• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. PENYUSUNAN SATUAN KARAKTERISTIK DAYADUKUNG

3.4. Hasil dan Pembahasan

3.4.3. Pengaruh Faktor Pembentuk Tanah terhadap Karakteristik

Analisis multivariate korespondensi dapat digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antar variabel. Keeratan hubungan tersebut dapat digambarkan oleh 2 (dua) dimensi/komponen dengan nilai eigen paling besar. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa 3 (tiga) faktor pembentuk tanah, yaitu: bahan induk, relief, dan iklim mempengaruhi kualitas dan karakteristik tanah. Hubungan faktor pembentuk tanah dengan klasifikasi tanah (Subgrup) yang mencermikan karakteristik tanah digambarkan dengan analisis multivariate korespondensi (Gambar 9). Gambar ini menunjukkan bahwa bahan induk merupakan faktor yang paling dominan pengaruhnya dibandingkan dengan iklim dan relief. Hal ini ditunjukkan oleh sudut antara bahan induk (BI) dengan subgrup relatif kecil, bila dibandingkan dengan relief dan iklim.

(1) Hubungan bahan induk dengan karakteristik tanah

Bahan induk diketahui paling dominan pengaruhnya terhadap sifat dan ciri tanah yang terbentuk. Keragaman bahan induk menyebabkan keanekaragaman sifat dan jenis tanah yang terbentuk (Buol et al. 1980). Susunan kimia dan mineral tanah tidak hanya menentukan sifat fisik dan kimia tanah, tetapi juga hingga batas tertentu mengendalikan vegetasi (Soepardi 1983). Peranan bahan induk sangat menonjol dalam membentuk karakteristik tanah, terutama pada tanah-tanah yang telah berkembang lanjut, seperti Ultisol dan Oxisol (Tafakresnanto dan Siswanto 2003).

Uji keragaman pengelompokan asal bahan aluvial (A), volkan (V), dan sedimen (S) terhadap karakteristik tanah menunjukkan nilai KK tinggi. Dengan demikian, perlu pengelompokan lebih rinci litologi/bahan induk tersebut dengan berdasarkan atas karakteristik litologi/bahan induk. Tabel 5 menyajikan pengelompokan litologi/bahan induk lebih rinci berdasarkan atas karakteristik bahan induk.

Tabel 5. Rincian pengelompokan litologi/bahan induk

Asal Litologi Bahan Induk

Kode Uraian

Aluvial ef endapan halus liat, lumpur, debu

(A) eq endapan kasar pasir, kerikil

efq endapan halus dan kasar liat, lumpur, pasir, kerikil

Volkan a Intermedier-basis tuf andesit, lava andesit dan basal

(V) d masam dasit, liparit, granit, diorit

Sedimen sf halus masam

batuliat, batulumpur, batulanau, serpih, serpih, batusabak, skis

(S) sq kasar masam batupasir, kuarsit, gneiss, konglomerat, breksi

fk halus non masam batugamping, napal, batukapur, liat berkapur

qk kasar non masam batupasir berkapur, breksi berkapur

Hubungan antara litologi dan karakteristik tanah digambarkan dengan nilai KK karakteristik-karakteristiknya (Tabel 6). Secara umum fraksi liat mempunyai nilai KK rendah dibandingkan fraksi lain, hal ini menunjukkan bahwa tekstur tanah dalam perkembangannya mengarah ke fraksi halus (liat). Dengan demikian, tanah yang terbentuk dari endapan dan sedimen kasar masam, fraksi pasir menjadi penentu tekstur tanah, sedangkan yang terbentuk selain itu, fraksi liat sebagai penentu tekstur tanah. Tabel ini menunjukkan bahwa pH tanah, kedalaman tanah,

dan tekstur fraksi liat mempunyai nilai KK rendah, sedangkan litologi dari endapan kasar (bahan induk pasir dan kerikil) dan sedimen kasar masam (bahan induk batupasir, kuarsit, gneiss, konglomerat, breksi), tekstur fraksi pasir cenderung mempunyai nilai KK rendah.

Tabel 6. Koefisien keragaman karakteristik tanah antar litologi

Asal Bahan Litologi tekstur pH Tanah KTK Tanah Kedalaman

pasir debu liat Tanah

……… Koefisien Keragaman (%) ………. A ef 82,47 30,33 12,10 20,42 39,37 19,65 A efq 43,32 43,09 29,41 21,06 56,42 24,39 A eq 24,37 52,86 31,81 13,17 57,91 50,44 S sf 64,42 42,36 27,30 11,49 59,44 21,61 S fk 89,91 32,90 23,05 9,53 28,70 46,50 S sq 23,91 56,10 32,30 9,97 72,32 28,07 S qk 32,22 48,10 24,75 15,17 101,47 46,94 V a 52,97 42,97 29,14 11,17 46,18 21,63 V d 33,70 48,09 32,85 9,26 68,60 20,37

Gambar 10. Pengaruh bahan induk terhadap karakteristik tanah

Hubungan bahan induk dengan beberapa karakteristik tanah dilakukan dengan analisis multivariate korespondensi (Gambar 10). Gambar ini memperlihatkan bahwa bahan induk sangat berpengaruh terhadap tekstur dan pH tanah. Hal ini ditunjukkan oleh sudut antara pH dan tekstur tanah dengan bahan induk relatif kecil, bila dibandingkan dengan karakteristik lainnya. Bahan volkan

intermedier-basis (tuf andesit, lava andesit, dan basal) cenderung mempunyai tekstur halus dan pH masam-agak masam, sedangkan volkan masam (dasit, liparit, granit, dan diorit) cenderung mempunyai tekstur sedang dan pH masam. Bahan sedimen halus masam (batuliat, batulumpur, batulanau, serpih, batudebu, serpih, batusabak, dan skis) cenderung mempunyai tekstur halus dan pH masam. Bahan sedimen kasar masam (batupasir, kuarsit, gneiss, konglomerat, breksi) cenderung mempunyai tekstur sedang dan pH masam. Bahan sedimen halus non masam (batugamping, napal, batukapur, liat berkapur) cenderung mempunyai tekstur halus dan pH netral. Bahan sedimen kasar non masam (batupasir berkapur, breksi berkapur) cenderung mempunyai tekstur sedang dan pH netral.

(2) Hubungan iklim dengan karakteristik tanah

Hubungan iklim dengan karakteristik tanah digambarkan dengan hasil analisis multivariate korespondensi (Gambar 11). Gambar ini menunjukkan bahwa iklim lebih berhubungan erat dengan nilai KTK dan pH tanah dari pada karakteristik lainnya, seperti ditunjukkan oleh sudut yang relatif kecil.

Gambar 11. Pengaruh iklim terhadap karakteristik tanah

Iklim dengan anasir curah hujan dan temperatur udara sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan sifat-sifat tanah. Proses pelapukan dan pencucian

(leaching) berjalan cepat oleh karena curah hujan dan temperatur udara tinggi di

daerah tropika (Mohr et al. 1972). Pada daerah iklim basah dengan curah hujan tinggi, proses pencucian berlangsung sangat intensif, sehingga menyebabkan KTK dan pH tanah cenderung rendah dan sebaliknya. Dengan demikian,

pengelompokan pengaruh iklim (curah hujan dan temperatur) terhadap karakteristik tanah didasarkan atas nilai-nilai KTK dan pH tanah. Dalam penelitian ini anasir temperatur udara didekati dengan ketinggian tempat (elevasi), sedangkan anasir curah hujan didekati dengan jumlah curah hujan tahunan dan bulan kering (<100 mm). Berdasarkan uji keragaman faktor iklim (curah hujan dan elevasi) terhadap KTK dan pH tanah menunjukkan bahwa curah hujan dikelompokan menjadi 2 (dua), yaitu: (1) beriklim basah (CH >1.500 mm/th dan tidak mempunyai bulan kering selama >4 bl berturut-turut) dan (2) kering (k) (CH<1.500 mm/th atau CH <2.500 mm dan mempunyai bulan kering selama >4 bl berturut-turut), sedangkan elevasi dikelompokan menjadi 2 (dua), yaitu (1) dataran rendah (elevasi <750 m dpl) dan (2) dataran tinggi (elevasi >750 m dpl).

(3) Hubungan relief dengan karakteristik tanah

Hubungan relief dengan karakteristik tanah digambarkan dengan hasil analisis multivariate korespondensi (Gambar 12). Gambar ini menunjukkan bahwa relief lebih berhubungan erat dengan pH, KTK, dan drainase tanah dibandingkan oleh karakteristik lainnya, ditunjukkan oleh sudut yang relatif kecil.

Gambar 12. Pengaruh relief terhadap karakteristik tanah

Topografi merupakan kondisi relief yang diukur dari kelerengan dan amplitudo (beda tinggi) suatu wilayah. Relief mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan cara mempengaruhi jumlah air hujan yang meresap atau ditahan oleh masa tanah, mempengaruhi kedalaman air tanah, besaran erosi, dan mengarahkan gerakan air berikut bahan-bahan yang terlarut di dalamnya.

Indonesia termasuk daerah tropika basah, proses erosi berlangsung sangat intensif dan hasil erosi diendapkan pada wilayah bawah (cekung), bahan organik dan mineral basa-basa terakumulasi pada wilayah tersebut, sehingga menyebabkan KTK tanah tinggi, berpengaruh terhadap pH tanah dan cenderung drainase buruk.

Relief dalam interpretasi potensi sumberdaya lahan berpengaruh terhadap pengelolaan lahan. Tingkatan manajemen dapat meningkatkan kelas kesesuian lahan. Pengelompokan relief mengacu pada Marsoedi et al. (1997), yaitu: datar (lereng <3%), berombak (lereng (3-8%), bergelombang (lereng 8-15%), berbukit kecil (lereng 15-25%), berbukit (lereng 25-40%), dan bergunung (lereng >40%).