IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Hasil penelitian
4.2.6. Pengaruh Bibit, Pakan dan Tenaga Kerja terhadap
Uji Normalitas
Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model
regresi variable pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Untuk
menguji apakah data penelitian ini terdistribusi normal atau tidak dapat diketahui
melalui 2 cara yaitu analisis grafik dan analisis statistik
Cara mudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat
probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal.
Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan ploting data
Gambar 4.1. Normal P-Plot of Regression Standardized Residual
Dengan melihat tampilan grafik normal plot pada Gambar 4.1. dapat
disimpulkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah
garis diagonalnya. Hal ini menunjukan data residual berdistribusi normal.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan kurva Skewness dan Kurtois
menunjukkan bahwa hasil uji normalitas yang diperoleh adalah Skewness kurva
adalah 2,331 dengan standar error sebesar 1,309. Kurtois kurva adalah 2,576
dengan standar error sebesar 1,608. Dari data tersebut bisa diperoleh rasio
Skewness dan rasio Kurtois dengan membagi nilai Skewness dan Kurtois dengan
standard errornya. Rasio Skewness sebesar 1,780 dan rasio Kurtois sebesar 1,601.
Dari hasil tersebut terlihat bahwa rasio Skewness dan Kurtois berada pada kisaran
-2 sampai +2, sehingga bisa disimpulkan bahwa distribusi kurva pertumbuhan
ekonomi adalah normal.
Expected Cum Prob
Dependent Variable: Pendapatan Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka
dinamakan terdapat problem Multikolinieritas. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Pengujian ada
tidaknya gejala multikolinearitas dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks
korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance
Inflation Faktor) dan Tolerance-nya. Nilai dari VIF yang kurang dari 10 dan
tolerance yang lebih dari 0,10 maka menandakan bahwa tidak terjadi adanya
gejala multikolinearitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi
tersebut tidak terdapat problem multikolinieritas.
Tabel 4.19. Hasil Uji Multikolinieritas
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
Biaya Bibit .282 3.544
Biaya Pakan .191 5.236
Biaya Tenaga Kerja .120 8.368
a Dependent Variable: Pendapatan
Dari perhitungan menggunakan program SPSS dapat kita ketahui bahwa
nilai VIF dan tolerance sebagai berikut : Variabel biaya bibit mempunyai nilai
VIF sebesar 3,544 dan tolerance sebesar 0,282. Variabel biaya pakan mempunyai
nilai VIF sebesar 5,236 dan tolerance sebesar 0,191. Variabel tenaga kerja
mempunyai nilai VIF sebesar 8,368 dan tolerance sebesar 0,120.
Dari ketentuan yang ada bahwa jika nilai VIF < 10 dan tolerance > 0,10
analisis diatas dapat diketahui nilai toleransi semua variabel independen (biaya
bibit, biaya pakan, dan biaya tenaga kerja) lebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang
dari 10 maka dapat disimpulkan bahwa variabel independennya tidak terjadi
multikolinieritas sehingga model tersebut telah memenuhi syarat asumsi klasik
dalam analisis regresi.
Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan
melihat grafik scatterplots.
Gambar 4.2. Grafik scatterplots
Dari grafik scatterplots pada Gambar 4.2. menunjukkan bahwa titik-titik
menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada
-2-1Regression Standardized Predicted Value01234
-2
0246
8
Regressi
on Studentized Residual
Dependent Variable: Pendapatan Scatterplot
sumbu Y dan tidak membentuk pola tertentu yang teratur, hal ini dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
4.2.6.2. Peternak Sapi Potong Intensif
Dengan menggunakan persamaan regresi berganda, dibentuk fungsi
persamaan pendapatan peternak sapi potong intensif. Variabel-variabel yang
dianggap memberikan pengaruh terhadap pendapatan peternak sapi potong
intensif ini adalah : biaya bibit (B), biaya pakan (P), dan biaya tenaga kerja (TK).
Seluruh variable tersebut secara serentak dimasukkan kedalam persamaan regresi
berganda, diperoleh hasil sebagai berikut :
Y = -13464788,389 + 1,035 BB + 2,044 BP + 1,130 TK
Tabel 4.20. Hasil Analisis Regresi Berganda Peternak Sapi Potong Intensif
Variabel Koefisien t-hitung Signifikan Keterangan
Konstanta Biaya Bibit Biaya Pakan
Biaya Tenaga Kerja
-13464788,389 1,035 2,044 1,130 2,979 3,577 1,809 0,006 0,001 0,082 * * tn R t-tabel 2 F-hitung F-tabel 0,938 2,042 131,045 2,89 Sumber : Data Primer diolah, 2011
Keterangan : * = nyata
tn = tidak nyata
Untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan
variasi variabel pendapatan peternak sapi potong intensif maka dapat dilihat dari
nilai koefisien determinasinya (R2). Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien
determinasi untuk model ini adalah 0,938. Artinya bahwa 93,8 % pendapatan
biaya tenaga kerja. Sedangkan 6,2% (100 % - 93,8 %) dipengaruhi oleh faktor-
faktor lain yang tidak dapat dijelaskan dalam model ini. Koefisien determinasi
(R2
Tabel 4.20. menunjukkan bahwa model regresi ini memiliki nilai F-hitung
131,045 sedangkan nilai F-tabel 0.05 (2,89). Berdasarkan kriteria keputusan,
maka Ha diterima karena F-hitung lebih besar dari F-tabel. Itu artinya variabel
biaya bibit, biaya pakan, dan biaya tenaga kerja secara bersama-sama mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong intensif. ) di atas termasuk cukup tinggi karena mendekati nilai 1 namun untuk melihat
seberapa jauh signifikan pengaruh faktor biaya bibit, biaya pakan dan biaya
tenaga kerja secara bersama-sama terhadap pendapatan peternak sapi potong
intensif maka perlu dilakukan uji signifikansi simultan (Uji F).
Dengan pengujian simultan di atas telah diketahui, bahwa seluruh variabel
bebas secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel
terikat. Namun perlu diketahui pula variabel bebas mana yang memiliki pengaruh
yang lebih signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong intensif, apakah
variabel biaya bibit, biaya pakan, atau biaya tenaga kerja. Untuk melihat itu, maka
perlu dilakukan pengujian parsial (Uji t).
Dari hasil pengujian parsial (Uji t), dapat diketahui bahwa variabel bebas
yang memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap pendapatan peternak sapi
potong intensif adalah variabel biaya pakan dimana nilai t-hitung variabel biaya
Persamaan regresi linier berganda di atas dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Konstanta (b0) sebesar -13464788,389, artinya jika tidak terdapat pengaruh
dari biaya bibit, biaya pakan, dan biaya tenaga kerja maka pendapatan
peternak sapi potong intensif akan tetap sebesar Rp. – 13.464788,389.
b. Koefisien regresi X1 (b1) = 1,035 menunjukkan bahwa biaya bibit
berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak sapi potong intensif. Jika
setiap peternak sapi potong intensif mengeluarkan biaya bibit sebesar Rp. 1
maka pendapatan peternak sapi potong intensif akan bertambah sebesar Rp.
1,373. Variabel biaya bibit memiliki nilai t-hitung 2,979 sedangkan nilai t-
tabel 0.05 (2,042). Berdasarkan kriteria keputusan, maka H0 ditolak karena t-
hitung lebih besar dari t-tabel. Itu artinya variabel biaya bibit mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong intensif.
c. Koefisien regresi X2 (b2) = 2,044 menunjukkan bahwa biaya pakan
berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak sapi potong intensif. Jika
setiap peternak sapi potong intensif mengeluarkan biaya pakan sebesar Rp. 1
maka pendapatan peternak sapi potong intensif akan bertambah sebesar Rp.
2,044. Variabel biaya pakan memiliki nilai t-hitung 3,577 sedangkan nilai t-
tabel 0.05 (2,042). Berdasarkan kriteria keputusan, maka H0 ditolak karena t-
hitung lebih besar dari t-tabel. Itu artinya variabel biaya pakan mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong intensif.
d. Koefisien regresi X3 (b3) = 1,130 menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja
berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak sapi potong intensif. Jika
biaya tenaga kerja peternak sapi potong intensif meningkat Rp. 1 maka
Variabel tenaga kerja memiliki nilai t-hitung 1,809 sedangkan nilai t-tabel
0.05 (2,042). Berdasarkan kriteria keputusan, maka H0 diterima karena t-
hitung lebih kecil dari t-tabel. Itu artinya variabel biaya tenaga kerja
mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap pendapatan peternak sapi
potong intensif.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa biaya bibit, biaya pakan, dan
biaya tenaga kerja menunjukkan pengaruh yang positif terhadap pendapatan
peternak sapi potong intensif. Hal itu berarti bahwa semakin tinggi biaya bibit,
biaya pakan, dan biaya tenaga kerja maka semakin tinggi pendapatan peternak
sapi potong intensif.
4.2.6.3. Peternak Sapi Potong Tradisional
Dengan menggunakan persamaan regresi berganda, dibentuk fungsi
persamaan pendapatan peternak sapi potong tradisional. Variabel-variabel yang
dianggap memberikan pengaruh terhadap pendapatan peternak sapi potong
tradisional ini adalah : biaya bibit (B), biaya pakan (P), dan biaya tenaga kerja
(TK). Seluruh variable tersebut secara serentak dimasukkan kedalam persamaan
Y = 814967,654 + 1,138 BB + 1,754 BP + 0,812 TK
Tabel 4.21. Hasil Analisis Regresi Berganda Peternak Sapi Potong Tradisional
Variabel Koefisien t-hitung Signifikan Keterangan
Konstanta Biaya Bibit Biaya Pakan
Biaya Tenaga Kerja
814967,654 1,138 1,754 0,812 22,713 2,985 1,993 0,000 0,006 0,057 * * tn R t-tabel (5%) 2 F-hitung F-tabel (5%) 0,995 2,042 1782,772 2,89 Sumber : Data Primer diolah, 2011
Keterangan : * = nyata
tn = tidak nyata
Untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan
variasi variabel pendapatan peternak sapi potong intensif maka dapat dilihat dari
nilai koefisien determinasinya (R2). Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien
determinasi untuk model ini adalah 0,995. Artinya bahwa 99,5 % pendapatan
peternak sapi potong tradisional dipengaruhi oleh faktor biaya bibit, biaya pakan,
dan biaya tenaga kerja. Sedangkan 0,5% (100 % - 99,5 %) dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain yang tidak dapat dijelaskan dalam model ini. Koefisien
determinasi (R2
Tabel 4.21. menunjukkan bahwa model regresi ini memiliki nilai F-hitung
1782,77 sedangkan nilai F-tabel 0.05 (2,89). Berdasarkan kriteria keputusan,
maka Ha diterima karena F-hitung lebih besar dari F-tabel. Itu artinya variabel ) di atas termasuk cukup tinggi karena mendekati nilai 1 namun
untuk melihat seberapa jauh signifikan pengaruh faktor biaya bibit, biaya pakan
dan biaya tenaga kerja secara bersama-sama terhadap pendapatan peternak sapi
biaya bibit, biaya pakan, dan biaya tenaga kerja secara bersama-sama mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong tradisional.
Dengan pengujian simultan di atas telah diketahui, bahwa seluruh variabel
bebas secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel
terikat. Namun perlu diketahui pula variabel bebas mana yang memiliki pengaruh
yang lebih signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong tradisional,
apakah variabel biaya bibit, biaya pakan, atau biaya tenaga kerja. Untuk melihat
itu, maka perlu dilakukan pengujian parsial (Uji t).
Dari hasil pengujian parsial (Uji t), dapat diketahui bahwa variabel bebas
yang memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap pendapatan peternak sapi
potong intensif adalah variabel biaya bibit dimana nilai t-hitung variabel biaya
bibit lebih besar dari nilai t-hitung variabel biaya pakan dan biaya tenaga kerja.
Persamaan regresi linier berganda di atas dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Konstanta (b0) sebesar 814967,654, artinya jika tidak terdapat pengaruh dari
biaya bibit, biaya pakan, dan biaya tenaga kerja maka pendapatan peternak
sapi potong tradisional akan tetap sebesar Rp. 814.967,654.
b. Koefisien regresi X1 (b1) = 1,138 menunjukkan bahwa biaya bibit
berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak sapi potong tradisional. Jika
setiap peternak sapi potong tradisional mengeluarkan biaya bibit sebesar Rp. 1
maka pendapatan peternak sapi potong tradisional akan bertambah sebesar Rp.
1,138. Variabel biaya bibit memiliki nilai t-hitung 22,713 sedangkan nilai t-
tabel 0.05 (2,042). Berdasarkan kriteria keputusan, maka H0 ditolak karena t-
pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong
tradisional.
c. Koefisien regresi X2 (b2) = 1,754 menunjukkan bahwa biaya pakan
berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak sapi potong tradisional. Jika
setiap peternak sapi potong tradisional mengeluarkan biaya pakan sebesar Rp.
1 maka pendapatan peternak sapi potong tradisional akan bertambah sebesar
Rp. 2,044. Variabel biaya pakan memiliki nilai t-hitung 2,985 sedangkan nilai
t-tabel 0.05 (2,042). Berdasarkan kriteria keputusan, maka H0 ditolak karena
t-hitung lebih besar dari t-tabel. Itu artinya variabel biaya pakan mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong
tradisional.
d. Koefisien regresi X3 (b3) = 0,812 menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja
berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak sapi potong tradisional. Jika
biaya tenaga kerja peternak sapi potong tradisional meningkat Rp. 1 maka
pendapatan peternak sapi potong tradisional bertambah sebesar Rp. 0,812.
Variabel tenaga kerja memiliki nilai t-hitung 1,993 sedangkan nilai t-tabel
0.05 (2,042). Berdasarkan kriteria keputusan, maka H0 diterima karena t-
hitung lebih kecil dari t-tabel. Itu artinya variabel biaya tenaga kerja
mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap pendapatan peternak sapi
potong tradisional.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa biaya bibit, biaya pakan, dan
biaya tenaga kerja menunjukkan pengaruh yang positif terhadap pendapatan
biaya pakan, dan biaya tenaga kerja maka semakin tinggi pendapatan peternak
sapi potong tradisional.
4.2.6.4. Peternak Sapi Potong Potong Intensif dan Tradisional
Dengan menggunakan persamaan regresi berganda, dibentuk fungsi
persamaan pendapatan peternak sapi potong. Variabel-variabel yang dianggap
memberikan pengaruh terhadap pendapatan peternak sapi potong ini adalah :
biaya bibit (B), biaya pakan (P), dan biaya tenaga kerja (TK). Seluruh variable
tersebut secara serentak dimasukkan kedalam persamaan regresi berganda,
diperoleh hasil sebagai berikut :
Y = -4362773.013 + 1,373 BB + 1,166 BP + 0,656 TK
Tabel 4.22. Hasil Analisis Regresi Berganda Peternak Sapi Potong Secara Intensif dan Tradisional
Variabel Koefisien t-hitung Signifikan Keterangan
Konstanta Biaya Bibit Biaya Pakan
Biaya Tenaga Kerja
-4362773,013 1,373 1,166 0,656 11,041 4,585 1,717 0,000 0,000 0,092 * * tn R t-tabel 2 F-hitung F-tabel 0,954 2,000 385,688 2,78 Sumber : Data Primer diolah, 2011
Keterangan : * = nyata
tn = tidak nyata
Untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan
variasi variabel pendapatan peternak sapi potong maka dapat dilihat dari nilai
koefisien determinasinya (R2). Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien
determinasi untuk model ini adalah 0,954 Artinya bahwa 95,4 % pendapatan
tenaga kerja. Sedangkan 4,6% (100 % - 95,4 %) dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain yang tidak dapat dijelaskan dalam model ini. Koefisien determinasi (R2
Tabel 4.22. menunjukkan bahwa model regresi ini memiliki nilai F-hitung
385,688 sedangkan nilai F-tabel 0.05 (3 : 56) 2,78. Berdasarkan kriteria
keputusan, maka Ha diterima karena F-hitung lebih besar dari F-tabel. Itu artinya
variabel biaya bibit, biaya pakan, dan biaya tenaga kerja secara bersama-sama
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Karafir dalam Aditan (1994), menyatakan
bahwa kemampuan petani sebagai pengelola erat hubungannya dengan modal
petani. Tenaga kerja dan luas lahan petani dimana semakin tinggi tingkat
pendidikan petani maka semakin luas pula wawasan usahanya termasuk dalam hal
peningkatan produksi.
) di
atas termasuk cukup tinggi karena mendekati nilai 1 namun untuk melihat
seberapa jauh signifikan pengaruh faktor biaya bibit, biaya pakan dan biaya
tenaga kerja secara bersama-sama terhadap pendapatan peternak sapi potong maka
perlu dilakukan uji signifikansi simultan (Uji F).
Dengan pengujian simultan di atas telah diketahui, bahwa seluruh variabel
bebas secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel
terikat. Namun perlu diketahui pula variabel bebas mana yang memiliki pengaruh
yang lebih signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong, apakah variabel
biaya bibit, biaya pakan, atau biaya tenaga kerja. Untuk melihat itu, maka perlu
dilakukan pengujian parsial (Uji t).
Dari hasil pengujian parsial (Uji t), dapat diketahui bahwa variabel bebas
potong adalah variabel biaya bibit dimana nilai t-hitung variabel biaya bibit lebih
besar dari nilai t-hitung variabel biaya pakan dan biaya tenaga kerja.
Persamaan regresi linier berganda di atas dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Konstanta (b0) sebesar -4362773,013, artinya jika tidak terdapat pengaruh dari
biaya bibit, biaya pakan, dan biaya tenaga kerja maka pendapatan peternak
sapi potong akan tetap sebesar Rp. – 4.362.773,013.
b. Koefisien regresi X1 (b1) = 1,373 menunjukkan bahwa biaya bibit
berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak sapi potong. Jika setiap
peternak sapi potong mengeluarkan biaya bibit sebesar Rp. 1 maka pendapatan
peternak sapi potong akan bertambah sebesar Rp. 1,373. Variabel biaya bibit
memiliki nilai t-hitung 11,041 sedangkan nilai t-tabel (0.05 ; 56) 2,000.
Berdasarkan kriteria keputusan, maka H0 ditolak karena t-hitung lebih besar
dari t-tabel. Itu artinya variabel biaya bibit mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong.
c. Koefisien regresi X2 (b2) = 1,166 menunjukkan bahwa biaya pakan
berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak sapi potong. Jika setiap
peternak sapi potong mengeluarkan biaya pakan sebesar Rp. 1 maka
pendapatan peternak sapi potong akan bertambah sebesar Rp. 1,166. Variabel
biaya pakan memiliki nilai t-hitung 4,585 sedangkan nilai t-tabel (0.05 ; 56)
2,000. Berdasarkan kriteria keputusan, maka H0 ditolak karena t-hitung lebih
besar dari t-tabel. Itu artinya variabel biaya pakan mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap pendapatan peternak sapi potong.
d. Koefisien regresi X3 (b3) = 0,656 menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja
tenaga kerja peternak sapi potong meningkat Rp. 1 maka pendapatan peternak
sapi potong bertambah sebesar Rp. 0,656. Variabel tenaga kerja memiliki nilai
t-hitung 1,717 sedangkan nilai t-tabel (0.05 ; 56) 2,000. Berdasarkan kriteria
keputusan, maka H0 diterima karena t-hitung lebih kecil dari t-tabel. Itu
artinya variabel biaya tenaga kerja mempunyai pengaruh yang tidak signifikan
terhadap pendapatan peternak sapi potong.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa biaya bibit, biaya pakan, dan
biaya tenaga kerja menunjukkan pengaruh yang positif terhadap pendapatan
peternak sapi potong. Hal itu berarti bahwa semakin tinggi biaya bibit, biaya
pakan, dan biaya tenaga kerja maka semakin tinggi pendapatan peternak sapi
potong.