• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE

5. Pengamatan Parameter

Pengamatan parameter (keragaman jenis hama, kelimpahan hama dan indeks kelimpahan hama) dilaksanakan pada pukul 17.00-18.00 WIB pada hari yang sama dengan aplikasi pestisida nabati, pestisida kimiawi dan yellow trap.

Hama yang sudah dikumpulkan dalam plastik yang sudah diberikan label perlakuan dan ulangan, dihitung :

a. Keragaman jenis hama, yang diidentifikasi berdasarkan Buku Kunci Determinasi Serangga (Program Nasional PHT, 1991).

b. Kelimpahan hama, dihitung jumlah hama tiap jenis.

c. Indeks Kelimpahan Hama, dihitung dari jumlah hama yang mati dari aplikasi pestisida dan yellow trap per m2

Pengamatan parameter dilaksanakan sebanyak 3 kali sesuai dengan aplikasi perlakuan yaitu : 3 minggu setelah tanam, 6 minggu setelah tanam dan 9 minggu setelah tanam.

(Junaidi, at al., 2010).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN.

1. Keragaman Hama.

Keragaman jenis hama yang ditemukan sebanyak 4 famili, seperti pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Hama yang ditemuka n di lokasi penelitian.

No. Famili Species

Nama Lokal Nama Latin

1. Nuctidae a. Ulat daun b. Ulat batang c. Ulat tongko l d. Ulat grayak

e. Penggerek tongkol

Prodenia litura.

Agothis sp.

Heliothis armigera.

Spodoptera liptura.

Helicoverpa armigera.

2. Phyralidae Penggerek tongkol Ostrinia fumacalis).

3. Tephridae Lalat bibit Atherigona sp 4. Acrididae a. Belalang

b. Belalang

Valanga nigricornis Oxya sinensis.

Data keragaman jenis hama pada pengamatan minggu ke-3 setelah tanam disajikan pada lampiran 4, lampiran 7, lampiran 10 dan lampiran 13, data keragaman hama pada pengamatan minggu ke-6 setelah tanam disajikan pada lampiran 5, lampiran 8, lampiran 11 dan lampiran 14, data keragaman hama pada pengamatan minggu ke-9 setelah tanam disajikan pada lampiran 6, lampiran 9, lampiran 12 dan lampiran 15.

Data pengamatan keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-3 disajikan pada lampiran 16 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 17. Hasil sidik ragam (lampiran 17.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap keragaman jenis hama yang mati. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-3 disajikan pada Tabel 4.2.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida nabati terhadap keragaman jenis hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.1.

Tabel 4.2. Rata-rata keragaman jenis hama yang Gambar 4.1. Kurva aplikasi pestisida nabati mati akibat perlakuan aplikasi pestisida (N) terhadap keragaman jenis

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-6 disajikan pada lampiran 18 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 19. Hasil sidik ragam (lampiran 19.)

yang berbeda sangat nyata terhadap keragaman jenis hama yang mati. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-6 disajikan pada Tabel 4.3.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida nabati terhadap keragaman jenis hama, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.2.

Tabel 4.3. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati Gambar 4.2. Kurva aplikasi pestisida nabati akibat perlakuan aplikasi pestisida (N) terhadap keragaman jenis

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-9 disajikan pada lampiran 20 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 21. Hasil sidik ragam (lampiran 21.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap keragaman jenis hama yang mati. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-9 disajikan pada Tabel 4.4.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida nabati terhadap keragaman jenis hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.3.

Tabel 4.4. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati Gambar 4.3. Kurva aplikasi pestisida nabati akibat perlakuan aplikasi pestisida (N) terhadap keragaman jenis

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-3 disajikan pada lampiran 22 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 23. Hasil sidik ragam (lampiran 23.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida kmiawi menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap keragaman jenis hama yang mati. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-3 disajikan pada Tabel 4.5.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida kimiawi terhadap keragaman jenis hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk kuadratik seperti gambar 4.4.

Tabel 4.5. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati Gambar 4.4. Kurva aplikasi pestisida kimia- Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-6 disajikan pada lampiran 24 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 25. Hasil sidik ragam (lampiran 25.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida kmiawi menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap keragaman jenis hama yang mati.

Tabel 4.6. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati Gambar 4.5. Kurva aplikasi pestisida kimia- akibat perlakuan aplikasi pestisida wi (K) terhadap keragaman

aA

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Rata-rata keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-6 disajikan pada Tabel 4.6.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida kimiawi terhadap keragaman jenis hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk kuadratik seperti gambar 4.5.

Data pengamatan keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-9 disajikan pada lampiran 26 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 27. Hasil sidik ragam (lampiran 27.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida kmiawi menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap keragaman jenis hama yang mati. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-9 disajikan pada Tabel 4.7.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida kimiawi terhadap keragaman jenis hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk kuadratik seperti gambar 4.6.

Tabel 4.7. Rata-rata keragaman jenis hama yang mati Gambar 4.6. Kurva aplikasi pestisida kimia- akibat perlakuan aplikasi pestisida wi (K) terhadap keragaman

aA

K4 4 4 4 3,67

aA

Rata-rata

2,4 aA

3,0 aA

2,6 aA

---

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Dari hasil penelitian yang diperoleh, terlihat bahwa dengan penggunaan pestisida kimiawi lebih beragam jenis hama yang mati dibandingkan dengan pestisida nabati. Hal ini disebabkan oleh bahan aktif pestisida kimiawi (Lamda Sihalotrin (C25H19ClF3NO3)) lebih efektif membunuh hama yang ada di pertanaman jagung.

Rata-rata keragaman hama yang mati di tiap plot penelitian dengan penggunaan pestisida kimiawi, keragamannya lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian Khasanah, 2009, dimana Pestisida Matador merupakan pestisida kimia yang banyak digunakan petani untuk mengendalikan ulat yang mempunyai bahan aktif lamdasihalotrin yang dibuat khusus untuk mengendalikan berbagai larva serangga hama. Tingginya jumlah rata – rata jumlah larva yang mati pada pestisida matador dari tiap waktu pengamatan diduga bahan aktif yang terkandung dalam pestisida matador mampu menurunkan kekebalan tubuh dai larva ulat kubis.

2. Kelimpahan Hama.

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-3 disajikan pada lampiran 28 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 29. Hasil sidik ragam (lampiran 29.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-3 disajikan pada Tabel 4.8.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida nabati terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.7.

Tabel 4.8. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.7. Kurva aplikasi pestisida nabati

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-6 disajikan pada lampiran 30 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 31. Hasil sidik ragam (lampiran 31.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati.

Tabel 4.9. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.8. Kurva aplikasi pestisida nabati

cC

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Rata-rata jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-6 disajikan pada Tabel 4.9.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida nabati terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.8.

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-9 disajikan pada lampiran 32 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 33. Hasil sidik ragam (lampiran 33.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati.

Rata-rata jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-9 disajikan pada Tabel 4.10.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida nabati terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.9.

cC Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-3 disajikan pada lampiran 34 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 35. Hasil sidik ragam (lampiran 35.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida kimiawi menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-3 disajikan pada Tabel 4.11.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida kimiawi terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk kuadratik seperti gambar 4.10.

Tabel 4.11. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.10.Kurva aplikasi pestisida kimiawi

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-6 disajikan pada lampiran 36 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 37. Hasil sidik ragam (lampiran 37.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida kimiawi menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-6 disajikan pada Tabel 4.12.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida kimiawi terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk kuadratik seperti gambar 4.11.

Tabel 4.12. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.11. Kurva aplikasi pestisida kimiawi Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-9 disajikan pada lampiran 38 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 39. Hasil sidik ragam (lampiran 39.) menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pestisida kimiawi menunjukkan pengaruh

hama yang mati akibat perlakuan aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-9 disajikan pada Tabel 4.13.

Untuk melihat hubungan aplikasi pestisida kimiawi terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk kuadratik seperti gambar 4.12.

Tabel 4.13. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.12.Kurva aplikasi pestisida kimiawi Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Dari hasil penelitian yang diperoleh, terlihat bahwa dengan penggunaan pestisida kimiawi lebih banyak hama yang mati dibandingkan dengan pestisida nabati. Hal ini disebabkan oleh bahan aktif pestisida kimiawi (Lamda Sihalotrin (C25H19ClF3NO3)) lebih efektif membunuh hama yang ada di petanaman jagung.

Hal ini juga disebabkan keragaman hama yang mati lebih banyak akibat pestisida kimiawi daripada pestisida nabati. Hal ini disebabkan Pestisida nabati hanya membuat hama tidak betah pada tanaman atau tidak membunuhnya dan telur hama tidak bisa menetas (Tombe, 2008). Sedangkan Pestisida Matador merupakan pestisida kimia yang banyak digunakan petani untuk mengendalikan ulat yang

mempunyai bahan aktif lamdasihalotrin yang dibuat khusus untuk mengendalikan berbagai larva serangga hama. pestisida nabati tidak bereaksi cepat (knockdown) atau relatif lambat membunuh hama, tidak seperti pestisida kimia sintetik yang relatif cepat (Syakir, 2011).

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-3 disajikan pada lampiran 40 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 41. Hasil sidik ragam (lampiran 41.) menunjukkan bahwa akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-3 disajikan pada Tabel 4.14.

Untuk melihat hubungan yellow trap pada aplikasi pestisida nabati terhadap rata-rata hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.13.

Tabel 4.14. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.13. Kurva rata-rata hama yang mati Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-6 disajikan pada lampiran 42 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 43. Hasil sidik ragam (lampiran 43.) menunjukkan bahwa akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-6 disajikan pada Tabel 4.15.

Untuk melihat hubungan yellow trap pada aplikasi pestisida nabati terhadap rata-rata hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.14.

Tabel 4.15. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.14. Kurva rata-rata hama yang mati Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-9 disajikan pada lampiran 44 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 45. Hasil sidik ragam (lampiran 45.) menunjukkan bahwa akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati

menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata jumlah hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-9 disajikan pada Tabel 4.16

Untuk melihat hubungan yellow trap pada aplikasi pestisida nabati terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.15.

Tabel 4.16. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.15.Kurva rata-rata hama yang mati Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-3 disajikan pada lampiran 46 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 47.

Tabel 4.17. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.16. Kurva rata-rata hama yang mati

K3 21 17 21 19,67 Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Hasil sidik ragam (lampiran 47.) menunjukkan bahwa akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-3 disajikan pada Tabel 17.

Untuk melihat hubungan yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.16.

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-6 disajikan pada lampiran 48 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 49. Hasil sidik ragam (lampiran 49.) menunjukkan bahwa akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-6 disajikan pada Tabel 4.18.

Tabel 4.18. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.17. Kurva rata-rata hama yang mati

abAB Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Untuk melihat hubungan yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi terhadap rata-rata hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.17.

Data pengamatan jumlah hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi (K) pada minggu ke-9 disajikan pada lampiran 50 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 51. Hasil sidik ragam (lampiran 51.) menunjukkan bahwa akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata jumlah hama yang mati akibat yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi pada pengamatan minggu ke-9 disajikan pada Tabel 4.19.

Untuk melihat hubungan yellow trap pada aplikasi pestisida kimiawi terhadap jumlah hama yang mati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.18.

Tabel 4.19. Rata-rata hama yang mati akibat Gambar 4.18. Kurva rata-rata hama yang mati

cC Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Dari hasil penelitian yang diperoleh, terlihat bahwa dengan aplikasi yellow trap pada aplikasi pestisida nabati lebih banyak hama yang mati dibandingkan

dengan pestisida kimiawi. Hal ini disebabkan karena dengan aplikasi pestisida kimiawi hama lebih banyak yang mati, sehingga yang terperangkap oleh yellow trap lebih sedikit.

3. Indeks Kelimpahan Hama.

Data pengamatan indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-3 disajikan pada lampiran 52 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 54.

Tabel 4.20. Rata-rata indeks kelimpahan hama Gambar 4.19. Kurva indeks kelimpahan hama yang mati pada aplikasi pestisida yang mati pada aplikasi pestisida

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda

sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Hasil sidik ragam (lampiran 54.) menunjukkan bahwa indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-3 disajikan pada Tabel 4.20.

Untuk melihat hubungan indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.19.

Data pengamatan indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-6 disajikan pada lampiran 55 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 57. Hasil sidik ragam (lampiran 57.) menunjukkan bahwa indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati pada pengamatan minggu ke-6 disajikan pada Tabel 4.21.

Tabel 4.21. Rata-rata indeks kelimpahan hama Gambar 4.20. Kurva indeks kelimpahan hama yang mati pada aplikasi pestisida yang mati pada aplikasi pestisida Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda

Untuk melihat hubungan indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati, dilakukan analisa regresi dan diperoleh kurva respon berbentuk linier seperti gambar 4.20.

Data pengamatan indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-9 disajikan pada lampiran 58 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 60. Hasil sidik ragam (lampiran 60.) menunjukkan bahwa indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata indeks

Data pengamatan indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati (N) pada minggu ke-9 disajikan pada lampiran 58 serta daftar sidik ragam tertera pada lampiran 60. Hasil sidik ragam (lampiran 60.) menunjukkan bahwa indeks kelimpahan hama pada aplikasi pestisida nabati menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah hama yang mati. Rata-rata indeks

Dokumen terkait