. Pada kenyataannya telah diperkirakan bahwa 50%-75% variabilitasnya dalam berat lahir ditentukan oleh faktor-faktor maternal.
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Foetus yang digunakan dalam praktikum, jika dilihat dari panjangnya (disesuaikan dengan tabel), maka foetus sapi tersebut berumur bulan dan beratnya kontribusi maternal dalam variabilitas ukuran foetus jauh lebih besar daripada kontribusi paternal
1. posisi foetus dalam cornua uteri dipengaruhi oleh komposisi antara sesama litter, perkembangan embrio dan endometrium sebelum implantasi, ukuran plasenta, dan suhu udara luar.
DAFTAR PUSTAKA
Arvora M. 2001. Immunological Aspects of Maternal Foetal Interaction in Mice. Dissertations, Fakulty of Science and Tecnology. Acta Universitatis Upsaliensis. Uppsala.
Frandson, R.D. 1991. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Garbayo, J.M., B. Remy, J.L Alabart., J.Folch, R. Wattiez, P. Falmange, and J.F Beckers. 1998. Isolation and Partial Characterization of Pregnancy Associated Glycoprotein Family From The Goat Placenta. Biol. Reprod. 58: 109-115.
Green, J.A., S. Xie, X. Quan, B. Bao, X. Gan, N. Mathialagan, J.F Beckers, and R.M Robert. 2000. Pregnancy Associated Glycoproteins Exhibit Spatially and Temphoraly Distinct Expressions Pattern During Pregnancy. Biol Reprod. 62 : 1624-1631.
Hunter, R.H.F. 1995. Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina Domestik. Penerbit ITB. Bandung. 13-26, 41-45, 74-104.
PENGAMATAN EMBRIO AYAM