BAB 4. HASIL PENELITIAN
5.2. Pengaruh Faktor Personal terhadap Kelangsungan
pengetahuan.
5.2.1. Pengaruh Umur terhadap Kelangsungan Penggunaan AKDR
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel umur dengan kategori tidak berisiko yang penggunaan AKDR yakin sebanyak 53,8% dan penggunaan tidak yakin sebanyak 21,2%, sedangkan variabel umur kategori berisiko yang penggunaan AKDR yakin sebanyak 9,6% dan penggunaan tidak yakin sebanyak 15,4%. Berdasarkan hasil uji chi-square antara variabel umur dengan penggunaan
AKDR diperoleh nilai p = 0,047 (< α 0,05), artinya ada pengaruh yang signifikan
antara variabel umur terhadap keberlangsungan penggunaan AKDR.
Menurut Meilani (2010), AKDR lebih utama digunakan oleh ibu PUS yang telah berusia diatas 35 tahun, dengan pertimbangan penggunaan alat kontrasepsi hormonal kurang menguntungkan karena efek dari kandungan hormonnya. Tetapi tidak menutup kemungkinan digunakan oleh ibu PUS yang berusia reproduksi sehat (20 – 35 th).
Dalam penelitian ini sebagian besar responden adalah berusia yang tidak berisiko atau berada pada kurun waktu reproduksi sehat (20 – 35 th), yaitu sebanyak 39 orang (75,0%). Dalam hal ini berhubungan dengan masa reproduksi yang sangat berkaitan dengan masa pengaturan kehamilan yang membutuhkan alat kontrasepsi yang relatif aman dan tidak merepotkan.
IUD merupakan cara KB efektif terpilih yang sangat diprioritaskan pemakaiannya pada ibu dalam fase menjarangkan kehamilan dan mengakhiri kesuburan serta menunda kehamilan. Selain itu IUD juga diberikan kepada wanita yang menginginkan kontrasepsi efektif yang berjangka panjang tetapi belum menginginkan atau masih takut menggunakan metode sterilisasi, wanita yang tidak ingin repot minum pil setiap hari atau mempunyai kontraindikasi pil, wanita yang sedang menyusui, dan wanita di atas 35 tahun apalagi perokok.
Setelah dilakukan analisis multivariat dengan uji regresi logistik, ternyata variabel umur tidak berpengaruh terhadap kelangsungan penggunaan AKDR dengan
tidak dipengaruhi oleh umur responden, tetapi dipengaruhi oleh empat variabel lain yang lebih dominan, yaitu pengetahuan, peranan keluarga, kelompok referensi dan pemberian konseling.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Radita, K (2009) yang menunjukkan faktor yang berhubungan dengan pemilihan jenis alat kontrasepsi diantaranya adalah umur , jumlah anak dan pendidikan, dan setelah dilakukan analisis multivariat variabel umur merupakan variabel yang paling berpengaruh dengan nilai
p = 0,011.
5.2.2. Pengaruh Pendidikan terhadap Kelangsungan Penggunaan AKDR
Berdasarkan hasil analisis uji chi-square pada variabel pendidikan, diperoleh nilai p = 0,443 (> α 0,05), artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel pendidikan terhadap kelangsungan penggunaan AKDR. Pada tabulasi silang diketahui pada kategori pendidikan tinggi yang penggunaan AKDR yakin sebanyak 55,8% dan penggunaan tidak yakin sebanyak 28,8%, sedangkan kategori pendidikan rendah yang penggunaan AKDR yakin sebanyak 7,7% dan penggunaan tidak yakin 7,7%.
Hasil yang sama ditunjukkan pada penelitian Yanti, N (2010) di Desa Tanjung Rejo Percut Sei Tuan, bahwa tidak ada pengaruh antara variabel pendidikan terhadap keikutsertaan wanita PUS dalam penggunaan KB IUD (p = 0,735).
Pendidikan adalah proses belajar, yang berarti dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat yang
memperoleh jenjang pendidikan formal. Konsep ini berangkat dari asumsi bahwa manusia sebagai mahluk sosial dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-nilai hidup dalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai kelebihan. Dalam mencapai tujuan tersebut, seorang individu, kelompok atau masyarakat tidak terlepas dari proses belajar (Notoatmodjo, 2007).
Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara pendidikan dengan kelangsungan penggunaan AKDR. Menurut asumsi peneliti bahwa faktor pendidikan tidak berhubungan dengan penggunaan AKDR karena walaupun tingkat pendidikan responden tinggi jika tidak mempunyai pengetahuan yang baik tentang AKDR dan tidak cukup mendapatkan informasi yang akurat belum tentu memilih dan menggunakan AKDR. Pendidikan responden tidak selalu beriringan dengan tingkat pengetahuannya, pertentangan akan muncul apabila pendidikan responden tidak sejalan dengan pengetahuan yang harus diketahuinya.
Berbeda dengan hasil penelitian Tri, W (2001) di Gombong Kebumen, bahwa pendidikan ibu menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kesertaan KB IUD dengan p = 0,003. Bisa dijelaskan bahwa pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan suatu tambahan pemahaman tentang hal-hal baru. Disamping itu pendidikan juga merupakan suatu stimulus yang dapat menciptakan dorongan kepada seseorang untuk menerima suatu inovasi.
5.2.3. Pengaruh Pengetahuan terhadap Kelangsungan Penggunaan AKDR
Berdasarkan hasil penelitian, dari 38 responden yang berpengetahuan baik, 53,8% merupakan kategori penggunaan AKDR yakin dan 19,2% penggunaan tidak
yakin, sedangkan dari 14 responden berpengetahuan kurang yang penggunaan AKDR yakin sebanyak 9,6% dan penggunaan tidak yakin 17,3%. Hasil analisis statistik dengan uji chi-square antara variabel pengetahuan dengan penggunaan AKDR diperoleh nilai p = 0,021 (< α 0,05), artinya ada pengaruh yang signifikan
antara variabel pengetahuan terhadap kelangsungan penggunaan AKDR.
Menurut Rogers (1983) tingkat pengetahuan sangat berpengaruh terhadap proses menerima atau menolak suatu inovasi. Dalam teori tersebut dikatakan bahwa pengetahuan dan sikap merupakan langkah perantara dalam proses pengambilan keputusan oleh seseorang yang akhirnya membawa perubahan pada tingkah laku.
Pada proses adopsi AKDR, dalam diri responden terjadi proses yang berurutan. AKDR sebagai sebuah inovasi dapat diadopsi oleh responden melalui proses berurutan, yaitu : knowledge (merubah pemahaman individu), persuation
(pembentukkan sikap bisa menerima atau menolak), decision (menimbang-nimbang terhadap pilihan yang akan diambil), implementation (mencoba perilaku baru),
confirmation (pemantapan/ berperilaku baru). Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses tersebut, yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat long lasting.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Junita, T (2009) yang menunjukkan ada pengaruh yang signifikan, antara pengetahuan terhadap pemakaian alat kontrasepsi dengan nilai p = 0,014. Pengetahuan tentang alat kontrasepsi menjadi variabel yang sangat berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi oleh akseptor.
Setelah dilakukan analisis multivariat dengan uji regresi logistic tahap kedua, variabel pengetahuan bersama-sama dengan variabel peranan keluarga, kelompok referensi dan konseling, ternyata menunjukkan hasil yang tidak signifikan dengan p = 0,081 (> α 0,05). Sehingga gugur dan dikeluarkan dari model untuk tahap
berikutnya.
Dari hasil analisa multivariat yang menunjukkan pengetahuan ternyata tidak mempunyai peran yang cukup kuat pada saat peranan keluarga, kelompok referensi dan konseling diuji secara bersama-sama. Kelangsungan penggunaan AKDR pada responden lebih besar dipengaruhi karena adanya peranan dari keluarga, kemudian adanya kelompok referensi yang bisa memberikan rekomendasi yang cukup besar dan karena proses konseling yang diterima dari petugas kesehatan, baik pada saat sebelum, ataupun setelah pemasangan.