• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengamatan Keenam Mari kita ambil persimpangan jalan itu bersama M. Proudhon

Dalam dokumen Kemiskinan Filsafat. Karl Marx (1847) (Halaman 100-105)

Katakanlah kita mengakui bahwa hubungan-hubungan ekonomi,dipandang sebagai “hukum-hukum yang tak-bisa-berubah, azas-azas abadi, katepori-kategori ideal,” telah ada sebelum adanya orang-orang aktif dan energetik; katakanlah kita mengakui lebih lanjut bahwa hukum-hukum itu, azas-azas dan kategori-kategori itu telah – sejak awalnya waktu/zaman, ternyenyak “dalam penalaran impersonaldari umat-manusia.” Kita sudah melihat bahwa, dengan semua keabadian-keabadian yang tak-berubah dan tak-bergerak ini, tidak ada tersisa sejarah; paling-paling yang ada yalah sejarah di dalam ide, yaitu, sejarah yang tercermin di dalam gerak dialektik penalaran murni. M. Proudhon, dengan mengatakan bahwa, di dalam gerak dialektik itu, ide-ide tidak lagi di-“diferensiasikan,” telah menyingkirkan baik “bayangan gerak” dan “gerak dari bayangan-bayangan,” padahal dengannya orang mestinya masih dapat menciptakan

–sekurang-kurangnya– sesuatu kemiripan sejarah. Gantinya itu, pada sejarah dipersalahkannya impotensinya sendiri. Ia melemparkan kesalahan pada segala sesuatu, bahkan pada bahasa Perancis. “Maka tidaklah benar,” demikian M. Proudhon, sang filsuf mengatakan, “jika dikatakan bahwa sesuatu muncul, bahwa sesuatu telah diproduksi; dalam peradaban seperti halnya dalam alam semesta, segala sesuatu itu telah ada, telah berlaku, sejak keabadian. Ini berlaku pada keseluruhan ekonomi sosial.” (Vol.II, hal.102.)

Sedemikian besarnya tenaga produktif dari kontradiksi-kontgradiksi yang “berfungsi” dan yang membuat M. Proudhon berfungsi, sehingga, dalam mencoba menerangkan sejarah, ia terpaksa mengingkari itu; dalam mencoba menjelaskan permunculan secara bersusul-susulan hubungan-hubungan sosial, ia menyangkal bahwa “sesuatu (apapun) dapat muncul”; dalam mencoba menjelaskan produksi, dengan semua tahapan-tahapannya, ia mempertanyakan apakah “sesuatu (apapun) dapat diproduksi!”

Jadi, bagi M. Proudhon, tidak ada lagi sejarah apapun: tidak ada lagti urutan apapun dari ide-ide. Namun begitu bukunya tetap ada; dan justru buku itu yang adalah, menggunakan ungkapannya sendiri, “sejarah menurut urutan ide-ide.” Bagaimana kita bisa mendapatkan suatu perumusan, karena M.; Proudhon adalah jagonya perumusan-perumusan, untuk membantunya membersihkan semua kontradiksi ini dengan “satu lompatan?”

Untuk maksud itu ia telah membuat penemuan sebuah penalaran baru yang kbukan penmalaran mutlak yang murni dan perawan, juga bukan penalaran dari manusia yang hidup dan bertindak dalam berbagai periode, melainkan suatu penalaran yang sangat khusus – penalaran dari

sangperson, Masyarakat – dari subjek, “Kemanusiaan” – yang melalui pena M. Proudhon ada kalanya berperan sebagai “jenius sosial,” “penalaran umum,” atau akhirnya sebagai “penalaran manusia.” Penalaran ini, berdandan dengan banyak nama, betapapun pada setiap saat tetap membuka jati-dirinya, sebagai penalaran individual M. Proudhon, dengan sisi baiknya dan sisi buruknya, dengan antidot-antidot dan problem-problemnya.

“Penalaran manusia tidak menciptakan kebenaran,” bersembunyi di kedalaman penalaran mutlak yang abadi. Ia cuma dapat mengungkapkannya. Tetapi kebenaran-kebenaran sebagaimana yang telah diungkapkan hingga kini tidaklah lengkap, tidak mencukupi dan konsekuensinya yalah kontradiktif. Karenanya, kategori-kategori ekonomi, yang sendiri adalah kebenaran-kebenaran yang ditemukan, yang diungkapkan oleh penalaran manusia, oleh jenius sosial, sama-sama tidak lengkapnya dan mengandung dalam diri mereka benih dari kontradiksi. Sebelum M. Proudhon, jenius sosial hanya melihat “unsur-unsur antagonistik,” “dan bukan” perumusan sintetiknya, kedua-duanya secara serempak tersembunyi di dalam “penalaran mutlak.” Hubungan-hubungan ekonomi, yang cma merealisasi di atas bumi ini kebenaran-kebenaran yang tidak mencukupi, kategori-kategori yang tidak lengkap ini, ide-ide yang kontradiktif ini, oleh karenanya dalam diri mereka adalah kontradiktif, dan menyajikan dua sisi, satu yang baik, yang lainnya buruk.

Menemukan kebenaran lengkap itu, ide itu, di dalam seluruh kepenuhannya, perumusan sintetik yang mesti melenyapkan kontradiksi itu, itulah permasalahannya genius sosial itu. Ini pula sebabnya mengapa, dalam ilusi M Proudhon, jenisu sosial yang sama itu telah dikejar-kejar gangguan dari satu kategori ke kategori lainnya tanpa pernah berkemampuan, dengan segala dan semua bateri kategori-kategorinya, merebut dari Tuhan atau dari penalaran mutlak, suatu perumusan sintetik.

Pada permulaannya, masyarakat (jenius sosial) menyatakan suatu faktum primer, mengedepankan suatu hipotesis ... sebuah antinomi sungguh-sungguh, yang hasil-hasil antagonistiknya berkembang di dalam ekonomi sosial dengan cara yang sama karena konsekuensi-konsekuensi\nya mestinya dapat dideduksikan dalam pikiran; sehingga gerak industrial, yang dalam segala hal mengikuti deduksi ide-ide, pecah menjadi dua arus, satu dengan efek-efek yang berguna, yang lainnya dengan hasil-hasil subversif. Untuk mendatang keserasian ke dalam pembentukan azas yang bersisi-rangkap ini, edan untuk memecahkan antinomi ini, masyarakat melahirkan suatu (azas) kedua, yang segera akan disusul oleh yang ketiga; dan kemajuan jenius sosial akan terjadi dengan cara ini, hingga, setelah menghabiskan semua kontradiksinya –kukira, tetapi memang belum dibuktikan bahwa terdapat suatu batas bagi kontradiksi-kontradiksi manusia– ia kembali dengan satu lompatan pada semua kedudukan sebelumnya dandengan satu perumusan tunggal memecahkan semua problem-problemnya. (Vol.I, hal. 133.)

Tepat sebagaimana “antitesis sebelumnya telah berubah menjadi suatuantidot,” maka kini “tesis” itu menjadi suatu “hipotesis.” Perubahan peristilahan-peristilahan ini, yang kdatangnya dari M. Proudhon, tidak lagi sesuatu yang mencengangkan kita! Penalaran manusia, yang jauh daripada kemurnian, yang cuma mempunyai visi yang tidak lengkap, di setiap tikungan

berhadapan dengan masalah-masalah baru yang menuntut pemecahannya. Setiap tesis baru yang ditemukannya dalam penalaran mutlak dan yang adalah negasi dari tesis pertama, menjadilah baginya suatu sintesis yang ia terima secara agak naif sebagai pemecahan permasalahan bersangkutan. Adalah demikian itu penalaran itu bersungut-sungut dan marah-marah dalam selalu diperbaruinya kembali kontradiksi-kontradiksi hingga, menjelang akhir kontradiksi-kontradiksi itu, ia memahami bahwa semua tesis dan sintesisnya adalah Cuma hipotesis-hipotesis yang kontradiktif. “Dalam kebingungannya, penalaran manusia, jenius sosial, kembali dengan satu lompatan pada semua kedudukannya semula dan dengan suatu perumusan tunggal, memecahklan semua problem-problemnya.”

Formula yang unik ini, sambil lalu, merupakan penemuan sejati M. Proudhon. Yaitu “nilai bentukan.”

Hipotesa hanya dibuat untuk sesuatu tujuan tertentu. Tujuan yang – dengan melalui mulut M. Proudhon, 6terutama diarah oleh jenius sosial itu adalah, melenyapkan yang buruk dalam setiap kategori ekonomi, agar supaya tidak ada yang tertinggal kecuali yang baik. Untuk itu, yaitu yang baik itu, kesejahteraan tertinggi, tujuan praktikal yang sebenarnya adalah “persamaan/keadilan.” Dan mengapa jenius sosial itu lebih mengarah pada keadilan daripada ketidak-adilan, persaudaraan, katolisisme (ke-umum-an), atau sesuaqtu azas lainnya? Karena “umat manusia secara bersusul-susulan merealisasi begitu banyak hipotesa berlain-lainan karena terarah pada suatu hipotesis unggulan,” yang justru adalah keadilan. Dengan kata-kata lain: karena keadilan adalah ideal M. Proudhon. Ia membayangkan bahwa pembagian kerja, perkreditan, pabrik, –semuanya hubungan-hubungan ekonomi– semata-mata menjadi penemuan-baru demi untuk keadilan, namun selalu mereka berakhir dengan bersikap melawannya. Karena sejarah dan kisah (fiksi) M. Proudhon di setiap langkah berkontradiksi satu sama lain, yang tersebut belakangan itu menyimpulkan bahwa ada kontradiksi itu. Jika kontradiksi itu ada, maka ia hanya ada di antara ide-pancangannya dan gerak sesungguhnya.

Selanjutnya, sisi baik suatu hubungan ekonomi yalah yang menegaskan keadilan; sisi yang buruk, yalah yang menegasinya dan yang menegaskan ketidak-adilan.Setiap kategori baru adalah suatu hipotesis dari jenius sosial untuk melenyapkan ketidak-adilan yang ditimbulkan oleh hipotesis yang mendahuluinya. Singkatnya, keadilan adalah “niat primordial, kecenderungan mistis, tujuan providensial” yang selalu menjadi arahan jenius sosial itu,

sementara ia berpusingan dalam lingkaran kontradiksi-kontradiksi ekonomi. Demikianlah “Takdir” merupakan penggerak (lokomotif) yang membuatr ke-seluruhan bagasi ekonomi M. Proudhon bergerak lebih baik daripadea penalarannya yang murni dan mudah-menguap itu. Pada Takdir itu telah ia abadikan sebuah bab lengkap, yaitu yang menyusul bab mengenai perpajakan.

Takdir, tujuan providensial, inilah kata besar yang dipakai dewasa ini untuk menjelaskan gerak sejarah. Sesungguhnya, kata ini tidak menjelaskan apa-apa. Paling-paling ia adalah suatu bentuk retorikal, salah-satu dari berbagai cara menafsirkan fakta.

Adalah sebuah kenyataan bahwa pemilikan atas tanah di Skotlandia telah memperoleh suatu nilai baru dengan perkembangan industri Inggris.Industri ini telah membukakan jalur-jalur keluar baru bagi wol (bulu domba). Untuk memproduksi wol secara besar-besaran, tanah garapan mesti diubah menjadi ladang-rerumputan. Untuk menjadikan transformasi ini, estat-estat mesti dikonsentrasikan. Untuk mengonsentrasikan estat-estat-estat-estat, pemilikan bidang-bidang tanah kecil mesti dihapuskan, beribu petani pesewa mesti digusur dari tanah kelahiran mereka dan beberapa penggembala yang bertugas atas jutaan domba mesti dilantik sebagai pengganti para petani tadi. Demikianlah, lewat transformasi-transformasi berturut-turut, pemilikan tanah di Skotlandia telah mengakibatkan penggusuran manusia oleh domba. Nah sekarang katakanlah bahwa tujuan providensial dari pelembagaan pemilikan tanah di Skotlandia adalah untuk digusurnya manusia oleh domba, dan anda akan membuat sejarah providensial (sejarah yang ditakdirkan).

Sudah tentu, kecenderungan ke arah keadilan termasuklah pada abad kita. Dengan mengatakan –kini– bahwa semua abad sebelumnya, dengan berbagai kebutuhan-kebutuhannya yang berbeda, dengan alat-alat produksinya,etc. telah bekerja secara providensial (menurut takdirnya) bagi realisasi keadilan adalah, pertama-tama, menggantikan cara dan manusia abad kita untuk manmusia dan cara-cara abad-abad sebelumnya dan salah-mengartikan gerak historis yang dengannya generasi-generasi yang bersusulan/bergantian mengubah hasil-hasil yang diperoleh oleh generasi-generasi yang mendahului mereka. Para ahli ekonomi sasngat mengetahui bahwa sesuatu yang bagi seseroang adalah produk jadi, bagi seorang lain adalah cuma bahan mentah bagi produksi baru.

Tetapi, karena M. Proudhon menaruh minat yang begitu penuh sayang pada takdir, kita merujukkannya padaHistoire de l’economie politique karya M. De Villeneuve-Bargemont,[31]yang juga mengejar suatu tujuan providensial. Namun, tujuan ini bukanlah keadilan, melainkan adalah katolisisme.

Dalam dokumen Kemiskinan Filsafat. Karl Marx (1847) (Halaman 100-105)