• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

A. Hasil Pengamatan

Penelitian dilakukan pada tanggal 19-26 November 2009 di Laboratorium Histologi FK UNS. Pada penelitian ini diakukan pengamatan dan pencatatan jumlah mencit yang bertahan hidup selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok sepsis sebanyak 6 ekor mencit yang bertahan hidup, sedangkan pada kelompok sepsis + kurkumin dan omega-3 sebanyak 8 ekor mencit yang bertahan hidup.

Tabel 4.1. Hasil pengamatan survival mencit

Mencit K1 K2 Jumlah % Jumlah % Mati 10 62,5 8 50 Hidup 6 37,5 8 50 Keterangan : K1 : Kelompok sepsis

K2 : Kelompok sepsis + kurkumin dan omega-3 B. Analisis hasil penelitian

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan menggunakan uji Chi

Square, syarat-syarat untuk melakukan uji Chi Square yaitu

1. Tidak ada sel yang mempunyai Observed Frequency bernilai 0. 2. Sel yang mempunyai Expected Frequency kurang dari 5 maksimal

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Observed frequency adalah nilai yang didapat dari penelitian.

Sedangkan expected frequency adalah nilai yang didapat apabila hipotesis nol bernilai benar, didapat dengan rumus (row total x column total)/grand

total. Dari perhitungan rumus tersebut, expected frequency minimum yang

diperoleh adalah 7, sehingga memenuhi syarat untuk dilakukan uji Chi Square. Dari hasil uji Chi Square didapatkan nilai p adalah 0,476.

Suatu hubungan dikatakan signifikan apabila harga p < 0,05. Hal ini berarti bahwa p hasil penelitian lebih besar sehingga H1 ditolak dan Ho

diterima, yang berarti tidak ada perbedaan yang bermakna antara mencit Balb/C model sepsis cecal inoculum yang diberi kurkumin dan omega-3 dengan yang tidak diberi kurkumin dan omega-3.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user BAB V PEMBAHASAN

Sepsis adalah suatu sindroma klinik sebagai manifestasi proses inflamasi imunologik yang terjadi karena adanya respon tubuh (imunitas) berlebihan yang dikarakteristikkan sebagai ketidakseimbangan antara sitokin pro-inflamasi seperti tumor nekrosis faktor-α (TNF-α), interferon-γ (IFN-γ), interleukin-1β (IL-1β), dan IL-6) dengan sitokin anti-inflamasi (seperti IL-1, IL-4 dan IL-10) (Elena et al., 2006). Respon seluler terhadap LPS diawali dengan interaksi antara LPS dengan Toll Like Receptor 4 (TLR4), termasuk partisipasi dari LPS-binding protein dan CD14. Hal ini akan memicu aktivasi dari NFκB yang akan mengirim sinyal transkripsi sitokin pro-inflamasi. Peningkatan NFκB yang berlebihan akan menimbulkan SIRS dan bila berkembang lebih lanjut akan terjadi Multiple Organ Disfunction (Kristine et al., 2007).

Proses patologis sepsis adalah apoptosis dari sel imunologi sehingga proses inflamasi yang terjadi semakin berat dan mengakibatkan Multiple Organ

Disfunction (MOD) serta kematian (Chang et al., 2007). Apoptosis adalah sebuah

proses kematian sel terprogram yang dikontrol secara genetik (Chen, et al., 1998). Apoptosis sering menyertai perkembangan dari kejadian Multiple Organ Failure (MOF) pada sepsis. Sepsis menghambat apoptosis sel neutrofil tetapi meningkatkan apoptosis limfosit T, limfosit B, makrofag, sel epitel dan sel endotel (Guo et al., 2000).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Hasil pengamatan survival mencit diketahui pada tabel 4.1, kelompok 1 lebih sedikit yang bertahan hidup dibandingkan kelompok 2, yaitu 37,5% berbanding 50%, akan tetapi setelah dilakukan uji statistik didapatkan nilai p > 0,05 sehingga perbedaan tersebut tidak signifikan antara kelompok 1 dengan kelompok 2 yang diberi kurkumin dan omega-3. Hal ini tidak sesuai apabila dibandingkan dengan teori, karena pada teori dengan penambahan kurkumin dan omega-3, diharapkan survival mencit akan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok mencit yang hanya diberi perlakuan sepsis. Kurkumin adalah salah satu senyawa herbal yang mempunyai efek anti-inflamasi. Dijelaskan oleh Chattopadhyay et al. (2004), Efek anti-inflamasi tersebut dilakukan melalui penghambatan NFκB sehingga produksi sitokin pro-inflamasi menurun. Davis et al. (2007) menyebutkan bahwa kurkumin juga menghambat enzim COX-2 yang beperan dalam proses inflamasi dengan memproduksi sitokin pro-inflamasi. Akan tetapi menurut Schulz (2008), Penghambatan proses inflamasi oleh kurkumin tidak menghentikan proses inflamasi secara total karena yang dihambat hanya pembentukan prostagladin E2, yang berperan penting dalam proses inflamasi.

Asam lemak omega-3, juga mempunyai efek anti-inflamasi dengan menghambat proses pembentukan prostaglandin. Simopoulos (2002) menjelaskan bahwa proses ini terjadi melalui kompetisi antara asam lemak omega-3 dengan omega-6, yang merupakan prekursor dari prostaglandin. Melalui kompetisi ini diharapkan penurunan jumlah prostaglandin yang berasal dari asam lemak omega-6 dan sitokin pro-inflamasi juga menurun. Selain itu, menurut Anderson et al. (2009) kompetisi asam lemak omega-3 dengan omega-6 juga berlangsung di

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

tingkat membran sel. Ketiga asam lemak omega-3 (EPA, ALA, DHA) secara langsung menghambat produksi asam arakidonat dari asam linoleat dari membran sel. Dengan berkurangnya asam lemak yang hilang dari membran sel, maka membran sel akan lebih stabil dan proses apoptosis bisa lebih berkurang.

Perbedaan antara teori dengan hasil penelitian, dapat diakibatkan oleh hal-hal berikut ini:

1. Bentuk sediaan dari kurkumin dan omega-3

Sediaan obat yang digunakan merupakan tablet salut selaput, selaput tersebut bertujuan untuk melindungi zat aktif obat (kurkumin dan omega-3) dari kerusakan akibat asam lambung, sehingga tidak rusak dan sampai usus halus dengan utuh. Pada penelitian ini tablet tersebut dihancurkan kemudian dilarutkan dalam aquadest untuk selanjutnya diberikan pada mencit dengan cara disonde.

Jacob et al. (2007) menulis bahwa kurkumin mempunyai sifat larut dalam lemak, tidak larut dalam air dengan pH asam atau netral dan larut pada pH alkalis. Kurkumin sangat tidak stabil pada pH dasarnya dan terdegradasi dalam waktu 30 menit. Proses absorbsi kurkumin juga sulit, sebanyak 75% dari dosis awal diekskresi dalam feces, sisanya ditemukan di urine.

2. Variasi dosis

Pada penelitian ini hanya digunakan 1 macam dosis cecal

inoculum, yaitu 8 mg/mencit/hari. Dengan demikian tidak diketahui

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user BAB VI

Dokumen terkait