• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.5. Policy Analysis Matrix (PAM)

4.5.2. Pengambilan Keputusan untuk Menentukan Nilai Ekonomi

Penggunaan harga pasar dan harga sosial dalam matriks PAM menunjukkan bahwa matriks PAM mencakup baik analisis finansial maupun analisis ekonomi. Selain perbedaan dalam penggunaan harga, perbedaan kedua analisis tersebut yaitu (Gittinger, 1986):

1) Biaya, dalam analisis ekonomi, biaya input adalah manfaat yang hilang bagi perekonomian karena input tersebut digunakan (opprtunity cost bagi input).

2) Pembayaran Transfer

a) Pajak, dalam analisis ekonomi pembayaran pajak tidak dikeluarkan dari manfaat kegiatan karena merupakan bagian dari hasil neto proyek yang diserahkan kepada pemerintah untuk digunakan bagi kepentingan masyarakat keseluruhan, oleh karena itu tidak dianggap biaya.

b) Subsidi, dalam analisis finansial subsidi mengurangi biaya proyek, sedangkan pada analisis ekonomi subsidi menurunkan harga barang-barang sehingga besarnya subsidi harus ditambahkan pada harga pasar untuk mendapatkan harga sosial.

Rasio Subsidi Bagi Produsen (SRP) = L / (E) Koefisien Keuntungan (PC) = D / H

c) Bunga, dalam analisis ekonomi bunga modal tidak dipisahkan atau dikurangkan dari hasil bruto. Sedangkan pada analisis finansial dibedakan antara (a) bunga yang dibayarkan kepada orang-orang dari luar yang meminjamkan uangnya kepada proyek dianggap sebagai biaya, dan (b) bunga atas modal proyek tidak dianggap sebagai biaya karena merupakan bagian dari pengembalian yang diterima oleh modal proyek.

Penyesuaian harga-harga dari analisis finansial ke analisis ekonomi dapat dilihat pada Gambar 6 (Gittinger, 1986). Diagram pengambilan keputusan digunakan dengan cara mengambil paket komoditas untuk dinilai di dalam proyek pertanian. Selanjutnya diikuti sepanjang diagram sampai akhir dari diagram tersebut tercapai, dimana saran penilaian untuk paket komoditas tersebut diperoleh.

Sumber : Gittinger, 1986

Gambar 6. Bagan A. Diagram Pengambilan Keputusan untuk Menentukan Nilai Ekonomi : Langkah-langkah Utama

Komoditas 

Sumber : Gittinger, 1986

Gambar 6. Bagan B. Diagram Pengambilan Keputusan untuk Menentukan Nilai Ekonomi : Pembayaran Transfer Langsung

Sumber : Gittinger, 1986

Gambar 6. Bagan C. Diagram Pengambilan Keputusan untuk Menentukan Nilai Ekonomi : Komoditas yang Diperdagangkan

Pembayaran 

Sumber : Gittinger, 1986

Gambar 6. Bagan D. Diagram Pengambilan Keputusan untuk Menentukan Nilai Ekonomi : Komoditas yang Tidak Diperdagangkan

4.6. Analisis Sensitivitas

Menurut Kadariah et al. (1978), analisis sensitivitas dilakukan dengan:

1) Mengubah besarnya variabel-variabel yang penting, masing-masing terpisah atau beberapa dalam kombinasi dengan suatu presentase dan menentukan seberapa peka hasil perhitungan terhadap perubahan-perubahan tersebut.

2) Menentukan dengan berapa suatu variabel harus berubah sampai ke hasil perhitungan yang membuat proyek tidak diterima.

Upah pasaran 

Analisis proyek membantu menentukan unsur-unsur kritikal yang berperan dalam menentukan hasil dan proyek. Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengubah suatu unsur atau kombinasi unsur kemudian menentukan pengaruh dari perubahan tersebut terhadap hasil analisis. Proyek cenderung sensitif terhadap kenaikan biaya oleh karena itu analisis sensitivitas terhadap biaya paling sering dilakukan.

Analisis sensitivitas yang akan dilakukan pada penelitian ini yaitu:

1. Kenaikan UMR sebesar 7% terhadap upah tenaga kerja 2. Kenaikan inflasi sebesar 4% terhadap harga input

3. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika sebesar 6%

4. Penurunan permintaan terhadap harga output sebesar 20%

5. Pengurangan subsidi BBM terhadap kenaikan harga premium sebesar 40%

dan minyak tanah sebesar 200%

6. Penghapusan PPN pakan ikan sebesar 10%

7. Adanya kelembagaan pemerintah 8. Analisis gabungan

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1. Sejarah Lokasi

Usaha pembenihan ikan patin Deddy Fish Farm (DFF) pada awalnya bernama Deddy-Budi Fish Farm (DBFF). DBFF didirikan tahun 1999 oleh kakak beradik Bapak Budi dan Bapak Deddy. Usaha ini dilakukan dengan menyewa rumah yang terletak di jalan Matoa Blok C No. 10A Komplek BTN Darmaga Permai, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Awalnya usaha DBFF masih bersifat sebagai pengumpul telur dari petani ikan di sekitar Bogor yang kemudian ditetaskan dan dipelihara hingga menjadi ukuran siap jual. Hal ini dikarenakan pada saat itu DBFF masih belum memiliki modal yang cukup untuk membeli sarana dan prasarana yang memadai untuk melakukan usaha pembenihan.

Tahun 2000, DBFF mampu memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk untuk melaksanakan usaha pembenihan ikan patin, sehingga pada tahun yang sama DBFF mengalihkan usahanya dari pengumpul telur menjadi pembenih ikan. Alasan utama DBFF memilih ikan patin sebagai produk usahanya karena pada saat itu ikan patin konsumsi merupakan komoditas yang banyak dicari oleh masyarakat terutama dari Sumatera dan Kalimantan. Selain itu, ikan patin merupakan ikan yang baru bisa dibudidayakan secara intensif sehingga peluang pasarnya memiliki prospek yang besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Selain ikan Patin, DBFF juga melakukan usaha sampingan yaitu beternak ikan hias seperti Tiger Catfish, Sinodontis, Discus, Stenopoma, dan Agamycus.

Bulan Agustus 2003, DBFF pindah lokasi ke Jalan Matoa Blok D No. 8A dan Blok A No. 10A Cihideung Hilir Komplek BTN Darmaga Permai, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Hal ini disebabkan oleh naiknya

permintaan benih terhadap DBFF sehingga DBFF memilih untuk pindah ke kedua lokasi tersebut untuk meningkatkan volume produksinya. Awalnya kedua lokasi digunakan untuk seluruh kegiatan pembenihan mulai dari pemeliharaan induk hingga pemeliharaan larva sampai siap jual. Akan tetapi pada tahun 2007, rumah yang berlokasi di Blok A No. 10A hanya digunakan untuk pemeliharaan larva hingga siap jual, sedangkan rumah yang berlokasi di Blok D No. 8A digunakan sebagai tempat memelihara induk, pemijahan, pendederan benih yang tertunda penjualannya, dan sebagai basecamp usaha.

Tahun 2006 akhir, Bapak Budi meninggalkan DBFF karena membuka usaha yang sama di daerah Kalimantan sehingga DBFF dipegang sepenuhnya oleh Bapak Deddy dan berganti nama menjadi Deddy Fish Farm. Tahun 2007 DFF menghentikan kontrak rumah yang terletak di Blok D No. 8A dan berpindah ke daerah Cibanteng Sawah, Cihideung Hilir. Di lokasi baru ini DFF melakukan kegiatan mulai dari pemeliharaan induk hingga pemeliharaan larva sampai siap jual, sedangkan rumah yang berlokasi di Blok A No. 10A tetap digunakan sebagai tempat pemeliharaan larva hingga siap jual. Di lokasi Cibanteng Sawah ini DFF memiliki kolam yang khusus digunakan untuk pemeliharaan induk dan pendederan. Di lokasi ini juga DFF mulai mengintensifkan pembenihan ikan bawal yang sebelumnya juga sudah digeluti.

Dokumen terkait