• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTINJENSI DAN RESOURCE-BASEDVIEW

2.3. Pengembangan Hipotesis dan Model Penelitian Empirik

2.3.1. Pengembangan Hipotesis

2.3.1.2. Pengaruh Kapabilitas Perusahaan Terhadap Kinerja Perusahaan

Orientasi pasar merupakan kunci penting untuk mencapai keberhasilan perusahaan (Narver dan Slater, 1990). Orientasi pasar sering dipakai sebagai dasar yang kuat untuk memperbaiki kinerja (Jaworski dan Kohli, 1993). Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Kohli dan Jaworski (1990) bahwa terdapat hubungan yang kuat antara orientasi pasar dan kinerja bisnis. Namun hubungan seperti ini akan sangat dipengaruhi oleh beberapa kondisi misalnya adanya turbulensi pasar, kompetisi yang tinggi, dan permintaan pasar yang terlalu rendah. Pernyataan ini menjelaskan bahwa faktor-faktor kontekstual mempengaruhi hubungan antara orientasi pasar dan kinerja bisnis.

Secara khusus orientasi pasar telah diteoritiskan memiliki hubungan yang kuat dengan kinerja perusahaan. Hubungan ini telah dibuktikan melalui beberapa penelitian sebelumnya bahwa orientasi pasar mempengaruhi kinerja bisnis, misalnya penelitian yang dilakukan oleh Narver dan Slater (1990), Kohli dan Jaworski (1990), Jaworski dan Kohli (1993) dan Matsuno dan Mentzer (2000). Selain itu terdapat juga penelitian yang membuktikan bahwa ada hubungan negatif atau tidak signifikan, namun banyak temuan yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara orientasi pasar dan kinerja bisnis. Di era tahun 2000-an hasil penelitian juga masih memberikan dukungan yang sama terhadap penelitian yang menginvestigasi hubungan orientasi pasar dan kinerja perusahaan. Wood, et al. (2000) membuktikan bahwa orientasi pasar dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Namun kesimpulan Wood dan Bhuin (2000) menyatakan bahwa perlu memperhatikan peran tim

manajemen senior seperti komitmen profesional dalam meningkatkan kinerja perusahaan.

Inovasi secara fundamental berbeda dari ukuran keuangan tradisional atau hasil yang didasarkan pada pasar (Lau dan Ngo, 1996). Inovasi merupakan unsur kapabilitas perusahaan dan faktor penentu kinerja perusahaan (Mone, et al. 1998). Inovasi juga dianggap dapat memainkan peranan penting dalam memperbaiki kinerja organisasi (Montes, et al. 2005). Beberapa penelitian empiris telah menunjukkan bahwa inovasi memiliki pengaruh terhadap kinerja perusahaan (Damanpour dan Evan, 1984, Damanpour, et al. 1989, Zahra, et al. 1998).

Muffatto (1998) menunjukkan bahwa proses inovasi akan menciptakan iklim inovasi dan berkaitan dengan pengetahun profesional dan kapabilitas yang diperlukan untuk mendukung aktivitas inovasi. Darroch (2005) memberikan kesimpulan yang bersifat kontradiktif bahwa pengetahuan manajemen memberikan dukungan terhadap inovasi namun inovasi tidak berpengaruh terhadap kinerja. Beberapa peneliti lain juga membuktikan bahwa orientasi pasar juga memberi pengaruh positif terhadap inovasi. Deshpande, et al. (1993) dan Slater dan Narver (1995) mengatakan bahwa inovasi merupakan faktor penting, karena inovasi meningkatkan hubungan antara orientasi pasar dan kinerja perusahaan. Oleh karena itu inovasi merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kinerja perusahaan.

Pembelajaran organisasi sangat penting bagi sebuah perusahaan, karena pembelajaran organisasi dapat memberikan pengetahuan kepada perusahaan sehingga perusahaan tetap bertahan. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran organisasi memberikan kepada perusahaan agar tetap bertahan dan

mampu mencapai kinerja secara efektif (Fiol dan Lyles, 1985; Inkpen dan Crossan, 1995 Montes, et al. 2005). Pendapat lain disampaikan oleh March (1991) bahwa pembelajaran organisasi merupakan komponen dasar yang digunakan dalam setiap usaha untuk memperbaiki kinerja perusahaan dan memberi kekuatan kepada keunggulan bersaing. Sedangkan Narver dan Slater (1995) memberikan pendapat yang mengatakan bahwa pembelajaran organisasi sangat penting dalam memperbaiki kinerja perusahaan. Pendapat ini menjelaskan bahwa dengan pembelajaran organisasi maka perusahaan akan memperoleh pengetahuan baru baik yang diperoleh dari dalam maupun luar organisasi untuk digunakan dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi. Pendapat ini diperkuat dengan pendapat dari Jiang dan Li (2008) bahwa melalui pembelajaran organisasi maka terjadi transfer dan pembagian pengetahuan yang pada akhirnya akan memperbaiki kinerja keuangan perusahaan. Narver dan Slater (1995) mengemukakan bahwa pembelajaran organisasi memungkinkan perusahaan untuk secara cepat merespon semua permintaan pasar terutama keperluan pelanggan, membaca peluang-peluang pasar, memperoleh produk yang ditargetkan, unggul dalam profitabilitas, pertumbuhan penjualan dan retensi pelanggan.

Beberapa penelitian empiris telah menunjukkan bahwa pembelajaran organisasi berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hubungan positif antara pembelajaran organisasi dan kinerja telah dijelaskan melalui teori resource-based view yang menunjukkan bahwa keunggulan bersaing perusahaan disebabkan oleh keunikan sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan. Dengan demikian pengetahuan yang dimiliki merupakan sumberdaya yang sangat bernilai dari perusahaan sehingga dapat untuk menciptakan dan melanjutkan keunggulan bersaing perusahaan yang

sangat tergantung kepada pengetahuan. Oleh karena itu, pembelajaran organisasi yang efektif dimana terdapat pengetahuan unik yang diperoleh akan sangat berkontribusi terhadap keunggulan bersaing perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja perusahaan (Choe, 2004).

Schroeder, et al. (2002) menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara pembelajaran internal dan eksternal dengan kinerja perusahaan. Kraatz (1998) menunjukkan bahwa jaringan interorganisasional dapat memotivasi pembelajaran sosial yang dapat berkonsekuensi untuk meningkatkan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Selain itu, dengan pengalaman belajar dari perubahan lingkungan akan memberikan kesuksesan bagi tujuan perusahaan (Pennings, et al. 1994).

Kewirausahaan membutuhkan inovatif, pengambilan resiko dan proaktif (Covin dan Selvin, 1989). Sedangkan Slater dan Narver (1995) berpendapat bahwa budaya kewirausahaan memerlukan toleransi yang tinggi terhadap resiko, proaktif, kesiapan berinovasi, dan tahan terhadap birokrasi. Oleh karena itu mencari sesuatu yang baru merupakan tindakan proaktif termasuk mengantisipasi kebutuhan konsumen. Orientasi kewirausahaan berkaitan dengan kemampuan menentukan kebutuhan konsumen diikuti dengan pengenalan produk, jasa atau proses baru.

Studi yang dilakukan oleh Hult dan Ketchan (2001) membuktikan bahwa orientasi pasar dan kewirausahaan yang merupakan kapabilitas perusahaan berkontribusi untuk menciptakan sumberdaya yang unik sebagai keunggulan positif. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua bentuk kapabilitas tersebut secara positif berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Zahra (1995) mengatakan bahwa aktivitas kewirausahaan perusahaan akan secara langsung berhubungan dengan kinerja

perusahaan. Selain itu kewirausahaan perusahaan diyakini akan memperbaiki kinerja perusahaan (Zahra, 1991). Block dan MacMillan (1993) dalam Zahra dan Covin (1995) mengatakan bahwa aktivitas kewirausahaan perusahaan memiliki hubungan positif dengan kinerja perusahaan.

Bertolak dari uraian-uraian di atas dapat dikatakan bahwa sebagai kapabilitas utama, maka orientasi pasar, inovasi, pembelajaran organisasi, dan kewirausahaan akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Untuk itu hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut.

H2: Kapabilitas perusahaan berupa orientasi pasar, inovasi, pembelajaran