• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Struktur Komunitas Kelelawar

4.3.1. Pengaruh Faktor Mikroklimat terhadap Pemilihan

(oC), kelembaban udara (%), intensitas cahaya (lux), kecepatan angin (m/s), kadar oksigen (%), dan tingkat kebisingan (db). Hasil pengukuran mikroklimat sarang kelelawar pada setiap lokasi dapat diterangkan sebagai berikut, di sarang Situ

0

Gintung 1, C. brachyotis bersarang di lokasi dengan suhu 29.2 oC, kelembaban udara 68%, intensitas cahaya 36 lux, kecepatan angin 6.5 m/s, kadar oksigen 21.6% dan tingkat kebisingan 71 db. Secara lengkap, hasil pengukuran mikroklimat sarang semua jenis kelelawar pada setiap lokasi dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil pengukuran mikroklimat sarang kelelawar

Jenis Sarang Suhu Keterangan : Cb= Cynopterus brachyotis; Ct=Cynopterus titthaecheilus; Ms=Macroglossus sobrinus; Rl= Rousettus leschenaulti; My=Myotis muricolla.; Sc=Scotophilus kuhlii; GR=Gintung Roost; PR=Pamulang Roost; SR= Setu Roost; PAR= Pondok Aren Roost

Data pada tabel 4 kemudian digunakan sebagai variabel bebas untuk uji regresi linear berganda, sedangkan variabel terikat yang digunakan ialah data jumlah individu kelelawar yang bersarang di tiap lokasi. Hasil analisis tersebut disajikan pada tabel 5.

Tabel 5. Hasil analisis uji regresi faktor mikroklimat terhadap pemilihan sarang kelelawar

R R Square F Sig.

0.959 0.920 13.436 0.002

Hasil uji regresi menunjukkan bahwa variabel-variabel bebas dapat memprediksikan hasil dengan baik. Hal tersebut dilihat dari nilai R yang bernilai 0.959. Kisaran nilai R adalah 0 hingga 1. Semakin nilai R mendekati angka 1, maka semakin kuat variabel-variabel bebas memprediksikan variabel terikat (Ho, 2006).

Nilai pada kolom Sig. menunjukkan besarnya angka probabilitas atau signifikansi. Nilai yang tertera digunakan untuk uji kelayakan model analisis (dimana sejumlah variabel x mempengaruhi variabel y) dengan ketentuan angka probabilitas yang baik untuk digunakan sebagai model regresi harus < 0,05 (Ho, 2006). Nilai pada kolom Sig adalah 0.002, maka model analisis dianggap layak.

Pengaruh parameter mikroklimat terhadap pola pemilihan sarangnya menunjukkan bahwa sebanyak 92 % variabel bebas dapat dijelaskan oleh variabel tidak bebas yang digunakan. Sedangkan sisanya sebesar 7 % dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.Hasil dari uji F menunjukkan bahwa F hitung (13.436) > F tabel (3.87), sehingga hipotesis Ho ditolak. Hal ini berarti ada pengaruh signifikan antara parameter mikroklimat secara bersama-sama terhadap pemilihan sarang kelelawar.

Persamaan regresi untuk koefisien Y1 adalah:

Y1 = 2,181+1,542X1-9,031X2+ 0,650X3+ 0,083X4+ 3,708X5-10,134X6.

Keterangan:

Y1 = Jumlah kelelawar bersarang yang dipengaruhi faktor mikroklimat X1 = Suhu (oC)

Tabel 6. Koefisien regresi dari analisis faktor mikroklimat terhadap pemilihan

Untuk mengetahui pengaruh setiap jenis factor mikroklimat secara parsial terhadap pemilihan sarang, dilakukan uji t. Hasil analisis uji t dapat dilihat pada tabel 6. Pada tabel tersebut, tertera nilai dari masing-masing variabel, t hitung suhu (1.542) < t tabel (2.365) sehingga Ho diterima. T hitung intensitas cahaya (0.650) dan kecepatan angin (0.083) juga lebih kecil dari t tabel (2.365).

Hipotesisnya ialah tidak ada pengaruh signifikan antara suhu, intensitas cahayadan kecepatan angin terhadap pola pemilihan sarang kelelawar. T hitung kelembabanudara (-9.301) > t tabel (-2.365) sehingga Ho ditolak. Hasil tersebut berarti terdapat pengaruh signifikan antara kelembaban udara terhadap pola pemilihan sarang kelelawar secara parsial. Hal serupa terjadi padat hitung kadar oksigen (3.708), t hitung tingkat kebisingan (-10.134) yang lebih besar dari t tabel.

Sehingga terdapat pengaruh signifikan antara parameter kelembaban udara, kadar oksigen dan tingkat kebisingan terhadap pola pemilihan sarang secara parsial.

Berdasarkan hasil analisis, faktor mikroklimat secara berurutan yang paling berpengaruh adalah tingkat kebisingan, kadar oksigen, dan kelembaban udara. Secara parsial, suhu, intensitas cahaya dan kecepatan angin tidak berpengaruh dalam pemilihan sarang kelelawar. Namun, secara bersama-sama, ketiga faktor mikroklimat tersebut mempengaruhi dalam pemilihan sarang kelelawar.

Faktor pertama yang berpengaruh dalam pemilihan sarang kelelawar adalah tingkat kebisingan. Berdasarkan persamaan regresi, setiap kenaikan tingkat kebisingan sebesar 1 db, maka akan menurunkan jumlah kelelawar yang bersarang sebesar 10,134. Kondisi lingkungan yang bising akan mengganggu kelelawar dalam upaya mencari makan. Kelelawar Microchiroptera berburu mangsa dengan mengandalkan indera pendengaran dengan kemampuan ekolokasinya. Kelelawar memiliki kemampuan untuk memancarkan suara bernada tinggi yang memantul pada objek di sekitarnya dan memantul kembali kepada kelelawar. Otaknya menerjemahkan sinyal tersebut, sehingga perburuan mangsa menjadi akurat. Efek dari polusi suara yang ditimbulkan oleh lingkungan sekitar akan mempengaruhi kemampuan kelelawar tersebut sehingga juga mempengaruhi dinamika populasi kelelawar. Sebuah penelitian eksperimental dilakukan oleh Schaub et al. (2008) mengenai kemampuan kelelawar dalam mencari makan di area dengan tingkat kebisingan seperti di jalan raya. Mereka menggunakan Myotis myotis sebagai objek penelitian karena mewakili kelompok kelelawar yang mencari makan dengan mendengarkan suara yang dibuat mangsanya (disebut 'passive listening'). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah mencari makan

yang dekat dengan jalan raya atau sumber suara alami lain yang bising menurunkan kemampuan ‘passive listening’ kelelawar dalam mencari makan.

Bahkan, kebisingan vegetasi yang hanya dipasang 12 db dibawah kebisingan lalu lintas memiliki efek gangguan lebih besar dari kebisingan lalu lintas.

Kadar oksigen merupakan faktor kedua yang berpengaruh terhadap pemilihan sarang kelelawar. Berdasarkan persamaan regresi, setiap kenaikan 1%

kadar oksigen, akan menambah jumlah kelelawar yang bersarang sebesar 3,708.

Oksigen dibutuhkan dalam proses respirasi untuk menghasilkan energi. Menurut Ganong (2001), semakin banyak dan kecil diameter alveolus, semakin luas permukaan membran alveolus dan semakin banyak oksigen dan karbon dioksida yang dapat dipertukarkan. Penelitian yang dilakukan Setiadi (2000) kelelawar Scotophilus kuhlii yang juga ditemukan pada lokasi kecamatan Setu, membuktikan alveolus Scotophilus kuhlii lebih kecil dan rapat dibandingkan alveolus tikus (Mus musculus). Menurut Setiadi (2000), sebagai mamalia terbang, kebutuhan oksigen Scotophilus kuhli lebih banyak dibandingkan kebutuhan oksigen Mus musculus.

Kelembaban udara merupakan faktor ketiga penentu kelelawar dalam mencari sarang di kota Tangerang Selatan. Menurut Baudunette et al. (1994) membran patagium (sayap) kelelawar tersusun atas lapisan kulit tipis yang sangat peka pada kekeringan. Kelelawar yang mempunyai membran patagium tipis memilih lokasi sarang yang lembap, sedangkan yang memiliki membran patagium tebal mampu bersarang di lokasi yang cenderung kering. Berdasarkan persamaan regresi, kelembaban udara yang tinggi akan menurunkan jumlah kelelawar yang

bersarang. Hal tersebut berarti bahwa kelelawar di kota Tangerang Selatan lebih menyukai lokasi bersarang yang cenderung kering.

4.3.2. Pengaruh Faktor Fisik Sarang Tumbuhan terhadap Pemilihan Sarang Kelelawar

Untuk mengetahui hubungan antara faktor fisik sarang tumbuhan terhadap pemilihan sarang kelelawar dilakukan juga uji regresi. Faktor fisik sarang meliputi: tinggi pohon (m), diameter pohon (m) dan penutupan tajuk (m2) sebagai variabel bebas,sedangkan variabel terikat meliputi sarang dan jumlah individu kelelawarnya. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 7 dan 8.

Tabel 7. Hasil analisis uji regresi faktor fisik sarang tumbuhan terhadap pemilihan sarang kelelawar

R R Square F Sig.

0.577 0.333 0.167 0.908

Pengaruh faktor fisik sarang tumbuhan terhadap pemilihan sarang kelelawar menunjukkan 33,3% variabel bebas dapat dijelaskan oleh variabel tidak bebas yang digunakan. Nilai R yang bernilai 0.577 menunjukkan bahwa data yang diambil cukup ketepatannya (Ho, 2006). Hasil dari uji F menunjukkan bahwa F hitung (0.167) < F tabel (9.26), sehingga Ho diterima. Hal ini berarti bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara faktor fisik sarang tumbuhan secara serentak terhadap pola pemilihan sarang kelelawar.

Persamaan regresi untuk koefisien Y2 adalah:

Y2 = -0,525 + 0,011X1 + 0,187X2 + 0,416X3

Keterangan:

Y2 = jumlah kelelawar bersarang yang dipengaruhi faktor fisik sarang tumbuhan X1 = Penutupan tajuk (m); X2 = Tinggi tumbuhan (m); X3 = Diameter tumbuhan (m)

Tabel 8. Koefisien regresi dari analisis faktor fisik sarang tumbuhan terhadap

Tanpa ada variabel penutupan tajuk, tinggi tumbuhan dan diameter tumbuhan, frekuensi jumlah kelelawar yang bersarang adalah -0,525. Setiap pertambahan 1 m penutupan tajuk, maka jumlah kelelawar yang bersarang akan meningkat sebesar 0,011. Setiap pertambahan tinggi tumbuhan sebesar 1 m, maka jumlah kelelawar yang bersarang akan meningkat sebesar 0,187. Setiap pertambahan diameter tumbuhan sebesar 1 m maka jumlah kelelawar yang bersarang akan meningkat sebesar 0,416.

Pengaruh secara parsial setiap faktor fisik sarang tumbuhan terhadap pemilihan sarang kelelawar dapat diketahui dengan uji t. Nilai t dapat dilihat pada tabel 8. Hasil t hitung tinggi tumbuhan (0.907), t hitung diameter tumbuhan (0.833) dan t hitung penutupan tajuk (0.994) lebih kecil dari t tabel (3.182), sehingga Ho diterima. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh secara parsial faktor fisik sarang tumbuhan terhadap pemilihan sarang kelelawar.

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa variabel tinggi tumbuhan, diameter tumbuhan dan penutupan tajuk tidak berpengaruh signifikan terhadap pemilihan sarang kelelawar, baik secara bersama-sama maupun parsial. Berarti,

masih terdapat beberapa variabel lain yang menjadi faktor penentu kelelawar dalam memilih sarang pohon.Sebuah penelitian yang dilakukan O’Keefe et al.

(2009) menelaah tentang faktor lain yang mempengaruhi kelelawar dalam pemilihan sarang diluar faktor mikroklimat dan karakteristik pohon yang umum diteliti. O’Keefe et al. (2009) memasukkan faktor makrohabitat berupa bentang alam (lansekap) dan stand. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa karakteristik pohon (seperti dbh, tinggi pohon dan penutupan tajuk), mikroklimat dan stand-scale tidak berpengaruh signifikan dalam pemilihan sarang kelelawar. Akan tetapi, mereka menemukan fakta bahwa kelelawar memilih sarang berdasarkan jarak antar fitur khusus lansekap, seperti jarak sarang dengan jalan raya, jarak sarang dengan sungai, dan lain-lain.

4.3.3. Pengaruh Faktor Fisik Sarang Bangunan terhadap Pemilihan Sarang Kelelawar

Jumlah sarang bangunan yang ditemukan pada lokasi pengamatan adalah 3 sarang. Sarang pertama berbentuk rumah kosong yang terletak di kecamatan Setu.

Sarang ini dihuni secara bersama-sama oleh kelelawar Cynopterus brachyotis (4 individu) dan Cynopterus titthaecheilus (3 individu). Menurut Harvey et al.

(2004), sebuah sarang dapat dihuni oleh berbagai jenis kelelawar. Luas rumah kosong ialah 3,68 x 6,31 x 3,13 m3. Rumah kosong tersebut dijadikan warga sebagai rumah semedi/rumah bertapa sehingga rumah ini dikeramatkan oleh warga.

Sarang kedua ialah rumah bambu, yaitu rumah yang atapnya terbuat dari bambu. Lokasinya terletak sekitar 500 meter dari rumah kosong. Rumah bambu

memiliki luas 12,5 x 3,2 x 3,25 m3. Bangunan ini merupakan salah satu rumah dari penduduk di kecamatan Setu. Mayoritas rumah penduduk yang atapnya terbuat dari bambu, menutupi lubang bambunya dengan plafon sehingga kelelawar tidak bisa masuk dan bersarang di batang bambu tersebut. Hanya sedikit warga yang masih membiarkan lubang bambunya terbuka.

Rumah bambu dihuni oleh Scotophilus kuhlii (11 individu). Antara pukul 17.50-18.03 WIB, satu persatu kelelawar Microchiroptera tersebut keluar dari atap bilah-bilah bambu. Menurut Altringham (1996), bambu umumnya tahan lama untuk dijadikan sarang. Dua spesies kelelawar yang juga diketahui menggunakan batang bambu, Tylonycteris pachypus dan T. robustula. Mereka bersarang di dalam bilah bambu besar, Gigantochloa scortechinii (Medway dan Marshall, 1972). Serupa dengan S. kuhlii, kedua jenis kelelawar tersebut juga memiliki bantalan kulit yang memudahkan cakarnya agar menancap di dalam bilah bambu.

Mereka juga memiliki tengkorak rata, yang memungkinkan mereka memasuki lubang sempit internodus bambu. Bantalan kulit tersebut merupakan penebalan kulit pada pangkal ibu jari sayap dan telapak kaki.

Sarang bangunan ketiga berbentuk jembatan, berlokasi di kecamatan Ciputat Timur. Jembatan tersebut terbuat dari beton yang melintasi aliran danau Gintung. Luas jembatan tersebut ialah 7,1 x 6,08 m2, dengan tinggi 2,5 meter dari permukaan air. Sekitar 8 ekor Myotis muricolla menghuni bagian bawah jembatan tersebut. Pada malam hari, sekitar pukul 19.00-20.00 WIB, kelelawar tersebut terlihat terbang menyusuri aliran air di sekitar jembatan. Jembatan memiliki fitur struktural yang memberikan persamaan yang sesuai dengan sarang alami, mampu

menampung massa dalam jumlah besar, terutama sekali jembatan beton memberikan sejenis penyangga suhu yang dibutuhkan kelelawar (Harvey et al., 2004).

Balok beton penopang jembatan menciptakan kantong udara hangat sehingga suhu di jembatan biasanya lebih hangat dan lebih stabil daripada suhu di sekitarnya (Perlmeter, 1996). Lokasi tersebut umumnya menawarkan perlindungan dari cuaca dan predator yang dibutuhkan kelelawar. Selain itu, karena kelelawar mencari makan berdekatan dengan air, dan sebagian besar jembatan melintasi air, lokasi ini memiliki keuntungan nyata dalam menawarkan kedekatan dengan daerah mencari makan (Harvey et al., 2004). Celah sarang paling sering ditemukan dalam sendi engsel jembatan dan di celah-celah pangkal jembatan. Rongga banyak ditemukan di pangkal jembatan, terutama di mana lekukan bertemu dengan pangkal jembatan sehingga menimbulkan ruang seperti gua. Banyak jembatan tua memiliki rongga dengan bagian dalam yang terbuka, dan rongga ini dapat menampung sejumlah besar kelelawar.

4.4. Analisis Vegetasi

Kota Tangerang Selatan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Kota Tangerang Selatan memiliki luas 147,19 km2dengan 1.290.322 penduduk, sehingga menjadikan Kota Tangerang Selatan sebagai kota dengan penduduk terpadat ke-11 di Indonesia (8766,4 km2) BPS (2011). Dari tiap lokasi di 4 kecamatan yang ditelusuri, hanya lokasi di kecamatan Ciputat Timur yang memiliki vegetasi habitat yang layak untuk dilakukan analisis vegetasi dan

pembuatan diagram profil. Lokasi penelitian di Kecamatan Setu dan Kecamatan Pondok Aren merupakan kawasan pemukiman padat penduduk sehingga jarak tumbuh pohonnya saling berjauhan. Sementara itu lokasi penelitian di Kecamatan Pamulang merupakan daerah kebun yang hanya memiliki sedikit vegetasi pohon.

Oleh karena itu, dilakukanlah analisis vegetasi di lokasi penelitian kecamatan Ciputat Timur, tepatnya di Situ Gintung, Kelurahan Cirendeu.

Analisis vegetasi menggunakan metode titik pusat kuadran (central points quadrant methods) untuk mendata vegetasi berkayu yang terdapat pada habitat bersarang kelelawar di Situ Gintung. Metode yang sama juga pernah dilakukan Bumbut (2003) untuk pendataan vegetasi habitat istirahat kelelawar buah Pteropus neohibernicus neohibernicus di Pulau Mansinam. Lokasi yang menjadi tempat dilakukannya pengukuran vegetasi memiliki luas 1,8 m2 dengan 2 transek masing-masing sepanjang 600 meter. Setiap transek memilik 4 titik pusat dengan jarak antar titik sebesar 50 meter. Hasil analisis vegetasi di kawasan Situ Gintung disajikan pada tabel 6.

Dari hasil pendataan di lokasi vegetasi, didapatkan 5 jenis pohon yang masuk ke dalam kuadran. Terdapat 18 buah kuadran dari total 32 kuadran yang dihuni oleh vegetasi pohon (termasuk didalamnya kategori pancang, tiang dan pohon). Lima jenis tersebut ialah Mangifera indica (mangga), Leucaena leucocephala (petai cina), Roystonea regia (palem raja), Carica papaya(pepaya), dan Musa sp. (pisang).

Tabel 9. Analisis vegetasi dengan metode kuadran di Situ Gintung, Kecamatan kategori pohon dewasa karena memiliki diameter lebih dari 35 cm. Spesies Musa sp. (kuarter 2 kuadran IV, kuarter 4 kudran III, kuarter 6 kuadran I, dan kuarter 8 kuadran II), Mangifera indica (kuarter 6 kuadran III), Roystonea regia (kuarter 2 kuadran II dan kuarter 3 kuadran I), dan Carica papaya (kuarter 4 kuadran II) termasuk kategori tiang, yaitu pohon dengan diameter antara 10-35 cm. Spesies

Leucaena leucocephala (kuarter 1 kuadran II, III, kuarter 2 kuadran I dan kuarter 5 kuadran I, II) dan Musa sp. (kuarter 1 kuadran IV) termasuk kategori pancang (sampling).

Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa FR terbesar ada pada jenis Musa sp. dengan nilai 33,33 %. Nilai ini menunjukkan bahwa Musa sp. memiliki kehadiran yang tinggi di tiap kuarter dibandingkan dengan spesies yang lainnya di mana Musa sp. di temukan di titik kuarter 1,2,4,6, dan 8. KR terbesar ada pada jenis Musa sp. dan Leucaena leucocephala dengan nilai dan 27,78 %. Nilai ini menunjukkan bahwa Musa sp.dan Leucaena leucocephala memiliki kerapatan yang tinggi bila dibandingkan dengan spesies yang lainnya. Besarnya persentase kerapatan ditentukan oleh jumlah individu per unit luas. Sementara itu, nilai DR terbesar ada pada Roystonea regia dengan nilai sebesar 44,44 %. Nilai ini menunjukkan penutupan tajuknya dari Roystonea regia termasuk besar. Dapat terlihat dari tabel bahwa luas basal area Roystonea regia terbesar terdapat pada kuarter 3 kuadran II yaitu 0,1520. Luas basal area merupakan luas bidang dasar atau luas penutupan tajuk.

Tabel 10. Analisis data vegetasi dengan metode kuadran

No Nama Spesies d

Keterangan: d = rata-rata jarak antar pohon (m); K = kerapatan seluruh spesies per hektar (pohon/ha); K-i = kerapatan setiap spesies pohon (pohon/ha); D = dominansi setiap spesies pohon (m2); F = frekuensi setiap spesies pohon; KR = kerapatan relatif setiap spesies pohon (%); DR = dominansi relatif setiapspesies pohon (%); FR = frekuensi relatif setiap spesies pohon (FR%); INP (indeks nilai penting); SDR = summed dominance ratio

Nilai INP terbesar dimiliki oleh Roystonea regia dengan 86,67. Hal ini menunjukkan bahwa Roystonea regia merupakan spesies yang memiliki kedudukan relatif paling dominan di vegetasi habitat bersarang kelelawar pada Situ Gintung, Kecamatan Ciputat Timur. Sebanding dengan INP, SDR dari Roystonea regia memiliki angka tertinggi yaitu 28,89. SDR atau Summed Dominance Ratio merupakan parameter yang identik dengan nilai penting. Oleh karena itu, SDR juga dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi (tingkat penguasaan) spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan.

Keanekaragaman jenis tumbuhan pada lokasi penelitian di Situ Gintung, Kecamatan Ciputat Timur tergolong sedang dengan nilai indeks Shanon-Wiener sebesar 1,51. Menurut Odum (1971) keanekaragaman jenis dikatakan sedang jika nilai indeks Shanon-Wienner memiliki rentang nilai 1-3. Keanekaragaman jenis tumbuhan tersebut dapat dilihat pada lampiran 3. Dari hasil pengolahan data vegetasi diatas, dapat disimpulkan bahwa kelelawar di Situ Gintung, Kecamatan Ciputat Timur menyukai habitat yang memiliki banyak tanaman pisang (Musa sp.) dengan frekuensi relatif 33.3% serta keberadaan penutupan tajuk yang besar oleh pohon palem raja (Roystonea regia) sebesar 44,44 %.

Diagram profil dibuat untuk mengetahui profil arsitektur vegetasi bersarang kelelawar. Terdapat 2 buah sarang yang ditemukan pada lokasi diagram profil. Sarang pertama ialah sarang tumbuhan pisang (Musa spp.) yang terdapat pada pohon no.23 pada diagram profil. Sarang ini dihuni oleh Macroglossus sobrinus. Tumbuhan pisang (Musa spp.) merupakan tumbuhan dengan tingkat kehadiran paling tinggi dibandingkan dengan tumbuhan lainnya. Sekitar 48

tumbuhan dari 65 tumbuhan yang ada merupakan Musa spp. Sarang ini dikelilingi oleh 12 tumbuhan pisang lainnya dengan naungan pohon pisang tertinggi sekitar 7,78 meter.

Sarang kedua berupa pohon mangga (Mangifera indica) yang terdapat pada pohon no. 37 pada diagram profil. Sarang ini dihuni oleh Cynopterus brachyotis. Letak pohon ini berdekatan dengan pohon jambu bol yang menaunginya. Tinggi pohon jambu bol tersebut adalah 13,90 meter. Kondisi sekitar sarang pohon mangga tersebut juga dikelilingi oleh banyak tumbuhan pisang, tidak jauh berbeda dengan sarang pertama. Lahan dengan kebun berbuah disukai oleh kelelawar Megachiroptera sebagai tempat bertengger sekaligus tempat mencari makan. Dari hasil pengamatan terlihat beberapa kelelawar Macroglossus sobrinus yang keluar dari sarang no. 23 dan langsung hinggap di tumbuhan pisang lainnya untuk memakan nektarnya.

65 5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan :

1. Jenis-jenis kelelawar yang ditemukan di kota Tangerang Selatan berjumlah 6 jenis, yaitu 4 jenis Megachiroptera terdiri atas Cynopterus brachyotis (Müller, 1838); Cynopterus titthaecheilus (Temminck, 1825);

Macroglossus sobrinus (K. Andersen, 1911); Rousettus leschenaulti (Desmarest, 1820), dan 2 jenis Microchiroptera terdiri atas Myotis muricolla (Gray, 1864) dan Scotophilus kuhlii (Leach, 1821) dengan indeks keanekaragaman jenis rendah (H’= 0,88).

2. Faktor yang mempengaruhi kelelawar dalam pemilihan sarang adalah tingkat kebisingan (db), kadar oksigen (%) dan kelembapan udara (%).

5.2. Saran

1. Cakupan area dan rentang waktu penelitian di perkotaan Tangerang Selatan lebih diperluas lagi untuk mendapatkan jenis lain yang belum didapatkan pada penelitian ini.

2. Perlu dibuat zonasi pemanfaatan kawasan perkotaan berdasarkan pola pemilihan sarang sesuai dengan informasi ilmiah yang didapat dari penelitian ini.

66

Oxford University Press. New York, United States of America

Ammerman, L.K dan D.M. Hillis. 1992. A Molecular Test of Bat Relationships:

Monophyly or Diphyly? Syst. Biol. 41(2): 222-232

Asdell, S.A. 1964. Patterns of mammalian reproduction. Cornell University Press, Ithaca.

Astuti, R.U.N.W., S. Hadisuwanto., dan I.Y. Sari. 2010. Periodisitas Nyamuk Culex quinquefasciatus Say, 1823 dalam Hubungannya dengan Potensi Transmisi Filariasis di Kelurahan Ngampilan dan Notoprajan Kecamatan Ngampilan Yogyakarta. Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada.

Yogyakarta.

Baker, R.J., M.J. Novacek, dan N.B. Simmons. 1991. On the Monophyly of Bats.

Syst.Zool.40(2):216-231

Barlow, K. 1999. Expedition Field Techniques Bats. Kensington Gore, London.

Tidak dipublikasikan.

Baudunette, R.V.,R.T. Wells.,K.J. Sanderson.,danB. Clark. 1994. Microclimatic conditions in maternity caves of the Bent-wing bat Miniopterusschreibersii: an attempt restoration of a former maternity site.

Wildlife Research 21(6): 607-619

Bumbut, P. I. 2003. Vegetasi Habitat Istirahat Kelelawar Buah (Pteropus neohibernicus neohibernicus Peters) di Pulau Mansinam. Skripsi. Jurusan Budidaya Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua.

Manokwari

Fujita, M.S. and M.D. Tuttle, 1991. Flying foxes (Chiroptera: Pteropodidae) threatened animals of key ecological and economic importance. Cons.

Biol. 5(4): 455-463.

Ganong WF. 2001. FisiologiKedokteran.Edisi ke-3.Penerbitbukukedokteran EGC.Jakarta.

Gould, E. 1955. The feeding eficiency of insectivorous bats. J. Mammal. 36: 399-407.

Harvey, H.T., G. Tatarian., dan E. Pierson. 2004. California Bat Mitigation Techniques, Solutions, And Effectiveness. California Department of

Transportation (Caltrans) Office of Biological Studies and Technical Assistance. Sacramento, California

Heideman, P.D., dan L.R. Heaney, 1989. Population biology and estimates of abundance of fruit bats (Pteropodidae) in Philippine submontane rainforest. J . Zool., Lond. 218: 565- 586.

Ho, R. 2006. Handbook of Univariate and Multivariate Data Analysis and Interpretation with SPSS. Boca Raton: Chapman & Hall

Hutson, A.M., S.P. MickleburghdanP.A. Racey. 2001. Microchiropteran bats:

global status survey and conservation action plan. IUCN/SSC Chiroptera Specialist Group. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK.

Indriyanto. 2006. Ekologi hutan. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta

Kunz, T.H. dan Lumsden, L.F. 2003. Ecology of Cavity and Foliage Roosting Bats. pp. 3-89 in Kunz, T.H dan Fenton, M.B (ed.). Bat Ecology. The University of Chicago Press. United States of America

Kunz, T.H dan S. Parsons. 2009. Ecological and Behavioral Methods for the Study of Bats (second edition). Johns Hopkins University Press. United States of America

Kusmana, C. 1997. Metode Survei Vegetasi. Penerbit Institut Pertanian Bogor Maguran, A.E. 2004.Measuring biological diversity. Malden: Blackwell

Publishing.

Marshall, A.G. 1985. Old World phytophagous bats (Megachiroptera) and their food plants: a survey. 2002. Zool. J. Linn. Soc. 83: 351-369.

Marshall, A.J. 1947. The breeding cycle of an equatorial bat (Pteropus giganteus) of Ceylon. Proc. Linn. Sot. Lond. 159: 103-l 11

Mickleburgh, S.P., Hutson, A.M., dan Racey, A.P. 1992. Old World Fruit Bats:

An Action Plan For Their Conservation. IUCN/SSC Chiroptera Specialist Group. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK.

Navarro, D. dan Wilson, D.E. 1982. Vampyrum spectrum. Mammalian Species, 184, 1–4.

Nelson, J.E., 1965a. Behaviour of Australian Pteropodidae (Megachiroptera).

Anim. Behav. 13: 544-547

Nelson, J.E., 1965b. Movements of Australian flying foxes (Pteropodidae:

Megachiroptera). Aust. J. Zool. 13: 53-73.

Neuweiler, G. 2000. Biology of Bats. Oxford University Press.

Ng, F.S.P. 1980. Legumes in forestry. In: Proc.Symp. legumes in the tropics (Faculty of Agricultural University Pertanian Malaysia), pp. 449-456.

Nowak, R.M. 1991. Walker’s mammals of the world. 5th edition. John Hopkins University Press, Baltimore and London

Nowak, R.M. 1995. Walker’s Bats of the World. John Hopkins, University Press, Baltimore and London

Oemijati, S. 1993. Current status of filariasis in Indonesia. Southeast Asian J.

Trop. Med. Publ. Hlth. 24 (supplement 2): 2-4.

O'Keefe, J.M., S.C. Loeb., J.D. Lanham dan H.S. Hill Jr. 2009. Macrohabitat

O'Keefe, J.M., S.C. Loeb., J.D. Lanham dan H.S. Hill Jr. 2009. Macrohabitat

Dokumen terkait