BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan Penelitian
4.2.1 Pengaruh akad pembiayaan Natural Certainty Contracts (NCC)
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat dijelaskan bahwa variabel akad pembiayaan jenis NCC sebagai variabel independen menunjukan nilai koefisien yang positif serta nilai thitung dengan probabilitias sebesar 0,0000, itu artinya bahwa variabel akad pembiayaan NCC berpengaruh positif signifikan terhadap peningkatan profitabilitas bank umum syariah yang direpresentasikan melalui Return On Asset (ROA). Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ismail (2011: 110) bahwa, manfaat yang didapatkan oleh bank dengan adanya pembiayaan maka bank mendapatkan balas jasa berupa margin keuntungan dari akad murabahah dan istishna’ serta keuntungan dari sewa-menyewa menggunakan akad ijarah, sehingga hal itu dapat meningkatkan profitabilitas bank yang dapat tercantum pada perolehan laba yang ada. Pada dasarnya keuntungan berupa margin dan pendapatan dari sewa merupakan karakteristik dari akad pembiayaan jenis NCC.
Akad jenis NCC merupakan akad pembiayaan atau kontrak bisnis yang lazim dipraktikan oleh bank syariah, dimana pada akad jenis ini terdapat tingkat kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing). Dalam kontrak ini menawarkan return yang tetap dan pasti. Objek pertukarannya baik barang atau jasa harus ditetapkan di awal akad dengan pasti, baik jumlah
118
(quantity), mutunya (quality), harganya (price) dan waktu penyerahannya (time of
delivery). Menurut Karim (2014: 51) kelompok akad yang masuk dalam jenis ini
adalah akad jual-beli (murabahah, salam, istisna’) dan sewa menyewa (ijarah). Pada akad pembiayaan jenis NCC, sebagian bank umum syariah sudah menerapkan pembiayaan dengan menggunakan akad murabahah, ijarah dan
istishna’, akan tetapi yang paling mendominasi dari akad jenis ini ialah akad murabahah. Sebagaimana Karim (2014: 113) mengatakan bahwa salah satu skim
fiqih yang paling populer digunakan oleh perbankan syariah adalah skim jual beli dengan menggunakan akad murabahah. Selain Karim (2014), Muhammad (2005: 120) juga mengatakan bahwa bank syariah pada umumnya telah menggunakan
murabahah sebagai metode pembiayaan bank syariah yang utama. Hal ini pun dapat
dibuktikan dengan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 pendapatan dari kelompok akad pembiayaan jenis NCC,
murabahah mendominasi sebesar Rp. 41,7 miliar rupiah atau 97,3% dan sisanya
oleh akad pembiayaan ijarah dan istishna’. Hal ini menandakan bahwa akad pembiayaan murabahah penyumbang terbanyak di dalam kelompok akad pembiayaan jenis NCC.
Dominannya praktik akad pembiayaan murabahah dari jenis pengkelompokan akad pembiayaan NCC didasarkan pada bahwa bank umum syariah menghindari bentuk risiko dalam aktifitasnya. Hal ini pun diungkapkan oleh Muhammad (2005: 121 & 130) bahwa murabahah benar-benar metode investasi yang bebas akan risiko. Selanjutnya alasan lain untuk menjelaskan popularitas
119
dominan disebabkan oleh; pertama, murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek yang cukup memudahkan dibandingkan dengan menggunakan sistem bagi hasil. Kedua, mark up pada murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sesuai kesepakatan antara nasabah dan bank, sehingga bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding. Ketiga, murabahah jauh akan ketidakpasitian dari penerimaan pendapatan yang dilakukan. Keempat, dalam akad murabahah bank tidak mencampuri manajemen bisnis nasabah, karna dalam akad murabahah bank bukanlah mitra si nasabah, melainkan hubungannya sebatas kreditur dan debitur. Pengertian akad pembiayaan murabahah sendiri ialah akad jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang telah disepakati.
Menurut pandangan penulis apa yang telah dikatakan Muhammad (2005) sebagaimana yang telah penulis jabarkan di atas bahwa dominannya akad pembiayaan murabahah dalam praktiknya dilembaga keuangan syariah dengan alasan-alasan tersebut berlaku juga kepada akad pembiayaan ijarah dan istishna’. Seperti telah dipraktikan oleh sebagian bank umum syariah yang mempraktikan akad pembiayaan ijarah dan akad pembiayaan istishna’ dimana kedua akad pebiayaan ini juga termasuk ke dalam pembiayaan jenis NCC, yang mana ijarah dan istishna’ juga merupakan investasi jangka pendek, mark up keuntungan juga dapat disesuaikan kepada nasabah, ijarah dan istishna’ jauh dari ketidakpastian pendapatan sebagaimana pada pengertian akad pembiayaan NCC itu sendiri, dan bank juga tidak mencampuri manajemen bisnis nasabah, karna pada dasarnya akad pembiayaan jenis NCC dilihat dari segi tujuannya merupakan akad pembiayaan konsumtif bukan pembiayaan produktif dan jika dari segi penggunaannya
120
merupakan pembiayaan jenis multi guna. Selain itu, terkait pembiayaan akad ijarah Muhammad (2005: 147) mengatakan bahwa pembiayaan ijarah memiliki kesamaan perlakukan dengan pembiayaan murabahah, akan tetapi untuk sampai saat ini mayoritas produk pembiayaan di bank syariah masih terfokus kepada produk-produk murabahah. Lanjutnya menjelaskan juga perbedaan antara murabahah dan
ijarah terletak hanya kepada objek transaksi yang diperjual-belikan, misalnya di
akad murabahah yang menjadi objek adalah barang, maka diakad ijarah yang menjadi objek transaksinya adalah jasa. Selain itu, dengan pembiayaan murabahah, bank syariah hanya dapat melayani kebutuhan nasabah untuk memiliki barang, dan nasabah yang membutuhkan jasa tidak dapat dilayani. Sedangkan keberadaan akad pembiayaan istishna’ menurut Antonio (2001: 114) didasarkan atas kebutuhan masyarakat yang banyak seringkali memerlukan barang yang tidak tersedia di pasar. Sehingga mereka yang membutuhkan cenderung melakukan kontrak agar mendapatkan barang yang mereka butuhkan dengan pembayaran yang boleh diawal, angsuran atau ditangguhkan sesuai dengan kesepakatan pada saat akad diawal yang tentu ini berbeda dengan pembiayaan menggunakan akad salam, dimana nasabah harus mendahulukan pembayaran pada waktu akad.
Pengertian kedua akad ijarah dan istishna’ itu sendiri ialah akad sewa-menyewa atau pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pembayaran upah sewa baik dengan diikuti pemindahan kepemilikan atau tidak atas barang itu sendiri sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan yang biasa disebut ijarah. Sedangkan akad istishna’ ialah merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang, di dalam kontrak ini pembuat barang menerima pesanan dari
121
pembeli dengan spesifikasi tertentu. Dalam hal pembayarannya pada akad istishna’ dapat dilakukan di muka, angsuran dan atau ditangguhkan sampai jangka waktu pada masa yang akan datang sesuai dengan kesepakatan diawal.
Oleh karena itu, hasil yang didapatkan dalam penelitian ini mendukung dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, seperti dalam penelitian Khopsoh (2011), Rochmanika (2012), Oktriani (2012), Susanti (2016) dan Hidayah (2013) yang menyatakan bahwa pembiayaan jenis NCC dengan akad jual beli dan sewa-menyewa dapat mempengaruhi profitabilitas secara positif signifikan.
4.2.2 Pengaruh Akad Pembiayaan Natural Uncertainty Contracts (NUC)