BAB V KEPALA SEKOLAH DALAM PROBLEM SOLVING
K. Pengambilan Keputusan untuk Mengembangkan Sekolah
Nilai demokratis menyatakan secara tidak langsung bahwa banyak orang yang mempengaruhi suatu keputusan yang akan dikonsultasikan. Gagasan ini adalah logika yang wajar dari suatu motto revolusioner: tidak ada perhitungan tanpa keterwakilan. Dalam suatu sistem persekolahan, hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan memiliki tidak hanya suatu dasar etika, tetapi sekaligus memberikan keuntungan praktis. Orang yang dipengaruhi oleh suatu keputusan mengetahui apa kebutuhan yang terbaik dan untuk apa perluasan kebijakan yang efektif dalam mencapai kebutuhan tersebut. Mereka begitu dekat pada situasi dan mengetahui atau dapat memahami kondisi yang terjadi dan memiliki taruhan khusus (yang kadang-kadang menjadi kepentingan) dalam melihat keputusan yang tidak akan mempengaruhi atau merugikan kepentingannya.
Menurut Newel (1992), pembuatan keputusan partisipatif dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik sebab sejumlah pemikiran orang diperkenalkan dalam memecahkan suatu masalah. Jika orang dilibatkan dalam membuat keputusan maka orang tersebut lebih suka untuk melaksanakan
keputusan itu secara efektif. Prosedur partisipasi dalam pembuatan keputusan membantu penyatuan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Partisipasi dalam pembuatan keputusan bermakna bagi perkembangan individu dan bagi upaya fungsionalisasi diri, proses membangun keterampilan kelompok dan pengembangan kompetensi kepemimpinan. Barangkali, nilai yang paling besar dari keikutsertaan dalam pengambilan keputusan adalah kekuatan pengertian yang disampaikan kepada individu. Peserta membutuhkan respek dari orang lain dalam rangka aktualisasi dirinya.
Berbagai penelitian menemukan bahwa orang memberikan respek dan memperoleh manfaat dari teknik pengambilan keputusan partisipatif. Temuan itu menunjukkan bahwa:
1. Individu kehilangan kepentingan dalam pemecahan masalah jika tidak terlibat secara aktif;
2. Partisipasi dalam pembuatan keputusan mengurangi penolakan terhadap perubahan, karena kelompok dapat terus berfungsi secara efektif meskipun kehilangan kedudukan sebagai pemimpin jika kepemimpinan telah dibagi dengan anggota kelompok;
3. Keterlibatan dalam pengawasan yang berhubungan dengan tugas dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja;
4. Interaksi kelompok seringkali mengarahkan untuk mengambil risiko lebih besar atas bagian daripada anggota kelompok, bahwa kelompok pembuat keputusan memperkuat nilai perilaku anggota kelompok yang secara umum diterima dalam budaya tertentu;
5. Partisipasi dalam pembuatan keputusan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kepuasan guru di sekolah;
Temuan penelitian di atas meneguhkan asumsi bahwa peningkatan peranan individu dan kelompok dalam proses pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas dan kepuasan diri yang lebih besar. Penelitian ini
juga menemukan bahwa peningkatan peranan manajemen (level) bawah dalam pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas.
Disamping temuan penelitian di atas, ada beberapa temuan berbeda yang diperoleh dalam penelitian Alutto dan Belasco (Newwel, 1978) yang telah meng- identifikasi tiga keadaan keputusan dari para guru, yaitu: (1) kehilangan (guru yang ingin lebih berpartisipasi); (2) keseimbangan (guru yang ingin tidak ada perubahan dalam partisipasinya sekarang); (3) kejenuhan (para guru yang ingin mengurangi partisipasinya). Temuan ini berdasarkan pandangan guru muda yang mengajar pada sekolah menengah di daerah pinggiran yang merasa kehilangan kesempatan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Sedangkan guru yang lebih tua pada sekolah dasar di daerah pertanian cenderung mengalami rasa jenuh yang sangat besar dalam pengambilan keputusan. Singkatnya, temuan penelitian secara umum mengindikasikan bahwa keterlibatan dalam pengambilan keputusan sangat disukai, tetapi struktur pembuatan keputusan harus cukup fleksibel untuk membolehkan bagi keragaman tingkat partisipasi.
Menurut Simon (1985: 177), aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi hubungannya dengan pengambilan keputusan adalah kewenangan, komunikasi, pelatihan, efisiensi dan loyalitas kepatuhan. Kelima aspek ini merupakan konsep yang dapat mendorong seseorang membuat dan melaksanakan keputusan organisasi. Di dalamnya ada premis nilai dan premis fakta. Oleh karena itu, kewenangan ada dalam struktur formal organisasi yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku seseorang sebagai anggota organisasi dibanding yang lainnya. Unity dan coordination membentuk group mind.
Simon (1985: 179) selanjutnya menyatakan bahwa "Authority is as the power to make decision which guide actions of anothers". Dalam hal ini pola perilaku dari kewenangan menurutnya adalah perintah. Kewenangan ada dalam hubungan antara atasan dengan bawahan. Oleh karena itu, pimpinan membuat dan
mengirimkan keputusan dengan harapan bawahan menerima. Sementara itu, bawahan berharap akan melakukan pekerjaan berdasarkan keputusan tersebut.
Cara manajer menentukan saat yang tepat menggunakan wewenangnya adalah dengan cara mengomunikasikan keputusan yang dibuatnya kepada bawahan untuk memelihara koordinasi perilaku dalam satu kelompok dimana keputusan atasan dikomunikasikan kepada yang lain. Dalam hal ini fungsi keputusan menurut Simon (1997: 187) ada tiga, yaitu (1) it enforce responsibility of the individual to choose who wield the authority; (2) it secures expertise in the making of decisions; (3) it permits coordination of activity. Dengan demikian, jika semua warga sekolah memahami fungsi keputusan yang mencakup upaya memperkuat tanggung jawab individu kepala sekolah bersama warga sekolah untuk mau menjalankan kewenangan, memelihara keahlian dalam membuat keputusan dan memungkinkan adanya koordinasi aktivitas maka konflik dapat dihindarkan di antara anggota organisasi sekolah.
Pertimbangan yang didijadikan sebagai premis dalam menggunakan wewenang adalah pertimbangan nilai dan pertimbangan fakta. Pertimbangan nilai menyangkut nilai, budaya, pandangan dan pengalaman seseorang yang dipakainya dalam menggunakan wewenang. Sedangkan pertimbangan fakta berdasarkan data dan informasi yang ada untuk digunakan dalam kewenangan organisasi. Kedua pertimbangan tersebut sangat penting difungsikan dalam wewenang karena dengan begitu akan dapat melahirkan loyalitas bawahan melaksanakan keputusan.
LATIHAN:
Jelaskan keputusan-keputusan dalam dunia pendidikan yang pernah dilakukan dalam lingkup sekolah Anda?
Uraikan bagaimana keterlibatan kepala sekolah, guru dan staf dalam pembuatan keputusan dalam kurikulum?
Jelaskan sistem apa yang digunakan dalam pengambilan keputusan di sekolah dan siapa yang terlibat?
Uraikan keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam pembagian keputusan di sekolah?
Jelaskan keputusan-keputusan apa saja yang tujuannya untuk pengembangan sekolah?
DAFTAR RUJUKAN
Akib, Haedar. 2007. Perubahan dan Pengembangan Organisasi Sekolah menuju Sekolah Efektif, (powerpoint), Direktorat Tenaga Kependidikan, Depdiknas Jakarta.
Anzizhan, Syafaruddin. 2006. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan, Grasindo Jakarta.
Beer, Michael. 1980. Organization Change and Development, Scott, Foresman and Company, Gleview Illinois, USA.
Bennis, Warren G. 1969. Organization Development, Addison-Wesley Publishing Company USA.
Cowley M., & Domb E. 1997. Beyond Strategic Vision, Butterworth-Heineman, Newton MA.
Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan, Pustaka Setia Bandung.
Depdiknas. 2000. Manajemen Sekolah, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan menengah, Direktur Sekolah Lanjutan Pertama, Jakarta.
Depdiknas. 2002. Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education), Dikdasmen, Jakarta.
Depdiknas. 2007. Kumpulan Makalah Sajian, Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.
French, Wendell L et al (ed.). 2000. Organization Development and Transformation: Managing Effective Change, Irwin McGrall-Hill Singapore.
Gilley, Jerry W and Ann Maycunich. 2000. Beyond the Learning Organization, Perseus Books Cambridge, Massachusetts.
Gouillart, Francis J., and James N. Kelly. 1995. Transforming the Organization, McGraw-Hill, Inc., New York.
Hasan, Iqbal. 2004. Teori Pengambilan Keputusan, Ghalia Indonesia, Bogor Selatan.
Indrawijaya, Adam. 1983. Perubahan dan Pengembangan Organisasi, Sinar Baru Bandung.
Iswanto, Yun dan Renny Purwanti. 2002. Manajemen Perubahan, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta.
Jalal, Fasli dan Dedi Supriadi. 2001. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah, Adicita Karya Nusa, Yogyakarta.
Kasali, Rhenald. 2006. Change, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Kotter J.P. 1996. Leading Change, Harvard Business School Press.
Lussier, Robert N and Christopher F. Achua. 2001. Leadership: Theory, Application, Skill Development, South-Western College Publishing, United States.
Marquardt, Michael J. 1996. Building the Learning Organization, McGraw-Hill Companies, Inc. USA.
Miles, R. 1997. Leading Corporate Transformation, Jossey Bass, San Francisco. McFarland, Dalton. 1979. Management, Foundations and Practices, Macmillan
Publishing Co,. Inc. New York and Collier Macmillan Publishers, London. Mulyasa, E. 2005. Menjadi Kepala Sekolah Profesional, PT. Remaja
Rosdakarya, Bandung.
Rachmany, Hasan. 2006. Kepemimpinan dan Kinerja, Yapensi Jakarta.
Sagala, Syaiful.2007. Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, Alfabeta Bandung.
Schein, Edgar H. 1992. Organizational Culture and Leadership, Jossey-Bass Publishers San Francisco.
Senge P., Kleiner, A., Roberts, C., Ross, & Smith, B. 1994. The Fifth Discipline Fieldbook, Dobleday new York.
Soenarno, Adi. 2007. Decision Making and Problem Solving: Games untuk Pelatihan Manajemen, ANDI Yogyakarta.
Sulaksana, Uyung. 2004. Manajemen Perubahan, Pustaka Pelajar Yogyakarta. Syafaruddin, Anzizhan. 2006. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan,
Grasindo Jakarta.
Trahant, B, Burke, W.W., & Koonce, R. Principles of Organizational Transformation, Management Review, 86 (8) September 1997, p. 17-21.
Wahjosumidjo. 2005. Kepemimpinan Kepala Sekolah, PT RajaGarfindo Persada; Jakarta.
Walton, Douglas C. 2000. Twelve Heuristics of Successful Organizational Transformation,
http://www.networkeddemocracy.com/www/pdf/12_heuristics.pdf (diakses 16 Agustus 2003).
Wharton. 2002. Leadership Made Simple, Wharton Books (S) Pte Ltd, Henderson Industrial Park Singapore.
EVALUASI PROSES DIKLAT