PERTUMBUHAN
1. Peningkatan Berat Badan Tikus Percobaan
Sebelum memasuki tahap perlakuan, tikus terlebih dahulu menjalani masa adaptasi selama 8 hari. Pada masa adaptasi ini, tikus diberi ransum standar secara ad libitum. Komposisi ransum mengacu pada standar yang digunakan oleh AIN (1993), dan dapat dilihat pada Lampiran 1. Menurut Muchtadi (1989), kebutuhan zat gizi tikus hampir sama dengan manusia, yaitu: 1). Karbohidrat yang terdiri dari pati, gula, dan selulosa; 2). Minyak atau lemak sebagai sumber asam lemak esensial; 3). Protein, untuk mencukupi kebutuhan asam amino esensial; 4). Mineral atau elemen anorganik, terdiri dari makroelemen seperti Ca, P, Mg, K, Na, Cl, dan S, serta mikroelemen
yakni Fe, Cu, Co, Mn, Se, I, Zn, dan Mo; dan 5). Vitamin, yaitu vitamin larut air dan vitamin larut lemak.
Selama masa percobaan, tikus mengalami pertambahan berat badan yang berbeda-beda. Pertumbuhan berat badan tikus selama masa percobaan dapat dilihat pada Gambar 10. Dari tujuh kelompok yang ada, yakni kelompok non protein, kelompok kontrol, dan lima kelompok perlakuan, dapat terlihat bahwa peningkatan cenderung seragam terjadi pada kelompok perlakuan. Baik kelompok tikus yang diberi perlakuan minyak buah merah maupun air buah merah, tampak mengalami pertumbuhan yang tidak terlalu berbeda satu sama lain. Pertumbuhan tikus dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang diterima selama percobaan. Zat makanan seperti karbohidrat, protein, dan lemak di dalam tubuh akan dioksidasi menjadi energi. Semakin banyak energi yang dihasilkan, maka semakin banyak pula energi yang tidak terpakai. Energi yang tidak terpakai akan disimpan dalam tubuh berupa timbunan lemak sebagai cadangan energi. Hal ini yang menyebabkan pertumbuhan relatif konstan terjadi pada tikus percobaan.
0 20 40 60 80 100 120
300 600 1200 300 600 1200 kontrol non protein
Kelompok perlakuan buah merah (mg/kg BB)
B e ra t badan ( g )
Hari ke 1 Hari ke 3 Hari ke 5 Hari ke 7 Hari ke 9
Gambar 10. Pertumbuhan berat badan tikus percobaan Fraksi minyak Fraksi air
Pada kelompok nonprotein tikus terlihat mengalami penurunan yang cukup nyata. Hal ini wajar terjadi mengingat peran protein yang sangat besar terhadap pertumbuhan. Menurut Muchtadi (1989), kegunaan utama protein bagi tubuh adalah sebagai zat pembangun tubuh, zat pengatur dalam tubuh, mengganti bagian tubuh yang rusak, serta mempertahankan tubuh dari serangan mikroba penyebab penyakit. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa kelompok tikus yang tidak diberi protein mengalami aktivitas bergerak yang sedikit dibandingkan kelompok lain. Hal ini dikarenakan tikus tidak memiliki energi yang cukup untuk bergerak, seperti yang dinyatakan oleh Du Higginbotham dan White (2000) bahwa penurunan konsumsi protein (kasein) dari 10% menjadi 2% dalam diet tikus akan menurunkan berat badan, air tubuh, berat karkas, dan energi tubuh. Hal ini diduga terjadi akibat terganggunya neurotransmitter dan transport elektron, hingga akhirnya menurunkan kelincahan dan nafsu makan tikus.
-6 -4 -2 0 2 4 6 8 10 12 14 1 3 5 7 9 Hari perlakuan Pertamba han B B (g)
fraksi minyak 300 mg/kg BB fraksi minyak 600 mg/kg BB fraksi minyak 1200 mg/kg BB fraksi air 300 mg/kg BB fraksi air 600 mg/kg BB fraksi air 1200 mg/kg BB
kontrol non protein
Gambar 11. Laju pertambahan berat badan tikus percobaan
Laju pertambahan berat badan tikus selama percobaan dapat dilihat pada Gambar 11. Pada gambar tersebut, nilai yang diplot merupakan rata-rata
pertambahan berat badan kelompok tikus, bukan nilai berat badan seperti yang tersaji di Gambar 10. Nilai di bawah sumbu x (negatif) menunjukkan kelompok tikus mengalami penurunan nilai berat badan rata-rata. Hal ini terjadi pada kelompok nonprotein, yang nilai pertambahan bobot badannya terus menurun setiap harinya.
Melalui kurva pertambahan berat badan ini, secara umum terlihat bahwa pemberian perlakuan ekstrak buah merah menghasilkan nilai pertambahan berat tiap harinya lebih besar dibanding kelompok kontrol. Hal ini dapat dilihat pada plot nilai delta berat badan kelompok kontrol yang berada di bawah kelompok perlakuan. Ekstrak minyak menghasilkan pengaruh yang lebih besar dibanding ekstrak air, dan nilai pertambahan tertinggi terlihat pada kelompok tikus yang diberi perlakuan berupa fraksi minyak sebanyak 600 mg/kg BB. Hal ini berarti perlakuan ekstrak buah merah secara keseluruhan memberikan pengaruh yang positif terhadap kenaikan berat badan tikus percobaan.
Pada hari kelima, nampak suatu fenomena dimana pertambahan berat badan tikus cenderung mencapai titik terendah sepanjang perlakuan. Fenomena ini diduga disebabkan adanya masa jenuh pada tikus, sehingga penambahan ekstrak dalam bentuk pencekokan tidak memberi pengaruh yang cukup berarti bagi pertambahan berat badan. Walaupun demikian, akan lebih baik bila dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab terjadinya trend tersebut.
2. Uji Biologis Protein (NPR, BV, dan NPU)
Uji biologis tikus percobaan dilakukan untuk menilai kualitas protein dari perlakuan yang diberikan. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai NPR rata-rata seperti disajikan pada Gambar 12. Dari gambar tersebut terlihat bahwa nilai NPR tertinggi diperoleh kelompok tikus dengan perlakuan fraksi minyak buah merah 1200 mg/kg BB, diikuti oleh air 300 mg/kg BB, minyak 600 mg/kg BB, air 600 mg/kg BB, air 1200 mg/kg BB, dan minyak 300 mg/kg BB.
2,19 2,44 2,75 2,59 2,43 2,36 1,75 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 300 600 1200 300 600 1200 kontrol
Kelompok perlakuan buah merah (mg/kg BB)
NPR
Gambar 12. Perbandingan nilai NPR antar kelompok perlakuan
Nilai NPR yang cukup tinggi pada kelompok yang diberi dosis fraksi minyak 1200 mg/kg BB mengindikasikan bahwa protein yang terdapat dalam buah merah mampu berperan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan pada tikus secara optimal karena memiliki kualitas protein yang cukup baik. Brody (1999) menjelaskan bahwa kualitas protein adalah kemampuan untuk menyediakan asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol, nampak jelas bahwa pemberian perlakuan terhadap tikus percobaan, baik yang diberi minyak buah merah maupun air buah merah, memiliki efek yang cukup nyata terhadap nilai NPR yang dihasilkan.
Berdasarkan analisis proksimat yang diperoleh Selly (2008), kadar protein yang dimiliki ekstrak buah merah relatif kecil, yakni hanya sebesar 0.08 % untuk ekstrak minyak dan 0.46 % untuk ekstrak air. Namun, kandungan protein ekstrak minyak yang lebih sedikit dibanding ekstrak air ternyata mampu menghasilkan nilai NPR yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan kandungan antioksidan yang terdapat di dalam ekstrak minyak buah merah jauh lebih banyak daripada ekstrak air. Antioksidan menurut Fardiaz (1996) merupakan senyawa yang dapat melindungi suatu produk, khususnya produk pangan berlemak dari reaksi oksidasi seperti ketengikan oksidatif. Selain pada
Fraksi air Fraksi minyak
produk pangan, oksidasi juga dapat terjadi pada sistem biologi. Lebih lanjut Krinsky (1992) mendefinisikan antioksidan sebagai senyawa yang melindungi sistem biologi melawan efek-efek negatif dari oksidasi yang berlebihan.
Penelitian yang dilakukan oleh Halimah (1997) membuktikan bahwa semakin tinggi pemberian ekstrak antioksidan pada tikus percobaan dapat menyebabkan pembentukan protein yang semakin tinggi pula. Kandungan antioksidan dipercaya mampu melindungi protein dan DNA sebagai unit pembentuk protein dari kerusakan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kandungan antioksidan buah merah memiliki korelasi yang positif terhadap nilai NPR, dan mampu memaksimalkan aktivitas protein yang masuk dan bekerja dalam tubuh.
Pada dasarnya terdapat dua metode pengukuran kualitas protein, yakni metode pertumbuhan dan keseimbangan nitrogen. Metode pertumbuhan merupakan metode yang paling sederhana, dimana dihitung berdasarkan hubungan kualitatif antara laju pertumbuhan dengan jumlah protein yang dikonsumsi. Contoh metode ini adalah PER (Protein Efficiency Ratio) dan NPR (Net Protein Ratio). Namun dalam penetapan PER, semua protein yang dikonsumsi dianggap hanya digunakan untuk pertumbuhan. Padahal protein yang dikonsumsi tersebut sebagian ada yang digunakan untuk pemeliharaan tubuh (Muchtadi, 1993). Oleh karena itu, pada penelitian ini metode yang dipilih adalah NPR, yang merupakan penyempurnaan dari PER, dimana dalam metode ini ditambahkan satu kelompok tikus yang diberi ransum nonprotein.
Metode kedua yang dapat digunakan untuk menilai kualitas protein adalah metode keseimbangan nitrogen, yang diukur berdasarkan jumlah N yang dikonsumsi, jumlah N yang diserap, dan jumlah N yang ditahan. Berdasarkan analisis kadar nitrogen dari ransum yang dikonsumsi (N intake), urine dan feses, maka dapat dihitung Biological Value (BV) dan Net Protein Utilization (NPU). Data hasil NPU dan BV antar kelompok perlakuan tikus percobaan dapat dilihat pada Lampiran 9.
Menurut Almatsier (2001), nilai biologis suatu produk menunjukkan jumlah nitrogen produk yang ditahan tubuh dan dapat digunakan untuk pertumbuhan serta pemeliharaan tubuh yang berasal dari jumlah nitrogen
produk yang diabsorbsi. Makanan yang memiliki nilai biologis 70 atau lebih mampu memberi pertumbuhan bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup dan konsumsi energi mencukupi.
Data pada Lampiran 9 menunjukkan bahwa nilai biologis (BV) tertinggi diperoleh kelompok minyak dengan dosis perlakuan 1200 mg/kg BB, yakni sebesar 78.03 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 13. Hasil sidik ragam pada Lampiran 10 menunjukkan nilai signifikansi 0.03, yang berarti bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap BV. 45,80 28,67 78,03 55,78 66,43 73,94 38,63 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 300 600 1200 300 600 1200 kontrol
Kelompok perlakuan buah merah (mg/kg BB)
BV (% ) 39,34 23,28 56,49 46,39 45,25 38,64 34,66 0 10 20 30 40 50 60 300 600 1200 300 600 1200 kontrol
Kelompok perlakuan buah merah (mg/kg BB)
NPU (
%
)
Gambar 13. Perbandingan BV (atas) dan NPU (bawah) antar kelompok perlakuan
Fraksi minyak Fraksi air
Nilai biologis yang diperoleh kelompok minyak 1200 mg/kg BB dan air 1200 mg/kg BB cukup tinggi mengingat nilainya yang mencapai angka di atas 70. Hal ini menandakan bahwa ransum yang diberikan mengandung asam amino yang terdapat dalam jumlah tinggi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh, sehingga protein yang diabsorbsi tubuh mampu ditahan dalam tubuh dan digunakan untuk pertumbuhan (Brody, 1999). Almatsier (2001) menyatakan bahwa proses deaminasi gugus amino (NH2) dari asam amino tubuh akan menghasilkan sisa berupa amonia. Amonia ini akan diubah menjadi ureum oleh hati, dan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui ginjal dan urin.
Sebagian besar asam amino telah diabsorbsi pada saat asam amino sampai di ujung usus halus. Namun karena suatu sebab, absorbsi mungkin tidak terjadi secara komplit. Protein (asam amino) yang tidak diabsorbsi ini masuk ke dalam usus besar. Dalam usus besar terjadi metabolisme mikroflora kolon dan produknya dikeluarkan melalui feses. Karena itulah pengukuran kadar nitrogen urin dan feses menjadi penting untuk dilakukan.
Berdasarkan Gambar 13, nilai NPU tertinggi diperoleh kelompok tikus dengan perlakuan fraksi minyak 1200 mg/kg BB, yakni sebesar 56.49 %. Gaman-Sherrington (1992) menyatakan bahwa NPU menunjukkan persentase protein dalam produk yang mampu diubah menjadi protein tubuh. Dari hasil sidik ragam terlihat bahwa pemberian perlakuan ekstrak buah merah tidak berpengaruh nyata teradap nilai NPU. Hal ini ditunjukkan dari nilai signifikansi sebesar 0.180 (Lampiran 11).
Pada Gambar 13, nampak bahwa penyimpangan sedikit terjadi pada kelompok tikus yang diberi perlakuan ekstrak air buah merah. Pada hasil nilai biologis (BV), semakin tinggi dosis air yang diberikan menunjukkan nilai biologis yang meningkat pula. Hasil ini berkebalikan dengan nilai NPU yang justru semakin rendah seiring meningkatnya kadar dosis yang diberikan. Hal ini diduga disebabkan oleh (1) perbedaan nilai NPU yang cukup jauh antar kelompok sehingga hasil rata-rata nilai yang diperoleh menjadi rendah, (2) perilaku tikus yang sulit dikontrol, seperti aktivitas bergerak yang berlebihan
menyebabkan ransum tercecer dan mempengaruhi kandungan protein dalam feses.
C. PENGARUH BUAH MERAH TERHADAP FUNGSI HATI