BAB II LANDASAN TEORI
B. Teori Hierarki Pengaruh
5. Pengaruh ideologi (Ideologi level)
Ideologi yang diartikan sebagai kerangka berpikir tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Berbeda dengan level pengaruh media sebelumnya yang tampak konkret, level ideologi ini abstrak. Level ini berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas dalam sebuah media.
7 Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, Mediating the message, theories of influences on mass media content (New York: Longman Publisher, 1996) h.178
Sebelum berangkat lebih jauh mengenai level pengaruh ideologi ini, kita akan membahas lebih dahulu pengertian ideologi itu sendiri. Ideologi menurut pandangan teori kritis adalah sekumpulan ide-ide yang menyusun sebuah kelompok nyata, sebuah representasi dari sistem atau sebuah makna dari kode yang memerintah bagaimana individu dan kelompok melihat dunia. Dalam Marxisme klasik, sebuah ideologi adalah sekumpulan ide-ide keliru yang diabadikan oleh ide-ide yang dominan.8
Dengan semua pengaruh potensial dari berbagai kelompok konstituen, masih ada filter dari organisasi media massa. Organisasi seperti jaringan memiliki fungsi dan tujuan serta hubungan ke pemerintah, untuk lembaga regulator, untuk pengiklan, kepada perusahaan induknya, dan untuk pembaca. Nilai – nilai, fungsi dan kepentingan terikat untuk mempengaruhi pesan jaringan untuk mempublikasikan.9
8 Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, Mediating the message, theories of influences on mass media content (New York: Longman Publisher, 1996) h. 224
9 John A. Fortunato : Making Media Content The Influence Of Constituency Groups on Mass Media ( London, Lawrence Erlbraum Associates, 2005) h. 118
F. Metodologi Penelitian 1. Paradigma Penelitian
Paradigma dilihat sebagai cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhi pola berpikir, bersikap, bertingkah laku.10 Penulis menggunakan paradigma konstruktivis.
Paradigma ini mempunyai posisi dan pandangan terhadap media dan teks berita yang dihasilkan. Rancangan konstruktivis melihat realitas pemberitaan media sebagai aktivitas konstruksi sosial.11 Paradigma konsrukrivis memandang suatu realitas atau temuan suatu penelitian sebagai produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Paradigma ini lebih menekankan kepada empati, dan interaksi dialektis antara peneliti-responden untuk untuk mengkonstruk realitas yang diteliti melalui metode – metode kualitatif.12
10 Dani Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Jakarta:
PT Indeks,2005), H.27
11 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2004), h204
12 Rachmat Kriyantoro, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group,2010)h.52
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah diamana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analaisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian ini lebih menekankan makna daripada generalisasi.
Metode penelitian ini sering pula disebut sebagai metode penelitian naturalistik. Karena penelitiannya dilakukan pada kondisi alamiah (Natural Setting).13 Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapat diamati.14
3. Metode Penelitian Analisi Deskriptif
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang bersifat kualitatif. Metode
13 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, ( Bandung: Penerbit Alfabeta, 2010) h1
14 Lexy J. Moeleong, Metode Penelitian Kualitatif, ( Bandung, Remaja Rosdakarya, 2014) h4
deskriptif bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik suatu populasi tertentu atau bidang tertentu secara fakta dan cermat.15 Penelitian ini akan mendeskripsikan atau memberikan gambaran, Faktor hirarki apa saja yang sangat berpengaruh dalam menentukan berita yang akan dijadikan Headline pada majalah politik GATRA.
4. Subjek dan Objek Penelitian
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.16 dalam penelitian ini, penulis menggunakan:
a. Subjek data penelitian diperoleh dari tim redaksi yang memiliki kebijakan dalam menentukan Headline suatu berita.
b. Objek data yang diperoleh dari Majalah mingguan GATRA.
15 Rahmat, Jalaludin, Metodologi Penelitian Komunikasi ( Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2005) h22
16 Suharsimi arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002) h 107
5. Teknik Pengumpulan Data a. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik penelusuran informasi untuk menggali dan mengindentifikasi data primer pnelitian di dokumen – dokumen tertulis.
Tujuannya untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan interpretasi data.17 Peneliti akan mendokumentasikan proses wawancara dengan redaktur Majalah GATRA.
b. Wawancara
Wawancara pada dasarnya bertujuan untuk membangun konfidensi periset pada respondennya.18 Wawancara merupakan isntrumen utama dalam melakukan penelitian ini. wawancara dilakukan untuk menambah data yang diperlukan melalui tanya jawab seputar topik yang terkait dengan permasalahn ini.
yang akna menjadi sumber data utama adalah pemimpin redaksi Majalah Mingguan GATRA atau
17 Kriyanti Rachmat, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta, Kencana Prenadamedia Group) h120
18 Kriyanti Rachmat, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta, Kencana Prenadamedia Group) h.100
orang yang dapat mewakili serta dianggap berkompeten untuk memberikan data yang valid.
6. Teknik Analisi Data
Teknik analsisi data dilakukan berdasarkan seluruh fakta dan data hasil observasi, dokumentasi, wawancara dan studi pustaka yang diolah dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan peneliti.
7. Tinjauan Pustaka
Analisis ini merujuk kepada penelitian – penelitian sebelumnya yang menggunakan teori hirarki pengaruh pada media massa, yaitu :
a. Skripsi yang berjudul “Teori Hirarki Pengaruh Pada Pemberitaan Ahmadiyah di Majalah Tempo” yang di tulis oleh Fahdi Fahlevi, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Tahun 2013. Perbedaan skripsi ini dengan peneliti adalah skripsi karya Fahdi Fahlevi menggunakan media cetak majalah Tempo sedangkan peneliti menggunakan media cetak Majalah GATRA.
b. Skripsi yang berjudul “Hirarki Pengaruh Dalam Pemberitaan Mengenai Pernyataan Donal Trump Kepada Islam di REPUBLIKA Online” yang ditulis oleh Mely Ismi Ardikusuma Wardani, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik Tahun 2015. Perbedaan skripsi ini dengan peneliti adalah skripsi karya Mely Ismi Ardikusuma Wardani menggunakan media online Republika, sedangkan peneliti menggunakan media cetak Majalah politik GATRA.
c. Skripsi yang berjudul “Hirarki Pengaruh Pemberitaan Jokowi pada Laporan Utama Majalah Tempo edisi April – Juni 2014” yang diteliti oleh Nur Fajria Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik Tahun 2015. Perbedaan skripsi ini dengan peneliti adalah skripsi karya Nur Fajria meneliti tentang Pemberitaan Jokowi pada laporan utama Majalah Tempo sedangkan peneliti meneliti tentang kebikajakan redaksional Majalah GATRA dalam menetukan Headline berita.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ditujukan untuk memudahkan pemahaman tentang penelitian ini, maka penulis membagi skripsi ini menjadi lima bagian yang terdiri dari bab per bab, yang berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang utuh dari skripsi ini. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini memuat tentang latar belakang masalah, batasan masalah dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, serta sistematika penelitian.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini peneliti membagi ke dalam empat sub bab. Pertama, konsep media massa yang melingkupi pengertian, fungsi serta jenis media massa. Kemudian peneliti membahas mengenai media massa yang dibagi menjadi penegrtian media cetak media cetak, sejarah munculnya media cetak, bentuk dan elemen berita. Kemudian bab ketiga membahas mengenai Headline. Penulis membahas mengenai
fungsi Headline serta karakteristik Headline. Tidak lupa disertakan kerangka berpikir untuk menggambarkan alur berpikir dari penelitian ini.
BAB III GAMBARAN UMUM MAJALAH MINGGUAN GATRA
Bab ketiga, berisi tentang gambaran umum tentang majalah minggun GATRA yaitu sejarah singkat, visi dan misi, struktur organisasi dan proses pemilihan Headline.
BAB IVANALISIS DATA
Pada bab ini, penulis memberikan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan mengenai Teori Hirarki Pengaruh dalam menentukan berita yang akan dijadikan Headline Pada Majalah GATRA .Pada bab ini pula dijelaskan mengenai keterbatasan penelitian.
BAB V PENUTUP
Bab kelima, sebagai penutup yang terdiri atas kesimpulan, saran-saran, dan rekomendasi untuk penelitian yang akan datang.
19
LANDASAN TEORI
A. Kebijakan Redaksional 1. Pengertian Kebijakan
Kebijakan redaksional terdiri dari dua kata, yaitu kebijakan dan redaksional. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar serta dasar sebuah rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan
kepemimpinan dan cara bertindak: pernyataan, cita-cita, tujuan, prinsip, maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran.19
Adapun Pengertian kebijakan dalam Kamus Manajemen adalah pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran.20 Sedangkan redaksional berasal dari kata redaksi yang berarti suatu bagian
19 Lukman Ali, et.al., Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), h. 640
20 2B. N. Marbun, Kamus Manajemen (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003), h. 119
terpenting dalam organisasi media komunikasi massa yang tugas pokoknya mengelola isi atau acara media massa baik cetak ataupun elektonik. Secara umum redaksi mempunyai tugas dan wewenang untuk pengadaan, pengelolaan, penampilan dan penyusunan komposisi naskah sesuai dengan misi media tersebut.21
Kebijakan menurut James E. Anderson, yaitu : serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seseorang pelaku atau kelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu. Istilah kebijakan publik lebih sering dipergunakan dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan atau kegiatan pemerintah.22
Pendapat Thomas Dye menyatakan bahwa kebijakan publik adalah apapun pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan, definisi tersebut mengandung makna bahwa (1) kebijakan publik tersebut dibuat oleh badan pemerintah, bukan organisasi swasta;
21 Maskun iskandar, Ensiklopedia Nasional Indonesia (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990), h. 125
22 Islamy, Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara,( Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h. 67
(2) kebijakan publik menyangkut pilihan yang harus dilakukaatau tidak dilakukan oleh pemerintah.23
Menurut Suharno istilah kebijakan akan disepadankan dengan kata policy. Istilah ini berbeda maknanya dengan kata kebijaksanaan (wisdom) maupun kebijakan (virtues).Demikian Budi Winarno dan Solichin A. Wahab sepakat bahwa istilah kebijakan penggunaannya sering dipertukarkan dengan istilah-istilah lain seperti tujuan (goal) program, keputusan, undang-undang, ketentuan-ketentuan, standar, proposal dan Grand design.24
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebijakan berartii rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tentang pemerintahan, organisasi, dan sebagainya);
pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai
23 Subarsono, Analisa Kebijakan Publik,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 2
24 Edi Suharno, Analisis Kebijakan Publik(Bandung: Alfabeta, 2008), h.
11
garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran; garis haluan.25
Berdasarkan pengertian-pengertian kebijakan publik di atas, maka disimpulkan bahwa kebijakan adalah serangkaian tindakan yang bersifat mengatur dalam rangka merespon permasalahan yang dihadapi masyarakat dan mempunyai tujuan tertentu, berorientasi kepada kepentingan publik (masyarakat) dan bertujuan untuk mengatasi masalah, memenuhi keinginan dan tuntutan seluruh anggota masyarakat. Kebijakan juga memuat semua tindakan yang dilakukan maupun tidak dilakukan oleh pemerintah yang dalam pelaksanaannya terdapat unsur pemaksaan kepada pelaksana atau pengguna kebijakan agar dipatuhi, hal ini sejalan dengan pendapat Easton bahwa kebijakan mengandung nilai paksaan yang secara sah dapat dilakukan pemerintah sebagai pembuat kebijakan.26
25 Kamus Besar Bahasa Indonesia Online dilihat pada 6 Desember 2017 Puaul 19330
26 Ismail Nawawi, Public PolicyAnalisis, Strategi Advokasi Teori dan Praktek, (Surabaya, PMN, 2009), h.19
Dalam pemilihan Headline, ada aturan atau prinsip dasar yang harus dipatuhi sebagai pedoman yang tertuang dalam kebijakan redaksi. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan tulisan yang sesuai dengan warna politik yang dianut media bersangkutan.
Penulis menyimpulkan bahwa kebijakan merupakan suatu prinsip atau patokan dasar yang membimbing tindakan dan wewenang yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan. Selanjutnya pedoman tersebut berfungsi untuk mengarahkan langkah-langkah demi mencapai suatu tujuan.
2. Landasan Menyusun Kebijakan
Asumsi dasar, masyarakat bisa dijadikan landasan dalam menyusun kebijakan bagi sebuah media. Asumsi tersebut ditopang oleh dalil :
a. Media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan institusi sosial lainnya. Di lain pihak, institusi media diatur oleh masyarakat.
b. Media massa merupakan sumber kekuatan (alat kontrol), manajemen dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didaya gunakan sebagai pengganti sumber daya lainnya.
c. Media merupakan lokasi (forum) yang semakin berperan untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yanmg bertaraf nasional atau internasional.
d. Media sering kali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan symbol, tetapi juga dalam pengembangan tata cara, metode, gaya hidup dan norma-norma.
e. Media telah menjadi sumber dominan, bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif, media menyuguhkan nilai- nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.27
27 McQuail, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, (Jakarta : Erlangga, 1994) h. 3
3. Pengertian Redaksi
Dalam Ensiklopedi Pers Indonesia, Kurniawan Junaedi mendefinisikan: Redaksi adalah bagian atau orang dalam sebuah organisasi pers yang bertugas untuk menolak atau mengizinkan pemuatan sebuah tulisan atau berita. Pertimbangan yang digunakan bisa menyangkut aspek apakah tulisan atau berita itu bernilai berita atau tidak, menarik tidaknya bagi pembaca, serta menjaga corak politik yang dianut penerbit pers tersebut. Di samping itu, bertugas untuk memperhatikan bahasa, akurasi, dan kebenaran tulisan atau beritanya, termasuk di dalamnya menjaga agar tidak salah cetak.28
Maskun Iskandar menyebut redaksional berasal dari kata redaksi yang bermakna suatu bagian penting dalam organisasi media komunikasi massa, yang tugas pokoknya mengelola isi atau acara media massa elektronik atau cetak. Bagian redaksional merupakan bagian yang mengurus pemberitaan.
28Kurniawan Junaedi, Ensiklopedi Pers Indonesia, (Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka Utama, 1991), h. 825.
Pada garis besarnya keredaksian menurut Maskun Iskandar dibagi menjadi empat jenjang : pertama, pemimpin redaksi yang bertanggung jawab pada kebijakan isi media. Kedua, redaktur pelaksana yang dibebani tanggung jawab pelaksanaan keredaksian sehari-hari, biasanya yang mengatur isi berita para wartawan atau reporter. Ketiga, editor atau redaktur, yang bertugas menyunting naskah dan halaman. Keemapat, wartawan atau reporter, yang mencari dan yang membuat berita.29
Sudirman Tebba kemudian menambahkan bahwa ada beberapa dasar pertimbangan media untuk menyiarkan atau tidaknya suatu peristiwa, di antaranya adalah :
a. Ideologis
Pertimbangan ideologis media massa biasanya ditentukan oleh latar belakang pendiri atau pemilik media massa tersebut. Baik itu agama, ataupun nilai-nilai yang dihayati, seperti nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan sebagainya.
29 Maskun Iskandar, ensiklopedia Nasional Indonesia, (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990), h. 125.
b. Politik
Kehidupan pers merupakan indikator demokrasi.Oleh sebab itu, pers tidak pernah lepas dari masalah politik.
Demokrtis tidaknya suatu Negara antara lain ditentukan oleh kehidupan pers nya, yaitu bebas atau tidak. Adanya pemilik tau pimpinan media massa yang juga menjadi pemimpin suatu partai politik, maka akan menyebabkan kedekatan media massa dengan partai politik yang bersangkutan.
c. Bisnis
Dalam hal ini, pemilik media massa lebih melihat kepada pertimbangan siapa sasaran yang paling besar (segmentasi pasar), agar media tersebut banyak dikonsumsi masyarakat. Misalnya dengan melihat ekonomi masyarakat, pendidikan, dan sebagainya.
4. Kebijakan Redaksi
Sudirman Tebba, dalam bukunya, Jurnalistik Baru, mengatakan bahwa, “Kebijakan redaksi merupakan dasar pertimbangan suatu lembaga media massa untuk memberikan atau menyiarkan suatu berita. Kebijakan
redaksional juga merupakan sikap redaksi suatu lembaga media massa, terutama media cetak, terhadap masalah aktual yang sedang berkembang, yang biasanya dituangkan dalam bentuk tajuk rencana.30
Sikap, posisi dan pandangan suatu media merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi kebijakan redaksi. Namun, untuk mengimbangi kebijakan tersebut, perlu memasukkan nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini seperti dikatakan Djudjuk Juyoto,
“Redaksi juga harus mampu menganalisa yang akan diturunkan, yakni adanya daya timbang dan kebijaksanaan redaksionalnya. Tentunya untuk merealisir kenyataan semacam itu, dituntut oleh nilai-nilai, norma-norma, dan standar yang harus diberlakukan dalam kehidupan masyarakatnya. Yakni mampu membangun secara spiritual dan materiilnya.”31
Adapun penjabaran struktur keredaksian pers seperti adalah berikut:
30 Sudirman Tebba, Jurnalistik Baru, (Jakarta: Kalam Indonesia, 2005) h.
150.
31 Djudjuk Juyoto, Jurnalistik Praktis, Sarana Penggerak Lapangan Kerja Raksasa, (Jogjakarta : Nur Cahaya, 1985), h. 31.
a. Pemimpin Redaksi
Pemimpin redaksi merupakan orang pertama yang bertanggung jawab atas semua mekanisme penerbitan dan aktivitas kerja bidang keredaksian sehari-hari. Ia menjadi kepala dibagian editorial atau ruang pemberitaan. Sesuai dengan Undang-Undang Pokok Pers, pemimpin redaksi bertanggung jawab jika ada tuntutan hukum yang disebabkan oleh isi pemberitaan pada penerbitannya.32 Tugas utama pemimpin redaksi adalah mengendalikan kegiatan keredaksian di perusahaannya yang meliputi penyajian berita, penentuan liputan, pencarian fokus pemberitaan, penentuan topik, dan sebagainya.
Pendeknya, baik dan buruk isi pemberitaan pada penerbitannya, tergantung dari ketajaman pemimpin redaksi. Itu sebabnya pemimpin redaksi harus memiliki wawasan yang luas terhadap perkembangan situasi baik politik, sosial maupun budaya.
32 Fitriyan Dennis, Bekerja Sebagai Wartawan, (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2008), h. 51.
b. Sekretaris redaksi
Sekretaris redaksi merupakan pembantu pemimpin redaksi dalam hal administrasi keredaksionalan. Misalnya menerima surat-surat dari luar yang menyangkut keredaksionalan, atau membuat surat-surat yang diperlukan oleh pemimpin redaksi.
c. Redaktur Pelaksana
Redaktur pelaksana (managing editor) adalah jabatan yang dibentuk untuk membantu pemimpin redaksi dalam melaksanakan tugas-tugas keredaksionalannya. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari redaktur pelaksana mengatur pelaksanaan tugas sesuai dengan yang digariskan oleh pemimpin redaksi.
Tanggung jawab redaktu pelaksana langsung kepada pemimpin redaksi.
d. Redaktur
Redaktur merupakan petugas yang bertanggung jawab terhadap isi halaman pada suatu media massa. Tugas utamanya adalah menerima bahan berita, baik dari kantor berita, wartawan, koresponden
atau bahkan press release dari lembaga, organisasi, instansi pemerintah atau perusahaan swasta. Bahan berita tersebut lalu diseleksi mana yang layak untuk dimuat dengan segera (hari itu juga) dan mana yang bisa ditunda pemuatannya. Sebutan lain dari redaktur adalah editor. Karena banyaknya berita tiap harinya, redaktur dibantu oleh asisten redaktur atau sebutan lainnya yaitu subeditor. Tugasnya hanya sebatas mengedit, memberi tambahan data, dan literature agar sesuai dengan gaya penulisan pada penerbitannya.
e. Wartawan
Wartawan atau reporter adalah seseorang yang bertugas mencari, mengumpulkan dan mengolah informasi menjadi berita, untuk disiarkan melalui media massa. Dalam perusahana pers, wartawan merupakan ujung tombak daru usahanya. Mereka yang paling banyak mensuplai bahan berita untuk penyajian tiap harinya. Dari status pekerjaannya, wartawa dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1) Wartawan Tetap
Merupakan wartawan yang bertugas di satu media massa (cetak atau elektronik) dan diangkat menjadi karyawan tetap di perusahaan itu. Istilah wartawan tetap adalah mereka mendapat gaji tetap, tunjangan, bonus, fasilitas kesehatan, dan sebagainya serta diperlakukan sebagaimana karyawan lainnya dengan hak dan kewajiban yang sama. Dalam melaksanakan tugasnya selalu tetap dilengkapi dengan surat tugas (kartu pers).
2) Wartawan Pembantu
Merupakan wartawan yang bekerja di satu perusahaan pers (cetak atau elektronik), tetapi tidak diangkat sebagai karyawan tetap. Mereka diberi honorarium yang disepakati, diberi surat tugas (kartu pers) serta bisa diberi tugas sesuai kemampuannya, dan dapat mewakili penerbitannya bila meliput satu peristiwa. Tetapi mereka tidak mendapatkan jaminan sebagaimana karyawan tetap.
a) Wartawan lepas (freelance)
Merupakan wartawan yang tidak terikat pada satu perusahaan media massa baik cetak ataupun elektronik. Mereka bebas mengirimkan beritanya ke berbagai media massa. Jika berita atau tulisannya itu dimuat, mereka mendapatkan honorarium, begitupum sebaliknya.
b) Koresponden (stringer)
Koresponden yang lebih dikenal dengan sebutan wartawan pembantu, merupakan seseorang yang berdomisili di luar daerah atau luar negeri, untuk menjalankan tugas kewartawannya, yaitu memberikan laporan secara kontinyu tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi di daerahnya. Seseorang itu bisa berasa daridaerah itu sendiri atau orang lain yang ditugaskan daerah tersebut. Dengan demikian, kebijakan redaksi merupakan salah satu unsur yang penting dalam pemberitaan.
Karena kebijakan redaksi dapat mempengaruhi bagaimana bentuk dari suatu media tertentu.
Selain itu juga menjadi penilaian apakah media tersebut diminati oleh masyarakat atau tidak.
Dengan kata lain, sukses atau tidaknya suatu media massa tergantung dari kebijakan akan redaksinya.
B. Teori Hierarki Pengaruh
Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese memperkenalkan teori hierarki pengaruh (Hierarchy of influence) lewat bukunya Mediating the message, theories of influences on mass media content. Dalam buku tersebut Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese juga menjelaskan bahwa ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi media yaitu faktor dari luar dan dari dalam organisasi media.33
Pengaruh faktor-faktor ini disebut sebagai teori hierarki media yang dikenalkan oleh Pamela J. Shoemaker
33 Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, Mediating the message, theories of influences on mass media content (New York: Longman Publisher, 1996) h.324
danStephen D. Reese. Pandangan ini merupakan teori dalam kajian komunikasi massa yang menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konten media.
Menurut Pamela dan Reese, faktor-faktor yang memengaruhi pemberitaan di media adalah pengaruh individual level (Individuals level), pengaruh rutinitas media (routine level), pengaruh organisasi level (organizational level), pengaruh exsta media level (Ekstra media level), dan pengaruh ideologi (Ideologi level).34
Tabel 2.135
34 Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, Mediating the message, theories of influences on mass media content (New York: Longman Publisher, 1996) h. 60
35 Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, Mediating the message,
35 Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, Mediating the message,