• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.3 Pengembangan Hipotesis

2.3.1 Pengaruh Free cash flow Terhadap Manajemen Laba

Menurut Kieso et al. (2011), free cash flow adalah jumlah arus kas discretionary yang dimiliki oleh badan usaha untuk pembelian investasi tambahan, utang pensiun, pembelian saham kembali atau menambah likuiditas. Menurut Tresnaningsih (2008), perusahaan yang mempunyai arus kas bebas atau free cash flow dan kesempatan pertumbuhan yang rendah lebih cenderung melakukan investasi pada proyek dengan net present value (NPV) negatif, ini akan memberi keuntungan bagi manajer, baik dalam bentuk uang ataupun imbalan lainnya, tetapi membuat penilaian terhadap kinerja perusahaan menurun.

Free cash flow

Profitabilitas

Leverage

Manajemen Laba

Good Corporate Governace:

1. Komisaris Independen 2. Komite Audit

Gambar 1 Model Penelitian

Agustia (2013) mengatakan free cash flow berpengaruh negative signifikan dan leverage berpengaruh terhadap manajemen laba. Sedangkan menurut Puspita dan Maswar (2016) free cash flow berpengaruh positif. Ini sama dengan hasil penelitian Makrifat (2016) dan Wahyunita (2020) yang menyatakan bahwa free cash flow berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba.

Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1 : Free cash flow berpengaruh positif terhadap manajemen laba 2.3.2. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba

Profitabilitas adalah salah satu indikator kinerja manajemen dalam mengelola kekayaan. Semakin tinggi laba yang diperoleh perusahaan maka semakin tinggi keinginan manajemen untuk melakukan manajemen laba. Manajemen laba dapat dilakukan dengan cara meratakan labanya agar stabil. Tingkat profitabilitas yang stabil dapat meyakinkan investor bahwa perusahaan tersebut memiliki kinerja yang baik dalam menghasilkan laba. Beberapa penelitian terdahulu yang sependapat dengan pernyataan tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh Winingsih (2017), Kurnia dan Oky (2019), profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba.

Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2 : Profitabilitas berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

2.3.3. Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba

Leverage bagian aset untuk menjamin hutang perusahaan. Perusahaan yang nilai leverage tinggi yang diakibatkan nilai hutang lebih besar dari nilai aset yang

dimiliki akan kesulitan untuk membayar kewajiban dalam membayar hutang yang sudah jatuh tempo atau default.

Sebuah perusahaan dikatakan tidak solvabel apabila total hutang perusahaan lebih besar dari pada total asset yang dimiliki perusahaan. Dengan semakin tingginya rasio leverage menunjukkan semakin besarnya dana yang disediakan oleh kreditur (Hanafi dan Halim, 2005). Tingkat hutang (leverage) perusahaan yang tinggi cenderung terjadi manajemen laba daripada perusahaan yang memiliki tingkat leverage yang rendah, karena tingkat leverage yang tinggi cenderung terjadi keterlambatan pembayaran kewajiban tepat waktu dan menurunnya kepercayaan pihak investor dan kreditur. Sehingga, hal ini menjadi peluang bagi manajemen untuk bermain mengubah kebijakan dengan menaikkan pendapatan perusahaan dengan tujuan kepercayaan pihak ketiga dapat dipertahankan (Fatima,2019). Fitria et al. (2019) dalam penelitiannya mengatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Rahma dan Hendri (2017) berpendapat juga bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap earning management Ini berbeda pendapat sama Ramadhani Fitri et al (2017) dan penelitian Guna dan Herawaty (2010) yang mengatakan bahwa leverage berpengaruh terhadap manajemen laba.

Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3 : Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

2.3.4. Komisaris Independen Memoderasi Pengaruh Free Cash flow Terhadap Manajemen Laba

Free Cash Flow (arus kas bebas) adalah arus kas yang siap untuk dibayarkan kepada seluruh investor setelah perusahaan mengeluarkan dananya untuk investasi pada aktiva tetap, produk baru dan modal kerja jika diperlukan untuk mempertahankan kegiatan operasional perusahaan yang sedang berjalan (Brigham dan Houston,2007). Manajer lebih memilih menginvestasikan dana perusahaan pada proyek-proyek yang dapat menghasilkan keuntungan jangka panjang, ini akan meningkatkan insentif bagi manajer. Di sisi lain, pemegang saham menginginkan sisa dana tersebut dibagikan sehingga dapat menambah kesejahteraan bagi pemegang saham. Untuk meminimalisir adanya konflik keagenan maka perlu di terapkannya good corporate governance. Ramadhanti (2020), berpendapat bahwa dewan komisaris independen tidak berpengaruh signifikan dalam mempengaruhi free cash flow terhadap manajemen laba.

Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H4: Komisaris Independen memoderasi pengaruh antara free cash flow dengan manajemen laba

2.3.5. Komisaris Independen Memoderasi Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba

Profitabilitas yang tinggi mempengaruhi manajemen laba. Tingkat Return on Asset (ROA) yang tinggi menandakan aset yang digunakan perusahaan dimaksimalkan untuk mendapat keuntungan yang sebesarnya-besarnya. Setiap perusahaan pasti memiliki kebijakan yang mana jika hasil yang dicapai melebihi

dari yang ditargetkan, maka perusahaan memberikan penghargaan atas kerja keras tersebut, namun jika hasil yang di capai tidak sesuai target maka bisa jadi perusahaan akan memberikan penalti. Penghargaan atau penalti tersebut yang mendorong manajemen dalam mengelola laba, laba dapat dibuat tidak terlalu besar pada tahun berjalan dan kelebihan labanya akan dilaporkan di tahun buku periode selanjutnya.

Laba perusahaan yang tinggi juga berpengaruh dalam pembagian deviden dan tantiem dalam RUPS. Untuk mengurangi manajemen laba dan benturan kepentingan pemegang saham perlu adanya dewan komisaris independen yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis.

Pada penelitian sebelumnya (Nasution:2007) dan (Setiawan:2007) dalam Mayuri (2019) menjelaskan bahwa proporsi komisaris independent berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Arini (2017) Profitabilitas yang dimoderasi dengan komisaris independen memiliki pengaruh terhadap manajemen laba riil.

Jika profitabilitas perusahaan semakin baik dan ditunjang proporsi komisaris independen maka tindakan manajemen laba akan menurun.

Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H5: Komisaris Independen memoderasi pengaruh antara profitabilitas dengan manajemen laba.

2.3.6. Komisaris Independen Memoderasi Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba

Baillusy et al. (2019) menyatakan bahwa dewan komisaris independen mampu memoderasi pengaruh leverage terhadap manajemen laba. Perusahaan yang memiliki komisaris independen yang tinggi maka tingkat pengawasan terhadap manajemen laba akan bagus. Pendapat tersebut sejalan dengan Indeswari (2015) yang menyatakan bahwa komisaris independen berpengaruh terhadap hubungan leverage dan manajemen laba. Tidak stabilnya leverage yang menjadi indikasi terjadinya manajemen laba dapat dihindari dengan struktur komisaris independen, senada dengan penelitian tersebut Yendrawati (2017) juga mengatakan bahwa komisaris independen merupakan variable yang memoderasi hubungan leverage dengan manajemen laba.

Berbeda dengan penelitian Rahmah (2017) dan savitri (2019) bahwa komisaris independent tidak dapat memoderasi hubungan leverage terhadap earning manajement. Arini (2017) leverage dimoderasi dengan komisaris independent tidak berpengaruh terhadap manajemen laba riil.

Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H6: Komisaris Independen memoderasi pengaruh antara leverage dengan manajemen laba.

2.3.7. Komite Audit Memoderasi Pengaruh Free Cash Flow Terhadap Manajemen Laba

Nilai perusahaan dapat ditentukan dari free cash flow yang dimiliki. Free cash flow yang tinggi dapat menunjukkan kinerja manajemen yang baik artinya bahwa perusahaan sudah bisa meningkatkan harga sahamnya dan dapat mempunyai kelebihan uang membagikan deviden kepada pemegang saham. Namun, dilain sisi manajemen terkadang ingin mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan dana yang ada untuk investasi atau perkembangan usaha. Dari perbedaan kepentingan tersebut dan untuk menghindari adanya praktek manajemen laba, komisaris menunjuk komite audit untuk mengontrol praktik-praktik yang ada dilapangan.

Menurut Angnivillia (2019) Komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba sedangkan untuk free cash flow berpengaruh terhadap manajemen laba. Berbeda dengan pendapat (Wahyunita:2020) free cash flow berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba, hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian (Widyawati:2019) yang menyatakan bahwa komite audit memperkuat pengaruh free cash flow terhadap manajemen laba. Perusahaan dengan memiliki susun komite audit maka pengawasan terhadap kinerja pelaporan keuangan perusahaan akan tinggi dan akan meminimalisir kegiatan manajemen laba.

Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H7: Komite Audit memoderasi pengaruh antara free cash flow dengan manajemen laba.

2.3.8. Komite Audit Memoderasi Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba

Salah satu alat ukur keuangan perusahaan adalah dengan rasio profitabilitas.

Tingginya rasio profitabilitas melambangkan bahwa tingkat laba perusahaan tinggi dan efesiensi perusahaan sangat baik. Tingkat keuntungan laba akan berkaitan erat dengan kinerja manajer dalam mengelolah keuangan perusahaan, hal ini akan berdampak terhadap bonus yang diberikan kepada karyawan. Bukan hanya itu, perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi akan berdampak baik terhadap hubungan perusahaan dengan kreditor. Peningkatan profit yang kurang stabil dapat dihubungkan dengan manajemen laba. Untuk mengurangi hal tersebut, maka perusahaan membentuk komite audit sebagai pengawas kinerja keuangan.

Penelitian Ferdianto (2019), Komite audit sebagai variable moderasi dalam hubungannya profitabilitas terhadap manajemen laba memiliki pengaruh secara signifikan. Sedangkan penelitian Zakia (2019), good gorporate governance dengan proksi komite audit tidak berpengaruh terhadap interaksi antara profitabilitas dengan manajemen laba

Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H8: Komite Audit memoderasi pengaruh antara Profitabilitas dengan manajemen laba.

2.3.9. Komite Audit Memoderasi Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba

Leverage yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan kurang bisa membayar hutangnya. Dan kurang stabilnya nilai leverage maka terindikasi bahwa ada tindakan manajemen laba. Komite audit sebagai orang yang ditunjuk langsung oleh komisaris dalam mengawasi pelaporan keuangan, diharapkan dapat menekan tindakan manajemen laba. Menurut penelitian Indeswari (2015) dan Rahmah (2017) menyatakan bahwa komite audit tidak berpengaruh terhadap hubungan leverage dana manajemen laba. Sedangkan menurut Yedrawati (2017), komite audit adalah variable yang memoderasi hubungan leverage dengan manajemen laba Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H9: Komite Audit memoderasi pengaruh antara leverage dengan manajemen laba

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian dan Gambaran dari Populasi (Objek Peneliti)

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan memperoleh data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang memiliki kualitas atau karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik simpulan (Sugiyono, 2014: 61).

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sektor manufaktur dari sub sektor “basic industry and Chemicals”untuk tahun pelaporan 2017 - 2018.

3.2. Teknik Pengambilan Sampel

Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2014:62). Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yang merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2014:64). Kriteria penentuan sampel dalam penulisan ini yaitu:

1. Perusahaan go public dari Bursa Efek Indonesia untuk sektor jasa non keuangan

2. Populasi sektor manufaktur dari sub sektor “basic industry and chemicals”

3. Data laporan tahunan untuk tahun pelaporan 2017 - 2018 yang tersedia secara lengkap

4. Laporan keuangan diterbitkan dalam satuan mata uang rupiah tahun pelaporan 2017 – 2018

3.3. Teknik Pengumpulan Data 3.3.1. Jenis Data

Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya yang berupa referensi dari penelitian terdahulu dan bacaan lainnya yang ada hubungannya dalam penelitian (Sunyoto, 2011:163)

3.3.2. Sumber Data

Data sekunder berupa laporan keuangan tahunan yang terdapat rasio keuangan dan telah di audit selama periode penelitian yaitu dari tahun 2017 sampai 2018 yang diperoleh dari website resmi masing-masing bank yang diteliti dan website resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).

3.3.3. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi untuk memperoleh data sekunder yang dibutuhkan. Dokumentasi adalah pengumpulan data dengan cara mencari catatan-catatan, dokumentasi-dokumentasi, dan arsip-arsip dari pihak - pihak yang bersangkutan (Sunyoto, 2011:164)

3.4. Variable dan Definisi Operasional Variable

Variable yang digunakan dalam penelitian ini meliputi variable dependen, variabl independent dan variable moderasi. Variable yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1. Variable Dependen

Variable dependen bisa disebut variable terikat. Variable terikat adalah variable yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variable bebas (Ghozali, 2016:6). Variable dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah manajemen laba. Manajemen laba adalah suatu aktifitas memanfaatkan teknik dan kebijakan akuntansi untuk mendapatkan hasil yang didinginkan. Pengukuran manajemen laba dalam penelitian ini dengan discreationary accrual yaitu selisih antara total akrual dengan non discreationary accrual. Menggunakan model Total Accrual (TA) yaitu ada dua, discreatonary accrual (DA) dan non discreationary accrual (NDA).

Discreationary accrual dihitung dengan Modified Jones Model. Karena pengembangan dari Model Jones menambah unsur perubahan pendapatan, yang mana perubahan pendapatan pada periode berjalan merupakan objek manipulasi laba (Sulistiawan et al.,2011 : 67). Model perhitungannya, adalah sebagai berikut:

Persamaan 1:

𝑇𝐴𝑖𝑡 = 𝑁𝐼𝑖𝑡 − 𝐶𝐹𝑂𝑖𝑡

Untuk menentukan nilai parameter 𝛽1, 𝛽2, 𝛽3 menggunakan Model Jones 1991:

𝑇𝐴𝑖𝑡 = 𝛽1+ 𝛽2∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡 + 𝛽3𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡 + 𝜀𝑖𝑡

Setelah itu, untuk menskala data semua variable tersebut dibagi dengan asset tahun sebelumnya, sehingga rumus berubah menjadi:

𝑇𝐴𝑖𝑡

𝐶𝐹𝑂𝑖𝑡 : Arus kas operasional perusahaan i pada tahun t 𝑁𝐷𝐴𝑖𝑡 : Non discretionary accrual perushaan i pada tahun t 𝐷𝐴𝑖𝑡 : Discretionary accrual perusahaan i pada periode

ke-t

𝐴𝑖𝑡−1 : Total asset perusahaan i pada tahun t-1 (asset tahun sebelumnya)

∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡 : Pendapatan perusahaan i pada tahun t

∆𝑅𝐸𝐶𝑖𝑡 : Piutang bersih perusahaan i pada tahun t

𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡 :Aset tetap (property, plant, equipment) perusahaan i pada tahun t

𝛽1, 𝛽2, 𝛽3 : Parameter yang diperoleh dari persamaan regresi 𝜀𝑖𝑡 : Error term perusahaan i pada tahun t

3.4.2. Variable Independen

Variable independen atau yang biasa disebut variable bebas merupakan variable yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable dependen (Ghozali, 2016:6). Dalam penelitian ini yang menjadi variable bebas adalah free cash flow , profitabilitas dan leverage.

1. Free Cash flow

Free cash flow adalah kas perusahaan yang didistribusikan kepada kreditor atau pemegang saham setelah dikurangi modal kerja atau investasi pada asset (Herlambang, 2017). Menurut Diana dan Hutasoit (2017) free cash flow atau FCF dapat dihitung dengan rumus:

FCF = AKO – PM FCF = Free Cash Flow AKO = Aliran Kas Operasi PM = Pengeluaran Modal

Dalam penelitian ini pengeluaran modal menggunakan nilai pengeluaran aset yang didapatkan dari arus kas investasi di laporan keuangan. Skala rasio

untuk mengukur free cash flow , yaitu free cash flow dibagi total aset.

Tujuannya mempermudah comparable sampel penelitian (Kangarluei dalam Agustia, 2013).

2. Profitabilitas

Profitabilitas, yaitu tolak ukur tercapinya laba. Dalam penelitian ini profitabilitas diukur dengan Return on Asset (ROA). Return on Asset (ROA) yaitu dengan membagi laba bersih dengan total aset (Brealey et al., 2007)

ROA = 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡 𝑥100%

3. Leverage

Munawir (2011) mengatakan, rasio leverage adalah rasio yang bertujuan melihat sejauh mana kemampuan perusahaan dengan modal yang dimiliki untuk membayar kewajiban perusahaan. Rasio leverage dihitung dengan menggunakan rumus :

DER = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠𝑥100%

3.4.3. Variable Moderasi

Dalam penelitian ini yang menjadi variable moderasi adalah Good Corporate Governance. (Agoes, 2011) Organ tambahan untuk melengkapi penerapan GCG yaitu, ukuran dewan komisaris, dewan komisaris independen, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komite audit. Dalam penilaian corporate governance diproksikan dalam komisaris independen dan komite audit.

1. Komisaris Independen

Komisaris Independen merupakan anggota komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak demi kepentingan perusahaan (KNKG,2006). Indikator pengukuran untuk dewan komisaris independen penelitian ini yaitu presentase jumlah dewan komisaris independen dari seluruh dewan komisaris yang ada dalam perusahaan.

2. Komite Audit

Komite audit adalah orang bertanggung jawab kepada dewan komisaris untuk membatu melakukan tugas dan fungsi dewan komisaris untuk melakukan kebijakan pembukuan keuangan, pengawasan internal dan pelaporan keuangan. Dalam penelitian indikator yang digunakan untuk mengukur komite audit adalah jumlah anggota komite audit yang ada dalam perusahaan.

3.5 Teknik Analisis Data 3.5.1. Uji Asumsi Klasik

Menurut Duli (2019:114) menyimpulkan bahwa:

“Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang berbasis Ordinary Least Square (OLS). Jadi analisis regresi yang tidak berdasarkan OLS tidak memerlukan persyaratan asumsi klasik, misalnya regresi logistik atau regresi ordinal. Uji asumsi klasik yang sering digunakan yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji normalitas, uji autokorelasi”.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan mengetahui nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Untuk mendeteksi apakah distribusi data normal atau tidak dapat digunakan cara:

a. Analisis Grafik

Analisis grafik yang digunakan dalam penelitian ini adalah grafik normal probability plot. Data yang baik adalah data yang berdistribusi normal.

Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya (Ghozali, 2016:154). Dasar pengambilan keputusan menggunakan Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual adalah:

1) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2) Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

b. Analisis Statistik

Salah satu uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S) (Ghozali, 2016:158). Apabila hasil Kolmogorov-Smirnov (K-S) menunjukkan :

1) Nilai sig < 0,05 distribusi adalah tidak normal.

2) Nilai sig > 0,05 distribusi bernilai normal.

2. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas memperlihatkan ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antar variable-variable bebas dalam suatu model regresi linier berganda. Jika korelasi tinggi, maka hubungan antara variable bebas dengan variable terikatnya terganggu Widarjono (dalam Duli, 2019). Alat statistik yang sering digunakan untuk menguji gangguan multikolinearitas adalah dengan variance inflation factor (VIF), korelasi pearson antara variable-variable bebas, atau dengan melihat elgenvalues dan condition index (CI). Dasar pengambilan keputusan pada uji multikolinearitas dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:

a. Melihat nilai tolerance

1) Jika nilai tolerance > 0.10 maka artinya tidak terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji.

2) Jika nilai tolerance < 0.10 maka artinya terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji.

b. Melihat nilai VIF

1) Jika nilai VIF < 0.10 maka artinya tidak terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji.

2) Jika nilai VIF > 0.10 maka artinya terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji.

3. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t sebelumnya pada model regresi linier yang dipergunakan. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Dalam model regresi yang baik, autokorelasi tidak akan terjadi.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi autokorelasi, diantaranya adalah Uji Durbin-Watson karena uji Durbin-Watson ini yang paling umum digunakan. Autokorelasi data dapat dilihat dengan menggunakan uji Durbin Watson (D-W test). Hipotesis yang diuji adalah:

Ho: tidak ada autokorelasi (r = 0) H1: ada autokorelasi (r ≠ 0)

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokolerasi dapat diuji dengan du <

d < 4 – du, yaitu nilai DW akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan signifikan 5% dengan jumlah sampel dan jumlah variable independen. Jika nilai batas atas (du) sudah diketahui, nilai DW harus lebih besar daripada du dan nilai DW kurang dari 4-du, maka dapat disimpulkan maka tidak dapat menolak H0 yang menyatakan bahwa tidak ada autokolerasi positif atau negatif atau dapat disimpulkan tidak terdapat autokolerasi. Dari pengujiaan ini dapat dilihat apakah terjadi autokorelasi atau tidak didasarkan pada nilai Durbin Watson.

4. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas adalah untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain Widarjono (dalam Duli, 2019). Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah di mana terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut heteroskedastisitas.

Ada beberapa cara untuk menguji heteroskedastisitas dalam variance error terms untuk model regresi yaitu metode chart (diagram scatterplot) dan uji statistik (uji glejser). Metode scatter plot dengan memlotkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Dasar analisis yang digunakan sebagai berikut :

a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedasitas.

b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedasitas.

Sedangkan dalam uji glejser, apabila variable independen signifikan secara statistik dalam mempengaruhi variable dependen maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas. Sebaliknya apabila variable independen tidak signifikan secara statistik dalam mempengaruhi variable dependen maka tidak ada

indikasi heteroskedastisitas. Hal tersebut diamati dari probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5% (Ghozali, 2016;138).

3.5.2. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis Regresi adalah analisis untuk mengukur pengaruh variable bebas terhadap variable terikat. Karena dalam penelitian terdapat lebih dari satu variable bebas bebas (X) dan variable terikat (Y), maka menggunakan model analisis regresi liner berganda.

Analisis regresi berganda menghitung pengaruh variable independen free cash flow profitabilitas dan leverage terhadap variable dependen manajemen laba.

𝐷𝐴𝑡+1 = 𝛽0+ 𝛽1𝐹𝐶𝐹𝑡+ 𝛽2𝑃𝑅𝑂𝑡+ 𝛽3𝐿𝐸𝑉𝑡+ 𝜀

3.5.3. Uji Kelayakan Model 1. Uji F

Uji Statistik F dilakukan untuk menguji apakah variable independen yang terdapat dalam persamaan regresi secara bersamaan berpengaruh terhadap nilai variable dependen. Uji F membandingkan nilai F hitung dengan F tabel dan melihat nilai signifikansi F pada output hasil regresi menggunakan SPSS dengan nilai signifikansi 0,05 dengan cara sebagai berikut:

a. Bila F probabilitas < nilai signifikan (Sig ≤ 0,05), maka hipotesis tidak dapat ditolak, berarti bahwa model regresi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variable-variable independen terhadap variable dependen

b. Bila probabilitas > nilai signifikan (Sig ≥ 0,05), maka hipotesis tidak dapat diterima, berarti model regresi tidak layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variable-variable independen terhadap variable dependen.

2. Uji Koefisien Determinasi (R2)

2. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Dokumen terkait