• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengangguran dan Produktivitas

Dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro 2018 (Halaman 73-78)

BAB III SASARAN DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN, SERTA ARAH KEBIJAKAN FISKAL

3.2.2 Pengangguran dan Produktivitas

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan yakni dari 6,14 persen di Agustus 2012 menjadi 5,61 persen di Agustus 2016. Namun demikian, penyerapan tenaga kerja dari setiap satu persen pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan, dan angka penyerapan tenaga kerja tersebut belum mampu mengurangi pekerja rentan secara signifikan. Di sisi lain, lebih dari separuh pekerja Indonesia berada di sektor informal dengan produktivitas relatif lebih rendah dibandingkan pekerja formal. Sementara itu, upah yang menjadi ukuran kualitas pekerjaan kadang-kadang tidak memadai, yang tercermin pada waktu kerja yang panjang, setengah menganggur, dan kurangnya perlindungan sosial. Permasalahan lain yang masih dihadapi adalah rendahnya kualitas pekerja Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia. Rendahnya kualitas pekerja disebabkan oleh produktivitas dan tingkat pendidikan rendah. Di sisi lain, ketidaksesuaian

antara kebutuhan industri dengan ketersediaan tenaga kerja yang ada menyebabkan perusahaan/industri mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas. Ketidaksesuaian ini disebabkan oleh masih relatif sedikitnya angkatan kerja yang memperoleh pelatihan dan mempunyai sertifikat kompetensi. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan daya saing tenaga kerja menjadi lemah. Oleh karena itu isu ini masih menjadi tantangan yang harus segera diatasi oleh pemerintah.

Dalam hal meningkatkan kualitas angkatan kerja, Indonesia masih menghadapi tantangan kualitas pendidikan khususnya pendidikan menengah. Kualitas pendidikan menengah yang masih rendah disebabkan terutama oleh belum meratanya ketersediaan fasilitas untuk mendukung proses belajar mengajar yang berkualitas di seluruh sekolah, meskipun hampir seluruh guru pendidikan menengah sudah berpendidikan S1/D4. Tantangan lainnya adalah masih relatif banyaknya Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang belum terakreditasi. Relevansi pendidikan menengah khususnya kejuruan juga masih rendah yang diindikasikan oleh lemahnya posisi karyawan yang berpendidikan menengah kejuruan di dunia usaha. SMK belum mampu membekali lulusan dengan keterampilan memadai, yang dapat menjadi pembeda upah (significant wage premium) dan kemudahan memperoleh pekerjaan dibanding sekolah umum. Selain itu, bidang-bidang studi yang dikembangkan di SMK belum sepenuhnya searah dengan kebutuhan dunia kerja. Rendahnya relevansi pendidikan menengah juga disebabkan oleh kurangnya kerja sama lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri. Sebagai dampak, tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK pada tahun 2016 merupakan yang tertinggi (11,11 persen) di antara semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ke depan perbaikan program pendidikan vokasi ini harus terus dilakukan guna menciptakan tenaga kerja-tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha/industri dan mampu mendorong penciptaan wirausaha- wirausaha baru.

Boks 2 KesetaraanGenderSebagai Tantangan Pembangunan

Berbagai kebijakan dan program yang dilakukan oleh Pemerintah telah berhasil meningkatkan kesetaraan genderyang tercermin dari membaiknya indikator IPG (Indeks PembangunanGender). IPG merupakan indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia yang pada dasarnya sama seperti IPM namun lebih memperhatikan ketimpangangender. Berdasarkan data BPS, IPG di Indonesia membaik, dari 89,42 pada tahun 2010 meningkat menjadi 91,03 di tahun 2015. Di sisi pendidikan, terjadi peningkatan kesempatan bagi perempuan untuk bersekolah yang tercermin dari angka harapan lama sekolah perempuan dan laki-laki yang relatif sama dan meningkatnya APM Sekolah Dasar Perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa program pemerintah untuk pengarusutamaangenderberkontribusi untuk meningkatkan kemampuan dasar perempuan Indonesia

Grafik 25 Tren Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah Dasar Tahun 2009-2015 (%)

Sumber: BPS

Namun demikian, kesetaraangendermasih merupakan salah satu isu pembangunan dimana tingkat partisipasi perempuan Indonesia di perekonomian masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain. Pada tahun 2015, nilaiHuman Development Index(HDI) untuk perempuan di Indonesia hanya sebesar 0,660 yang relatif lebih rendah dibandingkan HDI laki-laki yang mencapai 0,712. Selain itu, Indeks PembangunanGender/Gender Development Index(GDI) Indonesia masih sedikit lebih rendah yakni 0,926 jika dibandingkan dengan rata-rata GDI Asia Timur dan Pasifik yang telah mencapai tingkat 0,956. GDI ini mengindikasikan kesetaraan pembangunan yang penuh antara perempuan dan laki-laki, dimana nilai GDI 1 adalah tingkat kesetaraan sempurna. Kesenjangan gender antarprovinsi juga relatif tinggi dimana IPG tertinggi berada di DKI Jakarta (94,60) dan IPG terendah berada di Papua (78,57). Sedangkan dari sisi kesempatan kerja, kesenjangan antara perempuan dan laki-laki masih cukup tinggi yang dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Untuk tahun 2015, TPAK perempuan adalah 48,9 persen, jauh di bawah TPAK laki-laki yaitu 82,7 persen. Di tahun yang sama, kontribusi usaha kecil dan menengah (UKM) yang dimiliki perempuan terhadap PDB juga masih rendah yakni hanya sekitar 9,1 persen.

Menyadari kondisi tantangan gender di atas, Pemerintah akan terus berupaya mendorong potensi peran perempuan Indonesia. Perempuan diharapkan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi, produktivitas, dan pengurangan kemiskinan serta ketimpangan di Indonesia. Meningkatnya partisipasi perempuan dalam perekonomian tersebut akan mampu mendorong ekonomi untuk tumbuh lebih tinggi. Meningkatnya peran perempuan dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan juga akan mengurangi ketidaksetaraan antargenerasi serta memperbaiki kualitas pertumbuhan anak-anak di masa yang akan datang. Dalam rangka mendorong peningkatan peran perempuan di perekonomian, kebijakan yang dapat ditempuh diantaranya melaluigender responsif budgeting(ARG) atau anggaran yang mengakomodasi keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, manfaat, berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan mengontrol sumber daya serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam menikmati hasil pembangunan.

Di sisi lain, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja juga masih rendah. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di tahun 2015 mencapai 48,87 persen, jauh

94,49 94,79 91,48 92,50 95,63 96,53 96,00 94,24 94,65 90,37 92,34 95,41 96,20 96,42 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Laki-laki Perempuan

tertinggal dibandingkan TPAK laki-laki yang mencapai 82,71 persen. Masalah ketimpangan terlihat pada tingkat upah pekerja perempuan yang relatif lebih rendah atau bekerja tanpa upah untuk keluarga. Perempuan bekerja dengan bayaran rendah atau tanpa upah mewakili sekitar 43 persen perempuan pekerja yang berada di bawah garis kemiskinan dan 29 persen perempuan pekerja yang berada di atas garis kemiskinan dengan rata-rata bekerja 29 jam per minggu. Oleh karena itu partisipasi perempuan dalam angkatan kerja masih perlu terus didorong. Mendorong perempuan masuk ke pekerjaan dengan tingkat upah yang lebih baik berpotensi meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mengurangi kemiskinan serta memperbaiki tingkat produktivitas nasional.

Grafik 26 TPAK Menurut Usia dan Jenis Kelamin Tahun 2015 (%)

Sumber: Sakernas 2015, diolah

Selain sisi ketenagakerjaan, keterbatasan dari sisi penawaran di dalam negeri untuk memenuhi permintaan dan menjamin pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam periode sebelumnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi terutama bertumpu pada peningkatan dari sisi permintaan. Namun, karena keterbatasan sisi penawaran, kondisi tersebut menyebabkan overheating

perekonomian yang tergambar dari tingginya inflasi. Pada saat yang sama, permintaan tinggi tidak dapat diimbangi oleh pasokan dari dalam negeri sehingga mendorong kenaikan impor. Faktor ini pada gilirannya menyebabkan meningkatnya defisit neraca perdagangan. Menyadari kondisi tersebut, pemerintah pada saat ini menitikberatkan strategi pembangunan untuk mengatasi tantangan keterbatasan sisi penawaran terutama melalui perbaikan kapasitas produksi nasional.

Tantangan dalam perbaikan kapasitas produksi nasional akan meliputi berbagai aspek penting seperti perbaikan produktivitas ekonomi, efisiensi pasar, dukungan pasar keuangan,

65,76 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49 51 53 55 57 59 61 63 65 Umur

dan perbaikan sumber daya manusia. Dalam hal perbaikan produktivitas ekonomi, Indonesia masih harus mengatasi terbatasnya ketersediaan infrastruktur, pasokan energi, serta kualitas sumber daya manusia.

Di sisi lain, keterbatasan kapasitas dan kualitas sistem logistik, yang mencakup transportasi, serta pelabuhan dapat menghambat laju distribusi barang dan jasa baik untuk pasar domestik maupun pasar internasional. Kondisi ini mendorong naiknya biaya logistik sehingga mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar global dan disparitas harga barang dan jasa yang cukup besar antarwilayah di Indonesia karena inflasi.

Selain itu, peningkatan aktivitas produksi tentu juga harus didukung dengan pasokan energi yang memadai. Saat ini dengan rasio elektrifikasi nasional yang baru mencapai 84 persen, defisit energi listrik masih menjadi permasalahan utama, terutama di kawasan luar Jawa. Hilirisasi industri dan pembangunan industri maritim yang merupakan sektor penting bagi peningkatan perekonomian di kawasan luar Jawa sangat tergantung pada ketersediaan pasokan listrik misalnya untuksmelterdan fasilitas pendingin. Dengan demikian, ketersediaan energi harus terus ditingkatkan tentunya dengan memperhatikan penggunaan energi baru dan terbarukan.

Hal lain yang menjadi permasalahan utama dari pembangunan nasional adalah masih rendahnya tingkat produksi barang-barang yang mempunyai nilai tambah tinggi. Potensi ekonomi dari komoditi primer hasil kekayaan alam Indonesia yang melimpah belum termanfaatkan secara optimal. Komoditi primer tersebut sebagian besar diekspor langsung ke pasar global tanpa melalui proses penambahan nilai. Jika bisa dikembangkan dengan baik maka implikasinya produksi yang meningkat juga akan melahirkan industri-industri pengolahan di dalam negeri. Secara langsung, hal tersebut akan mendorong perekonomian Indonesia yang mampu tumbuh lebih tinggi dan dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas. Peningkatan produktivitas dan nilai tambahoutputsektor primer tidak dapat terlepas dari pemanfaatan teknologi tepat guna. Pemanfaatan teknologi tepat guna juga memungkinkan mekanisme transmisi yang lebih baik dari sektor primer ke sektor lain yang menggunakannya, sehingga mendorong pemanfaatan rantai nilai (value chain) yang lebih tinggi. Dengan demikian tantangan dalam pembangunan sektor primer di masa yang akan datang adalah mendorong investasi sektor primer untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan pertambangan yang mampu memenuhi kebutuhan domestik dan meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja yang berada di sektor tersebut.

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi nasional, masih diperlukan sumber-sumber pembiayaan untuk mengatasi terbatasnya ketersediaan infrastruktur, pasokan energi, serta kualitas sumber daya manusia. Namun demikian, dengan mempertimbangkan kemampuan

fiskal saat ini relatif terbatas, diperlukan upaya untuk menggali sumber-sumber pembiayaan pembangunan yang lain misalnya dari sektor keuangan domestik.

Upaya peningkatan peran sektor keuangan domestik dalam membiayai investasi perekonomian masih menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Belum optimalnya peran sektor keuangan domestik serta tingginya ketergantungan terhadap pendanaan dari luar negeri dapat mengakibatkan rentannya perekonomian domestik terhadap gejolak eksternal. Saat ini, masih terdapat potensi pengembangan sektor keuangan, baik dari segi fungsi intermediasi oleh perbankan, Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), maupun pasar modal. Beberapa indikator yang perlu menjadi perhatian diantaranya ukuran aset lembaga keuangan seperti bank, asuransi, dan dana pensiun yang masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan regional. Selain itu, ukuran dan cakupan produk keuangan seperti penyaluran kredit perbankan, penerbitan obligasi bagi sektor riil, maupun penerbitan saham yang juga masih relatif rendah. Diperlukan upaya bersama baik pemerintah, BUMN maupun pihak swasta untuk terus mengembangkan alternatif sumber-sumber pembiayaan dalam rangka mendukung tercapainya sasaran-sasaran pembangunan nasional.

Seiring dengan program Subsidi dan Bansos di atas, konsistensi pembangunan infrastruktur pemerintah juga masih perlu terus dijaga. Kondisi ini diperlukan untuk menimbulkan konfidensi dari dunia usaha. Selain perbaikan iklim investasi (ease of doing business), kepercayaan dari dunia usaha menjadi elemen penting untuk mengurangi tingkat kemiskinan, pengangguran, hingga ketimpangan pendapatan. Peningkatan ketersediaan lapangan pekerjaan akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan angka kemiskinan.

3.2.3 Kapasitas Fiskal Pusat dan Daerah (Domestic Resource Mobilization/DRM)

Dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro 2018 (Halaman 73-78)