• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PROFIL FAKULTAS EKONOMI USU

B. Pengambilan Keputusan

a. Definisi Keputusan Dan Pengambilan Keputusan Definisi keputusan menurut beberapa ahli, yaitu :

Menurut Davis (2002:9) adalah hasil pemecahan yang dihadapinya dengan tegas. Menurut Stooner (2001:194) adalah pemilihan diantara alternatif – alternatif. Keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah atau problem untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif (Atmosudirjo, dalam Hasan, 2002:9).

Keputusan (Decision) merupakan pilihan yang dibuat dari beberapa alternatif yang tersedia. Banyak orang yang berasumsi bahwa pembuatan pilihan merupakan hal terbesar dalam pengambilan keputusan, tetapi sebenarnya hanya merupakan salah satu bagiannya saja.

Dari definisi – definisi keputusan di atas maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa keputusan merupakan pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan suatu alternatif dari beberapa alternatif.

Sedangkan definisi pengambilan keputusan menurut beberapa ahli, yaitu :

Menurut Terry dalam Suwatno,dkk (2002:45) adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada).

Menurut Siagian (1980:82) adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.

Menurut Supranto (1998:1) adalah mengambil atau membuat keputusan berarti memecahkan permasalahan atau persoalan (problem solving).

Pengambilan Keputusan (Decision Making) adalah proses identifikasi masalah dan kesempatan untuk kemudian memecahkannya. Pengambilan keputusan melibatkan usaha, baik sebelum maupun sesudah pilihan aktual.

Dari definisi – definisi pengambilan keputusan di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan sebagai suatu cara pemecahan masalah).

b. Unsur – unsur Dalam Pengambilan Keputusan

Adapun unsur – unsur yang termasuk dalam pengambilan keputusan ialah : 1. Tujuan dari pengambilan keputusan.

2. Identifikasi alternatif-alternatif keputusan untuk memecahkan masalah. 3. Perhitungan mengenai faktor-faktor yang tidak dapat diketahui

sebelumnya/diluar jangkauan manusia.

4. Sarana atau alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan keputusan.

Pengambilan keputusan dalam suatu instansi atau lembaga bukanlah merupakan hal yang mudah, hal ini dikarenakan pengambilan keputusan selalu dibarengi dengan keadaan yang tidak pasti, ketidak jelasan informasi, ataupun ketimpangan informasi yang dapat memberikan resiko bagi instansi atau lembaga tersebut, oleh sebab itu dalam hal pengambilan keputusan terdapat 4 faktor yang menentukan pengambilan keputusan menurut Richard L Daft (2004:340), yaitu :

a. Kepastian (certainty), merupakan faktor yang dapat memberikan hal yang positif terhadap pengambilan keputusan. Dimana keadaan ketika adanya kepastian, pengambil keputusan memiliki seluruh informasi yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan yang bijaksana dan menguntungkan bagi instansi atau lembaga.

b. Risiko (risk), bahwa sebuah kepastian telah memiliki sasaran yang jelas dan didasarkan pada informasi yang baik, namun demikian pengambil keputusan belum mengetahui konsekuensi – konsekuensi yang jelas tentang bagaimana keputusan yang diambil tersebut dapat memberikan pengaruh bagi instansi atau lembaga, apakah keputusan tersebut mampu memberikan perubahan dan perbaikan ke arah yang lebih baik atau tidak. c. Ketidakpastian (uncertanity), bahwa keputusan yang diambil oleh

pimpinan instansi atau lembaga berdasarkan atas sasaran yang jelas serta informasi yang lengkap dan tersedia, namun keputusan tersebut tidak dapat mendeteksi kejadian – kejadian di masa yang akan datang/tidak dapat diterapkan untuk memproyeksikan masa yang akan datang.

d. Ambiguitas (ambiguity), suatu keadaan dimana informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan tidak lengkap dan tidak tersedia, sasaran – sasaran pengambilan keputusan juga tidak jelas, sehingga pengambil keputusan tidak dapat mencari solusi/keputusan yang terbaik bagi instansi atau lembaga yang ia pimpin. Hal ini tentu saja akan menurunkan kinerja yang akhirnya memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan instansi atau lembaga tersebut.

c. Fungsi Dan Tujuan Pengambilan Keputusan a. Fungsi Pengambilan Keputusan

1. Pangkal permulaan dari semua aktifitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual maupun kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional.

2. Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.

b. Tujuan Pengambilan Keputusan

1. Tujuan yang bersifat tunggal; yaitu terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain.

2. Tujuan yang bersifat ganda; yaitu apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil sekaligus memecahkan dua masalah (atau lebih), yang bersifat kontradiktif atau yang bersifat tidak kontradiktif.

d. Proses Pengambilan Keputusan

Proses pengambilan keputusan merupakan tahap – tahap yang harus dilakukan untuk membuat keputusan. Adapun proses pengambilan keputusan yang dimaksud ialah :

a. Perumusan Masalah, merupakan tahap dimana harus didefenisikan dengan jelas sehingga perbedaan antar masalah (problem) dan bukan masalah (issues) menjadi nyata atau jelas

b. Pemecahan Masalah, merupakan tahap dimana hal yang menjadi masalah kemudian diselesaikan dengan langkah – langkah sebagai berikut :

4. Identifikasi alternatif – alternatif keputusan untuk memecahkan masalah

5. Perhitungan mengenai faktor – faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau diluar jangkauan manusia, identifikasi peristiwa yang akan datang

6. Pembuatan alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil. 7. Pemilihan dan penggunaan model pengambilan keputusan.

c. Pengambilan Keputusan, berdasarkan pada keadaan lingkungan atau kondisi yang ada, seperti kondisi pasti, berisiko, kondisi tidak pasti, dan konflik.

Menurut Sir Francis Bacon dalam Supranto, (1998:1) terdiri dari mendefinisikan persoalan keputusan, pengumpulan informasi yang relevan, pengembangan alternatif – alternatif, evaluasi alternatif – alternatif, pemilihan alternatif terbaik, implementasi keputusan, dan evaluasi hasil.

e. Model – model Pengambilan Keputusan

Model pengambilan keputusan Richard L Daft (2004:348) ialah percontohan yang mengandung unsur yang bersifat penyederhanaan untuk dapat ditiru (jika perlu). Dimana pengambilan keputusan itu sendiri memerlukan sebuah model pengambilan keputusan yang tepat dan benar. Model pengambilan keputusan sangat penting dalam pengambilan keputusan untuk mengetahui apakah hubungan bersifat tunggal dari unsur – unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang ada

serta dapat memberikan gambaran tentang pengambilan keputusan yang dapat diterapkan. Model pengambilan keputusan ini terdiri dari :

a. Model klasik (classical model), merupakan suatu model pengambilan keputusan yang didasarkan atas asumsi ekonomis, artinya pimpinan instansi atau lembaga diharuskan untuk mengambil keputusan yang logis, dan selaras dengan tujuan program.

b. Model Administratif (administrative model), ialah suatu model pengambilan keputusan dimana pimpinan instansi dihadapkan dalam situasi yang sangat sulit, dalam hal ini misalnya program studi Akuntansi membutuhkan belanja barang sebanyak 5 jilid buku Modern Accounting seharga Rp. 1.500.000 sedangkan program studi Manajemen membutuhkan belanja barang sebanyak 3 jilid buku Management seharga Rp. 600.000, sedangkan anggaran yang tersedia untuk belanja barang program studi Akuntansi hanyalah sebanyak Rp. 1.200.000 dan program studi manajemen sebesar Rp. 500.000. Untuk mengambil keputusan dalam kondisi sulit seperti ini maka pimpinan instansi harus menerapkan model pengambilan keputusan administratif dengan mempertimbangkan kepuasan dan rasionalitas yang sangat terbatas (bounded rationality and statisfice) atau hanya dengan menggunakan intuisi semata yang berdasarkan atas pengalaman di masa lalu tanpa pemikiran yang mendalam.

c. Model politis (political model), merupakan model pengambilan keputusan dengan melibatkan seluruh anggota instansi atau lembaga yang ada dengan harapan dapat memberikan hasil keputusan yang sangat baik.

C .Proses Pengambilan Keputusan Dalam Menetapkan Anggaran

Dokumen terkait