• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tolak ukur viabilitas benih adalah daya kecambah benih yang normal (Wahab dan Dewi, 1993). Benih buah naga mulai berkecambah umumnya sebulan setelah disemaikan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa spesies buah naga berpengaruh nyata sedangkan pra perlakuan dan interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap variabel daya kecambah (Lampiran Tabel 1). Spesies buah naga ungu menunjukkan nilai daya kecambah benih tertinggi dibanding dengan ketiga spesies buah naga (Tabel 1).

Tabel 1. Rerata Daya Kecambah Empat Spesies Buah Naga pada 15 HST (%)

Perlakuan Rerata

Buah Naga Merah 83a

Buah Naga Kuning 16,62b

Buah Naga Putih 71,5a

Buah Naga Ungu 85,87a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%

Rerata nilai daya kecambah pada spesies buah naga merah, putih dan ungu berbeda nyata dengan rerata nilai daya kecambah spesies buah naga kuning pada uji DMRT taraf 5% (Tabel 1). Rerata nilai daya kecambah spesies buah naga pada umur 15 HST terendah terdapat pada buah naga kuning yaitu 16,62% sedangkan rerata nilai daya kecambah pada spesies buah naga merah, putih dan ungu yaitu 83%, 71,5% dan 85,87%. Nilai daya kecambah dari empat jenis buah naga berkisar antara 16-86%. Hal ini menunjukkan bahwa nilai daya kecambah benih buah naga tidak dapat dinyatakan benih bermutu. Menurut Kartasapoetra (1989), benih yang berkualitas tinggi dari jenis tanaman unggul dan memiliki daya tumbuh lebih dari 90% baru dapat dinyatakan sebagai benih bermutu. Faktor yang mempengaruhi mutu benih antara lain faktor genetik, lingkungan dan keadaan fisik maupun fisiologis benih. Faktor genetik merupakan faktor pembawa

15

commit to user

yang berkaitan dengan komposisi genetika benih yang memiliki genetika berbeda.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Idayanti (2006), nilai daya kecambah benih buah naga merah pada umur 7 HST berkisar antara 82-98%.

Sedangkan pada penelitian ini, nilai daya kecambah spesies buah naga pada umur 7 HST tertinggi terdapat pada spesies buah naga merah yaitu 74,63%

dan terendah terdapat pada spesies buah naga kuning yaitu 2,88% (Gambar 1). Diduga bahwa pada umur 7 HST sampai umur 15 HST masih ada penambahan benih yang berkecambah.

Keterangan:

S 1 (benih buah naga merah); S 2 (benih buah naga kuning); S 3 (benih buah naga putih);

S 4 (benih buah naga ungu)

Gambar 1. Grafik Perkembangan Daya Kecambah Spesies Buah Naga Spesies buah naga ungu memiliki tingkat viabilitas benih tinggi.

Viabilitas benih buah naga yang tinggi dipengaruhi oleh faktor genetik. Buah naga dari genus Hylocereus memiliki kromosom yang berbeda dengan buah naga dari genus Selenicerius. Menurut Setyowati (2008), buah naga dari genus Hylocereus memiliki kromosom diploid yakni 2n= 2x= 22 sedangkan buah naga kuning memiliki kromosom tetraploid yakni 2n= 2x= 44.

Pada penelitian ini, kondisi lingkungan juga sangat mendukung proses perkecambahan. Kondisi lingkungan yang optimum dapat meningkatkan proses perkecambahan sehingga nilai daya kecambah benih

commit to user

buah naga tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa buah naga baik dari genus Hylocereus maupun Selenecerius merupakan benih rekalsitran. Menurut Sahupala (2007) benih rekalsitran mempunyai kadar air tinggi, untuk itu dalam penyimpanan kadar air benih perlu dipertahankan selama penyimpanan.

2. Kecepatan Berkecambah

Kecepatan kecambah perlu diketahui karena berhubungan dengan vigor benih. Benih yang mempunyai kecepatan kecambah yang tinggi maka tanaman yang dihasilkan lebih tahan terhadap keadaan yang kurang menguntungkan (Kartasapoetra, 1989). Kecepatan kecambah benih buah naga diamati pada hari pertama berkecambah sampai mencapai titik maksimum perkecambahan (15 HST). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi antara spesies buah naga dan bahan pencucian berpengaruh nyata terhadap variabel kecepatan kecambah benih (Lampiran Tabel 2). Selanjutnya, pada uji DMRT taraf 5%, rerata kombinasi perlakuan spesies buah naga kuning dengan tanpa pencucian berbeda nyata dengan rerata kombinasi perlakuan spesies buah naga dengan bahan pencucian yang lain (Tabel 2). Kecepatan kecambah spesies buah naga yang tinggi dipengaruhi oleh bahan pencucian dan faktor genetik spesies buah naga.

Rerata kecepatan kecambah spesies buah naga pada umur 15HST tertinggi terdapat pada kombinasi perlakuan spesies buah naga merah dengan air kapur sebesar 9,90%/ etmal sedangkan rerata kecepatan kecambah terendah terdapat pada kombinasi perlakuan spesies buah naga kuning dengan tanpa pencucian sebesar 0,38%/ etmal (Tabel 2). Diduga bahwa bahan pencucian berupa air kapur dapat menghilangkan lendir pada benih buah naga dengan cepat. Kapur mengandung mineral calcite karbonat dengan pH lebih dari 7 (bersifat basa) sedangkan pH lendir spesies buah naga kurang dari 7 (bersifat asam). Sehingga ketika air kapur digunakan untuk membersihkan lendir, benih buah naga cepat kering. Pada perlakuan berupa tanpa pencucian belum mampu menghilangkan lendir pada benih buah naga dengan cepat, sehingga proses perkecambahan benih masih terhambat.

commit to user

Tabel 2. Rerata Interaksi Spesies Buah Naga dan Bahan Pencucian terhadap Kecepatan Kecambah Benih pada 15 HST (%/ etmal)

Perlakuan Rerata

Spesies buah naga merah dengan tanpa pencucian 5,60abc Spesies buah naga merah dengan air PDAM FP 9,48fg Spesies buah naga merah dengan air kapur 9,90g Spesies buah naga merah dengan air abu sekam 8,33fg Spesies buah naga kuning dengan tanpa pencucian 0,38a Spesies buah naga kuning dengan air PDAM FP 0,76ab Spesies buah naga kuning dengan air kapur 0,68ab Spesies buah naga kuning dengan air abu sekam 0,82ab Spesies buah naga putih dengan tanpa pencucian 6,91def Spesies buah naga putih dengan air PDAM FP 6,81def Spesies buah naga putih dengan air kapur 2,71abc Spesies buah naga putih dengan air abu sekam 5,38cde Spesies buah naga ungu dengan tanpa pencucian 3,14bc Spesies buah naga ungu dengan air PDAM FP 4,53cd Spesies buah naga ungu dengan air kapur 7,48efg Spesies buah naga ungu dengan air abu sekam 3,84c Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata

pada uji Duncan 5%

Menurut Sunarto dan Hilman (1999), perbedaan kecepatan berkecambah antar varietas dapat disebabkan karena masing-masing benih mempunyai ukuran yang berbeda-beda, kandungan zat makanan serta umur panen yang berlainan. Buah naga kuning memiliki ukuran biji lebih besar dibanding dengan biji buah naga pada genus Hylocereus.

Wirawan dan Sri (2002) menambahkan bahwa kecepatan kecambah benih setiap spesies memiliki identitas genetik yang berbeda-beda. Buah naga kuning memiliki kromosom tertaploid dengan set kromosom 2n= 2x= 44.

Sifat tanaman tetraploid adalah pertumbuhan benih buah naga yang sangat lambat.

B. Pengamatan Pertumbuhan Bibit

Dokumen terkait