• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PROSES PENGANGKATAN ANAK (ADOPSI) PADA

C. Pengangkatan Anak Menurut Aturan Hukum Positif

Pengangkatan anak dan anak angkat termasuk bagian dari hukum perlindungan anak yang telah menjadi bagian dari hukum yang hidup dan berkembang di masyarakat sesuai dengan adat istiadat dan motivasi yang berbeda- beda serta perasaan hukum yang hidup dan berkembang di masing-masing daerah, walaupun di Indonesia masalah pengangkatan anak tersebut belum diatur secara khusus dalam undang-undang tersendiri.

Di Indonesia, pengangkatan anak telah menjadi kebutuhan masyarakat dan menjadi bagian dari sistem hukum kekeluargaan, karena menyangkut kepentingan orang per orang dalam keluarga. Secara faktual diakui bahwa pengangkatan anak telah menjadi bagian dari adat kebiasaan masyarakat muslim di Indonesia dan telah merambah dalam praktik melalui lembaga peradilan agama, maka sebelum terbentuknya undang-undang yang mengatur secara khusus, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden no. 1 Tahun 1991 tentang penyebarluaskan Kompilasi Hukum Islam. Pada pasal 171 huruf h disebutkan bahwa “anak angkat adalah anak yang dalam hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya

66

pendidikan dan lain sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal

kepada orang tua angkatnya berdasarkan keputusan pengadilan.”26

Pengertian pengangkatan anak dalam Kompilasi Hukum Islam tersebut, jika dibandingkan dengan pengertian anak angkat dalam undang-undang No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak, memiliki kesamaan substansi. Pasal 1

angka 9 dinyatakan bahwa “anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari

lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan pembesaran anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan keputusan

pengadilan.”27

Hal penting yang perlu digarisbawahi bahwa pengangkatan anak harus dilakukan dengan proses hukum dengan prosuk penetapan pengadilan. Jika hukum berfungsi sebagai penjaga ketertiban dan rekayasa sosial, maka pengangkatan anak harus dilakukan melalui penetapan pengadilan tersebut merupakan kemajuan ke arah penertiban praktik hukum pengangkatan anak yang hidup di tengah-tengah masyarakat, agar peristiwa pengangkatan anak di kemudian hari memiliki kepastian hukum baik bagi anak angkat maupun bagi orang tua angkat. Praktik pengangkatan anak yang dilakukan melalui pengadilan tersebut, telah berkembang baik di lingkungan pengadilan negeri maupun pengadilan agama bagi yang beragama Islam.

26

Republik Indonesia, Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991, tentang Penyebarluasan Konpilasi Hukum Islam, Pasal 171 huruf h.

27

Republik Indonesia, Undang-Undang No.23 Tahun 2002 , tentang Perlindungan Anak, pasal 1 angka 9.

Pengadilan dalam lingkungan peradilan agama, sebagaimana salah satu lembaga kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan bagi yang beragama Islam, selama ini telah menangani perkara permohonan pengangkatan anak yang diajukan oleh orang-orang Islam berdasarkan hukum Islam. Pengadilan agama terikat dengan suatu asas pokok hukum kekuasaan kehakiman bahwa “Pengadilan tidak boleh menolak perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan

mengadilinya.”28

Oleh karena itu, hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai- nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat, 29 maka pengangkatan anak dalam kontek saling tolong-menolong dan semangat penelusuran hukum sesuai dengan asas komitmen akidah sebagian besar bangsa Indonesia sebagai salah satu unsur dan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat menjadi salah satu poin penting yang dijadikan dasar pertimbangan hukum oleh hakim Pengadilan Agama dalam memutus perkara permohonan pengangkatan anak.

Mahmud Syaltut menyatakan bahwa pengangkatan anak dalam konteks mengangkat anak orang lain yang diperlakukan seperti memperlakukan anak sendiri dalam hal kasih sayang, nafkah sehari-hari, pendidikan dan lain-lain, tanpa

28

Lihat Pasal 16 ayat (1) UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.

29

68

harus menyamakannya sebagai anak kandung, maka pengangkatan anak seperti itu dalam Islam dibenarkan.30

Pengangkatan anak dalam Islam pada zaman sekarang sebenarnya merupakan pemeliharaan dan pengasuhan anak, bukan hanya bagi orang tua kandung saja, namun pengasuhan oleh orang tua lain yang bukan orang tua kandungnya dengan tidak sama sekali merubah hubungan nasab, mahram, hubungan wali mewali dan hubungan waris-mewaris dengan orang tua angkat, karena pada hakikatnya anak angkat tetap memakai nama dari bapak kandung dan tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandung.31 Perubahan yang terjadi hanya perpindahan tanggung jawab pemeliharaan, pengawasan, dan pendidikan dari orang tua asli kepada orang tua angkat.

Agama Islam tidak memungkiri adanya anak angkat sejauh untuk memberi kesejahteraan dan pendidikan kepada si anak, yang tidak diperkenankan oleh agama Islam adalah memutuskan hubungan darah antara si anak kandung dengan orang tua kandungnya sehingga segala akibat sebagai anak kandung tidaklah terhapus oleh pengangkatan anak. Ayah angkat tidak akan dapat menjadi wali nikah dari anak angkat yang perempuan yang tetap menjadi hak daripada ayah kandung.32

30

Mahmud Syaltut, Al-Fatawa, (Kairo: Daar Al- syuruk, 1991), h. 321.

31

M. Budiarto, Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Segi Hukum, h. 28

32

B. Bastian Tafal, Pengangkatan anak Menurut Hukum Adat serta Akibat-Akibat Hukumnya di Kemudian Hari, hal. 155

D. Akibat Hukum Pengangkatan Anak

Suatu perbuatan hukum akan selalu menimbulkan akibat hukum pula di kemudian hari. Seperti halnya dalam perbuatan hukum berupa pengangkatan anak, perlu adanya suatu bukti tertulis berupa penetapan pengadilan. Pengangkatan anak dengan tanpa suatu bukti tertulis akan menimbulkan permasalahan terutama mengenai beban pembuktian di hari kemudian apabila terjadi suatu sengketa.

Seperti yang sudah di paparkan sebelumnya bahwa pengangkatan anak harus dilakukan dengan proses hukum melalui penetapan pengadilan. Karena jika hukum berfungsi sebagai penjaga ketertiban dan rekayasa sosial, maka pengangkatan anak harus dilakukan melalui penetapan pengadilan tersebut merupakan kemajuan ke arah penertiban praktik hukum pengangkatan anak yang hidup di tengah-tengah masyarakat, agar peristiwa pengangkatan anak di kemudian hari memiliki kepastian hukum baik bagi anak angkat maupun bagi orang tua angkat.

Sesuai dengan pernyataan di atas, seorang anak yang diangkat oleh orang tua angkat apabila dalam proses pengangkatan anak tidak melalui proses penetapan pengadilan maka anak tersebut tidak mendapatkan kepastian hukum dan akan menimbulkan masalah apabila terjadi suatu sengketa di kemudian hari. Dan perlu diketahui bahwa pengangkatan anak tanpa penetapan pengadilan tersebut tidak terjadi akibat hukum di kemudian hari, baik dalam hal nasab, perwalian, hubungan mahrom, dan juga dalam hal waris.

70

Dan pengangkatan anak tanpa penetapan pengadilan tidak sah menurut negara, namun dalam hukum Islam pengangkatan seperti ini sah karena pada dasarnya pengangkatan anak dalam hukum Islam menggariskan bahwa hubungan hukum antara orang tua angkat dengan anak angkat terbatas sebagai hubungan antara orang tua asuh dengan anak asuh yang diperluas,33 dan sama sekali tidak menciptakan nasab.

Akibat hukum dari pengangkatan anak dalam Islam hanyalah terciptanya hubungan kasih dan sayang dan hubungan tanggung jawab sebagai sesama manusia. Karena tidak ada hubungan nasab, maka konsekuensi hukum lainnya adalah orang tua angkat dengan anak angkat harus menjaga mahram, dan tidak ada hubungan nasab, maka keduanya dapat melangsungkan pernikahan. Rasulullah SAW diperintahkan untuk menikahi seorang janda Zaid bin Haritsah anak angkatnya, hal ini menunjukkan bahwa antara Nabi Muhammad dan Zaid bin Haritsah tidak ada hubungan nasab, kecuali hanya hubungan kasih sayang sebagai orang tua angkat dengan orang tua angkatnya.34

Seperti halnya pengangkatan anak di Yayasan Siran Malik, proses pengangkatan anak tersebut dilakukan dengan secara lisan saja dengan disaksikan kedua belah pihak keluarga baik dari keluarga yang mengangkat dan keluarga yang diangkat tanpa adanya penetapan pengadilan. Sebenarnya penetapan

33

Pengangkatan anak dalam Islam konteksnya lebih tepat disebut anak asuh yang diperluas. Rifyal Ka’bah menyebutkannya dengan istilah hadlanah yang diperluas. Anak asuh yang diperluas, karena dalam pengangkatan anak harus melalui proses penetapan pengadilan, sedangkan pengasuhan anak tidak memerlukan suatu proses penetapan pengadilan.

34

pengangkatan anak dari pengadilan tidak diperlukan lagi apabila keluarga orang tua angkat masing-masing mempunyai itikad yang baik terhadap kehadiran anak angkat, sehingga pengangkatan anak yang sudah sah dilakukan meskipun hanya secara adat saja sudah cukup untuk menjamin kedudukan anak angkat tersebut.

72

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagaimana yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Proses pengangkatan anak di Yayasan Siran Malik Pesantren Al Falah pada umumnya tidak ditetapkan di pengadilan, tapi cukup dilihat dan disaksikan oleh pihak keluarga. Sistem yang dipakai adalah tidak terang dan tidak tunai, dimana dalam pelaksanaan pengangkatan anak yang dilakukan secara diam- diam tanpa mengundang keluarga seluruhnya, hanya keluarga tertentu saja, tidak dihadiri oleh pemuka desa dan tidak dengan pembayaran uang adat. Karena pengangkatan anak secara tidak terang dan tidak tunai, anak angkat tersebut tidak putus hubungan hukum dengan orang tua aslinya walaupun bertempat tinggal dan dipelihara keluarga orang tua angkatnya serta mewaris dari orang tua asalnya.

2. Masyarakat pada umumnya mengetahui bahwa pengangkatan anak merupakan pengalihan hak seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua atau wali yang sah kedalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan keputusan pengadilan. Tapi masih banyak orang tua yang tidak mengindahkan pernyataan tersebut dengan tidak mencatatkan anak angkatnya di pengadilan. Pengangkatan anak yang dilakukan secara lisan dan tidak ditetapkan di

pengadilan merupakan pengangkatan anak yang sah menurut agama sepanjang tidak melenceng dari syariat Islam. Namun memang pengangkatan anak yang tidak ditetapkan di pengadilan dianggap tidak sah tidak mempunyai ketetapan hukum dan bukti-bukti yang sah menurut aturan hukum yang berlaku.

B. Saran

Saran – saran yang perlu disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini, yaitu :

1. Pengangkatan anak atau adopsi bukanlah satu-satunya jalan untuk melakukan perlindungan anak karena pada dasarnya yang berkewajiban melakukan perlindungan anak adalah orang tua kandung si anak. Maka dari itu para orang tua perlu diberikan pemahaman mengenai perlindungan anak dan Komnas perlindungan anak juga perlu mensosialisasikan undang-undang perlindungan anak tersebut.

2. Masyarakat hendaknya lebih peduli terhadap sesama dengan tidak membiarkan anak yatim atau anak-anak terlantar berkeliaran di jalan. Masyarakat diwajibkan mengangkat anak tersebut dengan tujuan untuk menolong si anak agar tidak terlantar, dan melindungi dirinya dari kesusahan dan kelaparan. Hal semacam ini dianjurkan karena salah satu kewajiban sesama muslim agar saling tolong- menolong terhadap sesama manusia.

74

3. Orang tua angkat yang hendak mengangkat anak diharapkan terlebih dahulu mengetahui hakekat pengangkatan anak dalam konsep Islam sehingga dikemudian hari tidak akan menimbulkan dampak hukum bagi anak yang diadopsi dan orang tua serta keluarganya. Dan bagi orang tua yang melakukan adopsi hendaknya memelihara anak tersebut dengan sebaik-baiknya, penuh kasih sayang layaknya anak sendiri, diberikan pendidikan agar menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.

70

Al-Qur’an Dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, 2004

Anis, Ibrahim dan abd.halim muntasir et al. Al-Mu’jam Al-Wasith, Jilid.II. Mesir:

Majma’ Al-Lughah Al-Arabiah, 1392h/1972m.

Basyir, Ahmad Azhar. Kawin Campur, Adopsi, Wasiat Menurut Islam, Bandung: PT

Al-Ma’rif, 1972.

Budiarto, M. pengangkatan anak ditinjau dari segi hukum. Jakarta: Akademika Pressindo, 1985.

Bushar, Muhammad. Pokok-Pokok Hukum Adat, Jakarta: Pradnya Paramita, 1985. Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai

Pustaka, 2005.

Echols , Jhon. M. dan Hasan Sadly. Kamus Ingris Indonesia, cet.XXV, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Fauzan, M. Perbedaan Mendasar Akibat Hukum Penetapan Pengangkatana Anak

Pengadilan Negeri Dan Pengadilan Agama, Varia Peradilan no 256, MA RI,

Jakarta Maret 2007.

Fauzan, Pengangkatan Anak Bagi Keluarga Muslim Wewenang Absolut Peradilan

Agama, Majalah Mimbar Hukum, No. X, Edisi Desember 1999.

Hadikusuma, Hilman. Hukum Perkawinan Adat, Jakarta: Fajar Agung, 1987. Hamzah, Andi. Kamus Hukum, Jakarta: PT. Ghalia, 1986.

Haroen, Nasroen. Ensiklopedi Hukum Islam, cet.III. Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Houve, 1999.

Haroen, Nasroen. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005. Hatta, Ahmad. Tafsir al-Qur’an Per Kata Dilengkapi Dengan Ashabun Nuzul dan

Terjemahnya, cet.IV, Jakarta: Maghfiroh Pustaka, 2009.

Ibrahim, Johny. Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, cet.IV. Edisi Revisi. Malang: Bayumedia Publishing, 2008.

71

Jufri, Mufidah Saggaf. al-Laqit dan Tabqnni, Makalah, tp. 2004

Kamil, Achmad dan Fauzan, H.M.. Hukum Perlindungan Dan Pengangkatan Anak

Di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.

Martosedono, Amir, Tanya Jawab Pengangkatan Anak dan Masalahnya,cet.II. Semarang: Effhar Offset Semarang, 1990.

Moch Fachruddin, Fuad. Masalah Anak Dalam Hukum Islam Anak Kandung, Anak

Tiri, Anak Angkat, Dan Zina, Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1991.

Mujib, Abdul. Kamus Istilah Fiqih, cet.I, Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 1994. Profile Yayasan Siran Malik Pesantren Al-Falah

Qardhawi, Yusuf. Halal dan Haram Dalam Islam, Surakarta: Era Intermedia, 2005. Rasyid, Raihan. Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan agama, Jakarta: PT Logos

Wacana Ilmu, 1999.

Sayis, Muhammad Ali. Tafsir Ayat al-Ahkam, jilid 14, Mesir: Matba’ah Ali Shabih wa Awadin, 1372 H/1953 M.

Soekanto, Soerjono. Hukum Adat indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2001. Soekanto, Soerjono. Kamus Hukum Adat, cet.I, Bandung: Alumni, 1978.

Soepomo, Bab-bab Tentang Hukum Adat, Jakarta: Pustaka Rakyat, 1976.

Soepomo, Rd. Hukum Perdata Adat Jawa Barat, cet.II, Jakarta: Penerbit Djambatan, 1982.

Soeroso, R. Perbandingan Hukum Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2003. Subekti dan Tjorosudibio, Kamus hukum, Jakarta: PT. Pradya Paramita, 1970.

Sudiyat, Imam. Hukum Adat Sketsa Asas, cet.II, Yogyakarta: LIBERTI Yogyakarta, 1981.

SY, Mustofa. Pengangkatan Anak Kewenangan Pengadilan Agama, cet.II, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.

Syamsu Alam, Andi dan Fauzan. Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam,

Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007.

Tafal, B. Bastian. Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat Serta Akibat-Akibat

Hukumnya Di Kemudian Hari, cet.II, edisi.I, Jakarta: CV. Rajawali, 1989.

Warsen Munawwir, Achmad. Kamus Al- Munawwir, Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.

Yanggo, Chuzaimah Tahido. Problematika Hukum Islam Kontemporer, cet-I, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996.

Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indonesia, Jakarta: PT Hadi Karya Agung.

Zahabi, Muhammad Husain. al-Syariah al-Islamiyah: Dirasat Muqaranah baina

Mazahiib Ahl Sunnah wal al-Mazahab al-Ja’fariah. Mesir: Dar al-Qutub al-

Hadits.

Zaini, Muderis. Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum, cet.IV, Jakarta: Sinar Grafika, 2002.

Dokumen terkait