• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh individual beliefs terhadap self complementary management. Hasil penelitian ini menunjukkan data bahwa individual beliefs berpengaruh

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN UNGGULAN (Halaman 90-93)

HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN

2. Uji T berpasangan

6.1 Penelitian Tahap I

6.1.1 Pengaruh individual beliefs terhadap self complementary management. Hasil penelitian ini menunjukkan data bahwa individual beliefs berpengaruh

terhadap self complementary management. Individual beliefs merupakan kepercayaan seseorang untuk mengambil tindakan pencegahan penyakit atau memperbaiki kesehatannya. Pasien DMT2 yang mempunyai individual beliefs yang tinggi dapat melakukan pengelolaan DM secara tepat dan teratur. Hal ini sesuai dengan penelitian Etesamifard et al., 2014 yang menunjukkan bahwa individual beliefs mempengaruhi pasien DM dalam melakukan perawatan diri. Alasan yang dapat dijelaskan adalah persepsi terhadap keparahan dan kerentanan dapat menimbulkan adanya ancaman yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit yang lebih parah (Etesamifard et al., 2014).

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian menunjukkan bahwa individual beliefs sebagai salah satu konstruk HBM telah mempengaruhi pasien DMT2 untuk menggunakan CAM dalam mengelola penyakitnya. Pasien DMT2 yang mempunyai kepercayaan kesehatan yang kuat dan positif terhadap CAM, akan menggunakan CAM dan mempunyai aktivitas perawatan diri yang baik (Chang, Wallis and Tiralongo, 2011). Ketika perilaku penggunaan herbal dikombinasikan dengan pengobatan konvensional sebagai bagian dari self-care, ternyata individual beliefs juga memberikan pengaruhnya terhadap pelaksanaan perilaku tersebut. Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian dari hasil penelitian ini dengan penelitian sebelumnya.

Persepsi terhadap manfaat pelaksanaan self complementary management merupakan persepsi yang paling tinggi yang dimiliki oleh pasien DMT2 dalam melaksanakan pengobatan komplementer herbal. Data ini menunjukkan bahwa pasien merasakan belum ada manfaat ketika melaksanakan pengobatan komplementer herbal berbasis self-care, karena pasien belum melaksanakan perilaku tersebut secara tepat dan teratur. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Mohebi et al., 2013 yang menjelaskan bahwa keyakinan yang positif tentang persepsi terhadap manfaat merupakan faktor penting dalam melaksanakan perilaku kesehatan bagi pasien DM, yang harus mencapai keseimbangan antara manfaat eksternal dan manfaat internal.

Persepsi terhadap manfaat dapat ditingkatkan dengan memberikan pengalaman yang baik dengan memanfaatkan sumber daya dan menggunakan waktu luang dengan kegiatan yang positif seperti melakukan konsultasi dengan petugas kesehatan terkait dengan penggunaan herbal sebagai pengobatan komplementer. Persepsi terhadap manfaat meliputi internal dan eksternal. Manfaat internal dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kelelahan diri, sedangkan manfaat eksternal dilakukan dengan melakukan interaksi sosial (Mohebi et al., 2013).

Persepsi terhadap kerentanan dan keparahan penyakit pada penelitian ini adalah rendah. Data ini menunjukkan bahwa pasien mempunyai pemahamam yang rendah terhadap adanya ancaman timbulnya komplikasi, harapan hidup yang rendah, dan adanya masalah yang serius (rasa sakit yang hebat, beban keluarga meningkat) apabila tidak melaksanakan self-care dengan baik. Rendahnya pemahaman pasien tentang persepsi terhadap kerentanan dan keparahan penyakit ini membuat pasien mengabaikan kondisi pasien yang menderita penyakit kronis dan dapat menjadi ancaman timbulnya komplikasi dan dapat memperburuk kondisi pasien.

Data tersebut sesuai dengan penelitian Etesamifard et al., 2014 yang menunjukkan bahwa persepsi terhadap keparahan dan kerentanan penyakit dapat menimbulkan adanya ancaman yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit yang lebih parah. Selain itu juga ada ancaman bahwa penyakitnya dapat menimbulkan

gejala yang lebih parah atau timbul komplikasi. Komplikasi yang ditimbulkan dapat akut atau kronis. Ancaman yang dirasakan (kerentanan dan keparahan penyakit) dapat digunakan untuk memprediksi perilaku perawatan diri, yaitu jika ancaman yang dirasakan meningkat maka perawatan diri juga meningkat (Adejoh, 2014).

Pasien DMT2 pada penelitian ini memiliki persepsi terhadap hambatan dalam menggunakan herbal sebagai pengobatan komplementer yang rendah, yang berdampak pada tingginya kadar gula darah. Hambatan tersebut adalah adanya rasa malas atau rendahnya kemauan untuk melakukan olah raga dan mematuhi diet, lupa dan kurangnya informasi tentang pelaksanaan self-care dan pengobatan komplementer. Faktor lain yang menyebabkan pasien lalai dengan pengelolaan penyakit mereka adalah adanya rasa jenuh atau kebosanan dalam melakukan pengelolaan penyakit mereka, karena pengobatan harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

Kondisi yang dapat menjadi hambatan bagi pasien adalah lupa, ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk pengobatan karena pemahaman yang buruk atau masalah fisik seperti penglihatan yang buruk atau gangguan ketrampilan dalam mengelola DM (tidak mampu menyuntik insulin dengan benar) (Garcia-Perez et al., 2013) (Ataur R Khan, Zaki N Al-Abdul Lateef, Mohammad A Al Aithan, Montaser A Bu-Khamseen, Ibrahim Al Ibrahim, 2012). Perilaku lain adalah buruknya motivasi dalam melakukan perilaku self-care terutama dalam pengaturan makanan sehat dan aktivitas latihan (Garcia-Perez et al., 2013). Data hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang sudah ada.

Persepsi terhadap hambatan juga berkaitan dengan keyakinan terhadap biaya pengobatan dan adanya bayangan dalam mengikuti perilaku kesehatan yang baru. Berkaitan dengan hal tersebut ada aspek negatif yang dirasakan yang berpotensi sebagai penghalang dalam melakukan perilaku kesehatan. Pada aspek biaya, seseorang akan menganalisis bagaimana perilaku sehat itu menguntungkan baginya dan apakah nilai biaya yang dibayar sesuai dengan efek yang diberikan. Aspek negatif tentang bayangan sebuah perilaku adalah adanya perilaku yang mungkin berpotensi tidak menyenangkan, menyakitkan, tidak nyaman, dan memakan waktu yang lama bagi orang tersebut (Mohebi et al., 2013).

Persepsi terhadap self-efficacy pada penelitian ini memberikan pengaruh terhadap perilaku self complementary management. Self-efficacy seperti yang didefinisikan oleh Bandura, adalah kepercayaan pada kemampuan seseorang untuk melakukan perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu saat berhadapan dengan adanya hambatan dalam melakukan tindakan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan perawatan diri pasien DM adalah self-efficacy atau dengan kata lain self-efficacy merupakan prediktor terkuat dari perilaku perawatan diri pasien DM (Dehghani-Tafti et al., 2015).

Berdasarkan uraian di atas, maka semua indikator individual beliefs memberikan kontribusi pada variabel individual beliefs dalam memberikan pengaruh pada pemilihan pengobatan komplementer herbal berbasis self-care. Komponen individual beliefs ini tidak bisa dipisahkan, peningkatan satu komponen harus diikuti dengan peningkatan komponen yang lainnya. Peningkatan komponen individual beliefs secara komprehensif dapat meningkatkan pemanfaatan pengobatan komplementer berbasis self-care. Hasil penelitian ini dapat memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan teori HBM dan teori self-care deficit untuk meningkatkan perilaku kesehatan.

6.1.2 Pengaruh dukungan sosial terhadap self complementary management.

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN UNGGULAN (Halaman 90-93)