• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN ANALISIS

Q. Hasil dan pembahasan 1. PDRB dan Kemiskinan

3. Pengangguran terhadap kemiskinan

Presentase pengangguran terbuka di kota Yogyakarta tertinggi berada pada tahun 2001 sebesar 12,54% dan terendah pada tahun 2012 berkisar pada angka 5%. Pada tahun 1999 sampai tahun 2005 persentase pengangguran menunjukkan hasil positif dimana terjadinya penurunan sebanyak 4 kali dan hanya 2 kali kenaikan presentase jumlah penganggur terbuka ditahun 2000 dimana dari semula 11,64% menjadi 12,54% dan di tahun 2004 sebesar 5,57% menjadi 6,03% ditahun 2005. Untuk periode tahun 2005 sampai tahun 2013 terjadi perkembangan yang fluktuatif, dimana terjadi kenaikan dan penurunan yang cukup signifikan, seperti di tahun 2006 terjadi kenaikan sebanyak 2,6% menjadi hampir 10% ditahun 2007. Keberhasilan pengurangan pengangguran terjadi ditahun 2003 dimana

66

jumlah pengangguran menyusut dari sebanyak 11 % menjadi hanya berada di angka 6 %.

Tabel 4.7 Perbandingan Data Pengangguran dan Kemiskinan Di Kota Yogyakarta tahun 1999-2013

Tahun Pengangguran Kemiskinan

1999 12.04 12.34 2000 11.64 11.3 2001 12.54 11.67 2002 11.03 10.62 2003 6.41 8.86 2004 5.57 8.62 2005 6.03 8.76 2006 7.04 10.22 2007 9.64 9.78 2008 7.84 10.81 2009 7.03 10.05 2010 7.41 9.75 2011 5.57 9.62 2012 5.03 9.38 2013 6.57 9.38 Rata-rata 8.09 10.08

Presentase pengangguran terbuka di kota Yogyakarta tertinggi berada pada tahun 2001 sebesar 12,54% dan terendah pada tahun 2012 berkisar pada angka 5%. Pada tahun 1999 sampai tahun 2005 persentase pengangguran menunjukkan hasil positif dimana terjadinya penurunan sebanyak 4 kali dan hanya 2 kali kenaikan presentase jumlah penganggur

terbuka ditahun 2000 dimana dari semula 11,64% menjadi 12,54% dan di tahun 2004 sebesar 5,57% menjadi 6,03% ditahun 2005. Untuk periode tahun 2005 sampai tahun 2013 terjadi perkembangan yang fluktuatif, dimana terjadi kenaikan dan penurunan yang cukup signifikan, seperti di tahun 2006 terjadi kenaikan sebanyak 2,6% menjadi hampir 10% ditahun 2007. Keberhasilan pengurangan pengangguran terjadi ditahun 2003 dimana jumlah pengangguran menyusut dari sebanyak 11 % menjadi hanya berada di angka 6 %.

Kemiskinan tertinggi di Kota Yogyakarta terjadi pada tahun 1999 dimana mencapai lebih dari 10% dan terrendah pada tahun 2004 sebesar 8,62%. Pada tahun 1999 sampai tahun 2005, terjadi penurunan tingkat kemiskinan sebanyak 4 kali dan kenaikan presentase kemiskinan sebanyak 2 kali. Sedangkan untuk periode 2005 sampai tahun 2013, hanya terjadi 2 kali kenaikan presentase kemiskinan, yaitu di tahun 2006 sebesar 10,22% dan 2008 sebesar 10,81%. Selain di tahun-tahun tersebut, presentase kemiskinan di Kota Yogyakarta menunjukkan penurunan.

68

Gambar 4.3 Kuadran Pengangguran dan Kemiskinan

Grafik kuadran pada gambar 4.3 menunjukkan bahwa adanya hubungan yang berbanding searah atau positif dari variabel pengangguran dan kemiskinan. Sumbu X yang mewakili variabel pengangguran dimana semakin mengarah kekanan akan semakin mengarah kearah yang positif, dan sumbu Y mewakili variabel kemiskinan yang semakin keatas mengarah kearah positif. Keadaan titik-titik sumbu koordinat yang mewakili hubungan variabel pengangguran dan kemiskinan berada di kuadran yang menunjukkan hubungan positif-positif pada kuadran I, dan negatif-negaif pada kuadran IV. Dimana setiap terjadi kenaikan presentase pengangguran,

maka terjadi kenaikan pada variabel kemiskinan. Dan hal sebaliknya juga terjadi dari penurunan presentase pengangguran, maka variabel kemiskinan justru ikut mengalami penurunan.

Variabel pengangguran menunjukkan hubungan yang positif dan berpengaruh terhadap kemiskinan di kota Yogyakarta. Hasil uji hubungan keduanya ini cocok dengan teori menurut Sadono Sukirno (2004), menurutnya efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena menganggur tentunya akan meningkatkan peluang mereka terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki pendapatan.

69 BAB V PENUTUP

R. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Variabel PDRB menunjukkan hubungan yang negatif terhadap Kemiskinan di kota Yogyakarta. Hasil uji ini sesuai terhadap teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan teori menurut Kuznet (2001), pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat, karena pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang.

2. Variabel pendidikan terwakili dengan banyaknya siswa yang menamatkan jenjang menengah atas atau SLTA menunjukkan bahwa tingkat pendidikan memiliki efek berseberangan dengan kemiskinan. Dimana setiap terjadi kenaikan presentase lulusan menengah atas di kota Yogyakarta, akan menurunkan jumlah angka presentase kemiskinan. Hasil ini sesuai dengan teori menurut Simmons (dalam Todaro, 1994), pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan meningkat sehingga akan mendorong peningkatan produktivitas kerjanya.

Serta rendahnya produktivitas kaum miskin dapat disebabkan oleh rendahnya akses mereka untuk memperoleh pendidikan (Rasidin K dan Bonar M, 2004). 3. Variabel pengangguran menunjukkan hubungan yang positif dan berpengaruh

terhadap kemiskinan di kota Yogyakarta. Hasil penelitian kali ini cocok dengan teori menurut Sadono Sukirno (2004), menurutnya efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena menganggur tentunya akan meningkatkan peluang mereka terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki pendapatan.

4. Dari keseluruhan uji yang dilakukan, ketiga variabel independen yaitu variabel PDRB, Tingkat Pendidikan, dan variabel pengangguran dapat dinyatakan mempengaruhi variabel Kemiskinan yang mana sebagai variabel dependen pada penelitian ini.

S. Saran

1. Pemerintah perlu memberi perhatian yang lebih terkait kemiskinan di Indonesia. Sinerginya informasi dan kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan dapat lebih mengoptimalkan hasil yang diharapkan dapat mengurangi kemiskinan di Indonesia.

2. Hasil kebijakan pemerintah kota Yogyakarta terkait rencana aksi daerah penanggulangan kemiskinan dan pengangguran di kota Yogyakarta dapat

71

dikatakan berhasil untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Hal ini dapat dilihat dari data yang dihimpun oleh peneliti bahwa terjadi penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun mulai tahun 1999 sampai tahun 2013. Namun untuk masalah pengentasan pengangguran, pemerintah kota Yogyakarta perlu mengusahakan kebijakan yang lebih efektif untuk menguranginya.

3. Pendidikan yang tercermin dari besarnya lulusan sekolah menengah atas, memiliki pengaruh negatif terhadap kemiskinan, sehingga diharapkan pemerintah Kota Yogyakarta kembali menggalakkan program pemberantasan putus sekolah supaya dapat menekan kemiskinan di wilayah Kota Yogyakarta. Pengangguran berdasarkan hasil penelitian berpengaruh positif terhadap kemiskinan, dengan hasil tersebut diharapkan Pemerintah Kota Yogyakarta lebih menggerakkan sektor informal. Karena pengangguran dalam penelitian ini menggunakan data pengangguran terbuka, yang mana di dalamnya terdapat golongan masyarakat yang sedang dalam tahap menyiapkan usaha atau mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja yang dimasukkan dalam golongan pengangguran. Sehingga perlunya peningkatan sektor informal untuk menekan kemiskinan adalah karena sektor informal merupakan salah satu solusi masalah dalam mengatasi pengangguran.

72

Ali Muhson. 2009. Diktat Aplikasi Komputer. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Arsyad, Licolin. 1997. The Pattern Of Manufacturing Development In Indonesia In The Period 1976-1993.

____________. 2010, Ekonomi Pembangunan, Edisi Kelima, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.

BPS, berbagai publikasi angkatan kerja dan data inflasi. Diakses dari http://yogyakarta.bps.go.id diakses pada tanggal 30 April 2014

Cahyat. 2004. Bagaimana Kemiskinan Diukur ? Beberapa Model Penghitungan Kemiskinan di Indonesia. Governance Brief, 21 - 8.

Disnakertrans Propinsi DIY. Program Kegiatan penanganan Pengangguran Disnakertrans DIY Tahun 2013.

http://www.nakertrans.jogjaprov.go.id/contentdetil.php?kat=brta&id=NzA%3D&fle=Y29ud GVudC5waHA%3D&lback=a2F0PWJydGEmbGJhY2s9JnBhZ2U9Mw%3D%3D.

Yogyakarta:2013. diakses tanggal 7 Maret 2014.

Irdam Ahmad. (2013). Hubungan Antara Inflasi Dengan Tingkat Pengangguran; Pengujian Kurva Philips Dengan Data Indonesia, 1976-2006. Thesis. Jakarta.

___________. 1997, “Fenomena Tingkat Pengangguran di Indonesia I dan II”, Business News, 7 Juli 1997 dan 14 Juli 1997.

Imam Ghozali, 2002, Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Journal Of Indonesia Economics and Business (JEBI), vol-non, pp.non

Komariah, Aan dan Triatna, Cepi. 2005. Visionary Leadership: Menuju Sekolah Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Laman http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4314/espa4314a/materi_2_2.htm diakses tanggal 21 Juli 2014 pukul 12.29 WIB

Mulyati, Sri. Analisis hubungan inflasi dan pengangguran di indonesia periode 1985-2008: pendekatan kurva phillips. Diakses dari http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/14413 pada tanggal 7 Maret 2014

K. Sitepu, Rasidin dan Bonar M. Sinaga, 2004. Dampak Investasi Sumber Daya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium.

73

Kuncoro Mudrajad. 1997. Ekonomi pembangunan: teori, masalah, dan kebijakan. Sleman: Unit Penerbit dan Percetakan, Akademi Manajemen Perusahaan YKPN

________________. 2001. Metode Kuantitatif (Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi), Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN, Yogyakarta.

Mankiw Gregory. 2006. Pengantar ekonomi makro = Principles of economics edisi ketiga. Jakarta: Salemba Empat

Michael P. Todaro. 1994. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Edisi Kedua, Terjemahan Haris Munandar, Penerbit Erlangga, Jakarta.

______________. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Edisi ketujuh. Jakarta: Erlangga

Prabu Mangkunegara, Anwar. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Rasidin., Bonar., 2009, Dampak Infestasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia, Prisma, Hal. 17-31, No. 1.

Ravi D. W.2010.Analisis Pengaruh Pdrb, Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di Kabupaten / Kota Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008. Kumpulan Skripsi UNDIP: Semarang.

Rohman, Arif. 2009. Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: LBM Rohmat. 2010. Kepemimpinan Pendidikan: Konsep Dan Aplikasi. Purwokerto: STAIN Press Sukirno Sadono. 1983. Ekonomi Pembangunan. Jakarta: LP Universitas Indonesia.

_______. 2000. Makro Ekonomi Modern, Penerbit PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. _______. 2004. Mikroekonomi: Teori Pengantar (Edisi 3). Jakarta: Rajawali Press

Sasana, Hadi. 2006. Analisis Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah. (27 Agustus 2014)

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Tulus H. Tambunan, 2001, Perekonomian Indonesia, Penerbit Ghalia Indonesia,

Jakarta.

Umar, Husein. 2011. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Rajawali Press

75 LAMPIRAN

Rekap Data

Pertumbuhan Ekonomi Kota Yogyakarta atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 1999-2013 (dalam persen)

Tahun Jumlah Tahun Jumlah

1999 1.03 2007 4.46 2000 3.07 2008 5.12 2001 3.29 2009 4.46 2002 5.46 2010 5.97 2003 5.97 2011 5.35 2004 5.35 2012 6.76 2005 6.76 2013 5.64 2006 3.97

Rekap Data

Penduduk Kota Yogyakarta Menurut Pendidikan Tertinggi Menengah Atas yang ditamatkan Tahun 1999-2013

Tahun Jumlah (%) Tahun Jumlah (%)

1999 35.63 2007 38.57 2000 37.51 2008 36.34 2001 35.34 2009 39.21 2002 36.51 2010 39.59 2003 39.59 2011 40.86 2004 41.86 2012 41.47 2005 41.47 2013 41.47 2006 36.69

77

Rekap Data

Presentase Pengangguran Terbuka Kota Yogyakarta Tahun 2006-2012

Tahun Jumlah (%) Tahun Jumlah (%)

1999 12.04 2007 9.64 2000 11.64 2008 8.84 2001 12.54 2009 7.03 2002 11.03 2010 6.41 2003 6.41 2011 5.57 2004 5.57 2012 6.03 2005 6.03 2013 6.57 2006 5.34

Rekap Data

Presentase Penduduk Miskin di Kota Yogyakarta Tahun 1999-2013

Tahun Jumlah (%) Tahun Jumlah (%)

1999 12.34 2007 9.78 2000 11.3 2008 10.81 2001 11.67 2009 10.05 2002 10.62 2010 9.75 2003 8.86 2011 9.62 2004 8.62 2012 9.38 2005 8.76 2013 9.38 2006 10.22

Dokumen terkait