• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengantar Pewarnaan (Warna RGB dan Greyscale)

BAB II. TEORI PENUNJANG

2.5 Pengantar Pewarnaan (Warna RGB dan Greyscale)

2.5. Pengantar Pewarnaan (Warna RGB dan Greyscale)

Model warna RGB (red, green, blue) mendeskripsikan warna sebagai kombinasi positif dari 3 warna, yaitu merah, hijau, dan biru sehingga membentuk sebuah warna C dengan rumusan sebagai berikut:

C = rR + gG + bB...(7) Jika skalar rgb di beri harga antara 0 dan 1, maka semua definisi warna akan berada dalam kubus seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 2.7. Ruang Warna

Ruang warna tersebut adalah dasar dari warna display monitor komputer. Garis sepanjang titik hitam (0,0,0) RGB hingga titik putih (1,1,1) RGB disebut dengan titik keabuan atau graylevel.

Sehingga dengan mudah didapatkan hubungan antara RGB dengan graylevel (greyscale) adalah:

(a)Grayscale < --- > ( a,a,a) RGB 2.5.1. Warna RGB

Setiap titik pada layar berisi angka yang bukan menunjukkan intensitas warna dari titik tersebut, melainkan menunjukkan nomor dari warna yang dipilih, dimana pada tiap titik kita dapat memilih sebanyak 256 warna. Jika suatu citra memiliki 256 warna, maka fungsi-fungsi yang dimiliki oleh pengolahan citra tidak dapat mengolah tidak dapat mengolah atau memanipulasinya secara langsung. Hal ini karena citra tersebut tidak memiliki suatu

tigkat kecerahan tertentu. Sedang masingmasing palette warna tabel memiliki tiga buah kombinasi angka, yaitu R (red), G (green B(blue) yang menentukan proporsi dari warna merah, hijau, dan biru. Dengan demikian diketahui bahwa dalam suatu pixel diwakili dengan 3 byte memori yang masing-masing terdiri dari 1 byte untuk warna merah, 1 byte untuk warna hijau, 1 byte untuk warna biru.

Gambar 2.8. Komponen RGB

Hal tersebut berbeda dengan citra greyscale yang merupakan ratarata dari citra RGB. Citra digital berwarna terdiri dari 3 komponen matrik yaitu matrik RED, GREEN dan BLUE. Setiap matrik mengandung informasi intensitas warna komponen dengan masing-masing resolusi sebesar 8 bit. Jadi untuk citra digital berwarna menggunakan sistem 24 bit biru.

Contoh gambar berwarna (RGB) yang dipisahkan menjadi masingmasing komponen penyusunnya, yaitu merah, hijau, dan biru dapat ditunjukkan pada gambar 2.5.

Dari definisi diatas untuk menyajikan warna tertentu dapat dengan mudah dilakukan, yaitu dengan mencampurkan ketiga warna dasar RGB, Tabel 2.1berikut memperlihatkan contoh-contoh warna yang biasa digunakan.

23

tigkat kecerahan tertentu. Sedang masingmasing palette warna tabel green), dan ) yang menentukan proporsi dari warna merah, hijau, dan pixel akan masing terdiri dari 1 arna merah, 1 byte untuk warna hijau, 1 byte untuk

Hal tersebut berbeda dengan citra greyscale yang merupakan ratarata dari citra RGB. Citra digital berwarna terdiri dan BLUE. Setiap matrik mengandung informasi intensitas warna komponen masing resolusi sebesar 8 bit. Jadi untuk citra digital Contoh gambar berwarna (RGB) yang dipisahkan menjadi komponen penyusunnya, yaitu merah, hijau, dan biru Dari definisi diatas untuk menyajikan warna tertentu dapat dengan mudah dilakukan, yaitu dengan mencampurkan ketiga warna contoh warna

24

Tabel 2. 1 Contoh-contoh warna dalam hexadecimal

Untuk mengetahui kombinasi warna, perlu dibuat suatu program yang dapat menampilkan warna sesuai dengan nilai yang dimasukkan sehingga dapat dicoba berbagai macam kombinasi warna RGB seperti gambar 2.6.

2.5.2. Warna Tingkat Keabuan (Greyscale)

Kecerahan dari citra yang disimpan dengan cara pemberian nomor pada tiap-tiap pixelnya. Semakin tinggi nomor pixelnya maka makin terang (putih) pixel tersebut. Sedangkan semakin kecil nilai suatu pixel, mengakibatkan warna pada pixel tersebut menjadi gelap. Dalam sistem kecerahan yang umum terdapat 256 tingkat untuk setiap pixel Skala kecerahan seperti ini dikenal sebagai greyscale.

Proses greyscale ini bertujuan untuk merubah citra 24 bit RGB menjadi citra abu-abu. Pemilihan pemrosesan pada tingkat abu-abu ini dipilih karena lebih sederhana, yaitu hanya menggunakan sedikit kombinasi warna. Dan dengan citra abu-abu dirasakan sudah cukup untuk memproses image yang semula berupa RGB. Prinsip perubahan citra dari 24 bit RGB menjadi citra abu-abu adalah dengan menghitung rata-rata dari intensitas Red, Green, dan Blue dari citra 24 bit RGB. Jadi intensitas warna dibuat seragam untuk memudahkan proses selanjutnya.

Dapat kami jelaskan kembali seperti diatas pengubahan image RGB menjadi Greyscale adalah pengubahan data 24 bit menjadi data 8 bit, sehingga image akan lebih sederhana pada proses selanjutnya.

25

Gray = ……….…….(8)

Gray = √ + + ………..(9)

Gray = ( 0.31 x R ) + ( 0.59 x G ) + ( 0.11 x B )……….(10)

Gambar 2.9. Contoh grayscale

2.5.3. Thresholding

Metode ini merupakan metode pemrosesan citra yang digunakan untuk mengonversi data image menjadi data biner dengan tujuan agar proses selanjutnya lebih mudah. Citra biner umumnya lebih mudah untuk dianalisa daripada citra greyscale. Oleh karena itu seringkali diperlukan thresholding untuk mengubah citra greyscale menjadi citra biner, sehingga dapat dengan mudah

26

dipisahkan antara daerah background dan foreground. Thresholding mengubah nilai pixel menjadi bernilai 1 jika lebih besar daripada nilai threshold tertentu dan bernilai 0 jika lebih kecil daripada nilai threshold.

Prosesnya adalah mengganti setiap intensitas warna yang ada dalam citra tersebut. Jika intensitasnya diganti dengan ‘0’, sedangkan jika intensitas warnanya lebih besar, maka intensitasnya diganti dengan K-1, dimana K adalah konstanta yang sudah ditentukan sebelumnya, misalnya 256. Metode thresholding ini sangat baik digunakan untuk memisahkan antara obyek dengan background yang agak gelap atau sebaliknya. Secara matematis, metode tersebut memiliki model sebagai berikut :

F(x.y) = 0. f(x,y) ≤ T

K-1, f(x,y) > T …………...(11) melakukan thresholding dengan derajat keabuan dapat digunakan rumus:

x = b.int (w/b) ...(12) dimana :

w adalah nilai derajat keabuan sebelum thresholding x adalah nilai derajat keabuan setelah thresholding

b = int (256/a) ...(13) Berikut ini contoh thresholding mulai di 256, 16, 4, dan 2.

27

Gambar 2.10. Contoh thresholding

Untuk mencoba melakukan proses thresholding, perlu dibuat program untuk dapat mengubah-ubah nilai tresholding sesuai keinginan. Sehingga perlu ditampilkan dua citra, yaitu citra asli (gray-scale) dan hasil thresholding-nya dengan nilai thresholding yang ditentukan melalui input.

2.5.4. Integral Proyeksi

Integral proyeksi adalah proses pengubahan bentuk dari suatu gambar menjadi sebuah model grafik. Teknik integral proyeksi adalah dengan melakukan pembatasan grafik baik dari sisi horizontal (batas kiri dan kanan) maupun dari sisi vertikal (batas atas dan bawah).

Untuk mengubah suatu gambar ke model grafik didalam integral proyeksi, dihitung dengan persamaan:

Grafik

=

(( ∗ ) )………...(14) nilai integral proyeksi dapat dihitung berdasarkan nilai total dari pixel pixel pada suatu baris atau kolom.

Dokumen terkait